Saat itu aku sedang pergi bersama teman kuliahku bernama Haikal untuk mencetak tugas milik kelompok kami.
Karena menunggu antrian orang lain apalagi tiba-tiba cuaca mendung dan dengan cepat turun hujan, dengan iseng aku bilang ke Haikal.
"Mau mampir dulu ga ke rumahku?," sambil menunjuk satu perumahan yang berada di seberang tempat fotocopy.
Kemudian dengan serius Haikal bertanya,"Boleh, rumah lo yang mana na?."
Dengan mantap iseng dengan dia aku asal tunjuk rumah yang paling besar dan mewah, lalu bilang, "Itu rumah dengan cat abu-abu," kataku serius.
"Boleh ayo teduh disana saja," jawab Haikal yang kemudian berdiri.
Gawat, Haikal menganggap serius candaan ku.
"Eh tapi aku lagi ga bawa kunci, tadi orang rumah bilang pergi sampai sore," sanggahku, yaampun Haikal maaf aku berbohong.
"Tenang aja gue bawa kok kuncinya, mang pinjem payungnya." sambil mengeluarkan kunci rumah dengan gerakan cepat dia menarik ku untuk satu payung dan berjalan ke arah rumah itu.
Aku terkejut dan malu sudah mengaku-aku rumahnya sebagai rumahku. Aduh bagimana ini aku tidak bisa kabur. Dan, ternyata benar ini rumahnya satpam rumahnya langsung membukaan gerbang dan dia langsung masuk rumah.
"Ayo Sabrina masuk aja, diluar dingin" ajak Haikal, dengan malu aku masuk rumah yang sudah aku akui.
"Mbak" panggil Haikal ke orang rumah.
"Iya mas Haikal kenapa?" tanya seseorang yang kuduga sepertinya itu pekerja rumah tangga.
"Tolong ambilin baju kakak yang mana aja buat temen Haikal, tadi kehujanan" suruhnya kepada mbak itu.
"Baik mas, kak tunggu sebentar" kata mbak itu ke Haikal dan aku yang hanya ku balas dengan senyum segan dan anggukan.
"Na, tunggu disini ya gue mau ganti baju dulu, buat motor di depan fotocopy tenang aja aman kok" kata dia dan pergi ninggalin aku yang sudah sangat malu.
Saat menunggu mbak nya Haikal mengambil baju ganti aku melihat sekeliling rumah, aku terpesona dengan interior di rumah ini. Sambil melamun aku ingat lagi tindakanku tadi. Kemudian pintu depan terbuka dan muncul seorang wanitadengan menenteng belanjaan.
"Mbak yuni tolong nanti belanjaan saya taruh dapur ya," panggil seorang wanita dengan tampilan ibu-ibu sosialita.
"Loh ini siapa? Kok basah-basah gini?" tanya Ibu itu sepertinya ini ibunya Haikal.
"Saya Sabrina tante, temen kuliahnya Haikal tadi kehujanan waktu di fotocopy depan, jadi di bawa kesini sama Haikal" jawabku agak terbata-bata.
"Kak ini baju gantinya, bisa ganti di kamar mandi sana" kata mbak yuni menyerahkan satu set baju untuk ganti.
"Terimakasih mbak, tante saya permisi ganti dulu," ijin ku, sungguh aku tidak enak dengan orang dirumah ini.
"Oh iya iya, takutnya nanti masuk angin kalo lama-lama," kata ibu itu dan aku langsung meninggalkan tempat itu.
Kurang lebih 15 menit aku di dalam kamar mandi untuk mandi sekalian memeras bajuku yang sebenernya tidak terlalu basah. Setelah berganti pakaian aku mendekati mbak yuni meminta kresek hitam untuk bajuku.
**
Di ruang tamu sudah ada Haikal dan Ibunya yang sedang berbincang. Kemudian aku mendekati mereka untuk menarih bajuku ke dalam tas dan berterima kasih.
"Permisi tante, haikal maaf Sabrina ngerepotin kalian dan makasih buat baju gantinya," kataku.
"Iya aduh ga papa itu baju kakaknya Haikal yang udah nikah jadi jarang dipake juga, malah tante seneng Haikal bawa temen ceweknya ke rumah," kata Ibu Haikal aku hanya senyum dan menggangguk saja dan Haikal juga senyum-senyum.
Tapi perasaan ini kaya bukan baju bekas deh, walaupun udah ga berbau baju baru tadi warna dan jahitannya masih bagus seperti baru di beli kemudian dicuci. Saat sedang melihat jam dinding sudah jam lima dan diluar sudah tidak hujan, aku berniat pamit karena pasti aku di cari orang rumah.
"Tante, Haikal permisi saya ijin pulang ya soalnya udah hampir malam dan takut dicari orang rumah," pamit ku ke ibunya Haikal.
