"Aaa...! Setan...!"
Cindy, dan ketiga temannya yang lain pun kebingungan melihat Ronald berlari dari dalam ruangan.
"Nald! Kamu kenapa lari seperti itu?" ucap Cindy berteriak pada Ronald.
"Setan! Di sana ada kuntilanak merah, Cin!" ucap Ronald sambil melanjutkan berlari.
Begitu Ronald kembali berlari, Anggita, dan Riri juga menjerit sambil menutup wajah mereka masing-masing.
"Git! Ri! Kenapa? Kenapa kalian juga berteriak seperti itu?" tanya Cindy pada dua sahabatnya.
"Cin! Aku mau pulang, Aku mau pulang sekarang, Cin!" Gita berteriak histeris pada Cindy sambil menutup matanya.
"Pulang? Ada apa sih dengan kalian bertiga? Jelas-jelas Aku, dan Bram saja tidak melihat apa-apa di sini!" ucap Cindy pada Gita.
"Cin, terserah kamu mau percaya atau tidak, ya! Intinya, Aku, dan Gita akan pulang sekarang juga, titik!" Riri ikut berbicara dan menarik tangan Gita.
"Git! Riri...!" Cindy berteriak memanggil Gita, dan Riri yang ikut pergi meninggalkannya.
"Bram, bagaimana ini? Masa kita harus akhirin penelusuran kita malam ini?" ucap Gita bertanya pada Bram.
"Sudahlah, Cin. Kamu tidak perlu pedulikan mereka. Palingan mereka hanya berhalusinasi saja. Memang penakut mereka" jawab Bram dengan santai pada Cindy.
Cindy, dan Bram pun Akhirnya meneruskan penelusurannya lagi, dan semakin masuk ke dalam.
"Srek! Srek!"
"Apa kamu mencium sesuatu, Cin?" tanya Bram pada Cindy.
"Ya! Aku menciumnya, Bram." Cindy menjawab dengan cepat seraya mengangguk. Cindy melanjutkan, "Kalau begitu, mari kita lanjutkan, Bram."
Cindy mengarahkan senternya, dan menyorot satu per satu ruangan menggunakan senternya.
"Di dalam ruangan ini terasa panas sekali, dan juga sedikit lembab." ucap Cindy menjelaskannya di depan kamera.
"Uhuk! Uhuk!"
"Debu di dalam ruangan ini juga sangat tebal, dan masih banyak meja yang sudah mengalami pelapukan." ucap Cindy.
Bram terus merekam pergerakan Cindy yang berada di depan menggunakan kamera yang di pegangnya.
"Ayo, kita ke ruangan lainnya." ucap Cindy berjalan keluar menuju ruangan lain. Cindy melanjutkan, "Jadi teman-teman, di sini terdapat banyak sekali ruangan. Ruangan-ruangan ini, dulunya di pakai sebag...!"
"Aaa...! Toloong...!"
Belum selesai Cindy menjelaskan di depan kamera, terdengar suara teriakan Riri yang sangat keras sampai terdengar di telinga mereka.
"Riri! Bukankah itu suara Riri, Bram?" ujar Cindy memberitahu Bram.
"Iya, Cin! Itu memang suara teriakan Riri. Ayo kita cari dia!" jawab Bram sambil mematikan kamera yang di bawanya.
Cindy, dan Bram pun mencari sumber suara Riri yang masih berteriak histeris.
"Ri...! Riri...! Kamu di mana, Ri!" Cindy berteriak memanggil Riri sambil terus berlari.
"Toloong...! Tolooong...!"
Suara teriakan Riri semakin melemah, tapi masih bisa terdengar di telinga Cindy, dan juga Bram.
"Lewat sini, Cin! Cepat! Cepat!" Bram mengarahkannya menuju sumber suara.
Ketika mereka mencari sumber suara teriakan Riri, dalam sekejap suara teriakan itu pun menghilang, dan tidak terdengar sama sekali.
"Suara Riri menghilang, Bram!" Cindy bertanya pada Bram dengan napas terengah-engah.
"Hu.uh! Hu.uh!"
"Kamu benar, Cin! Sepertinya, teriakan Riri tadi, ada di sekitar sini. Tapi...!" Bram menjawab sambil mengatur napasnya.
"Ya sudah, Bram. Ayo kita cari teman-teman yang lainnya. Sepertinya ada yang tidak beres, dengan tempat ini!" Cindy mengajak Bram berkeliling mencari teman-temannya.
"Riri...! Gita...! Ronald...! Kalian di mana?" Bram berteriak memanggil ketiga temannya.
"Sumpah! Kalau kalian bercanda, ini sama sekali tidak lucu!" Cindy juga ikut menimpali sambil berteriak.
"Cin! Cin! Di sana...!" Bram menepuk bahu Cindy dan menunjuk ke arah lainnya.
"Gita! Iya, benar itu Gita, Bram! Cepat kita ke sana!" Cindy membelalak melihat sahabatnya yang tergeletak.
"Git...! Anggita!" Cindy mencoba menyadarkan Gita sambil menepuk pipinya.
"Kamu minggir dulu, Cin! Kita pindahkan ke tempat lain dulu, ayo!" ujar Bram sambil mengangkat tubuh Gita. Bram melanjutkan, "Ini! Kamu pegang dulu, Cin!"
Bram pun mengangkat tubuh Gita, dan membawa ke sebuah ruangan. Kemudian, Bram menyandarkan Gita, dan mencoba untuk membangunkannya.
"Gita! Gita...!" Bram menepuk pelan wajah Gita.
"Ini, ambil ini Bram!" Cindy memberikan minyak angin pada Bram.
"Uhuk! Uhuk!"
"Haaa...! Hu.uh! Huh!" Gita akhirnya sadar dari pingsan.
"Kasih minum, Bram! Ini!" ucap Cindy memberikan sebotol air pada Bram.
"Glug! Glug! Haa..aah!" Gita menarik napas panjang, lalu memeluk Bram. Gita mengatakan, "Bram! Aku takut sekali, Bram!"
"Kamu kenapa bisa pingsan di sana, Git? Bukankah kalian bertiga tadi berlari bersama-sama? Kenapa hanya kamu saja yang ada di sana?" Bram bertanya pada Gita yang terus memeluknya.
"Huaa...! Huaa...!"
"Ta ... Tadi, ketika kami pergi meninggalkan kalian, dan mengikuti Ronald. Aku, dan Riri pun terpisah, Cin!" ucap Gita pada Cindy, dan juga Bram.
"Terpisah? Kenapa kalian bisa terpisah?! Memangnya ada apa?" Cindy menjawab, dan balik bertanya pada Gita.
"Ta ... Tadi, ketika Aku, dan Riri sedang berlari mengikuti Ronald. Kami bertiga di tampakan setan, Cin! Huaaa...!" Gita menjelaskannya sambil menangis di pelukan Bram.
"Lalu? Riri, dan Ronald! Mereka ada di mana, sekarang?!" Cindy kembali bertanya pada Gita yang menangis sesegukan.
"Aku...! Aku sama sekali tidak tahu ke mana mereka pergi, Cin!" jawab Gita sedikit terbata-bata. Gita melanjutkan, "Tapi...! Tapi, ketika kami bertiga berlari semakin jauh! Anehnya, kami bertiga pun hanya seperti berputar-putar saja, dan kembali ke tempat awal, Cin!"
"Huaaa..! Huaaa...!"
"Sudahlah, Git. Kamu tenang dulu, ok! Sekarang kamu sudah bersama dengan kami." ucap Bram mencoba menenangkan Gita.
"Kalau begitu! Ayo, kita cari Riri, dan Ronald sekarang, Bram!" Cindy menimpali perkataan Bram.
"Kamu sudah bisa berdiri 'kan, Git?" Bram bertanya pada Gita sambil menatapnya.
