Akhirnya Amira berhasil. Iya, Amira berhasil. Tidak ada yang menduga... sebelumnya orang-orang... Tapi begitupun Amira menganggap kalau keberhasilannya itu bukan sesuatu yang luar biasa.
Kenapa bisa begitu bukankah...
Ini hanya persoalan memperbaiki apa yang sudah ada sebelumnya, Amira membuka sesi wawancara. Disini tidak ada yang sesuatu yang baru, hanya sedikit menyempurnakan sesuatu yang sudah sempurna, tidak ada sesuatu yang baru, begitu Amira merendah.
Jika menurut kamu menciptakan mesin yang seperti ini saja bukan sesuatu yang luar biasa kalau begitu sesuatu yang luar biasa itu apa!? Begitu pertanyaan seorang pewancara yang bertanya dengan mimik muka yang serius. Yang sebelumnya tampak memuja-muji Amira dengan begitu berapi-apinya.
Gimana ia tidak memuji dengan begitu bersemangatnya. Menurutnya penciptaan mesin ini adalah sebuah karya monumental, masterpiece, yang mana kehadirannya sudah lama ditunggu-tunggu, dan lebih dari pada itu, kelak dengan keberadaan mesin ini kehidupan di muka bumi ini akan mengalami revolusi setelahnya. Lihat saja setahun dari sekarang bumi kita akan kembali hijau.
Amira hanya tersenyum tipis, gak lebih!
Jadi katakan pada kami, katakan pada semua orang-orang di muka bumi ini, jikalau mesin pengubah air menjadi bahan bakar ini bukan sesuatu yang luar biasa, kira-kira menurut seorang Amira, sesungguhnya mesin seperti apakah yang bisa berdampak luar biasa bagi kehidupan di muka bumi ini!?
Tanpa tedeng aling-aling Amira berucap, Mesin waktu. Sekonyong-sekonyong orang yang mendengar pertanyaan itu tertawa terbahak-bahak. Amira hanya merespon dengan satu anggukkan kecil.
Si pewancara mengibaskan tangan, seolah hendak memberi isyarat meminta kepada Amira supaya tidak bercanda. Iya, jelas ia beranggapan kalau Amira itu sedang bercanda.
Cita-cita Amira hanya satu, ia ingin menciptakan mesin waktu, begitu Amira membuka suara. Kalau hanya untuk menciptakan mesin kayak begini, semua orang pasti bisa, terlebih mesin ini sudah memiliki prototipe lebih dulu, jadi akan semakin lebih mudah untuk membuatnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya memberi sentuhan kecil gak lebih-gak kurang.
Mimik wajah Amira tampak kaku dan tatapan matanya terlihat tegas dan lurus menatap ke khalayak. Arti dari tatapan mata itu dengan jelas menyiratkan kalau ia sedang bersungguh-sungguh.
"Kenapa mesin waktu, kenapa bukan mesin... mesin..." Tanya si pewancara yang terlihat kebingungan lagaknya pun sudah tidak ada bedanya seperti sedang mencari sebuah jarum dalam setumpukan jerami. "Pokoknya kenapa mesin waktu!?" Ia sudahi kebingungannya.
Amira berkedip pelan sembari kedua ujung bibirnya ditarik kebelakang, telunjuknya pun diketuk-ketukan ke permukaan meja lalu kepalanya menggangguk-angguk. "Karena aku kangen Papa. Dengan mesin waktu yang aku ciptakan, kelak aku bisa menemukan Papa. Iya, Papa. Aku ingin bertemu dengan Papa. Itu saja, aku gak perduli dengan kehidupan semua orang. Maksudku, aku tak perduli apakah ciptaanku ini kelak berdampak atau tidak, yang aku tahu, aku hanya kangen Papa, itu saja." Kata Amira tenang yang kemudian terdiam beberapa jenak.
"Dia sudah kuberi waktu tapi..." Kata Amira menunjuk ke arah dinding yang ada di belakangnya, lebih tepatnya, ke arah satu gambar yang menempel di dinding belakang bagian tengah atas ruangan tersebut, satu sosok yang banyak dikagumi oleh semua orang, setidaknya sekarang-sekarang ini, begitu kata survei.
"Sepuluh tahun sesungguhnya bukan waktu yang sebentar, tapi..." Amira menggeleng kecil. "Beberapa panjang jalan yang telah ia bangun, dari timur ke barat, dari Utara ke selatan, membelah hutan gunung dan lautan, tapi untuk menemukan satu orang saja, satu orang lelaki tua renta saja ia tak bisa, betapa menyedihkan sekaligus menggelikan." Amira bangkit berdiri, dengan jemari yang tercengkeram, jelas ia ingin menyudahi sesi tanya-jawab itu.
Orang-orang terdiam membisu. Iya, orang-orang hanya bisa terdiam dan membisu.