"Ini, kok pesertanya cuma tiga puluh sembilan orang doang, Ndre? Satu lagi ke mana?" ujar Novita bertanya pada Andre.
"Entah, mungkin dia tidak jadi ikut, atau tidak jadi datang kali." jawab Andre dengan santai.
"Oh, berarti peserta nomor delapan ya, yang tidak datang?" Novita kembali mengatakan setelah melihat nomor yang terpasang di baju peserta. Novita melanjutkan, "Tapi, peserta trip lainnya gimana, Ndre? Aman?" Novita bertanya pada teman sekaligus bawahannya dalam trip ini.
"Tenang saja, Nov. Aman banget." jawab Andre mengacungkan jempolnya. Andre melanjutkan setelah sebelumnya sempat ragu untuk mengatakannya pada Novita. Dia berkata, "Ta ... Tapi, Nov. Sepertinya ada aneh deh, dengan peserta nomer sebelas."
"Aneh bagaimana, Ndre?" ujar Novita menjawab, dan kembali bertanya pada Andre.
"Iya, Nov. Coba kamu lihat, sini. Dia kelihatan aneh saja, dan menyendiri gitu. Terus juga, ekspresi wajahnya datar banget." Andre menjelaskannya pada Novita menurut penglihatannya.
"Sudah, ah! Ayo, kita segera berangkat." Novita menjawabnya dengan santai, dan menyuruh Andre untuk tidak melanjutkannya lagi.
"......"
Andre pun terdiam, dan menggaruk belakang kepalanya perlahan. Setelah itu, Novita mengajak para anggota peserta itu menaiki sebuah kapal.
"Ayo, kalian berbaris satu per satu, ya. Jangan dorong-dorongan." ujar Novita berteriak menggunakan pengeras suara yang sedang di pegangnya.
Para peserta pun mulai terlihat memasuki kapal yang sudah di sewa Novita untuk mengantarkan mereka ke sebuah destinasi pulau yang akan mereka tuju.
"Klotok! Klotok! Klotok!"
Kapal, atau kelotok itu pun perlahan mulai menjauh dari tepi pantai, dan mulai mengarungi lautan lepas menuju pulau.
"Nov, pasak, dan frame sudah kamu naikan ke atas kapal semua 'kan, tidak ada yang tertinggal di pelabuhan?" ujar Andre bertanya pada Novita.
Novita lalu menunjuk sebuah tas berwarna merah, dan menjawab, "Itu, kan?!" jawab Novita dengan santai.
"Pokoknya, perlengkapan alat kesehatan, dan kompor sudah ada di sana semua, ya. Jadi, jangan sampai tertinggal, dan hilang, oke!" ujar Andre berkata pada Novita.
Novita sangat terkejut, dia lalu menjawab, "Hah? Kamu membawa kompor itu juga, Ndre? Untuk apa kamu membawanya, berat-beratin saja." jawab Novita sedikit menggerutu pada Andre.
"Siapa tahu bisa berguna nanti." ucap Andre dengan santainya.
"Hu.uh...! Terserah kamu saja deh." Novita menjawab sedikit pasrah pada Andre.
Perjalanan menuju pulau itu memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit.
Sepanjang perjalanan, sesekali Novita memperhatikan pria yang di anggap Andre sedikit Aneh. ‘Memang apa yang aneh sih, dari pria itu? Dia cukup tampan, dan kulitnya juga putih langsat.’ gumam Novita dalam hati sambil menatap pria tersebut.
Alangkah terkejutnya Novita ketika pria itu menoleh ke arahnya, dan balik memperhatikannya tanpa berekspresi.
"Deg! Deg!"
‘Aduh, tampan sekali pria itu. Meleleh dah Aku di tatap seperti itu.’ gumam Novita sambil bergidik manja.
"Kamu kenapa, Nov? Kok, bergidik seperti itu?" ujar Andre bertanya pada Novita ketika dia tidak sengaja melihatnya bergidik.
"Cowok yang kamu bilang aneh itu, tadi dia melihat ke arahku, ketika Aku lagi memperhatikannya juga." jawab Novita sedikit berbisik di telinga Andre.
