Hari Senin pertama di bulan yang baru, 3 Juli 2023. Langit biru dengan gumpalan putih membentang dengan elok. Beberapa burung bahkan tampak terbang beberapa saat sebelum akhirnya mendarat di ranting-ranting pohon, menghampiri pasangan mereka yang telah menunggu lebih dulu. Angin lembut menggerakkan rerumputan yang mulai memanjang.
Sepasang netra cantik tertutup menikmati belaian angin, rambut pendek sebahunya tergerak searah angin berhembus. Ia menarik napas panjang, lantas menghembuskannya perlahan. Tanpa disadari, seseorang lain turut duduk di sampingnya. Memandanginya seperti tak ada hari esok untuk kembali bertemu.
"Hai?" sapa lelaki itu pada akhirnya dengan senyuman simpulnya. Gadis di sampingnya dengan cepat menoleh. Keduanya sempat terdiam saling bertukar pandang yang lantas tertawa kecil bersama.
"Astaga, Novan. Udah lama di situ?"
Sang lelaki yang dipanggil Novan itu menggeleng pelan, "Enggak. Baru aja. Lu sendiri gimana?"
Dea, gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali memandang lurus ke depan seperti awal. Keadaan hening, anggap saja suasana menjadi terasa canggung sekarang walau keduanya nampak santai menikmati. Meski faktanya dalam hati serta pikiran, mereka sama-sama merasa bingung dan kaku.
"Gimana kabarnya?" Novan memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"Baik, kok. Lo sendiri gimana?"
"Baik juga," Hening kembali. Novan menghela sebentar, kemudian menlihat sosok di sampingnya, "Gak sengaja banget, ya kita bisa ketemu lagi? Bahkan di sini juga. Udah lama kita gak ada komunikasi sejak dari waktu itu buat yang terakhir. Kapan, ya? Mungkin sekitar satu atau dua bulan lalu, kan?"
Dea balas menatap Novan dengan ekspresi yang tak dapat ditebak, "Iya, bener. Gua kira gak bakal ketemu atau ada komunikasi lagi."
"Tadi gua juga awalnya ragu mau nemuin lu atau gak. Tapi..." Novan menggaruk kepalanya sebentar. Dea memiringkan kepalanya sedikit dengan senyuman yang sarat akan kebingungan menunggu kelanjutan kalimat Novan. "Yaaa gitu,"
"Ya...gitu? Gitu gimana?"
Keduanya kembali bertatap mata cukup lama tanpa sepatah katapun. Saling tenggelam dalam pikiran masing-masing tentang satu sama lain.
Novan tampak ragu. Ia hendak mengucapkan sesuatu namun lidahnya terasa kelu. Bahkan debaran jantungnya mulai berdetak tak teratur, membuat desiran darahnya terasa sedikit memanas. Ia kenal perasaan ini.
Novan mengambil napas sejenak, ia menatap Dea dengan lembut dan gurat wajahnya menyaratkan akan sebuah penyesalan serta kesedihan, "Kangen,"
Sama halnya dengan sensasi tak asing yang Novan rasakan, Dea turut merasakan itu setelah sebuah kata singkat mendarat sempurna melalui indera pendengarannya.
"Kangen. Iya, Dea, kangen. Gua kangen lu. Makanya gua bisa nyamperin lu sekarang, di sini. Seberani ini. Bahkan gua beneran berani bilang kangen setelah apa yang udah terjadi di masa lalu." lanjutnya yang kemudian ia sedikit terengah setelah berhasil mengeluarkan apa yang ingin ia katakan. Tak ada respon dari lawan bicaranya selain tatapan terkejut. "Gua nyesel, Dea. Gua minta maaf. Atas semua kesalahan yang gua lakuin ke lu sejauh ini di masa lalu. Gua terlalu egois dan kekanakan. Sampai dengan begonya gua baru nyadar setelah kita selesai. Gua nyesel, Dea. Gua minta maaf... Dan gua kangen. Kangen lu, kangen kita."
Novan berhenti beberapa saat, setelah meneguk ludahnya sendiri barulah ia kembali melanjutkan kalimatnya, "Selama ini...selama ini gua selalu pengen bilang kangen tapi di saat itu juga gua sadar. Gua sadar gua siapa sekarang buat lu. Gua sadar kalau gua gak sepantasnya begitu. Gengsi dan rasa bersalah gua selalu berhasil menang, Dea. Tapi jauh di sana gua kangen lu. Gua kira gua bisa cepet buat move, ternyata semakin gua menampik perasaan gua ke lu, semakin dalam juga gua pengen lu sekali lagi,"
"Nov-lu..."
