Wanita itu sedang menjalani mimpinya. Wanita dengan rambut terurai itu duduk pada gerbong pertama kereta commuter. Wajahnya yang ranum menunduk muram. Pandangannya jatuh pada lantai gerbong khusus perempuan itu. Hampir tengah malam ia menuju tempat proyeknya yang tengah berjalan, di bilangan Jakarta Pusat. Ia suka bekerja pada malam hari. Katanya lebih tenang. Hanya ada suara desir angin dan mimpi-mimpi orang yang tertidur pulas. Kadang nyanyian Tuhan yang digumamkan orang-orang merangsang telinganya. Kereta itu berhenti. Di stasiun Juanda itu kakinya menyentuh peron. Langkah kakinya tegas tapi tak terburu-buru. Hanya segelintir orang yang turun bersamanya. Malam sudah sepekat harapan milik orang pinggiran. Mendung menggigilkan beberapa tiang listrik. Dan wanita itu menuju pintu keluar.
“Seandainya kau tak berpuas diri, kau pasti tidak di sini,” ucap wanita itu kepada penjaga loket ketika sedang menukarkan tiketnya.
“Sudahlah. Tak masalah bagaimana aku sekarang. Seharusnya kau bisa menerimanya,” lelaki itu membalasnya.
“Kalau begitu hentikan semuanya,” ucap wanita itu sambil berlalu pergi.
Mata lelaki itu menatapnya dari kejauhan. Tak lama tubuhnya hilang di kelokan menuju jalanan.
Wanita itu, yang sudah sampai pada tempat ia bekerja, mulai mengawasi keadaan lapangan. Sedang ada pembangunan jalan layang akhir-akhir ini. Dan itu adalah tugas yang sedang ia emban. Sebagai sarjana teknik sipil, ia mampu membuat pembangunan berjalan dengan tepat waktu.
Di mejanya ia lihat lagi cetak biru yang sudah dipastikan. Ia samakan dengan hasil yang berdiri di tengah jalan itu. Lalu tubuhnya terkapar pada kursi yang sudah disediakan. Kopi hitam sudah tersedia di atas mejanya. Anak buahnya tahu itu adalah hal yang selalu diminta oleh wanita itu. Dari tempat duduknya itu ia melihat jauh ke jalanan yang silau karena cahaya lampu tembak. Di antara bias cahaya itu, wajah Juno kembali muncul, lelaki di loket yang baru saja ia temui.
***
“Kamu tak perlu bekerja bila sudah lulus nanti. Biar aku saja. Aku akan mencari pekerjaan yang bisa membawamu ke pelaminan,” ucap Juno kepada wanita itu ketika mereka menyelesaikan ujian kelulusan mereka.
“Tapi aku mau kuliah. Memangnya kau tidak mau lanjut ke universitas?” balas wanita itu.
“Kuliah? Aku sudah lelah berpikir. Toh, hasilnya sama saja. Bagaimanapun kau akan bekerja untuk orang lain.”
“Bukan masalah pekerjaannya, Jun. Ini masalah ilmu pengetahuan. Mungkin saja kita menemukan banyak hal baru di universitas.”
“Semua orang menemukan hal baru dalam hidupnya. Mungkin saja pagi tadi Pak Burhan mendapat hidayah. Nyatanya ia yang selalu tegas dalam pelajaran tapi malah memberikan kita bocoran.”
Angin menerpa beranda lantai tiga gedung sekolah tempat mereka berbincang. Di kejauhan pohon besar rindang seperti berdendang.
“Lagi pula kamu wanita, mau punya pendidikan setinggi apa pun, habitatmu adalah dapur,” ucap lelaki itu.
Wanita itu baru mengerti makna dari kekecewaan.
***
“Bu Hera?” ucap salah satu pekerja yang memanggil wanita itu. Sontak ia sadar dari lamunan masa mudanya.
“Bu, ini laporan yang tadi ibu minta.”
“Oh iya. Terima kasih,” sahut wanita itu.
Pekerja itu berlalu meninggalkan ruangan. Pintu kembali ditutup rapat. Dan wanita itu menjatuhkan wajahnya yang lelah ke atas tumpukan kertas yang telah dibawa. Beberapa kali ia menyeruput kopi hitamnya.
Wanita itu mulai bersiap-siap meninggalkan ruangan yang dibentuk dalam kotak kargo itu. Satu dua mobil lalu lalang di jalanan. Dan ia menuju stasiun Juanda lagi.
Horizon belum tampak di kejauhan. Fajar hampir tiba setelah ayam di dalam gang berkokok. Kereta pagi belum tersedia dan wanita itu terduduk di bangku depan loket. Juno menghampirinya. Sebungkus roti ia tawarkan.
“Isilah perutmu dahulu,” katanya.
Wanita itu menerimanya. Juno pun duduk di sebelah wanita itu. Hening menyelimuti. Lagi-lagi angin berdesir di antara mereka. Mereka tahu bahwa mereka sudah menjadi dewasa. Dan mereka tahu apa yang dipikirkan masing-masing.