"Mana? Dia tidak melihat ke arah kamu, kok. Itu, dia sedang melihat ke arah laut. Kamu saja kali yang terlalu mengharapkan." jawab Andre sambil meledek Novita.
"Sumpah, Ndre! Tadi dia melihat ke arahku, dan menatapku dengan wajah tampannya itu. Ahh...! Meleh dah." ujar Novita kembali bergidik sampai seluruh tubuhnya bergetar.
"Dih...! Kamu suka ya, dengan pria itu?" Andre menjawab dan menanyakannya pada Novita.
"Gimana ya, Ndre. Habisnya, dia tampan, dan kelihatannya, dia memang tipe Aku banget." ujar Novita ketika mendeskripsikannya pada Andre.
"Bermimpi saja terus! Sudah, sudah. Ayo sebentar lagi kita sudah mau sampai." jawab Andre mencoba mengakhiri pembicaraan dengan Novita.
Hingga tidak lama setelah itu, kapal mereka pun berhenti tepat di destinasi pulau pertama, dari tiga pulau yang akan mereka tuju.
"Teman-teman, kita semua sudah sampai di destinasi pulau pertama kita. Berhubung sebentar lagi sudah mau malam, ayo kita cepat-cepat buat tendanya, dan mengumpulkan kayu bakar, ya." ujar Novita menggunakan pengeras suara.
"Ayo, kita bagi-bagi tugas saja, ya. Untuk pria bisa membantu saja membuat tenda di sini. Sedangkan untuk wanita, kalian bisa mengikuti Kak Novita ya, mencari ranting kering untuk membuat api unggun." Andre juga ikut menimpali perkataan Novita, dan berteriak dengan cukup keras di depan para peserta.
"Ayo, Kakak cantik, Ibu-Ibu cantik, dan Adik-Adik lucu, kita mencari kayu bakar, ya." ujar Novita sambil melambaikan tangan pada peserta wanita yang ada.
Mereka berdua pun berpisah untuk sesaat. Ketika Andre sedang membangun tenda bersama para peserta pria yang ada, dia sama sekali tidak melihat keberadaan peserta nomor sebelas itu.
“Dia pergi ke mana, ya? Apa dia ke warung di sana?” ujar Andre mencoba memperhatikan arah warung di dalam pulau.
"Kak Andre, bisa tolong bantu saya, Kak?" ujar seorang Bapak-Bapak memanggilnya untuk meminta bantuan.
"Oh, iya Pak! Tunggu sebentar, ya. Saya akan segera ke sana." jawab Andre sambil menoleh ke arah Bapak-Bapak yang memanggilnya.
******
Pada saat Tika, dan peserta wanita lainnya sedang mencari ranting, atau pun kayu bakar. Salah satu wanita di sana menutup hidungnya, dan berkata, "Kak Novita, kok seperti bau bangkai, ya?" ujar salah seorang Ibu-Ibu bertanya pada Novita.
"Iya, yah! Kok bau bangkai seperti ini, ya?" salah seorang wanita yang lainnya pun ikut menimpali.
"Sudah, sudah Ibu-Ibu. Mungkin, ini hanya bau bangkai hewan laut yang mati, dan terbawa ombak sampai di tepi pantai pulau ini. Jadi, kalau sudah selesai mengumpulkan rantingnya, ayo kita kembali ke perkemahan." ujar Novita mengajak peserta perempuan, dan anak-anak yang ada kembali dengan kelompok pria.
Tepat ketika Novita, dan kelompok wanita sedang menuju ke arah kelompok pria. Tanpa di sengaja, Tika bertemu dengan peserta pria tersebut yang sedang berjalan menghampirinya.
"Halo? Kamu habis dari mana? Bukankah Kak Andre, dan yang lainnya sedang membuat tenda di sana?" ujar Novita bertanya pada peserta nomor sebelas.
"Mamah..." ujar salah seorang anak kecil yang langsung bersembunyi di antara kaki orang tuanya.