"Ya, Bram. Aku bisa berdiri." jawab Gita mengangguk pelan. Gita melanjutkan, "Ta ... Tapi Aku takut, Bram! Huaa...! Huaa...!"
"Ya sudah, kamu tenang dulu ya, Git! Kita cari teman-teman yang lain dulu, baru kita pergi dari tempat ini!" Cindy mencoba menenangkan Gita yang terlihat sangat ketakutan.
"Tidak! Pokoknya Aku mau pulang! Aku mau pulang, Cin!" Gita terus merengek pada Cindy.
"Iya... Nanti kita pulang, jika teman-teman yang sudah di temukan, ok!" Cindy kembali menenangkan Gita.
"Ayo, cepat kita cari Riri, dan juga Ronald!" Bram membantu Gita untuk berdiri.
"Kamu pegangi Gita ya, Bram." ucap Cindy mengatakannya pada Bram.
"Kamu tenang saja, Cin." jawab Bram seraya menganggukan kepala.
Mereka bertiga lalu menelusuri tempat pertama berkumpul, dan mencari teman-temannya.
"Riri...! Ronald...! Kalian di mana?" Cindy berteriak memanggil nama mereka.
"Git! Apa kamu melihat ke arah mana mereka perginya?" Bram bertanya pada Gita yang masih terlihat lemas.
"Aku... Aku sama sekali tidak tahu, Bram. Tapi, kalau tidak salah, Riri, dia berlari ke arah sana!" Gita menunjuk ke jalan lainnya.
"Baiklah, ayo kita cari mereka." Cindy ikut menimpali dengan sangat berani.
Mereka bertiga terus memanggil nama Riri, dan juga Ronald yang entah di mana keberadaannya.
"Riri...!" Bram ikut berteriak menyerukan nama Riri.
"Ronald...!" Cindy juga ikut berteriak memanggil Ronald.
"Cin! Bram! Di sana! Itu Riri di sana!" Gita melihat Riri yang sedang bersembunyi sambil menutupi wajahnya.
"Ri! Riri...!" Cindy berteriak sambil berlari.
Cindy menghampiri Riri, yang terlihat sangat ketakutan. Cindy berkata, "Ri! Kamu tidak apa-apa?" Cindy bertanya pada Riri yang sedang menangis.
"Cindy? Kamu benar Cindy, kan?" Riri terlihat sangat ketakutan sambil memastikannya.
"Iya! Aku Cindy, Ri!" jawab Cindy dengan cepat.
"Cindy....! Huaaa...!" Riri pun menangis di pelukan Cindy. Riri melanjutkan, "Cin! Aku mau pulang! Aku takut, Cin!"
"Kamu tenang ya, kita cari Ronald terlebih dahulu, ok! Setelah itu, baru kita pulang." jawab Cindy mencoba menenangkan Riri.
"Tidak mau, Aku tidak mau, Cin! Pokoknya Aku ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini!" Riri menangis histeris dalam dekapan Cindy.
"Sudah, ya. Sekarang, kamu tidak usah takut lagi. Karena sudah ada Aku, Bram, dan juga Gita." ucap Cindy menenangkannya.
"Gita?" Riri pun menoleh ke arah Gita yang sedang di pegangi oleh Bram. Riri melanjutkan, "Gita...! Aku takut, Git! Ayo kita keluar dari tempat ini! Aku tidak mau bertemu dengannya lagi! Pokoknya Aku tidak mau!"
"Iya, Ri! Aku juga ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini! Tapi, kita harus menemukan Ronald terlebih dahulu. Kamu bersabar, ya." Gita memeluk Riri sambil menepuk pelan tubuhnya.
Riri pun menangguk, sambil mengusap air matanya. Setelah itu, mereka pun mencari Ronald yang masih belum di temukan.
"Ayo! Kita lanjutkan pencarian Ronald secepatnya! Perasaanku sudah tidak enak dengan tempat ini!" ucap Cindy pada teman-temannya.
Ketika mereka akan melanjutkan perjalanan, Cindy mencium wangi bunga yang sangat semerbak dibarengi dengan bau tidak sedap.
"Apa kalian menciumnya?" tanya Cindy pada ketiga temannya.
"Iya, Cin! Kami juga menciumnya." jawab Bram mengangguk pelan.
"Kalau begitu, cepat!" ucap Cindy mengajak teman-temannya.
"Nald! Ronald...!" Bram kembali berteriak menyerukan nama Ronald.
"Ron...!"
Belum selesai Cindy menyerukan nama Ronald, dia pun terjatuh di tanah.
"Cin! Cindy...!" Bram sangat terkejut melihat Cindy yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Dalam alam bawah sadarnya, Cindy seperti melihat seorang wanita. Meski tidak terlalu jelas, tapi wanita itu sepertinya terlihat sangat depresi.
"Hei, kamu!" Cindy memanggil wanita di alam bawah sadarnya. Cindy melanjutkan, "Tunggu! Tunggu sebentar!"
Wanita itu berhenti cukup jauh dari Cindy. Dia hanya menatapnya, dengan tatapan dingin pada Cindy, dan tidak menjawabnya.
"Tungg...!"
Ketika Cindy mencoba berinteraksi dengan wanita tersebut, dirinya pun akhirnya sadar, dan kembali ke dunia nyata.
"Haa...! Hu.uh! Huh!" Napas Cindy pun terengah-engah saat baru saja sadar.
"Kamu kenapa, Cin? Apa kamu baik-baik saja?" Bram bertanya pada Cindy yang baru saja sadar.
"Ya! Aku baik-baik saja, Bram." jawab Cindy mencoba mengatur napasnya.
"Ini! Kamu minum saja dulu. Kita istirahat saja sebentar, di sini." ujar Bram sedikit kasihan melihat Cindy.
"Tidak usah, Bram! Aku masih kuat kok. Lebih baik kita segera lanjutkan saja untuk mencari Ronald. Jika kita terlalu lama di tempat ini, itu akan membuat kita semua akan semakin dalam bahaya." Cindy menjawab pada Bram, dan mencoba meyakinkannya.
"Kamu serius, Cin? Apa kamu yakin tidak apa-apa jika kita melanjutkannya?" Bram terlihat khawatir melihat kondisi Cindy.
"Ya! Aku tidak apa-apa." jawab Cindy dengan cepat. Cindy melanjutkan, "Ayo!"
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau." Bram mengangguk pelan.
Cindy, Bram, dan kedua temannya pun kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari keberadaan Ronald yang entah di mana dia berada.
"Pergi kalian dari sini...!"
"Apa kalian mendengarnya?" ujar Cindy bertanya pada Bram, dan kedua temannya.
"Ya! Kami juga mendengarnya dengan jelas, Cin!" jawab Bram sambil mengangguk.
"Cin... Ayo kita pulang sekarang. Aku tidak mau melanjutkan mencari Ronald, Cin." Riri ikut menimpali pada Cindy.
"Aku juga, Cin! Aku sudah tidak sanggup lagi. Kita pulang ya, pulang..." Gita juga ikut merengek pada Cindy.
"Tidak bisa, Git, Ri! Kita datang ke tempat ini berlima, masa kita keluar dari tempat ini hanya berempat saja! Kalau kalian ingin pulang, kalian pulang saja duluan! Aku akan tetap mencari Ronald, sampai dia berhasil ditemukan. Terserah Bram! Mau ikut kalian pulang, atau tetap bersamaku mencari Ronald." Cindy mengatakannya dengan ketus pada Riri, dan juga Gita.
"Cin! Kamu kok berbicara seperti itu?" ujar Riri yang sedikit tidak terima dengan Cindy.