"Aduh ini hampir maghrib, tunggu selesai maghrib aja ya nanti biar Haikal yang anterin kamu," jawaban Ibu Haikal membuat ku makin tidak enak hati.
Aku lalu mengkode Haikal untuk membujuk ibunya agar aku pulang saja saat itu, namun sepertinya Haikal tidak tidak menangkap kodeku.
"Iya na, nanti gue anterin pulang aja lagian motor lu yang ada di fotocopy udah dimasukin ke kios, soalnya takut hilang dan mamang fotocopy pulang cepet ada hal urgent di rumah," kata Haikal yang membuatku kaget, waduh gimana nasibku besok berangkat kuliah dan tugas kelompok kita.
"Kalo tugas kelompok gimana?" tanyaku ke Haikal, soalnya itu tugas kelompok 8 anak.
"Itu tenang aja tugasnya udah selesai kok, dibawa gue aja besok tas lu kan udah berat isi baju." jawaban Haikal membuatku lega setidaknya aku dan Haikal masih bertanggungjawab dengan tugas kelompok.
Kemudian Ibu Haikal pamit ke dalem rumah.
"Sabrina sama Haikal dulu ya, tante mau nyiapin minum sama air mandi buat papahnya Haikal, oh iya nanti kamu ikut makan malam sekalian ya, ga boleh nolak loh ya," kata Ibu Haikal dan kemudian pergi ninggalin aku dan Haikal di ruang tamu.
Kita berdua lama diem-dieman, Haikal sibuk sama hpnya dan aku sibuk menghubungi orang rumah untuk ijin telat pulang dan dibalas tidak apa-apa serta pulangnya aku harus hati-hati dijalan.
Setelah sudah dapat jawaban dari orang rumah, aku bingung mau apa lagi jadi aku memberanikan diri mengajak Haikal berbicara.
"Euhm Haikal," saat aku panggil namanya, Haikal langsung menatapku dan mematikan hpnya.
Entah kenapa aku merasa deh degan karena tatapannya.
"Itu, yang tadi udah bohong ngaku-ngaku ini rumahku aku minta maaf" kataku sambil menggaruk tenggukku malu dengan perbuatanku tadi.
Lama Haikal memandangku aku takut dia marah, bagaimana ini aku masih banyak satu kelompok dengan dia.
Bukannya balasan ketus atau sikap cuek, Haikal malah tertawa sambil bilang, "Santuy Na, gue tau kok lu tadi iseng makannya gue ladenin aja ternyata seru, apalagi waktu lu asal nunjuk rumah ini, maafin gue juga yaa yang udah usil balik," jawaban Haikal membuatku lega sekaligus agak kesal dengan keisengan dia.
"Ihh Haikal aku udah plus plus tau, panik, malu, ga enak sama orang rumah ini," kataku yang entah sejak kapan mataku sudah berair.
"Eh na jangan nangis entar gue dikira apa-apain lo lagi," kata Haikal panik dan pindah duduk di sebelahku.
"Iya iya udah nih lagian, kenapa iseng banget sih ngajak lari terus sampe sini cuek, kan jadi ngerasa bersalah takut kamu marah," kataku dengan reflek nabok lengan Haikal.
"Ya maaf deh udah, nanti gue tanggung jawab ngan-" kata-kata Haikal terputus oleh suara bapak-bapak yang berpakaian jas lengkap.
"TANGGUNG JAWAB APA HAIKAL, KAMU HAMILIN ANAK ORANG? TUH ANAKNYA SAMPE NANGIS, MAH MAH NIH HAIKAL MAH." teriak papahnya teriak manggilin ibunya Haikal.
"Apa-apa pulang bukannya salam malah teriak-teriak," kata ibunya Haikal yang lari dari arah dalem ke ruang tamu.
"Ini liat anak kita mah, dia bilang mau tanggung jawab gara-gara hamilin anak orang," kata papahnya Haikal menggebu-gebu.
"Siapa yang hamil sih pah, Haikal cuma ngomong mau tanggung jawab nganterin Sabrina pulang tadi," sanggah Haikal.
"Loh ngga hamil toh, yah papah gagal punya cucu lagi." kata papahnya Haikal lesu.
"Om maaf udah buat gaduh, tadi Sabrina matanya kelilipan jadi berair," ucapku berbohong daripada ceritain hal memalukan tadi.
"Owalah om kira kamu nangis gara-gara anak om, maaf ya om tadi kaget soalnya jarang-jarang Haikal bawa temen cewek" kata papahnya Haikal padahal iya sih om saya nangis gara-gara anak om batinku.
"Papah juga baru pulang asal ngomong ga baik aja, kalo ada malaikat lewat terus aamiin gimana, lagian Sabrina itu temen Haikal belum jadi pacar, do'ain aja semoga lancar," kata ibunya Haikal lirih tapi mohon maaf tante Sabrina masih bisa denger.