Peserta nomor sebelas itu pun terdiam untuk beberapa saat sambil menatap wajah Novita. Setelah itu dia menjawab, "Toilet," jawab peserta pria nomer sebelas tanpa berekspresi sedikit pun.
"Oh, kamu baru saja dari toilet. Ya sudah, ayo kita kembali bersama yang lainnya." ucap Novita sedikit canggung pada peserta pria nomor sebelas itu.
"Mamah, Aku mau pulang." ujar anak kecil itu pada orang tuanya.
"Sisil, kita 'kan baru saja sampai, masa sudah mau pulang sih? Katanya, kamu ingin main air, dan pasir di pantai?" orang tuanya menjawab dengan lemah lembut memberikan pengertian pada anaknya.
Novita yang mendengar perkataan anak kecil itu sedang berbicara dengan orang tuanya pun berkata, "Adik, besok kita akan main air ya, sayang. Kamu pasti senang deh, bisa main air, dan membuat istana pasir." ujar Novita mencoba menenangkan anak itu sambil tersenyum.
Begitu Novita selesai berbicara dengan anak itu, dia mendapati peserta pria nomor sebelas itu sudah jalan terlebih dahulu di depan seorang diri.
"Ayo cepat, nanti keburu malam!" ujar Novita mencoba bergegas kembali ke perkemahan.
Novita lalu mencoba mengejar peserta pria nomor sebelas itu, dan meninggalkan kelompok wanita yang di pimpinnya jauh di belakang.
"Ha ... Hai! Kamu sendirian ikut trip ini?" ujar Novita bertanya pada peserta pria nomor sebelas itu.
"......"
Peserta pria misterius itu tidak menjawab, dan terus berjalan dengan sangat cepat meninggalkan Novita bersama kelompoknya.
‘Aneh sekali? Apa aja yang salah ya, dengan penampilanku?’ gumam Novita dalam hati.
Sesampainya mereka di tempat berkemah, Novita bersama kelompoknya pun langsung memberikan kayu, dan ranting kepada Andre.
"Nih rantingnya, Ndre." ujar Novita memberikan cukup banyak ranting kering kepada Andre.
"Oke," jawab Andre mengambil rantingnya. Andre melanjutkan, "Kamu melihat peserta pria nomor sebelas tidak, Nov?"
"Oh, dia?! Tadi kami sempat bertemu ketika jalan ke perkemahan. Tapi tidak tahu juga deh, sekarang dia di mana. Soalnya, tadi ketika Aku berinisiatif untuk mengajaknya mengobrol, dia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun." Novita menjawab sambil membantu mematahkan ranting.
"Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?" ucap Andre sedikit kesal dengan peserta pria tersebut. Andre melanjutkan, "Para pria di sini saja ikut membantu membangun tenda, dan dia malah enak-enakan jalan-jalan di pulau ini.
"Tidak!" jawab Novita dengan cepat. Novita melanjutkan, "Lagi pula, dia ikut dalam trip ini 'kan membayar, Ndre. Jadi satu kali, dua kali tidak masalah lah. Maklumi saja." jawab Novita dengan santainya.
"Ya, ya tapi tidak seperti itu cara mainnya, Tik." ujar Andre tidak terima dengan Tika yang terus membela pria tersebut.
"Sudah, sudah! Tadi, dia itu habis dari toilet, di sana. Terus ketika kami jalan ke perkemahan, kami bertemu dengannya. Sudah lah, jangan terlalu terbawa perasaan begitu." Novita menjawab dengan santainya sambil menjelaskan.
"Susah ya, kalau wanita sedang jatuh cinta. Apa pun pasti akan di lakukan untuk membela pujaan hatinya." ujar Andre pada Novita.
"Yeh! Memangnya kenapa? Kamu sirik ya, gara-gara Aira tidak jadi ikut dalam trip ini?" Novita balik meledek Andre sambil tertawa pelan.
"Hemh!" Andre mendengus pada Tika.
Setelah api unggun sudah menyala, Novita, dan Andre pun menyiapkan logistik untuk para peserta.
"Ayo, kumpul sini, kita makan malam dulu." Novita berteriak memanggil para peserta untuk berkumpul, dan makan bersama.