"Berbicara apa? Apa yang Aku katakan itu salah? Aku tidak memaksa kalian ikut denganku untuk mencari Ronald. Kalau kalian ingin pulang, ya sudah! Pulang saja sana!" Cindy kembali menekankan nada bicaranya pada Riri.
"Jangan mentang-mentang kamu sudah menyelamatkanku, kamu merasa paling hebat begitu ya, Cin! Jika sebelumnya Aku tahu kejadiannya akan seperti ini, Aku tidak akan mau ikut denganmu!" Riri kembali membentak pada Cindy.
"Asal kamu tahu saja ya, Ri! Aku, Tidak pernah mengajakmu. PAHAM!" Cindy mengatakannya dengan nada pelan dan juga dingin pada Riri.
Riri pun terdiam dengan perkataan Cindy barusan.
"Bram! Kamu mau ikut mereka pulang, atau ikut bersamaku mencari Ronald!" Cindy bertanya pada Bram.
Bram terdiam sejenak, dan memikirkannya. Bram menjawab, "Ta ... Tapi, Cin! Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian berdua!" Bram menjawab tidak berdaya dengan pilihan yang di hadapkan padanya.
Cindy mengangguk dengan cepat sambil melihat Bram. Cindy berkata, "Oke...! Oke! Kalau begitu, kamu ikut mereka saja. Aku bisa mencari Ronald sendiri." Cindy terlihat kecewa pada pilihan Bram.
"Cin! Tunggu, Cin! Bukan itu maksud Aku!" ucap Bram ketika melihat Cindy pergi. Bram berteriak, "Cindy...!"
Setelah melihat Cindy pergi, Bram pun melihat kedua wanita yang ada bersamanya.
"Puas kalian?" ujar Bram pada Riri.
"......"
Riri, dan Gita pun diam tidak bergeming.
"Ya sudah, kita pulang sekarang!" ujar Bram pada Riri, dan Gita.
******
Di tempat lain, Cindy terus melakukan pencarian untuk menemukan Ronald.
"Nald...! Ronald..." Cindy memanggilnya.
"Brak!"
Cindy sangat terkejut ketika mendengar sebuah pintu yang di banting dengan keras.
"Hu.uh...! Itu hanya angin, Cin! Kamu tidak boleh takut." Cindy mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Sesampainya di dalam ruangan, Cindy menyorotkan senternya ke depan.
"Deng!"
Tidak jauh dari tempat Cindy berdiri. Di sana ada seorang wanita bergaun merah yang sedang berdiri menatap ke arahnya.
"Glug!"
Cindy melangkahkan kakinya kebelakang, dan mundur secara perlahan.
"Si... Siapa kamu?" ujar Cindy pada wanita di depannya.
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan yang Cindy lontarkan, dan hanya menatapnya saja.
Ketika jarak Cindy dengan wanita itu mulai menjauh, Cindy pun berlari tidak karuan.
"Bruk! Bruk! Bruk!"
Setelah berlari cukup jauh dari ruangan tersebut, Cindy pun berhenti di depan sebuah ruangan.
"Hu.uh...! Hu.uh...!"
"Tempat apa lagi ini?" ucap Cindy melihat sekelilingnya.
Cindy lalu masuk ke dalam ruangan tersebut, dan berkata, "Nald? Apa kamu di dalam?" Cindy berjalan sangat hati-hati memasuki ruangan tersebut.
"Kamu di mana, Nald?" ucap Cindy terus memanggil Ronald.
"Krak! Krak!"
Di lantai, banyak sekali kaca yang berserakan di injak oleh Cindy.
"Siapa di sana?!" seru Cindy menyorotkan senternya ke belakang.
Sekelebat bayangan hitam pun muncul di depannya, ketika Cindy sedang menyorotkan senternya ke belakang.
"Aku harus secepatnya mencari Ronald." ujar Cindy.
Cindy keluar dari dalam ruangan tersebut, dan ketika dia baru saja keluar. Cindy pun melihat seorang pria yang sedang berjalan cukup jauh di depannya.
"Ronald!" Cindy berteriak memanggil pria yang dia kira sebagai Ronald.
Cindy lalu mengejarnya, dan berlari dengan sangat cepat.
"Nald! Ronald, tunggu Nald!" Cindy terus berlari sambil berteriak memanggilnya.
Saat Cindy sedang berlari mengejar pria yang dikiranya adalah Ronald. Cindy pun tidak melihat sebuah balok, dan akhirnya dia pun terjatuh hingga kepalanya terbentur di tiang bangunan.
"Duk! Sreet! Bugh!"
Cindy pun pingsan, dan kembali tidak sadarkan diri.
******
Di sisi lain, Bram yang sedang mencari jalan keluar pun seperti sedang di putar-putar ke tempat yang sama.
"Ini tidak beres! Ini ada yang tidak beres!" ujar Bram berbicara sendiri.
"Benar 'kan! Ini pasti ulah kuntilanak merah itu, Bram!" Riri menimpali perkataan Bram.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bram? Aku takut!" ucap Gita pada Bram.
"Kalian tenang dulu, ya. Aku juga bingung!" Bram menjawab pada Riri, dan juga Gita.
"Tenang? Kamu menyuruhku untuk tenang, Bram? Bagaimana Aku bisa tenang di tempat seperti ini, Bram?" Riri menjawab perkataan Bram.
"Ri! Kamu bisa diam, tidak? Aku juga tidak tahu, mengapa kita hanya berputar-putar saja di tempat ini! Kalau kamu tidak bisa diam, Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini!" Bram mengatakannya dengan nada tinggi pada Riri.
"Apa kamu bilang? Meninggalkanku berdua dengan Gita di tempat ini?" Riri menjawab pada Bram menggunakan nada yang tinggi juga.
"Iya! Jika kamu tidak bisa diam, Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini!" Bram kembali mengatakannya dengan tegas pada Riri.
"Oh...! Kalau begitu, kenapa kamu tidak pergi saja sekarang!" Riri menantang Bram untuk meninggalkannya.
Mendengar jawaban Riri barusan. Bram lalu mengangguk dengan cepat. Dia berkata, "Oh, oke! Kalau begitu, kalian urus saja diri kalian sendiri! Aku akan menyusul Cindy lagi!" ucap Bram lalu pergi meninggalkan Riri, dan Gita.
"Ri! Kamu kenapa sih? Gila ya, kamu! Masih untung tadi Bram mau ikut bersama dengan kita. Tapi, sekarang kamu malah mengusirnya begitu saja! Sebenarnya, apa sih yang ada di dalam isi kepalamu itu!?" Gita memaki Riri karena sudah mengusir Bram.
"Git! Kamu kenapa malah ikut marah-marah juga kepadaku? Kamu mau keluar dari tempat ini juga, kan? Seharusnya kamu membela Aku, bukannya membela mereka berdua!" Riri seolah tidak mau kalah, dan balik memaki Gita.
"Gila kamu, Ri! Asli, kamu sudah gila! Aku tidak bisa lagi mengerti dengan apa yang ada dalam pikiranmu saat ini." Gita menggeleng dengan wajah yang sangat kecewa pada Riri. Gita melanjutkan, "Asal kamu tahu ya, Ri! Saat Cindy, dan Bram menemukanku. Aku sudah ingin mengajak mereka berdua untuk segera keluar dari tempat ini! Namun, Cindy terus mengajak Bram, untuk mencari kamu, dan juga Ronald yang saat ini belum di temukan."
"Kalau saja Cindy, dan Bram merupakan orang yang hanya mementingkan keselamatan diri mereka sendiri. Mungkin saja Aku, Bram, dan juga Cindy sudah pergi dari tempat ini pada saat itu juga."
