Kepalaku pusing sekali saat ini. Mahkotaku sudah hilang saat kemoterapi yang pertama. Wajahku bahkan tak seindah dulu lagi. Aku bahkan tak bisa tertawa. Aku takut suatu saat Andi akan mengetahui keadaanku ini. Dia mungkin tidak akan mencintaiku lagi. Tidak! Tidak! Aku tak boleh berpikir seperti itu. Andi tetaplah Andi. Aku tahu apa yang ia katakan saat pertama kali kami bertemu. Aku tahu waktu sudah berlalu begitu lama, namun aku ingin tetap percaya. Sebuah sisi lain dari sebuah cinta yang tak pernah kudengar. Ucapannya saat itu penuh keyakinan. Cinta tanpa alasan. Sampai saat ini, aku bahkan sulit berpikir apakah itu benar atau salah, namun aku harus tetap percaya pada perkataan konyol Andi tentang cinta. Buktinya, aku masih bertahan seperti saat ini karena Andi. Aku tak boleh hanya mengeluh karena penyakitku ini. Aku akan menemui Andi suatu saat nanti. Maka, aku harus berjuang! Aku tahu Andi juga sedang berjuang karena kehilangan orang tuanya. Aku pun harus demikian demi Andi. Demi masa depan kami, aku akan berjuang! Namun, bila Tuhan tak menginginkan kami bertemu dan kisah ini hanya tersimpan sebagai kisah terlarang yang tak akan pernah dibuka oleh siapa pun, aku tetap ingin tulisan terakhirku dibaca oleh Andi. Ya, meski tak ada yang akan membacanya. Hanya Andi yang membuatku ingin terus menulis. Andi, aku sungguh merindukanmu. Sudah 2 tahun kita berpisah tanpa sepatah salam. Namun, ini akan segera berakhir. Aku tahu itu, kita akan segera bersama lagi. Ya, kalimat terakhir itu menarik juga. Akan kusimpan ini dalam hati. Suatu saat aku akan membutuhkan kalimat itu untuk tetap bertahan hingga kumampu bersamamu selamanya. Papaku baru saja mengatakan kabar sebenarnya tentang siapa diriku. Aku tak kaget, memang itu kenyataannya. Namun, aku tetap ingin mencintainya, melebihi siapa pun termasuk Andi. Papa sudah berkorban segalanya bagiku. Tapi, kenapa ya aku tidak menulis tentang Papa sebanyak aku menulis kata Andi di bukuku? Hemm … maaf ya, Pa! Semisal Papa membaca ini, aku cuma ingin engkau tahu. Kesakitan ini, kerinduan saat ingin bertemu Andi, dan semua hal yang kurasa pedih, setidaknya tak terlalu sakit saat kutatap Papa. Andai saja Papa mengerti cintaku pada Andi. Selama 2 tahun ini Papa terus mencoba mengubah hatiku pada Dokter Daniel. Aku sebal, tapi aku paham apa yang dimaksud Papa. Andai saja Papa tahu cintaku pada Andi. Semoga Papa membaca karyaku suatu saat nanti. Paa, izinkan aku tetap mengenang Andi, mencintainya seperti kau mencintaiku. Aku tak bisa sebutkan mengapa aku mencintainya, yang kutahu aku ingin bersamanya, seperti, Papa mungkin yang tak lelah menungguku di rumah sakit. Aku akan sangat senang bila suatu saat Papa mengerti keinginanku.