Para peserta pun berkumpul, dan mulai duduk mengelilingi api unggun sambil menikmati makanan.
"Peserta nomor sebelas ke mana, Nov? Dia tidak ikut makan bersama?" ujar Andre menoleh ke segala arah untuk mencari peserta tersebut.
"Iya, ya! Bukankah tadi dia ada di sana?" Novita menjawab sambil menunjuk ke suatu tempat.
"Bener 'kan, cepat sekali itu orang hilangnya sudah seperti hantu." Andre kembali mengatakannya dengan cepat.
"Hush! Biacara apa sih kamu, Ndre! Jangan berbicara seperti itu, pamali, tahu." jawab Novita mengingatkannya pada Andre. Novita melanjutkan, "Mungkin dia belum lapar, dan sedang menikmati ombak di tepi pulau kali. Coba, nanti biar Aku cek."
"Ya sudah." jawab Andre dengan cepat.
Setelah itu Novita pun berdiri sambil membawa dua buah kotak makanan, dan mencari keberadaan pria tersebut.
“Itu dia!” ucap Novita pada diri sendiri ketika menemukan pria itu.
Novita lalu menghampirinya. Dengan santai, dia mendekat sambil membawakan makanan untuknya. Namun, ketika dia semakin dekat dengan pria tersebut. Bau bangkai kembali muncul, dan saat ini aroma tersebut sangat kuat menusuk hidung.
‘Bau apalagi sih, ini?’ gumam Novita sedikit menahan napasnya.
Sesampainya di belakang pria itu, Tika pun menyapanya, "Ha ... Hai, kamu di sini?" ujar Novita menyapa pria tersebut.
Pria itu pun menoleh secara perlahan ke arah Novita yang sedang berdiri di belakanhnya.
"Bo ... Boleh Aku duduk di sini?" ujar Tika sedikit tergugup ketika mengatakannya.
"Syut! Syut!"
Pria itu hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Sedang apa kamu di sini? Ini, makan malam untukmu." ujar Novita memberikan makanan yang sudah di bawanya.
"Terima kasih." jawab pria itu dengan singkat.
"Oh, iya. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" ujar Novita mencoba mengajaknya mengobrol, dan menanyakan namanya.
"Darwin." jawab Darwin cepat.
"Aku, Novita. Salam kenal, ya." ucap Tika melirik Darwin sebentar lalu melanjutkan makan malamnya. Tika melanjutkan dalam hati, ‘Dingin banget sih pria ini pada wanita. Tapi tidak apa-apa, semakin dingin sikapnya, semakin menantang untuk Aku dapatkan.’
Mereka berdua melihat deburan ombak di tepi pulau berduaan. Novita pun semakin penasaran dengan Darwin, yang sedari tadi dia duduk di sampingnya sama sekali tidak bertanya balik kepadanya.
"A ... Apakah kamu ikut trip ini sendirian saja, atau dengan seseorang?" ujar Novita bertanya pada Darwin.
"Dengan seseorang." jawab Darwin dengan cepat.
"Anggota peserta nomor berapa?" ujar Tika kembali bertanya pada Darwin.
"Delapan." Darwin menjawab singkat.
Mendengar perkataan Darwin, Novita pun mengangguk pelan. Novita lalu berkata, "Lalu, mengapa dia tidak datang? Apa kalian sedang bertengkar?" ujar Novitaa mencoba mengajak Darwin mengobrol lagi.
"Meninggal." Darwin kembali menjawab dengan wajah datarnya.
Mendengar perkataan Darwin barusan, Novita pun sangat terkejut. Dia yang merasa tidak enak lalu berkata, "Aduh, maaf ya. Aku sama sekali tidak tahu. Sekali lagi, maaf banget sudah membuatmu mengatakan itu." ujar Novita merasa tidak enak pada Darwin. Novita melanjutkan, "Ya ... Ya sudah, ka ... Kalau begitu, Aku balik ke perkemahan dulu, ya. Jangan lupa, ini di makan. Bye!"
Darwin pun hanya diam dengan wajah datarnya.