"Harusnya kamu bersyukur, dan berterima kasih pada Cindy, Ri! Mau bagaimana pun juga, mereka berdua yang telah menyelamatkan kita. Sekarang apa? Cindy, dan Bram telah pergi tidak tahu ke mana. Kalau tahu jadinya akan seperti ini, Aku juga menyesal telah memilih ikut bersamamu, dan meninggalkan Cindy sendirian!"
Gita lalu ikut pergi meninggalkan Riri di sana seorang diri, setelah dia memakinya.
******
"Cindy! Kamu di mana, Cin?!" Bram berteriak memanggil Cindy.
Bram terus berteriak memanggil Cindy sambil menyusuri lorong-lorong di bangunan tersebut.
"Bram...! Cindy...! Kalian di mana?" Gita juga ikut berteriak memanggil Cindy, dan juga Bram.
Mereka berempat pun terpisah, dan saling mencari satu sama lain. Di dalam bangunan tersebut.
Riri yang sebelumnya bertengkar dengan Bram, dan juga Anggita. Kini hanya sendiri saja melanjutkan perjalanannya menuju pintu keluar.
"Mereka kira Aku tidak bisa apa-apa gitu tanpa bantuannya? Naif sekali mereka!" ujar Riri terus menggerutu sambil menyusuri jalan.
Namun, ketika dia sedang melihat ke depan. Tiba-tiba sesosok kuntilanak merah sedang menatap ke arahnya, dengan wajah yang sangat hancur.
"Hi...! Hihihi...! Riri! Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya. Kami harus mati!"
Riri yang melihat kuntilanak di depannya pun sangat terkejut. Dia lalu berlari ke arah kanan, sambil berteriak.
"Tidaaak...! Toloong...!" Riri berteriak sambil terus berlari.
Sosok kuntilanak yang sebelumnya berhadap-hadapan dengannya pun terus mengejarnya, dan mengikutinya.
"Hi...! Hihihi...!"
"Tolong...! Tolong Aku!" Riri terus berteriak meminta bantuan.
Gita yang masih belum jauh dari tempat Riri saat ini pun mendengar teriakan Riri.
"Riri!" ucap Gita ketika mendengarnya.
Gita lalu mencari di mana sumber suara Riri berasal. Meski dirinya juga sangat takut, tapi dia mencoba memberanikan dirinya untuk mencari.
"Ri! Riri...! Kami di mana, Ri?"Gita berlari mencari keberadaan Riri sambil berteriak.
"Tolooong! Toloong...!" Riri kembali berteriak.
Setelah cukup lama berlari, Riri pun terpojok di sebuah jalan yang di laluinya.
"Hi...! Hihihi...! Kami tidak bisa kabur ke mana pun lagi sekarang!"
"Ti ...! Tidak! Bukan Aku yang melakukannya, bukan Ak...!"
"Krak! Krak!"
Belum selesai Riri menyelesaikan perkataannya, kepalanya pun langsung terpelintir seratus delapan puluh derat, hingga membuatnya tewas seketika.
"Ti... Tidak! Tidak mungkin!" ucap Gita tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.
Gita pun mundur secara perlahan, dan mulai membalikan tubuhnya bermaksud pergi dari sana.
"Deng!"
"Mau ke mana kamu?"
Alangkah terkejutnya Gita ketika kuntilanak merah itu sudah ada di depannya.
"Aaa...! Toloong!" Gita berteriak sangat keras.
Gita segera berlari dari sana untuk mencari keberadaan Cindy, dan Bram yang entah di mana keberadaannya.
"Cindy! Bram! Tolong Aku! Toloong...!" Gita kembali berteriak dengan keras sambil terus berlari sekuat tenaga.
Gita terus melangkahkan kakinya untuk terus berlari, dan mencari kedua temannya yang lain. Tepat di depan persimpangan, Gita pun bertabrakan dengan Bram.
"Bruk!"
"Aduh!" Bram pun memegang kepalanya.
Keduanya pun terjatuh, dan terpental satu sama lain.
"Bram! Bram! Tolong Aku, Bram!" ujar Gita yang terlihat sangat panik.
"Kamu kenapa, Git? Mengapa kamu berlari, dan berteriak seperti itu?" Bram menjawab, dan balik bertanya kepada Gita.
"Bram! Riri...! Riri! Dia telah tewas di bunuh oleh kuntilanak merah!" Gita menceritakan apa yang di lihatnya pada Bram.
Sontak saja Bram yang mendengarnya pun sangat terkejut. Dia lalu menjawab, "Apa?! Apa yang kamu katakan, Git? Kamu sedang tidak bercanda, 'kan?" Bram bertanya dengan wajah yang sangat terkejut pada Gita.
"Benar, Bram! Untuk apa Aku bercanda seperti itu kepadamu!" jawab Gita mencoba meyakinkan Bram.
"Ya! Ya sudah, kalau begitu. Kita cari Cindy sekarang juga!" ucap Bram pada Gita.
Gita hanya mengangguk, dan Bram pun segera membantunya berdiri.
"Ayo! Kita harus cepat mencari Cindy!" ujar Bram pada Gita.
*****
Cindy yang baru saja sadar dari pingsannya pun memegang kepalanya.
"Aaa...! Kakiku!" ujar Cindy memegang kakinya yang terkilir.
Cindy pun mencoba untuk berdiri, sambil berpegangan dengan tiang.
"Cin...! Cindy!" Bram kembali berteriak memanggil Cindy.
Cindy yang mendengar teriakan Bram pun langsung menjawabnya, "Bram...! Aku di sini! Uhuk! Uhuk!" Cindy menjawab, dan memaksakan untuk berteriak.
"Itu suara Cindy! Ayo kita ke sana, Git!" ujar Bram pada Gita.
"Iya, ayo Bram!" Gita mengangguk pada Bram.
Suara Cindy perlahan mulai menghilang ketika Bram, dan Gita mencoba mendekatinya.
"Cin! Kamu di mana, Cin?" ujar Bram berteriak memanggil Cindy.
Cindy melambaikan kedua tangannya, dan mengarahkan senternya untuk menyorot Bram.
"Kalian mengapa balik lagi Bram, Git?" Cindy bertanya pada Bram, dan juga Gita yang sudah berdiri di depannya.
"Sepertinya suara Cindy barusan berasal dari lorong ini, Bram! Tapi, di mana Cindy?" Gita bertanya pada Bram.
"Kamu benar! Aku juga sangat yakin, kalau suara Cindy barusan berasal dari sini. Cindy...!" Bram setuju dengan perkataan Gita, dan kembali berteriak memanggil Cindy. Bram melanjutkan, "Cindy! Kalau kamu bercanda, ini tidak lucu sama sekali, Cin!"
"Hei! Apa yang kalian katakan? Aku di depan kalian, Bram!" Cindy kebingungan ketika Bram, dan Gita tidak bisa melihatnya.
"Mungkin Cindy sudah pergi ke arah sana, Bram! Cepat kita susul dia!" ujar Gita menunjuk ke depan.
"Ya, ayo!" jawab Bram dengan cepat.
"Hei! Kalian berdua mau ke mana? Aku di depan kalian, Bram, Git!" ucap Cindy pada kedua temannya.
Gita, dan Bram pun melewatinya begitu saja, dan pergi meninggalkannya di sana.
"Bram! Gita!" Cindy berteriak memanggil kedua temannya yang baru saja melewatinya.
Cindy lalu mengikuti ke mana Gita, dan Bram pergi sambil memegang kakinya yang terkilir.
‘Ada apa dengan mereka berdua? Mengapa mereka tidak melihatku yang jelas-jelas berada di depannya!’ Cindy bergumam sambil terus berjalan mengejar kedua sahabatnya.
"Cindy...! Kamu di mana, Cin!" Bram kembali berteriak memanggil namanya.
‘Apa Aku berada di dimensi lain? Ta ... Tapi tidak mungkin, tidak mungkin!’ gumam Cindy terus memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada dirinya.
