Pagi itu hujan turun dengan derasanya dan aku merayu semesta agar mengindahkan awan hitam yang membuat semua gelap.
Tapi semesta tidak mengabulkan permintaanku dan aku tetap melanjutkan tugas yang ingin aku kerjakan.
Aku melakukan perjalanan demi perjalanan yang panjang dan jau, berliku dan berkelok hingga akhirnya aku sampai pada tujuanku.
Di kerumunan banyak orang dari berbagai wilayah, desa dan banyaknya instansi.
Aku mengambil satu demi satu benda demi selesainya tugas ini dan berlanjut untuk ke tugas selanjutnya.
Namun semesta tetap tidak mau mendukung kali ini ia tetap menitihkan air di sepanjang tugasku hingga pukul 11.00 berlalu, aku beristirahat.
Melanjutkan perjalanan lagi menuju tugas selanjutnya. Namun disinilah cerita bermula.
"Tuan, apa aku bisa ke tempatmu? Temanku tidak menjawab telfonku, aku ingin bersiap-siap untuk melanjutkan tugas yang lain."
"Bisa, datanglah."
Lagi-lagi semesta tidak menolongku, tubuhku di hantam derai air yang cukup lebat hingga baju dan tas yang aku pakai basah.
Menepi di sebuah warung kecil untuk menunggu hujan reda, sembari membeli makanan kecil dan juga barang-barang yang ingin aku pakai.
"Oh astaga, semesta mengapa kau tak memberikan warna lain di langit hari ini?" Gumamku.
Aku suka langit namun aku tak suka yang seperti ini, terlalu banyak hitam untuk warna langit yang aku suka.
Tapi bukankah jika kau menyukai langit kau harus menyukai semua yang ada di sana dan semua kondisinya?
"Huh.... sial, aku terlalu cinta dengan langit dan hujan."
Setelah gumamku yang cukup panjang, semesta memberikan cerah dan aku segera pergi ke tempat tujuan.
Tok ... tok ... tok ...
"Ya!" Sautan dari dalam.
Grek .... (Pintu terbuka)
"Tuan, maaf menganggu waktumu. Boleh aku menumpang membersihkan badan ini?"
"Ya, silahkan."
Hanya 15 menit aku bersiap-siap dan selesai membersihkan semuanya. Lalu aku menuju kembali ke depan teras.
Menaruh barang-barang yang aku bawa dan duduk di sana sembari merasakan kepala yang pusing karena terkena hujan sedari pagi.
"Dari mana?" Tanyanya.
"Habis ikut jadi volunter di sana."
"Oh, bukan hiking?"
"Bukan, ga di ajak kalau itu."
Aku menyadarkan tubuhku ke kursi rotan sembari memejamkan mata, rasanya nyaman sekali.
'Aku seperti belum makan dari pagi tadi,' ucapku dalam hati.
Namun aku tidak memperdulikan diriku sendiri. Aku hanya fokus beristirahat karena semua tubuhku lelah sekali.
'Sepertinya energiku terlalu habis untuk berkerumun di sekeliling orang-orang itu lagi.'
Aku kembali membuka mata ini dan mengambil handphone untuk mengabari seseorang.
Karena setelah ini aku tidak melanjutkan tugasku yang lain dan lebih memilih pulang.
"Lelah sekali," keluhku sembari meragangkan tubuh.
"Mengapa?"
Aku menjelaskan kepadanya mengapa aku tidak lelah sekali hati ini dan menjelaskan kepadanya acara apa yang aku datangi tadi.
"Istirahatlah di dalam!"
"Di sini saja lah," ucapku menolak.
"Dalam saja."
•
•
•
•
Entahlah.
Aku benci hari itu.
Dimana aku tiba-tiba saja membenci hujan, semesta dan semuanya.
Kehidupanku menjadi rumpang, kacau dan berantakan.
Tuan.
Andai saja hatiku tidak menyukai mungkin aku sudah dendam padamu, namun aku terlalu cinta padamu sampai aku tidak tahu harus bagaimana aku sekarang.
Tuan.
Bolehkan aku menemuimu sekali lagi?
Untuk berpamitan karena aku tau bukan aku yang kau inginkan.
Bukan aku yang kau cinta.
Bukan aku yang akan menjadi masa depanmu.
Tuan.
Kau bahagia?
Mengapa kau menghilang?
Kau tiba-tiba melarikan diri dari semua kenyataan yang telah terjadi.
Aku menunggumu namun kau tidak ada.
Tuan.
Aku sedang bertarung dengan isi kepala yang riuh ini, akankah kau membantuku menenangkannya?
Atau kau memang akan membuat ku semakin terluka?
Tuan.
Kau tau aku suka hujan.
Tapi kali ini tidak!
Aku membencinya karena kau
Kau telah memecahkan kepercayaan yang aku tanam dalam dirimu.
Setelah ini, aku tidak akan lagi mengenalmu dan akan aku bawa kau kepada tuhanku.
END