Pagi itu sebuah sekolah terlihat lebih ramai karena sedang jam istirahat. Tetapi seoranh siswi malah berjalan menuju rooftop sekolah itu lalu berhenti di depan tembok pembatas. Tatapan siswi itu terlihat kosong. Seperti tak ada kehidupan disana.
"Lompat"
Bisikan itu membuat siswi itu mengeluarkan air matanya dalam diam lalu langkahnya menuju tembok pembatas itu dan…
Setelah kejadian itu sekolah itu tak lagi damai. Setiap tahun pasti akan ada kejadian kematian ganjil. Dari bunuh diri sampai kecelakaan yang tidak masuk akal.
5 tahun kemudian.
Zaba mengehala nafas panjang lalu memasuki gedung sekolah yang sudah bobrok dan ditumbuhi lumut itu. Dia melihat sekeliling lalu pandangannya tertarik pada sebuah kelas paling pojok di sekolah itu.
"Haha, ketemu" Zaba berjalan mendekati sebuah meja yang terlihat sudah di tutupi debu itu.
Brak.
Sebelum dia mendekati meja itu sebuah kursi terlempar membuatnya terkejut.
"Banyak juga tawanan mu ya, Mort sang Wrath" ujar Zaba dan sebuah bayangan tiba-tiba muncul di depannya dengan wujud yang mengerikan.
Enam tangan, tiga kepala, dan empat pedang menghiasi setiap tangannya membuat Zaba melihat Mort heran.
"Kemana tanduk dan dua pedang mu itu?" tanya Zaba santai.
"Diam kau makhluk rendah! Ini semua karena Anubis!"
Zaba menggeleng pelan, "Anu gak pernah salah Mort. Kau yang mulai"
Merasa di remehkan Mort langsung menyerang Zaba dengan pedangnya.
Di depan sekolah itu seorang gadis berpakaian dan berpayung hitam berdiri sambil melihat keadaan sekolah itu.
"Zaba?"
Pertarungan itu terasa sangat mengerikan. Semua barang disana berterbangan di sekitar mereka dan hawa disana juga sangat panas.
"Hahaha lama tidak latihan"
"Kau pikir aku hanya bahan permainan mu saja ha!" Mort mengeluarkan sihirnya lalu menyerang Zaba membabi buta, "Mati kau makhluk rendahan!"
Zaba tersenyum lalu menangkis semua serangan Mort dengan mudah.
"Payah"
"Apa?!" Mort menatap semua bawahannya lalu menyuruh salah satu dari mereka untuk menyerang Zaba.
Zaba dengan mudah mengalahkan bawahan Mort tapi yang tidak dia tahu adalah itu tipuan Mort untuk menyerangnya. Melihat pedang Mort yang hanya tinggal sejengkal Zaba hanya bisa pasrah.
Tring
Bentrokan dua buah pedang membuat suara yang begitu nyaring. Zaba melihat siapa yang menyelamatkannya.
"Ambil!" gadis itu melempar sebuah pedang bewarna putih pada Zaba.
Zaba menerima pedang itu lalu melihatnya sesaat, "Acry?" gumam Zaba saat melihat pedang putih itu.
Tapi tanpa berfikir panjang, Zaba menyerang Mort dengan pedang itu. Sedangkan gadis itu menyerang bawahan Mort lainnya.
"Acry?"
Slash.
Dua tangan Mort terputus secara sempurna.
"Tidak!"
Mort merubah wujud nerakanya dan membuat gadis itu menjadi sangat sesak. Zaba yang melihat itu melindungi gadis itu. Tapi dia tidak bisa lama-lama melindungi gadis itu.
"Hei dengar, baca doa mu. Dan minta perlindungan padanya. Ini akan sedikit sakit" ujar Zaba yang diangguki gadis itu.
Tiba-tiba tubuh Zaba berubah menjadi besar, dan mengerikan. Gigi runcing dan kuku yang panjang juga runcing. Nafasnya terasa seperti api. Tubuhnya menjadi hitam dalam sesaat.
"Mort sang Wrath, kembali lah ke tempat mu" Zaba mengayunkan tangan dan Acry bersamaan.
Mort tidak bisa berkutik lalu berteriak kesakitan. Disekitar ruang kelas itu terbakar lalu menjadi nol gravitasi. Gadis itu ikut terangkat lalu di hentakan dengan keras bersamaan ledakan yang keras pula.
Setelah Mort menghilang Zaba merubah wujudnya lagi dan mencari gadis itu sambil membawa Acry.
"Hei, kau!" Zaba menepuk pelan wajah gadis itu dan melihat bahwa kepalany sedikit berdarah.
Zaba bisa lihat darah gadis itu bewarna hitam. Lalu menatap heran gadis itu.
"Kau? Siapa kau sebenarnya?"
Saat tersadar gadis itu mendapati dirinya disebuah ruangan dengan lilin dimana-mana. Sesaat gadis itu tahu dimana dia sekarang.
"Kau sudah bangun nak?" seorang biarawati mendekati gadis itu.
"Siapa yang membawa ku kemari?" tanya gadis itu heran.
Biarawati itu tersenyum kecil yang membuat gadis itu paham siapa yang membawanya ketempat itu.
Zaba berada di sebuah pemakaman lalu bersandar di salah satu nisan disana. Helaan nafas kasar membuatnya merasa makin bersalah.
"Ini rumah mu ya, keren"
"Zaba?"
Mendengar ada yang memanggilnya Zaba berbalik, "Kau sudah sadar?"
"Kau tidak bisa masuk kenapa kau menitipkan ku kesana?"
Zaba tertawa pelan, "Gak ada tempat lain yang bisa ku datangi, ada sih, tapi kau dalam keadaan gawat"
Gadis itu menatap Zaba jijik, "Mana Acry dan Aham?"
Zaba tersenyum lalu melempar dua buah tongkat berukuran 30 centi dengan wara berbeda itu pada si gadis.
"Kau utusan dari neraka juga?" tanya Zaba pada gadis itu.
Gadis itu tidak menjawab, "Kau memiliki Acry artinya Dia langsung yang mengirim kau kan?" tebak Zaba.
"Iya" jawab gadis itu dengan tenang.
Zaba mengangguk pelan, "Mau bekerja sama?"
Gadis itu menyerit heran, "Hanya sampai tugas ku mengambil arwah jahar selesai dan tugas mu mengembalikan 7 pangeran ketempatnya"
Tak ada jawaban sampai
Trang
Tongkat hitam milik gadis itu dia lempar di depan Zaba, "Aku Gaia"
Zaba tersenyum lalu mengikuti Gaia di belakangnya, "Kau tahu aou Zaba darimana?"
"Arwah itu yang memanggilmu Zaba"
"Haha cerdik"
"Diam"