"Bram!" ujar Gita sambil menyorotkan senternya ke sebuah pohon besar.
"Ada apa, Git!?" jawab Bram dengan cepat.
"I ... Itu, di sana! Sepertinya itu Ronald, Bram!" ujar Gita terus menyorot ke arah pohon besar.
"Mana?" Bram mencoba melihatnya dengan jeli. Lalu berkata, "Benar! Itu memang Ronald, Git! Ayo, kita ke sana."
"Ayo, Bram!" Gita menjawab dengan cepat.
Gita, dan Bram pun mencoba mendekat ke arah bawah pohon beringin besar untuk menjemput Ronald yang sedang terbaring di sana.
"Ronald! Bangunlah, Nald!" Bram menepuk kedua pipi Ronald.
"Pakai ini, Bram!" ujar Gita memberikan minyak angin pada Bram.
Bram lalu mengoleskan minyak angin pada hidung Ronal.
"Uhuk! Uhuk!"
Ronald yang sedang pingsan pun akhirnya siuman. Dia lalu duduk, dan bersandar di pohon tersebut.
"Kamu tidak apa-apa, Nald?" ujar Bram pada Ronald.
"Ya! Aku baik-baik saja, Bram." jawab Ronald memegang kepalanya. Ronald melanjutkan, "Kalian kenapa berdua saja? Cindy, dan Riri ke mana? Kok tidak bersama kalian."
"Riri...!" Gita mencoba memberitahu Ronald.
"Sudah, nanti saja kita bahasnya, Nald. Lebih baik kita cari Cindy terlebih dahulu, terus kita keluar dari tempat ini." Bram mencoba mengalihkan pembicaraan pada ronald.
"Baiklah kalau begitu," Ronald mengangguk pelan pada Bram.
Mereka bertiga lalu pergi, dan kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari Cindy.
"Bram! Sepertinya ada yang janggal deh." ujar Gita sambil terus berjalan.
"Janggal? Apa yang janggal, Git?" Bram menjawabnya dengan wajah kebingungan.
"Coba kamu pikir baik-baik, Bram. Bukankah lokasi di temukannya Riri, dan Ronald tidak terlalu jauh? Tapi mengapa kita tidak bisa melihat Ronald ketika sedang menyelamatkan Cindy sebelumnya?" ujar Gita mencoba menjelaskan keanehan yang di rasakannya.
Bram pun terdiam, sambil terus melangkahkan kakinya. Bram menjawab, "Kamu benar, Git. Sepertinya memang ada kejanggalan di tempat ini. Lebih baik kita segera temukan Cindy, dan kekuar dari tempat ini secepatnya." ucap Bram terdengar serius pada Gita.
"Cindy...! Cin! Kamu di mana, Cindy!" Bram kembali berteriak memanggil Cindy.
Cindy yang mulai kehilangan jejak kedua temannya pun terus menyusuri lorong demi lorong, sambil terus memegang kakinya yang terkilir.
‘Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganku! Hei... Siapa pun kamu! Apa pun wujudmu! Aku ingin tahu. Mengapa kamu melakukan semua ini kepada kami.’ Cindy berteriak sangat keras dengan wajah terlihat kelelahan.
"Hi...! Hihihi! Hi...! Hihihi!"
"Kalian semua harus mati!" terdengar suara yang menimpali teriakan Cindy barusan.
"Apa yang kamu inginkan? Keluar kamu kalau berani!" Cindy menantangnya dengan penuh percaya diri pada suara tersebut.
"Kalian harus di hukum atas perbuatan kalian! Kalian harus mati!"
Suara terus kembali terdengar, dan terlihat Cindy terus mengajaknya berkomunikasi.
Seketika kepala Cindy pun terasa sakit sampai dia harus beristirahat sebentar. Cindy bersandar, di dinding, sambil meminum air mineral yang di bawanya.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" ujar Cindy.
Setelah mengatakannya barusan. Cindy pun seolah mendapat sebuah penglihatan di kepalanya. Meski tidak terlalu karena rasa sakit di kepalanya semakin menjadi ketika semakin dia ingin mengetahuinya.
"Arrh...! Kepalaku, mengapa sakit seperti ini!" ucap Cindy yang terus memegangi kepalanya.
******
Saat ini Bram, dan dua orang lainnya pun menemukan dua jalan yang berbeda di depannya. Mereka sama sekali kebingungan harus memilih jalan yang mana.
"Kita harus ke mana lagi ini, Bram?" Gita bertanya sambil menunjuk dua arah secara bergantian.
"Kita lewat sini saja," Bram menjawab sambil menunjuk jalan yang akan mereka lalui.
"Tu ... Tunggu sebentar, Bram!" ujar Gita pada Bram.
"Ada apa lagi, Git?" Bram menjawab pada Gita.
"Aku ingin buang air kecil, Bram." Gita mencoba menjelaskannya pada Bram.
"Hah? Dalam kondisi seperti ini kamu ingin buang air kecil, Git? Memang kamu tidak bisa menahannya sebentar lagi?" Bram menjawab sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Gita.
"Tidak bisa, Bram." Gita menjawab dengan cepat.
"Ya...! Ya sudah, terserah kamu." Bram menjawab tidak berdaya pada Gita. Bram melanjutkan, "Nald, kamu temani Gita buang air kecil dulu, ya."
"Huh! Dasar beser!" Ronald menjawab sedikit kesal pada Gita.
Ronald lalu mengantar Gita untuk buang air kecil di dekat pohon. Sedangkan Bram, dia menyalakan sebatang rokok, dan mulai menghisapnya sambil melihat ke sekelilingnya.
"Whuz!"
Sekelebat bayangan hitam pun muncul di depan Bram, dan menghilang dengan sangat cepat.
"Apa itu yang tadi barusan?" ujar Bram terlihat penasaran.
Bram lalu mencoba mengikuti ke mana arah bayangan itu pergi, dan meninggalkan Gita bersama dengan Ronald yang sedang menemaninya.
"Cindy?!" ujar Bram ketika melihat Cindy yang sedang beristirahat.
Cindy yang mendengar suara Bram memanggilnya pun langsung menoleh ke arahnya. Dia lalu menjawab, "Bram? Kamu bisa melihatku?" Cindy menjawab sambil melihat Bram.
"Tentu saja! Memang kenapa kamu menanyakan hal seperti itu, Cin?" Bram menjawab dengan wajah yang terlihat kebingungan.
Bram lalu mendekat, dan menghampiri ke arah Cindy. Dia lalu berjongkok di depannya.
"Tadi, Aku sudah melihat kalian bertiga dengan Ronald, Bram. Namun, saat Aku memanggil kalian. Kalian sama sekali tidak meresponku, dan seolah tidak melihatku." Cindy mencoba menjelaskan apa yang sebelumnya dia alami pada Bram.
"Mungkin kami tidak mendengarnya kali, Cin." Bram menjawab dengan santai pada Cindy.
"Tidak mungkin, Bram. Jelas-jelas Aku berdiri tepat di depan kalian tadi. Aku juga mengarahkan senter, dan memanggil Gita juga. Tapi sama saja, mereka tidak merespon panggilanku. Maka dari itu Aku bertanya kepadamu seperti itu, Bram." Cindy menjelaskannya dengan lengkap pada Bram yang berada di depannya.
"Apa kamu yakin, Cin? Masalahnya, ketika Aku berhasil menemukan Ronald. Jarak Ronald berada, dengan kita menemukan Riri itu tidak jauh, Cin." Bram juga menjelaskannya ketika mereka menemukan Ronald.
"La ... Lalu, sekarang mereka berdua di mana, Bram? Mengapa kamu hanya sendirian saja?" Cindy kembali bertanya pada Bram. Cindy melanjutkan, "Riri ke mana? Mengapa dia tidak bersama kalian, Bram?"