“Hera, aku masih menunggumu. Mungkin aku hanya bekerja di sini, bekerja rendahan di matamu. Tapi percayalah,” ucap Juno.
“Bukan masalah pekerjaan, Juno. Mengapa selalu masalah pekerjaan di kepalamu? Apa yang kau pikirkan tentang aku?”
“Yah, kau wanita karier. Wanita yang aku cintai.”
“Ini adalah bagaimana cara kamu memandang wanita! Wanita tak serendah yang kamu bayangkan, Juno! Kita punya hak untuk bergerak. Tak melulu dapur menjadi habitat,” ucap wanita itu agak menekankan tiap kalimatnya.
“Ya, aku tahu. Tapi masalahnya adalah suatu bentuk keluarga yang baik. Apa kita harus bekerja sedangkan anak kita malah kita tinggal sendiri di rumahnya?”
“Aku adalah wanita yang tumbuh dengan lingkungan seperti itu dan aku baik-baik saja. Itu hanya masalah pembagian waktu saja.” Urat di lehernya makin menegang.
Suasana semakin dingin, tapi fajar mulai timbul di kejauhan. Adzan subuh mulai berkumandang dari masjid ke masjid. Wanita itu berdiri, melangkah pergi tanpa banyak basa-basi menuju peron. Juno masih duduk terdiam. Dan berharap pada kebaikan dan beberapa harapan. Sekali-sekali pada Tuhan.
Di rumah, wanita itu menikmati pancuran air dari shower di kamar mandinya. Tubuhnya basah, rambut panjangnya lepek, air matanya tersembunyi di antara butiran air lainnya. Ia masih mencintai lelaki itu, Juno. Tetapi ia masih belum bisa menerima pemikiran patriarkinya. Wanita itu hanya butuh kebebasan. Bagaimana ia juga ingin berperilaku layaknya manusia-manusia moderen. Ia ingin bergerak sebebas tubuhnya bisa berkeliaran. Meski di satu waktu ia menyadari harus menyerah pada lelaki. Tetapi hanya kepada lelaki yang mau menghargai perempuan. Dan ia menolak patriarki secara nyata.
Tubuhnya yang ramping itu terbalut handuk putih bercorak bunga mawar. Di depan cermin wajahnya saling bertatapan. Pikirannya melayang membayang Juno memeluknya dari belakang. Meskipun wanita itu membencinya, setidaknya ia masih mencintainya sebagai perempuan. Ia sedikit berteriak dan mulai merebahkan tubuhnya pada kasur empuk miliknya. Hingga berangsur-angsur ia terlelap.
Dalam tidurnya di pagi itu, mimpi-mimpi berkibar di kepalanya. Ia ingin menjadi wanita yang tidak terkekang aturan kuno. Memiliki harapan yang tak sekadar harap. Dan sosok Juno muncul menjelma Charles Fourier. Perlahan memeluk tubuh wanita itu dengan cinta paling hangat. Mengecup kening, membelai rambut, menjamah jemarinya, wanita itu merasa sedang menjadi ratu sejagad. Awan-awan putih mengelilingi, ia menatap Juno yang bersembunyi di balik bias-bias cahaya. Semakin lama matanya makin silau. Juno hilang. Langit yang ia pandangi menjadi runtuh. Ia tenggelam ke dalam danau air mata. Dan seketika ia terbangun pukul dua siang. Dirinya masih terkejut dan merasakan mimpi tersebut sebagai kenyataan. Tubuhnya masih berbaring menenangkan diri. Ia tak mau kehilangan Juno. Ia tak mau Juno tak menghargainya.
***
Laporan masih menumpuk di depan laptopnya. Susu hangat tersedia menemani. Siang itu hujan, dan petang menjadi lebih dingin. Dengan bersembunyi di balik selimut, wanita itu masih berusaha menjamah pekerjaannya. Di saat seperti ini kadang pikirannya melawan prinsip hidupnya. Ah, rasanya lebih baik di dapur saja. Tapi itu hanya ego sementara. Karena apa yang ia ketahui, manusia memiliki haknya masing-masing tanpa adanya batasan. Dan ketika kepalanya sudah cukup penuh dengan pekerjaan, ia menghambur keluar menuju taman terdekat. Merehatkan sedikit urat-urat kepalanya.
Taman terlihat ramai, orang berlalu-lalang. Di jalanan, berbagai kendaraan melaju dengan santai. Hawa dingin masih menyelimuti. Wanita itu merekatkan lagi kardigannya. Pada bangku yang menghadap kolam, ia duduk mengistirahatkan pikiran. Sayup-sayup suara keramaian memenuhi kepala. Mata wanita itu mengitari taman. Sekelebat ia melihat lelaki menggenggam pena di tangan kanannya. Matanya menatap buku yang terjerembab di kedua pahanya. Lelaki itu duduk sambil memainkan pena merahnya. Wanita itu tahu siapa dia, itu Ares, teman kecilnya dulu. Wanita itu menghampirinya.
“Ares?” sapa wanita itu.
“Lho? Hera ya? Apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu,” balasnya.