Begitu Novita sampai di perkemahan, dia pun masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Sedangkan Andre, dia jalan menuju toilet milik warga sekitar untuk melakukan buang air besar.
"Byur! Byur!"
"Srekk! Srekk!"
Ketika Andre sedang buang air besar, dia pun mendengar suara yang berasal dari depan pintu toiletnya.
"Siapa?" ujar Andre berteriak dari dalam toilet.
"......"
Tidak ada seorang pun yang menjawab Andre. Namun, setelah itu Andre mendengar suara seperti orang sedang berjalan, dan berhenti tepat di depan pintu toilet yang sedang dia gunakan.
"Hei, jangan bercanda, Nov! Awas saja ya, kalau sampai ketahuan!" ujar Andre pada sosok di depan pintu toilet.
Tidak lama kemudian, Andre pun telah selesai buang air besar. Dia lalu bersiap ingin mengagetkan orang orang yang sedari tadi mengerjai dirinya di depan pintu.
"Whaa!" Andre berteriak sangat keras bermaksud untuk mengagetkan orang yang berada di depan toilet tersebut.
Namun, alangkah bingung-nya Andre ketika dia ingin membuat orang itu kaget, tetapi malah dirinya yanh harus di buat kaget karena tidak ada seorang pun di sana.
"Loh? Bukankah seharusnya ada seseorang di depan pintu ini?" ujar Andre kebingungan.
Andre mencoba melihat ke arah sekitar toilet, dan mencari yang tadi mengganggunya. Namun, tidak ada seorang pun di sana. Bahkan, pemilik warung saja sedang menonton televisi di dalam.
"Mungkin hanya perasaanku saja kali, ya? Ya sudah lah." gumam Andre langsung balik ke perkemahan.
Pagi harinya, Novita terlihat sedang merias wajahnya dengan riasan tipis. Sedangkan Andre, dia mencoba membuat api, dan membuat minuman untuk para peserta trip.
"Novita merias wajah lama banget sih?" ujar Andre mencoba menghampiri Novita.
Sesampainya di depan tenda Novita. Andre lalu menggoyang-goyangkan tenda milik Novita, hingga lipstik yang sedang Novita kenakan pun harus melebar ke sudut bibirnya beberapa sentimenter.
"Nov! Kamu sedang apa di dalam? Lama sekali." ujar Andre sambil berteriak memanggilnya.
Novita yang kesal pada Andre pun membuka tendanya, dengan lipstik yang masih berantakan karena ulah Andre.
"Apa sih? Liat nih, gara-gara ulah kamu! Lipstik yang Aku pakai, malah belepotan ke mana-mana, tahu!" jawab Novita sedikit kesal pada Andre.
Sontak saja Andre yang melihat Novita seperti ondel-ondel itu pun tertawa, "Hahaha...!" Andre tertawa sangat puas ketika melihat Novita.
"Awas ya, kamu! Pokoknya, tidak ada jatah kopi hari ini, untukmu!" ujar Novita memberi ancaman pada Andre.
"Dih, kok begitu?" jawab Andre pasrah.
"Lagi, kamu! Bukannya tunggu, dan urus para peserta dulu. Ini malah mengganggu, dan membuatku menjadi lama lagi." ucap Novita dengan nada kesal pada Andre.
"Iya dah, maaf... Aku salah." ucap Andre dengan tulus.
"Ya sudah, sana-sana!" Novita mengibaskan tangannya pada Andre untuk segera kembali mengurus para peserta.
Setelah itu Andre pun kembali ke tempat perapian, dan mulai menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan dia berikan kepada para peserta.
‘Dia mau ke mana, tuh?’ gumam Andre dalam hati ketika melihat peserta nomor sebelas jalan menuju karang di atas.
Hingga tidak lama kemudian, Novita yang baru saja selesai pun ikut membantu menyiapkan untuk para peserta sarapan.
"Eh, Nov! Tadi, Aku lihat peserta nomor sebelas ke atas sana, ngapain sih?" ujar Andre bertanya pada Novita.
"Oh, dia! Paling dia ngeliat ombak, sambil menenangkan diri di sana." jawab Novita dengan santai.
