Hari ini aku dapat undangan reuni dari teman-teman masa SMA. Sebelum berangkat, aku berdandan seperti biasanya aku, tidak menor dan tidak ditambah-tambahi atau berubah gaya. Setelah selesai, aku pun langsung berangkat ke tempat tujuan dengan menaiki motor matic kesayanganku.
Tak lama kemudian, aku sudah tiba di tempat tujuan. Rupanya sudah banyak teman-tenanku yang datang. Mungkin akulah yang paling terakhir datang. Hahaha...
"Fira!" Suara Damar memanggilku. Melambaikan tangannya padaku, sambil menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya, mengajakku untuk duduk bergabung dengan dia.
Berhubung memang hanya kursi itu yang kosong, jadilah aku menerima ajakan Damar, walau sejujurnya sungkan sendiri karena kita sudah sama-sama berkeluarga. Dan lagi Damar datang ke reuni ini sambil membawa istri dan anaknya.
"Wah, apa kabar, Fir?" Damar mengulurkan tangannya menyapaku.
"Baik, Mar." Ku balas uluran tangan Damar, juga tak lupa aku bersalaman dengan istrinya Damar.
"Kok datangnya sendirian, Fir? Suamimu nggak mau diajak apa?"
"Suamiku sibuk kerja, Mar."
Meski namanya reuni teman sekelas masa sekolah, tetapi yang mau datang hari ini free membawa keluarganya juga.
"Kalau datangnya sendiri mbak mirip masih gadis," celetuk istrinya Damar menyapaku.
Aku tertawa mendengar disamakan dengan gadis oleh istrinya Damar.
"Gadis dari Hongkong!" Kataku yang masih tertawa ngakak, begitu pun dengan Damar dan istrinya.
Aku sendiri sebenarnya sudah punya dua balita. Begitupun dengan semua teman-teman ku. Rata-rata sudah pada menikah dan mempunyai anak. Tetapi sebenarnya bukan hanya aku yang datang seorang diri kali ini. Ada beberapa teman lainnya juga yang datang sendirian. Ada pula yang datang sambil membawa anaknya saja, entah kemana istrinya kok nggak diajak juga.
Lalu kita pun mulai berbagi cerita. Sebab sudah sepuluh tahun lamanya kita tidak pernah bertemu lagi. Teman-teman yang lain berbaur saling menyapa, hanya aku dan Damar yang tetap betah di tempat sambil mengobrol random, mengulang cerita masa-masa SMA dulu.
"Eh, iya, Yogi nggak datang ya?" tanyaku pada Damar setelah menyadari ada yang kurang di reuni ini.
Yogi adalah tetangga Damar. Dari cerita Damar aku tahu kalau Yogi sudah punya dua anak. Saat ini Yogi tidak bisa datang, alasannya pun tidak jelas karena apa.
"Yogi takut mau ketemu kamu, Mbak," timpal istrinya Damar kepadaku.
"Hah! Takut? Takut kenapa?"
Damar nampak melirik aneh kepada istrinya. Aku mulai curiga dengan lirikan Damar. Ini ada apa?
"Sudah seharusnya dia tahu, Mas," kata istrinya Damar yang membuatku semakin kepo.
"Ada apa, Mar? Apa ada urusannya denganku?" selidikku pada Damar.
Damar menatapku sekejap. Kemudian menghentak nafas beratnya dengan kasar.
"Istriku benar, Yogi tidak datang karena takut sama kamu," ucap Damar membenarkan ucapan istrinya.
"Takut kenapa sih?" Aku semakin kepo.
"Yogi sepertinya masih suka sama kamu, Fir," ucap Damar yang tentunya langsung membuatku melotot mendengar itu.
"Iya, Mbak. Sekarang ini rumah tangga Yogi lagi panas-panasnya. Ya gara-gara Yogi juga sih. Lagian ngapain juga masih suka kepoin IG sama FB punya mbak," jelas istrinya Damar kepadaku.
Aku hanya tercengang mendengarnya. Yang aku tahu, aku dan Yogi tidak saling follow akun mana pun. Meski aku tahu akun Yogi, tapi aku tidak berani Add dia karena sungkan saja.
"Makanya kamu jangan kaget kalau komentar Yogi di GC tiba-tiba nggak enak atau sentimen sama kamu. Itu yang bales istrinya Yogi," terang Damar.
Ah, pantas saja perkataan Yogi sangat-sangat nyelekit saat itu. Ku pikir cuma bercanda, karena teman-teman yang lain juga menanggapi itu sebagai candaan juga saat itu.
Jadi, apakah inti dari ini mengatakan kalau Yogi sebenarnya masih menyukaiku. Tidak mungkin! Ini dosa! Karena kita sudah tak lagi berada di fase remaja. Kita sudah sama-sama berkeluarga. Tak henti-hentinya ku ucapkan lafaz istighfar dalam hati, memohon ampun pada sang kuasa, agar diampuni segala khilaf dan dosa yang mungkin pernah tak sengaja aku perbuat selama ini. Terutama tentang Yogi.
Flashback...
Sepuluh tahun yang lalu, saat itu aku sudah kelas tiga SMA. Sekitar tiga bulan lagi sudah mau lulus sekolah.
"Fira," sapa Yogi pagi itu.