Bram pun terdiam dengan wajahnya yang tertunduk ke bawah.
"A ... Ada apa, Bram? Apa yang terjadi dengan Riri?" Cindy bertanya dengan ekspresi datar pada Bram.
"Ri ... Riri! Dia telah tewas, di bunuh hantu kuntilanak merah itu." Bram menjelaskannya pada Cindy.
"Hehe...! Kamu pasti bercanda, Bram. Basi tahu bercandamu kalau seperti itu!" Cindy tidak mempercayai perkataan Bram barusan.
"Aku serius, Cin! Riri memang telah tewas di bunuh oleh hantu itu." Bram menegaskannya pada Cindy dengan suara sedikit menekan.
Cindy pun terdiam, dan menggelengkan kepalanya perlahan pada Bram. Terlihat kedua matanya mulai berkaca-kaca, dan meneteskan air mata.
"Huaa...!" Cindy menangis sangat keras sampai membuatnya ter'isak.
Bram langsung memeluk Cindy, dan mencoba menenangkannya. Cindy menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Bram, sampai membasahi bajunya.
"Sudah Cin, kamu jangan nangis lagi. Nanti, setelah kita keluar dari tempat ini, kita bawa jasad Riri, dsn kita kembalikan kepada keluarganya." Bram mencoba menenangkan Cindy sambil mengusap rambutnya.
Cindy mengusap air matanya, dan mencoba untuk berdiri dengan bantuan Bram.
"Kaki kamu kenapa, Cin?" Bram melihat ke arah Kaki Cindy yang sedikit menekuk.
"Aku hanya terkilir saja Bram akibat tersandung tadi." Cindy menjawab sambil berusaha berdiri dengan benar.
"Kamu mau Aku gendong, Cin?" Bram mencoba memberikan bantuan untuk menggendongnya.
"Tidak perlu, Bram. Aku masih kuat untuk berjalan." jawab Cindy menolak kebaikan Bram dengan halus.
Setelah selesai buang air kecil, Riri, dan Ronald pun kembali ke tenpat mereka meninggalkan Bram.
"Loh! Bram ke mana?" Ronald kebingungan ketika tidak melihat Bram di sana. Ronald melanjutkan, "Sudah lihat 'kan?! Sekarang kita kembali terpisah lagi dengan Bram. Kita juga tidak tahu ke mana perginya?" Ronald menyalahkan Gita karena buang air kecil dengan waktu yang tidak tepat.
"Kok malah menyalahkanku!?" Gita tidak terima ketika Ronald menyalahkannya.
"Ya kamu lah! Masa Aku menyalahkan pohon itu!" Ronald balik marah pada Gita sambil menunjuk pohon tempat Gita buang air kecil. Ronald melanjutkan, "Kalau saja kamu bisa menahan buang air kecil sebentar saja, kita berdua tidak akan terpisah dengan Bram!"
"Gila kamu ya Nald, sinting! Masa orang buang air kecil saja tidak boleh." Gita tidak terima dengan perkataan Ronald yang seolah menyudutkannya. Gita melanjutkan, "Memang benar, ya! Ternyata Cindy memang tidak salah suka dengan Bram, dan tidak suka denganmu. Coba kamu lihat saja sendiri kelakuanmu itu! Sama sekali tidak mencerminkan seorang pria sedikit pun di dirimu."
"Lancang sekali ya, kamu!" Ronald sangat marah dengan perkataan Gita barusan.
"Lancang? Bukankah semua yang Aku katakan itu fakta?! Lebih baik kamu berkaca sekarang, dan lihat seperti apa menjijikannya dirimu itu, Nald!"
"Plak!"
Ronald menampar Gita karena sudah keterlaluan menghinanya.
"Kamu berani menamparku?! Hebat sekali kamu Nald, hebat!" Gita terus memaki Ronald karena sudah menampar wajahnya. Gita melanjutkan, "Kalau begitu, kamu urus saja dirimu sendiri. Aku akan pergi mencari Cindy, dan Bram sendiri."
Gita lalu pergi meninggalkan Ronald yang hanya diam tidak bergeming.
"Arrghhh...!"
Ronald pun berjalan sendiri ke arah yang berlawanan dengan Gita.
"Dasar perempuan tidak tahu di untung! Masih untung Aku mau menemaninya untuk buang air kecil. Bukannya terima kasih, ini malah menghinaku seperti itu. Kamu cari saja sana Bram, dan Cindy sendiri." Ronald terus menggerutu sambil jalan seorang diri menyusuri bangunan tersebut.
Saat ini, Gita terus memanggil Bram, dan juga Cindy sambil menahan ketakutannya.
"Cin! Bram! Kalian di mana?" ujar Gita memanggilnya dengan suara takut.
Gita menyusuri lorong-lorong bangunan dengan langkah kaki pelan, dan terlihat sangat waspada.
"Aaaa...!"
Gita berteriak sangat keras ketika melihat sesosok makhluk di depannya yang tengah menatapnya.
Sontak saja Cindy, dan Bram yang mendengar teriakan Gita pun sangat terkejut.
"Gita! Itu suara Gita, Bram!" ucap Cindy pada Bram.
"Iya, itu memang suara Gita, Cin! Ayo kita cari mereka." Bram menjawab dengan cepat pada Cindy.
Mereka berdua lalu berlari untuk mencari keberadaan Gita yang berteriak ketakutan.
"Kamu kenapa, Git?" ujar Cindy ketika bertemu dengan Gita.
"Huaa..! Cindy... Aku takut, Cin! Ta ... Tadi Aku melihat kuntilanak merah itu di sana." ujar Gita menjelaskannya pada Bram, dan juga Cindy.
"Ya sudah, kamu tenang ya, Git. Kita sudah di sini sekarang." Bram menenangkan Gita yang ketakutan.
"Ronald di mana, Git? Bukankah kamu bersamanya?" Cindy bertanya pada Gita dengan wajah serius.
"Ta... Tadi Aku memang sedang bersamanya, Cin. Namun, kami berdua bertengkar, dan menutuskan untuk jalan sendiri-sendiri." Gita menjawab sedikit ragu pada Cindy.
"Kalian bertengkar? Di tempat seperti ini?" Bram terlihat tidak berdaya ketika menjawabnya pada Gita.
"Ya! Ya, habisnya menyalahkanku karena kamu telah meninggalkan kami berdua, Bram. Udah gitu, Ronald juga mengataiku dengan sebutan perempuan tidak tahu di untung, dan lebih parahnya lagi. Ronald juga menamparku, Cin. Huaa...!" Gita menangis tersedu-sedu ketika menceritakannya pada Bram, dan Cindy.
"Hah? Ronald berani menamparmu, Git?" Cindy menjawabnya sangat terkejut.
"Iya, Cin! Ronald memang menampar wajahku dengan keras." Gita mengiyakannya pada Cindy sambil terus menangis.
"Ya sudah, kamu jangan nangis lagi, ya." ucap Cindy memeluk Gita.
"Terus, kita mau mencari jalan keluar, atau mencari Ronald, Cin?" Bram bertanya pada Cindy sambil melihatnya.
"Kita cari Ronald dulu, Bram. Meski pun dia telah menampar Gita. Tapi, mau bagaimana pun juga, dia tetaplah teman kita." Cindy menjawab dengan tenang.
"Pokoknya Aku tidak mau jalan bersama dengan orang seperti dia lagi, Cin. Pokoknya Aku tidak mau!" Gita menolak untuk mencari Ronald.
"Git, kamu tidak boleh seperti itu. Mau bagaimana pun juga, dia adalah teman kita. Kamu juga sudah tahu, bukan? Jika Riri sudah tewas, masa iya kita harus melihat teman kita tewas lagi, Git. Aku akan menemanimu di belakang." ujar Cindy pada Gita.