Andre yang mendengar Novita menjawab menenangkan diri pun sedikit kebingungan. Dia lalu berkata, "Menenangkan diri?" jawab Andre kebingungan.
"Iya, menenangkan diri." ucap Novita dengan cepat sambil mengangguk. Novita melanjutkan, "Jadi, tadi malam dia sempat sedikit bercerita kepadaku."
"Cerita apa, cerita apa?" jawab Andre dengan cepat.
"Yeh! Sabar kali. Baru juga mau jelasin, tapi malah sudah di potong saja." ujar Novita sambil mengusap wajah Andre.
"Ya sudah, cepat lanjutkan!" jawab Andre dengan penuh penasaran.
"Jadi, dia semalam bercerita, kalau dia ikut trip ini bersama kekasihnya. Namun, kekasihnya telah meninggal, dua hari sebelum kita berangkat. Maka dari itu, mungkin dia masih sedih saat ini. Sehingga dia menarik diri, dan enggan bergabung dengan para peserta lainnya. Begitu!" ujar Novita menjelaskannya pada Andre.
"Kekasihnya? Apa kekasihnya yang nomor delapan ini, Nov?" jawab Andre, dan kembali bertanya pada Novita.
"Iya, benar! Peserta nomor delapan itu adalah kekasihnya, dia sudah meninggal dua hari yang lalu." ujar Novita mempertegasnya pada Andre.
"Oh, seperti itu ceritanya. Aku kira, dia orang aneh yang ikut dalam trip kali ini. Ternyata Aku salah menilainya." jawab Andre sedikit merasa bersalah.
"Maka-nya, jangan asal kasih pendapat, sebelum tahu kebenarannya seperti apa." ujar Novita kembali menasihati Andre.
"Iya, iya, maaf." jawab Andre dengan tulus.
"Sudah nih, ayo kita bagikan kepada para peserta yang lain." ujar Novita sambil berdiri membawa beberapa makanan.
Novita, dan Andre pun langsung berdiri. Mereka lalu membagikan makanan kepada para peserta yang sudah menunggu jatah sarapan sejak tadi pagi.
Selesai memberikan sarapan kepada para peserta, Novita pun kembali ke dalam tenda untuk mengambil ponselnya untuk melihat jam.
"Masih cukup lah waktunya, untuk ke ke pulau lainnya setelah para peserta sarapan." ujar Novita sambil melihat ponselnya. Novita melanjutkan, "Di pulau ini memang tidak ada sinyal, atau bagaimana sih? Kok tidak ada notifikasi chat apa pun sama sekali. Aneh."
Novita lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, dan dia pun segera kembali ke tempat Andre untuk memberikan sarapan buat Darwin yang berada di pinggir pantai.
"Ndre, Aku mau anter sarapan dulu ke Darwin, ya. Kamu di sini saja dulu, melayani para peserta lainnya, ya." ujar Novita pada Andre.
"Hu.uh! Dasar wanita, tidak boleh liat cowok tampan dikit, langsung kegatelan." Andre mendengus pada Novita.
"Sirik, ya? Karena tidak bisa menghubungi Aira?" ujar Novita kembali meledek Andre lalu pergi.
Seketika Andre pun teringat dengan Aira, kekasihnya yang sama sekali belum memberikan kabar kepadanya ketika mereka sedang menuju pulau ini.
"Benar juga, ya! Dari kemarin, Aira sama sekali tidak memberikan kabar kepadaku. Kok Aku sampai lupa seperti ini, ya?" gumam Andre lalu mengambil ponsel di sakunya.
Begitu Andre mengecek ponselnya, ternyata bar sinyal, dan internet di sana tidak dapat menjangkau ponsel miliknya. Maka dari itu, dia tidak mendapatkan kabar dari Aira.
"Pantas saja! Ternyata tidak ada sinyal, di pulau ini." ujar Andre tidak berdaya melihat ponselnya.
Kominikasinya dengan Aira terakhir kali adalah, kemarin siang ketika dia memberikan kabar akan segera berangkat ke pulau ini. Setelah itu, tidak ada lagi pesan balasan dari Aira yang masuk di ponselnya.