“Aku baik-baik saja. Ya, sudah lama sekali sejak kau pindah ke Sumatera. Sudah jadi orang hebat kau ya? Hahaha.”
“Walah, orang hebat. Memangnya saya Superman. Saya masih sama kok seperti dulu.”
“Kau tinggal di sini lagi? Atau hanya sedang rekreasi saja?”
“Tidak. Aku hanya ada sedikit pekerjaan. Besok aku menjadi pembicara di salah satu universitas swasta.”
“Pembicara? Wah, kamu sudah jadi orang sukses rupanya. Kerja apa kamu?”
“Sukses tidaknya seseorang, ‘kan, relatif. Lagi pula aku tak sesukses yang kamu bayangkan. Aku hanya sekadar menulis-menulis saja.”
“Menulis? Kamu akunting? Apa malah direktur? Kan kerjanya menulis juga, menulis tanda tangan. Hahaha.”
Ares tertawa mendengar lelucon Hera sambil berkata, “Orang sepertiku mana sanggup jadi direktur. Toh, aku saja malas mengurus hal-hal ribet. Bisanya cuma ngayal aja.”
“Lho, terus jadi apa?”
“Cuma penulis buku biasa.”
“Wah, orang terkenal rupanya.”
“Mana ada penulis terkenal. Kalau aku terkenal, orang-orang sudah minta foto sama aku.”
Hera tertawa sambil menutup sedikit mulutnya. Ia mencoba mencari topik lain dan bertanya, “Kamu sudah menikah?”
“Ya, begitulah. Baru tiga bulan yang lalu.”
“Benarkah? Mengapa tidak mengundang?” Hera cukup terkejut mendengar kalau Ares sudah menikah.
“Aku tidak sanggup membayarkan tiket pesawatmu,” balas Ares sambil sedikit tertawa.
“Halah tiket pesawat ke Sumatera buatku mah murah.”
“Murah? Wah, orang kaya sepertinya. Bekerja di mana?” tanya Ares penasaran.
“Tidak sekaya yang kamu bayangkan. Aku bekerja di salah satu perusahaan konstruksi. Sekarang Jakarta sedang ramai pembangunan jalan.”
“Konstruksi? Istriku juga bekerja di sana. Sumatera juga sedang meningkatkan infrastrukturnya. Sekarang dia sedang banyak pekerjaan. Saya jadi sering ditinggal.”
“Istrimu bekerja? Memangnya kamu tak mempermasalahkan bila istrimu bekerja?” Tak habis-habis rasa terkejut Hera kepada Ares. Menurutnya, lelaki ini jadi sulit ditebak.
“Tidak. Kami baik-baik saja. Aku menerima apa yang mau dia lakukan. Asalkan dia tahu bahwa kita sudah terikat pernikahan. Jadi, aku senang bila ia bisa berkarya dengan bebas.”
“Lalu anakmu?”
“Ia tidak mau punya anak dulu katanya.”
Wanita itu menyesal, mengapa waktu itu ia tak menerima Ares sebagai kekasihnya. Seandainya Juno mampu memiliki pemikiran seperti ini. Seandainya.
***
Kertas masih menumpuk di atas meja. Malam ini wanita itu tak perlu ke lapangan, cukup merapikan laporan yang tertunda. Ia melihat ke luar dari jendela lantai dua rumahnya yang berdiri di bilangan Tebet. Untuk beberapa saat ia merasa kesepian. Perasaan melankolinya menumpuk dalam hati. Ia mau tahu bagaimana rasanya bila punya anak. Mungkin menyenangkan di tiap sore bermain dengannya. Atau merasakan basahnya tubuh ketika memandikannya. Atau mengganti popoknya yang sudah penuh. Dan begitulah naluri keibuannya menggebu. Mungkin sudah waktunya ia menyerah. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Ia mengaku kalah.
Juno sudah datang atas undangannya yang dia kirim tadi pagi. Ia tinggalkan kamarnya dan menjemput Juno yang baru turun dari motor bebeknya. Juno diarahkan menuju meja makan. Sudah tersedia hidangan yang sejak petang ditata rapi oleh wanita itu. Dan mereka berdua duduk saling berhadapan. Sebelum menikmati makan malamnya, Juno meletakkan sebuah kotak berisi cincin emas.
“Ini untuk terakhir kalinya aku meminta,” ucap Juno.
Wanita itu menatap cincin dan Juno secara bergantian.
“Aku akan berusaha untuk berubah. Untuk kamu tentunya. Untuk segala keinginan. Aku tahu kamu tak mau terinjak-injak oleh laki-laki. Dan aku berjanji tak akan melakukannya. Aku tahu karena aku mencintaimu,” lanjut Juno.
“Juno, terima kasih. Tapi tetaplah seperti dulu,” balas wanita itu.
Wanita itu, yang cantik rupanya, tenggelam pada tangisannya yang ia kurung pada kedua telapak tangannya. Sendok, garpu, serbet makan menjadi saksi ketika air mata itu jatuh, air mata kebahagiaan, air mata penyesalan.