"Ja ... Jadi, kamu sudah tahu tentang Riri, Cin?" ucap Gita melihat Cindy.
"Ya, Aku sudah tahu semuanya dari Bram, Git." Cindy menjawab dengan cepat pada Gita.
"Ya sudah, kita cari Ronald dulu ya, Git. Lalu kita bawa juga jasad Riri setelah kita sudah berkumpul." ujar Cindy pada Gita.
"Iya, Cin." Gita menjawab dengan cepat.
Mereka bertiga lalu melanjutkan untuk mencari Ronald yang sudah terpisah lagi dengan mereka.
"Tadi kalian berpisahnya di mana, Git? Cepat kamu tunjukan jalannya." ujar Bram pada Gita.
"Baiklah, ayo ikuti Aku." Gita mengangguk, dan menjawabnya pada Bram.
Cindy terus memegang Gita, dan merangkulnya sambil mencari Ronald.
"Nald...! Ronald!" ujar Bram berteriak sangat keras.
"Bram! Ya, itu suara Bram." ujar Ronald ketika mendengar suara Bram. Bram lalu berteriak, "Bram! Cindy...! Aku di sini!"
"Itu suara Ronald, Bram! Ayo kita temui dia." ujar Cindy pada Bram.
"Iya, kamu benar, Cin. Aku juga mendengarnya. Ayo cepat!" Bram menjawab dengan cepat pada Cindy.
Mereka bertiga lalu berlari untuk mencari Ronald.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Nald?" tanya Cindy pada Ronald.
"Aku tidak apa-apa, Cin." Ronald menjawab dengan cepat. Ronald melanjutkan, "Kaki kamu kenapa, Cin?"
"Ah! Ini hanya terkilir saja, Nald." jawab Cindy melihat kakinya.
"Mau Aku bantu untuk merangkulmu, Cin?" ujar Ronald menawarkan bantuan pada Cindy.
"Tidak perlu, Nald. Sudah Ada Gita yang membantuku." Cindy menolak dengan halus pada Ronald.
"Begitu, ya." Ronald sedikit kecewa mendengar jawaban Cindy.
"Ayo, kita keluar dari tempat ini, sekarang." ujar Bram mengajak Cindy dan yang lainnya.
Mereka bertiga lalu mencari jalan keluar bersama-sama. Cindy yang kakinya terkilir pun di bantu oleh Gita sambil terus merangkulnya untuk berjalan.
"Hi...! Hihihi! Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini! Kalian harus menanggung semuanya!"
Suara itu terdengar sangat jauh, dan tiba-tiba sesosok kuntilanak merah dengan wajah menyerankan pun muncul tepat di depan mereka.
"Whaaa...aaa...!"
Mereka berempat pun berteriak sangat keras, dan terlihat ketakutan. Ronald lalu membalikkan badannya, dan menabrak Gita yang sedang merangkul Cindy.
"Bugh!"
Cindy, dan Gita pun terjatuh ke lantai secara bersamaan. Ronald kembali berdiri, dan berlari dari sana.
"Toloong Aku!" Gita berteriak meminta tolong.
Bram lalu menyelamatkan Cindy, dan membawanya lari sambil merangkulnya.
"Gita, Bram! Gita masih di sana!" ujar Cindy pada Bram.
"Apa?! Gita masih di sana?" Bram sangat terkejut ketika mendengar perkataan Cindy.
"Iya, Gita terjatuh di dekat tumpukan kardus itu!" ujar Cindy menjelaskannya pada Bram.
"Tidak bisa, Cin! Kita tidak bisa kembali ke sana." ujar Bram pada Cindy.
"Tidak, Bram! Kita harus kembali ke sana. Kasihan Gita!" Cindy terus memohon pada Bram untuk menjemput Gita.
"Tidak bisa, Cin! Jika kita kembali ke sana. Kita juga akan mati di sana." Bram menolak permintaan Cindy, dan terus merangkulnya menjauh dari sana.
"Pokoknya Aku tidak mau jika kita pergi tanpa Gita, Bram!" Cindy memberontak pada Bram. Cindy melanjutkan, "Lepaskan Aku! Cepat lepaskan Aku, Bram!"
Bram lalu berhenti, dan melihat wajah Cindy. Dia lalu berteriak kepadanya, "Cin! Kamu tidak bisa jika terus mengkhawatirkan orang lain seperti ini! Kamu juga harus memperhatikan dirimu sendiri juga. Aku tahu, Gita memang sedang dalam bahaya! Tapi, apakah kita juga sudah aman dari kejaran kuntilanak merah itu?" ujar Bram mencoba menyadarkan Cindy.
"B ... Bram, kamu?" ujar Cindy yang terlihat kecewa pada Bram. Cindy melanjutkan, "Jika kamu ingin pergi, kamu pergi saja sendiri dengan Ronald. Biar Aku saja yang kembali untuk menyelamatkan Gita!"
Cindy lalu pergi meninggalkan Bram, dan kembali ke tempat tadi untuk menjemput Gita.
"Gita! Kamu di mana, Git!" Cindy berteriak memanggil Gita.
"Cindy...! Tolong Aku, Cin!" Gita terus menjerit meminta pertolongan pada Cindy. Gita kembali berteriak, "Tidak...! Jangan mendekat, jangan mendekat!"
Sesampainya Cindy di sana, dia melihat Gita yang sudah tertusuk oleh besi tepat di perutnya.
"Gi ... Gita! Ti ... Tidak mungkin, tidak mungkin!" Cindy sangat terkejut ketika melihat kuntilanak itu menusuk perut Gita menggunakan besi.
Gita pun tewas seketika, dan kuntilanak itu pun langsung melihat ke arah Cindy.
"Whuz!"
Sebuah bambu runcing pun melesat dengan cepat ke arah Cindy. Cindy hanya menutup kedua matanya menggunakan tangannya.
"Jleb!"
Cindy lalu membuka kedua matanya, dan melihat Bram yang sudah berdiri tepat di depannya untuk melindunginya dari bambu tersebut menggunakan tubuhnya.
"Bram! Tidak, Bram...!" Cindy berteriak histeris ketika melihat Bram tertancap bambu tepat di dadanya.
"Uhuk! Uhuk!" Bram batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Bram berkata, "Ma ... Maafkan Aku, Cin. Aku, hanya tidak ingin melihatmu terluka. Ka ... Kamu, tidak apa-apa, kan?"
Bram terlihat sudah sekarat di pangkuan Cindy yang terus menangis melihatnya.
"Ka ... Kamu jangan menangis, Cin. Ma ... Maafkan Aku, karena tidak bisa melindungimu lagi." ujar Bram pada Cindy.
"Tidak, Bram! Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus bertahan. Kita akan segera keluar dari tempat ini, huaaa...!" Cindy menangis tersedu-sedu melihat Bram.
"Ti ... Tidak, Cin...! A ... Aku...!"
Belum selesai Bram meneruskan perkataannya, Bram pun langsung tewas seketika.
"Huaa...! Bram! Bangun Bram, bangun!" Cindy meraung dengan keras melihat Bram.
Dari kejauhan, Ronald pun terlihat mendekat ke arah Cindy yang sedang menangis.
"Ci ... Cindy!" ujar Ronald melihat Cindy menangis.
"Ronald? Ke mana saja kamu? Mengapa kamu meninggalkan Gita, dan lari begitu saja! Apa kamu sengaja, ingin membuat kami semua terbunuh satu per satu, hah?" Cindy memaki Ronald dengan keras.
"Bu ... Bukan itu maksudku, Cin! Aku tadi hanya kaget saja ketika kuntilanak itu muncul di depanku." Ronald mengelak dari tuduhan Cindy kepadanya.
