Derap langkah kaki yang tergesa gesa terdengar di sepanjang taman mawar. Sepatu yang di pakainya sudah tertutup oleh lumpur
Kaki panjanganya di balut dengan celana berwarna hitam. Punggungnya yang tegap menghalangi sinar bulan yang berada di belakangnya.
Langkah kakinya tiba-tiba berhenti dan semua fokusnya kini teralih ke bunga mawar putih yang ada di hadapannya. Tangan ramping namun penuh kapalan itu terulur kedalam semak mawar putih.
Dengan hati-hati,ia memetiknya seolah-olah itu adalah barang yang berharga. Bibir pucatnya perlahan kembali memerah dan nafasnya yang tergesa gesa kini berangsur normal.
Kulit pucatnya juga perlahan kembali memerah seolah menemukan vitalitasnya kembali. Rambutnya yang berantakan akibat terkena keringatnya sehingga harus membuat itu menempel di pipi pucatnya.
Alis indah itu tertekuk seolah-olah menghadapi sesuatu yang rumit. Mata hitam pekatnya menyipit dengan isyarat yang menyedihkan.
Tanpa sadar mawar putih yang berada di tanganya hancur karena kekuatan yang tidak bisa dikontrolnya.
Kukunya yang indah menancap di tanganya dan perlahan mengeluarkan darah berwarna merah pekat.
Mata hitam seperti langit berbintang itu diwarnai kepanikan.
Dengan hati hati ia mengambil mawar putih yang sudah hancur dan di nodai darah dengan tangan kirinya.
Ia mengambil sapu tangan bersih dan menyekanya dengan hati-hati seolah takut kalau dia menyakiti mawar itu.
Darah merah itu masih ngalir dari tangan kanannya tapi tetap tidak ia hiraukan olehnya seolah fokusnya hanya kepada mawar yang berada di tangan kirinya.
Dia menghela nafas pelan saat mawar putih itu seperti semula. Matanya menatap sedih ke arah mawar yang bermandilan darah yang menodai warna putih murninya.
Ia mengepalkan tanganya, matanya kembali bersinar di bawah sinar bulan yang sejak tadi diacuhkan olehnya.
"Tunggu aku."