Di saat Novita membawa sarapan untuk Darwin, dia mencium bau amis, dan aroma bangkai kemarin yang justru malah semakin menyengat.
"Ini bangkai apa sih sebenarnya? Mengapa bisa begitu sangat bau seperti ini?" ujar Tika sambil menahan napasnya.
Novita lalu menghampiri ke tempat Darwin yang sedang duduk sambil menghadap ke lautan lepas. Tika berkata, "Hai, Darwin. Ini, Aku membawakan kamu sarapan." ujar Novita memberikan makanan yang dia pegang kepada Darwin.
Ketika Darwin mengambil makan itu dari tangannya. Tika pun merasakan dingin di telapak tangan Darwin, saat tangan mereka saling bersentuhan.
"Terima kasih." Darwin menjawab cepat dengan wajah datarnya.
Novita pun menemani Darwin sebentar sambil melihat ke arah lautan, dan menikmati angin laut di pagi menjelang siang.
"Nanti, setelah kamu selesai sarapan langsung balik ke tenda, ya. Karena nanti jam sepuluh siang, kita akan mengunjungi pulau-pulau lainnya bersama para peserta trip." ujar Novita pada Darwin.
Darwin pun hanya mengangguk sambil terus melihat ke arah lautan yang luas.
"Ya sudah, kalau begitu Aku kembali ke tenda dulu, ya. Sampai nanti." ujar Novita lalu berdiri dari tempatnya duduk.
Ketika Novita hendak berdiri, tanpa sengaja dia pun melihat ke tempat semalam Darwin duduk bersama dirinya, dan masih terdapat makanan yang dia berikan untuk Darwin tidak di sentuh sedikit pun.
"Kamu sudah balik, Tik?" ujar Andre bertanya pada Tika.
"Sudah lah, Aku 'kan memang niatnya ingin memberikan sarapan saja, untuk Darwin." Tika menjawab dengan santai pada Andre.
"Oh, ya sudah." jawab Andre dengan cepat. Andre melanjutkan, "Ternyata perkataanmu benar, Nov. Di pulau ini, sama sekali tidak ada sinyal, dan koneksi internet sedikit pun."
"Aku 'kan sudah menjelaskannya tadi, kepadamu." Novita menjawab sedikit malas pada Andre yang tidak mempercayainya.
"Iya, iya maaf." ucap Andre pada Tika.
Seketika Novita pun teringat dengan makanan semalam yang dia berikan untuk Darwin. Tika berkata, "Ndre, menurutmu, manusia bisa menahan haus, dan lapar berapa hari?" ujar Novita bertanya pada Andre.
"Hah? Tumben sekali kamu bertanya seperti itu, Nov? Memangnya ada apa? Kamu ingin diet lagi?" Andre menjawab dengan santai pada Novita.
"Ya tidak apa-apa, Aku ingin tahu saja." ujar Tika pada Andre.
"Menahan haus, dan lapar, ya?" ujar Andre sambil berpikir sejenak. Dia meneruskan, "Pada umumnya, seseorang yang tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, tubuhnya dapat bertahan hidup paling tidak sekitar satu minggu. Namun jika masih ada asupan air tanpa makanan, lama seseorang bertahan hidup bisa lebih lama, sekitar 2 hingga 3 bulan. Ya Aku juga tidak tahu pasti sih. Tapi, kurang lebih seperti itu, Nov."
Andre terdiam sebentar, setelah menjelaskannya pada Novita. Dia lalu bertanya, "Memang ada apa sih, kok kamu tiba-tiba bertanya itu kepadaku?" Andre bertanya dengan raut wajah penasaran.
"Tidak, tidak ada apa-apa." jawab Novita dengan cepat.
Setelah mengobrol dengan Andre, perahu yang kemarin sudah di pesan Novita pun sudah bersandar di tepi pantai.
Novita lalu mengajak semua peserta trip, untuk mengunjungi pulau-pulau lain yang memang masuk dalam acara mereka.
"Ayo, cepat! Kita akan melihat ke pulau-pulau lainnya." ujar Tika melalui spiker pengeras suara.