Aku tercengang menatap pada Yogi. Jujur aku kaget Yogi mau menyapaku lagi. Setelah sekian lama kita seperti misscomunication. Dulu, aku dan Yogi pernah saling dekat walau itu sebentar saja. Tepatnya saat kita masih kelas satu SMA. Kedekatan ku dengan Yogi renggang lantaran aku yang sibuk pacaran dengan kakak kelas. Hehehe...
Saat itu aku berusaha menyapa Yogi layaknya teman-teman yang lain. Tetapi kala itu sikap Yogi berubah dingin, walau dari sirat matanya dia tidak membenciku, cuma seperti sengaja menjaga jarak denganku.
Dan baru kali inilah, pertama kalinya Yogi mau menyapaku lebih dulu.
"Eh, ada apa, Gi?" tanyaku canggung sendiri.
"Boleh aku pinjam buku catatan Fisika punya kamu?"
Kebetulan juga aku lagi nulis catatan buku mapel Fisika.
"Boleh sih, tapi aku belum selesai nyatet."
"Nggak pa-pa. Aku pinjam nanti kalau kamu selesai nulisnya."
Setelah mengatakan itu, Yogi langsung pergi.
Aneh memang. Tapi aku senang karena akhirnya aku dan Yogi bisa biasa lagi seperti dulu. Saking senangnya sampai-sampai aku lupa tidak tanya Yogi pinjam bukuku untuk apa.
Hingga sampai seminggu kemudian, buku yang dipinjam Yogi belum juga dikembalikan. Tetapi karena itu juga aku ada kesempatan untuk saling ngobrol dengan Yogi lagi. Yaa... Walau cuma sebentar saja sih.
"Terimakasih bukunya, Fir. Maaf kalau aku pinjemnya lama," kata Yogi saat mengembalikan bukuku.
Aku hanya tersenyum, walau sejujurnya agak bete lantaran hari ini tuh ada tugas Fisika yang harus dikumpulkan hari ini juga. Aku langsung fokus menyalin tugas mapel Fisika yang sebelumnya sudah aku tulis di kertas. Ku abaikan Yogi yang betah berada di sampingku. Entah ngapain dia tidak pindah. Awas saja kalau ketahuan nyontek tugas yang aku tulis.
"Ayo anak-anak, tugasnya dikumpulkan di meja sekarang!" pekik ibu guru Fisika menyuruh kami mengumpulkan tugas yang beliau beri.
Teman-teman yang lain sudah pada maju, cuma aku yang masih betah duduk karena tak sengaja menemukan tulisan tangan Yogi di bukuku.
Sepintas aku baca diawal sepertinya itu surat cinta.
Deg! Benar, ini surat cinta untukku dari Yogi.
*Dear Fira...
Sorry ya sudah coret-coret buku kamu. Jika kamu berkenan, aku ingin kamu baca tulisan ini sampai selesai. Fira, aku minta maaf kalau dulu aku pernah buat salah sama kamu. Selama ini aku sedang intropeksi diri kenapa kamu tiba-tiba menjauhi aku. Saat itu aku sangat senang karena kita dekat dan selalu mengisi hari-hariku dengan tawa riangmu. Tidak perlu waktu lama untuk aku bisa menyukaimu. Bahkan rasa itu masih tetap kuat dalam hatiku hingga sekarang. Maaf, Fira, aku mencintaimu. Rasa ini telah bertahta dalam hati aku selama tiga tahun ini. Dan akan selalu ada, karena kamulah pemilik hati aku yang abadi. Maaf, kalau karena pernyataan ku ini telah mengusik hati kamu. Maaf juga kalau aku telah lancang mengutarakan ini dengan menyoret buku kamu. Aku memang pengecut! Aku terlalu takut untuk turut memelukmu saat kamu patah hati dengan mantan kamu. Aku...
"Fira!" Ibu guru memanggilku dengan nada gemas karena hanya aku saja yang belum mengumpulkan tugas.
Teman-teman sekelas langsung koor bersorak. Spontan saja aku langsung merobek kertas yang ada tulisan Yogi itu, karena bisa kacau kalau sampai ibu guru ikut membaca surat itu. Tanpa aku sadari, Yogi melihat bagaimana aku merobek kertas itu.
"Bu, saya ijin keluar," Ucap Yogi, tiba-tiba pamit keluar kelas entah mau ke mana.
Sesaat tatapan mataku beradu pandang dengan Yogi. Aku tidak salah melihat, mata Yogi seperti sedang menahan tangis. Tiba-tiba aku sadar dengan perbuatanku barusan. Tetapi aku tidak bisa berbuat banyak, aku hanya bisa meremas kertas itu sambil menahan perasaan yang seketika entah. Aku sudah tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan Ibu guru di depan. Sedangkan Yogi tidak kunjung kembali ke kelas hingga jam pelajaran usai.
Flashback off
"Fira, kamu ngelamun?" Damar menyapaku sambil menggoyang lenganku.
Dan reaksiku hanya nyengir. Aku baru sadar, jika perbuatanku yang dulu telah membuat perasaan Yogi terluka. Akan tetapi masih tidak percaya juga kalau sampai sekarang Yogi masih menyimpan rasa untukku. Definisi CLBK yang sesungguhnya. Cinta lama belum kelar🤦♀️