"Enggak, lu gak salah denger. Iya, gua kangen lu dan sering buat punya harapan kalau kita bisa balikan lagi. Gua mau lu sekali lagi." potong Novan.
Mata Dea memanas. Entah bagaimana perasaannya kini tapi ia sadar ternyata yang mengalami itu bukanlah hanya dirinya seorang. Karena nyatanya seorang Novan juga begitu.
"Dea, gua masih sayang lu. Gua masih cinta lu. Waktu dimana kita harus selesai, itu waktu yang paling gak bisa gua terima. Gua sama sekali gak ikhlas. Bohong waktu gua bilang bahagia lu bahagia gua juga walau lu gak sama gua lagi. Persetan, Dea. Persetan sama semua omong kosong itu. Persetan gua baik-baik aja tanpa lu. Nyatanya gak gitu.
"Gua sadar. Gua sadar bahagia gua itu waktu lu ada buat gua, di samping gua, di sisi gua. Gimana bisa gua bilang gua bakal bahagia kalau lu bahagia walau sama orang lain? Cuma lu. Cuma lu satu hal yang gua perlu buat sekedar gua bisa senyum sehari sekali. Gua sayang lu, Dea. Gua masih cinta sama lu. Bahkan rasanya masih sama, gak berkurang. Gua tau gua banyak nyakitin lu, tapi gua pengen perbaiki semua." Novan tampak berkaca-kaca sekarang. Dengan perlahan ia meraih tangan Dea, menggenggamnya lembut. "Dea, gua pengen perbaiki semua. Tolong kasih gua kesempatan satu kali lagi. Gua mau lu sekali lagi. Atau mungkin berkali-kali buat seterusnya."
Dea terhenyak dalam bingung. Ia menatap Novan lamat-lamat, mencoba mencari kebohongan melalui mata lelaki itu. Bukannya mendapat apa yang ia cari, justru perasaannya lah yang semakin sesak dalam rasa yang membuncah. Dea menangis pada akhirnya.
"Dea? Maaf, maaf... Dea, maaf... Gua salah, gua bikin lu nangis lagi. Maaf. Gak harusnya gua bilang semua itu... Maaf." Novan panik melihat gadis di hadapannya menangis. Ia ingin memeluknya namun sungkan. Takut malah membuat Dea semakin tak nyaman dan menangis lebih keras. Ia merasa bersalah kini. Ia juga merasa bingung bagaimana bisa ia mengucapkan semuanya dalam sekejap tanpa memberi celah untuk Dea menanggapi? Novan merasa bodoh dan malu.
Ia menunduk. Melepas genggamannya pada tangan Dea. Perlahan telapak tangan besarnya menyentuh permukaan pipi Dea yang basah. Membuat keduanya kini kembali bersitatap, "Maaf, tolong jangan nangis lagi. Gua juga sakit liatnya. Gua janji gak bakal begini lagi, setelah ini gua bener-bener bakal berusaha buat gak ganggu lu lagi. Maaf, tolong maafin gua buat yang entah ke-berapa kalinya. Maaf, Dea. Maaf,"
Kerutan samar terbentuk pada kening Novan setelah melihat Dea menggeleng dengan senyuman di bibirnya padahal kedua netranya masih mengeluarkan air mata. Dea menyentuh kedua pergelangan tangan Novan, "Gak perlu . Gak perlu minta maaf, Nov. Gua udah maafin semuanya dari awal, inget kan? Berhenti minta maaf. Dan...dan tentang semua yang lo bilang, gapapa Novan, gapapaa," ucapnya dengan gelengan kepala, "Sejujurnya gua juga ngerasa itu semua. Gua kira cuma gua doang yang begitu, hahaha... Ternyata lo juga? Kita... kita sama, Novan. Sama," lanjutnya. Dea masih tersenyum sementara Novan masih terdiam mencerna apa yang ia dengar dari Dea.
"Dea? Lu... lu serius?"
Sekali lagi Dea mengangguk, "Iya, Novan. Iya."
"Kita sama? Jadi lu juga kayak gua? Lu kangen gua?"
Lagi, Dea mengangguk sebagai jawaban.
"Lu masih sayang gua juga?"
Dea mengangguk.
"Lu masih cinta sama gua?"
Dea mengangguk.
"Perasaan lu masih sama kayak dulu?"