Hingga ketika semua peserta yang ingin ikut naik ke dalam perahu, tiba-tiba ada seorang wanita yang kemarin terlihat menggendong anaknya menghampiri Novita.
"Kak Novita, sepertinya Aku tidak ikut ke pulau lainnya. Aku menunggu di tenda saja bersama suamiku." ujar wanita itu pada Novita.
"Tidak bisa, Bu. Semua harus ikut. Karena sayang sekali, jika Ibu tidak ikut ke pulau itu." Novita menjawab, dan berusaha merayu wanita tersebut.
"Tidak apa-apa, Kak Nov. Soalnya anak saya tidak mau ikut. Dia bilang takut. Entah takut apa, Aku juga tidak mengerti." ujar wanita itu menjelaskannya pada Novita.
"Oh, ya sudah kalau tidak mau. Takutnya malah anaknya rewel, dan merepotkan Ibu." jawab Novita sambil tersenyum.
Novita mengalihkan pandangannya, dan melihat ke arah pria yang masih duduk di dekat tenda, sambil meminum kopi.
"Pak, Bapak tidak ikut?" ujar Novita bertanya pada pria tersebut.
"Tidak, saya tidak ikut. Istri, dan anak saya juga tidak ingin ikut. Katanya anak saya takut, Kak Tika." pria itu menjawab, dan menjelaskannya pada Novita.
Novita semakin di buat kebingungan, ketika sudah dua orang yang mengatakan anaknya mengatakan takut.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu, Aku titip tenda di sini, ya, Pak." ucap Novita pada pria itu.
"Tenang saja, Kak Novita. Saya jaga di tenda." jawab pria itu dengan cepat.
******
Singkat kata, mereka pun tiba di sebuah pulau kedua yang masuk dalam destinasi paket liburan. Pulau yang mereka kunjungi ini terdapat rumah mewah, yang berada di tengah-tengah pulau.
Sehingga, di sana pun terdapat pancaran sinyal, dan koneksi internet yang cukup memadai.
"Ting! Ting! Ting!"
Terdengar beberapa dering ponsel milik para perserta yang saling bersahutan, dan memunculkan notifikasi pesan yang sempat pending akibat susahnya sinyal di pulau mereka.
Ponsel Andre juga berbunyi, dan memunculkan notifikasi panggilan, serta pesan kemarin yang baru saja masuk.
"Tumben, banyak sekali Aira mencoba menghubungiku." ujar Andre menatap layar ponselnya.
"Mungkin dia kangen kali sama kamu, Ndre!" Novita menjawab sambil cengengesan.
Andre lalu membuka percakapannya dengan kekasihnya, Aira. Di sana, Aira memberitahu, bahwa peserta nomer delapan berhalangan hadir karena kekasihnya yang berada di nomer urut sebelas telah meninggal dunia akibat kecelakaan.
"Nov, Novita! Coba kamu baca pesan Aira ini, Tik!" ujar Andre pada Novita.
"Apa sih, Ndre! Aku sedang menghitung uang untuk membayar perahu ini." jawab Novita sambil fokus menghitung.
Andre lalu menarik tangan Novita, dan memperlihatkan isi pesan yang di kirimkan oleh Aira kepadanya.
"Ini, lihat!" Andre memperlihatkan isi pesan Aira tepat di hadapan Novita yang sedang menghitung uang.
"Apa sih!" Novita mengambil ponsel Andre, dan mulai membacanya.
Alangkah terkejutnya Novita, ketika dia membaca isi pesan Aira yang mengatakan kalau peserta nomor delapan mengabarinya, dan memberitahu kepada Aira.
Jika dia, peserta nomer delapan berhalangan ikut trip ini, karena kekasihnya yang nomor urut sebelas baru saja meninggal dua, sampai tiga hari yang lalu.
Novita, dan Andre lalu menoleh ke arah peserta nomor sebelas yang memang ikut dalam perjalanan menuju pulau.
Hingga tidak lama kemudian, peserta pria nomor sebelas itu pun menghilang begitu saja dari pandangan Andre, dan Novita.
Tamat.
Desen11