"Udah ah mamah, papah ganti baju sana terus kita makan malem Haikal udah laper nih nungguin papah ga pulang-pulang," kata Haikal yang ngeluarin sikap manjanya,
What ini kalo adik tingkat liat seorang Haikal yang galak di Himpunan sama di kepanitiaan bisa-bisa mereka ledekin atau malah yang ngidolain dia makin meleleh liatnya.
"Dasar kamu, yaudah kalian ke meja makan dulu papah mandi dulu, Sabrina ikut makan yaa." pinta papahnya Haikal dan aku balas dengan anggukan.
"Yuk kita ke meja makan dulu," ajak Ibunya Haikal.
Kami berdua mengikuti ibunya Haikal dan aku duduk di sebelah Haikal berhadapan dengan ibunya Haikal.
Tidak berapa lama papahnya Haikal datang dan duduk di tempat nya, kemudian kami berempat mulai makan makan, terdapat banyak pilihan lauk aku mengambil secukupnya.
Di saat malam malam suasananya tenang, namun beberapa kali papahnya Haikal bertanya tentangku seperti rumahku dimana, dsb. Haikal dan papahnya juga saling melempar lelucon. Sedangkan ibunya hanya menjadi penengah saat Haikal dan papahnya hampir kelewatan.
Selesai makan malam, menunggu Haikal bersiap dan mengeluarkan mobilnya aku berbincang sedikit dengan ibu Haikal. Tante Mira Ibunya Haikal sangat baik dan ramah, padahal aku baru saja mengenalnya, saat masih mengobrol dengan tante Mira, Haikal datang dan mengajakku untuk pulang kemudian aku berpamitan dengan tante Mira sedangkan papahnya Haikal selesai makan tadi langsung ke ruang kerjanya.
"Tante, makasih ya udah bolehin Sabrina neduh dan ngajak makan disini, salam juga buat om makasih dan maaf ngerepotin." ucapku dan salim ke ke tante Mira.
"Ih ngga ngerepotin,tante malah seneng ada anak cewek lagi dirumah, kapan-kapan main lagi terus jangan kelamaan gantungin Haikal dia emang kadang ga peka tapi serius sama kamu," kata tante Mira membuatku bingung dan melihat ke arah Haikal.
"Mah, udah na yuk gue anter aja," kata Haikal menarik tanganku.
"Oh Oke, permisi tante." ucapku pamit lalu mengikuti Haikal ke mobilnya.
**
Di dalam mobil selama perjalanan kita berdua diem-dieman kaya tadi, sebenarnya aku mau tanya maksud perkataan tante Mira tadi tapi melihat Haikal sedang menyetir serius aku iringkan niatku.
Tiba-tiba mobil berhenti, aku bingung dan menatap Haikal. Dia balik menatapku dan melepas safety belt ku. Kemudian di bilang, "Na udah sampe, gue anterin sampe ketemu ayah dan ibu lo yaa".
"Hah, oh, ga usah gapapa kal, daripada nanti pulangnya kemaleman, makasih udah anterin pulang." kataku dan membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil.
Aku mengucapkan terimakasih lagi dan bilang hati-hati waktu pulang ke rumahnya. Kemudian aku berjalan ke gerbang rumahku. Tapi aku heran kenapa dia bisa tau rumahku bukannya aku tadi tidak memberitahunya malah asik melamun sendiri.
Saat aku hendak memegang handle pintu gerbang, suara Haikal memanggilku seketika aku langsung balik badan. Ternyata Haikal menghampiriku.
"Kenapa kal? Ada barangku yang ketinggalan?" kataku sambil mengecek isi tasku.
"Engga na, gue cuma mau bilang makasih udah mau dateng ke rumah terus juga gue mau bilang, maaf kalo kesannya mendadak aduh gimana yaa," kata Haikal agak terbata engga seperti Haikal biasanya.
"Kenapa? Tinggal bilang aja kok," ucapku yang penasaran dengan apa yang ingin Haikal sampaikan.
"Sabrina maaf kalo selama ini gue agak cuek dan ya gitulah kadang menghindar dari lo, gue cuma ga bisa kontrol jantung gue, gue udah lama suka sama lo dan gue mau lo jadi pacar pertama gue, mungkin lo bakal ga percaya sama pernyataan gue tapi beneran gue bukan kaya yang dibilang orang-orang playboy dan sebagainya, apalagi ga suka perempuan, gue dari awal kuliah udah suka sama lo tapi gue ga tau cara ngungkapinnya, jadi gimana na?," jelas Haikal dan jujur aku kaget dengan pernyataannya, sebenarnya selama kenal sama Haikal aku juga ada rasa nyaman, tapi kita aja baru deket sebulan ini.