Dea mengangguk.
"Lu maafin gua?"
Dea mengangguk.
"Lu mau ngasih gua kesempatan buat perbaiki semua lagi dari awal?"
Dea mengangguk.
"Lu...lu mau sama gua lagi? Buat sekali lagi ini?"
Dea mengangguk.
"Kalau buat berkali-kali? Seterusnya? Selamanya?"
Dea mengangguk seraya terkekeh. Novan tersenyum lebar lantas langsung memeluk Dea tanpa aba-aba. Keduanya saling berbalas peluk dengan erat. Menyalurkan segala perasaan rindu dan senang. Seakan hari ini adalah hari terakhir bagi mereka untuk bertemu.
Novan melepas pelukan lebih dulu, menciptakan jarak. Ia menatap Dea dengan binaran di kedua netranya, "Dea, jadi sekarang kita baikan? Balikan?"
"Iya, Novan."
Novan menggenggam tangan Dea lantas mengecupnya beberapa kali, "Gua janji bakal berubah dan perbaiki semua kesalahan yang pernah gua perbuat serta semua sikap sifat gua yang sering bikin lu sakit. Gua janji. Gua bakal berusaha. Tolong bantu dan bimbing gua."
"Pasti, gua bakal selalu ada buat lo. Kayak dulu, kayak biasanya, kayak sebelumnya."
"Makasih... Makasih banyak, Dea. Makasih," Novan kembali memeluk Dea. Kedua matanya terpejam merasakan kehangatan dan kesenangan kini. Ia hampir saja menangis.
Beberapa saat lamanya berpelukan, akhirnya mereka sepakat beranjak dari taman itu. Bak pasangan baru yang masih dimabuk asmara, keduanya berjalan berdampingan seraya saling menggenggam tangan satu sama lain.
"Mulai sekarang berubah lagi, ya? Jangan gua-lu lagi. Kayak dulu lagi. Aku dan kamu, hahaha..." jelas Novan yang disusul tawa keduanya kemudian.
"Okay."
"Terus nih ya kalau misal begini, hitungan tanggal jadiannya gimana? Apa mulai dari awal lagi, hari ini, atau lanjut dari pertama kali yang dulu?"
Dea mengerutkan dagunya, tampak berpikir dan itu terlihat lucu di mata Novan. Cantik dan lucu seperti biasanya. "Lanjut aja dari yang dulu, hehehe..."
"Oke deh. Jadi dejavu, dulu aku confess juga di sini, di taman ini, kan? Sekarang juga iya."
"Oh iya bener juga. Kayaknya taman ini beneran ngasih aura happy buat pasangan kayak yang kamu bilang dulu. Makanya kita juga begini di sini."
"Masih inget aja apa yang aku bilang."
"Apapun tentang kamu gimana bisa aku cepet lupa?" Dea mengangkat kedua bahunya sekilas. Kemudian Novan terkekeh seraya memberi pat-pat di atas kepala Dea menggunakan tangannya yang lain.
"Makasih, ya? Aku beneran gak pernah nyesel sama kamu."
"Makasih juga karena kamu udah beraniin diri tadi makanya kita bisa begini sekarang. Aku gak tau lagi kalau kamu gak berani jujur, mungkin sekarang aku masih kayak biasanya, galauin dan kangenin kamu tanpa bisa ngapa-ngapain."
"Sama, dong. Woah, perasaan kita selalu sama terus. Beneran jodoh deh, hahaha..." Novan tertawa kecil, membuat Dea turut tertawa. "Dea?"
"Iyaa?"
Nova menatap Dea dengan lembut. Tak lupa dengan senyuman hangatnya. Genggamannya ia eratkan, lalu ia bawa untuk ia kecup kembali punggung tangan Dea. "I love you. I still love you, and I will always love you."
Debaran jantung Dea semakin berdetak lebih cepat, pipinya memanas. Namun ia tetap menjaga senyumannya, "I love you too,"
Siang menjelang sore hari itu terasa lebih menyenangkan bagi keduanya. Entah bagaimana kedepannya, mereka hanya berharap kesalahan pada masa lalu tak lagi terulang dan tak ada lagi kata selesai di antara keduanya.
"Ayo mulai lagi! Entah dari awal atau enggak tapi yang pasti satu hal terpenting adalah aku masih ngerasa perasaannya kayak awal aku punya perasaan itu ke kamu. Bahkan rasanya lebih besar daripada dulu dan sebelumnya."