"Pergi kamu, pergi! Aku sudah muak melihat wajahmu, Ronald!" Cindy mengusir Ronald sambil memakinya.
"Cin! Kamu dengarkan Aku dulu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian, Cin." Ronald pun muram ketika Cindy menyuruhnya untuk pergi meninggalkannya.
"Kalau kamu tidak mau pergi, biar Aku saja yang pergi!" ujar Cindy sambil mencoba untuk berdiri. Cindy melanjutkan, "Berhenti di sana! Jangan ikuti Aku! Aku tidak ingin bersama dengan orang yang sudah tega mengorbankan temannya sendiri!"
Cindy lalu pergi meninggalkan Ronald di sana sendirian. Kemudian, dia pun mengelap air matanya, dan melangkahkan kakinya sedikit tertatih.
"Maafkan Aku, Bram, Gita, Riri... Aku tidak bisa menyelamatkan kalian semua." Cindy terus menangis, dan menyesal karena tidak bisa melindungi teman-temannya.
Ronald yang sendirian di sana pun terlihat sangat kesal. Dia lalu berteriak, "Arrhh...! Kurang ajar! Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja kamu tidak ikut, mungkin Aku yang akan menjadi pahlawan untuk melindungi Cindy!" ujar Ronald memukul jasad Bram.
Setelah puas memukuli jasad Bram, Ronald pun mengikuti arah ke mana Cindy pergi. Ketika Ronald sedang mengikuti Cindy, sebuah tangan pun memegangi kakinya dari bawah.
"Whaa...aaa...!" Ronald berteriak sambil mencoba melepaskan tangan yang memegangi kakinya.
Begitu tangan itu terlepas, Ronald pun kembali berlari, dan mencoba mengejar Cindy yang sudah berada jauh di depannya.
"Toloong...! Cindy...! Tolong Aku, Cin!" Ronald berteriak sambil terus berlari secepat mungkin.
Cindy melihat sebuah cahaya di depannya, dan dia pun mendekati cahaya tersebut.
"Cahaya! Apa itu jalan keluarnya?" ujar Cindy mempercepat jalannya.
Ronald terus berlari secepat mungin untuk menyusul Cindy yang sudah berada di depan. Namun, dia seolah kembali, dan hanya berputar-putar saja di tempat itu.
"Jangan ganggu Aku, pergi kamu!" Ronald berteriak sambil berlari mengejar Cindy.
Kuntilanak itu lalu muncul di depan Cindy, dan menampakan wajahnya yang penuh amarah pada Cindy.
"Whaa...! Mau pergi! Mau apa kamu menggangguku terus!" ujar Cindy pada kuntilanak merah tersebut.
Kuntilanak itu pun tersenyum sangat lebar pada Cindy, dan terlihat sangat menyeramkan. Cindy lalu mendapat penglihatan dari kuntilanak tersebut.
"Di mana Aku?" ujar Cindy kebingungan sambil melihat sekeliling.
Dalam penglihatannya itu, Cindy melihat sebuah mobil yang sedang melesat dengan cepat di sekitaran lokasi pabrik tersebut.
"Mo ... Mobil itu!" ujar Cindy ketika mengenali mobil milik Ronald.
Karena melesat dengan cepat, mobil itu pun menabrak seorang wanita yang berada tidak jauh dari lokasi bangunan.
"Ronald? A ... Apa!?" Cindy tidak percaya dengan apa yang di perlihatkan kuntilanak merah itu kepadanya.
Tidak lama kemudian, terlihat Bram, Gita, dan juga Riri pun turun dari dalam mobil Ronald. Mereka lalu membuang jasad perempuan yang di tabraknya ke bangunan kosong ini begitu saja.
"Ti ... Tidak! Tidak mungkin!" ujar Cindy tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Setelah membuang jasad perempuan tersebut. Roh dari perempuan itu pun terikat dengan bangunan kosong itu, dan menuntut balas kepada ketiganya.
"Mengapa! Mengapa kalian melakukan itu, Bram, Ri, Git!" ujar Cindy menangis ketika melihat keempat temannya melakukan hal sekeji itu.
"Apakah kamu sudah mengetahui kebenarannya, sekarang?" ujar seorang wanita di belakang Cindy.
Cindy lalu menoleh, dan melihat ke arah wanita itu. Alangkah terkejutnya Cindy, ketika dia melihat wanita yang ada di belakangnya sama persis dengan yang di lihatnya dalam alam bawah sadarnya.
"Ka ... Kamu!" ujar Cindy dengan bibir bergetar sambil menujuknya.
"Ya! Aku adalah wanita yang mereka tabrak, Cindy!" ujar wanita itu menganggukan kepalanya pada Cindy. Wanita itu berkata, "Apa menurutmu mereka pantas mendapatkan balasan seperti itu?"
"A ... Aku! Aku, tidak tahu apa yang sudah menimpamu. Tapi Aku sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah terjadi kepadamu." Cindy menjawab dan mencoba memberikan penjelasan pada wanita tersebut.
"Ya! Aku memang tidak menyalahkan-mu, dan Aku juga tidak memiliki dendam apa pun kepadamu." ujar hantu wanita itu pada Cindy.
"Lalu, mengapa kamu tidak membiarkan Aku pergi saja dari tempat ini? Mengapa kamu terus membuatku berputar-putar saja di tempat ini?" Cindy bertanya pada wanita itu.
"Karena Aku ingin meminta tolong kepadamu sebelum Aku menghabisi orang yang telah membuatku mati." ujar wanita itu pada Cindy.
"To ... Tolong? Minta tolong apa?" Cindy sedikit kebingungan melihat wanita itu.
"Iya! Tolong kuburkan jasadku dengan layak, dan beritahu kedua orang tuaku." wanita itu menjelaskannya pada Cindy.
Cindy yang mendengarnya pun hanya bisa meneteskan air matanya. Dia lalu menjawab, "Baiklah, Aku akan melakukannya, dan menguburkanmu dengan layak!" ujar Cindy pada wanita itu.
"Terima kasih, sekali lagi terima kasih." wanita itu tersenyum pada Cindy.
Wanita cantik itu lalu berubah kembali menjadi kuntilanak, dan mengarahkan Ronald yang sedang berlari menuju ke arah mereka.
"Cin! Cindy!" ujar Ronald pada Cindy.
Namun, ketika Ronald merasa aman. Dia pun menoleh ke arah kirinya, dan melihat kuntilanak merah yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Whaa...!" Ronald berteriak, dan berlindung ke balik tubuh Cindy.
Cindy lalu mendorongnya, hingga membuat Ronald terjatuh.
"Aku tidak menyangka dengan kalian semua, ya! Ternyata kalian telah bersekongkol untuk membuang jasad seorang wanita yang telah kamu tabrak, Ronald! Pergi kamu, pergi!" Cindy mengusirnya lagi sambil berteriak menunjuk Ronald.
"Hi...! Hihihi! Kamu sudah tidak bisa lari lagi sekarang, Ronald! Kamu harus mati!" kuntilanak itu tertawa sangat menyaramkan melihat Ronald.
Kemudian, sebuah besi tajam pun melayang ke di samping kuntilanak itu. Dan besi itu itu terbang melesat ke arah Ronald.
"Whuz! Jleb!"
Besi itu menembus dada Ronald, dan membuat jatuh seketika. Hingga akhirnya Ronald pun tewas, dan Cindy langsung pingsan.
"Di mana Aku?" ujar Cindy kebingungan.
Cindy yang baru saja terbangun pun, baru saja tersadar ketika dirinya telah berada di luar bangunan kosong yang sebelumnya dia masuki bersama teman-temannya.
Kemudian, Cindy pun mengeluarkan ponselnya, dan melaporkannya ke pihak kepolisan, dan cerita pun akhirnya Tamat!