"Haikal, makasih udah berani bilang kalo kamu suka sama aku dan ngajak aku pacaran, jujur aja aku juga ada rasa nyaman sama kamu tapi aku bingung mau jawab apa boleh kasih waktu tiga hari? Ini terlalu mendadak buat aku soalnya." jawabku sejelas itu aku takut menyakiti perasaannya dan ini juga pernyataan cinta pertamaku.
"Iya na gu- ah aku mau kok nunggu, selama apapun itu, makasih na yaudah aku pulang yaa, jangan lupa langsung istirahat besok aku jemput dan temenin ambil motornya," kata Haikal yang mengusap rambutku lalu pergi ke arah mobilnya.
Setelah itu dia menjalankan mobilnya pergi dari depan rumahku. Aku pun langsung masuk kedalam rumah dan disambut oleh ibu kata ibu aku langsung masuk kamar saja istirahat karena sudah terlalu malam.
**
Besoknya Haikal benar-benar datang menjemput ku untuk mengambil motor yang aku titipkan. Dia juga bertemu ayah dan ibuku lalu berbincang dengan mereka selagi aku masih bersiap-siap di kamar. Aku bahkan sampai lupa dengan pernyataannya kemarin malam. Bagaimana ini nanti saat pergi berdua.
Setelah aku selesai bersiap kami berdua pamit untuk pergi. Untungnya Haikal membawa motornya jadi suasananya tidak terlalu sunyi seperti saat di dalam mobil.
Sesampainya di tempat fotocopy aku langsung mengambil motor dan bilang terimakasih karena sudah menjaganya untukku. Kemudian aku dan Haikal pergi bersama ke kampus.
Aku bersyukur Haikal tidak menyinggung soal pernyataan cintanya hingga saat ini, sehingga aku masih bisa bersikap biasa dengannya, tapi emang setelah ungkapannya kemarin selama dua hari ini perilaku Haikal terhadapku juga berubah. Rasanya seperti perhatian dari laki-laki ke pacarnya. Bukan geer tapi itu yang aku rasakan. Dari hal kecil hingga rela menungguku rapat sampai malam. Effortnya benar-benar hebat.
Dan hari ini, hari dimana aku akan membalas pernyataan cintanya. Kami janjian bertemu di gazebo taman fakultas. Aku lihat dia sudah disana memakai kaos dan jaket hutan favoritnya. Jujur selama ini aku juga suka memperhatikan tingkah laku dan kesukaannya.
Saat aku menghampirinya dia seperti tegang dan ada rasa khawatir. Aku lalu mengajaknya duduk santai di gazebo. Kemudian kita saling bertanya kegiatan sebelum ini apa saja. Karena terlalu lama basa basi akupun mengatakan jawabanku. Tidak ingin iseng dengan mengatakan 'tidak akan menolaknya' aku langsung menjawab aku menerimanya sebagai pacarku dan hari ini hari pertama kita sebagai sepasang kekasih.
Dia sangat senang sampai teriak dan mengumumkan ke semua orang yang ada disana kalau aku sudah menjadi pacarannya. Aku malu karena banyak mahasiswa disini dari adik tingkat sampai kakak tingkat ada bisa-bisa selama sebulan aku jadi bahan gosip mereka karena telah merebut cowok idaman mereka.
Setelah itu beberapa teman kita meminta pajak jadian, Haikal mengiyakan tapi nanti saja karena mau quality time denganku sebagai pacar pertamanya. Haikal juga langsung menghubungi tante Mira, dan kalian tau jawabannya tante Mira langsung memintaku untuk main kerumahnya dan berterima kasih karena sudah menerima anaknya. Tante Mira sudah lelah dengan curhatan-curhatan Haikal tentangku.
Kalian tau satu hal lagi yang membuatku kaget, ternyata sewaktu Haikal menjemputku untuk mengambil motor, dia ijin dengan ayah ibu untuk mengajak aku berpacaran. Haikal sangat-sangat serius tentang ini.
Sekarang hubungan kami sudah di tahun ketiga, semoga hubungan kami ini langgeng sampai jenjang yang serius, walaupun tidak dipungkiri ada beberapa hal sehingga membuat kita kadang berbeda pendapat.
Oh ada satu lagi, tentang baju yang dia pinjamkan bukankah katanya itu baju bekas kakaknya ternyata bukan, itu baju baru kakaknya makannya terlihat masih bagus, untungnya waktu aku bertemu dengan kakaknya aku bilang dan mengatakan untukku saja karena bajunya mungkin sudah tidak muat karena sedang hamil.
(END)
(Note : cerita ini hanya fiktif, walaupun tentang mengaku-aku rumah author pernah melihatnya di base twitter tapi mencoba mengembangkannya menjadi cerpen, untuk kelanjutan ceritanya itu atas ide author sendiri)
Terimakasih sudah membacanya.