—13 Juni 2022
Hari itu, suara hujan sedikit banyaknya meredam suara ribut dari ruangan bertuliskan XI BAHASA 2. Helaan napas panjang keluar dari salah seorang pemuda berkulit tan. Telapak tangannya sejak awal hanya bertopang dagu di atas meja kelas. Suasana kelas memang tengah ribut karena guru di jam pertama belum memasuki ruangan, tetapi pemuda itu masih merasa kesepian. Ia melihat ke arah seragam putih abu-abunya dan membaca nametag di sana, Harsa Abraham. Harsa, iya itu namanya.
"Gini aja terus sampai lulus. Nanggung." lirihnya yang kemudian menyembunyikan wajah di balik tumpukan tangannya.
—18 Juli 2022
Satu bulan berlalu begitu cepat. Dan bagi Harsa, semua nampak sama saja. Tak ada yang berbeda apalagi istimewa. Terhitung 3 bulan ia telah bersekolah di SMA ini. Ia pikir, sekolah barunya akan jauh lebih mengasyikkan daripada sekolahnya dulu. Ternyata sama saja. Atau mungkin lebih baik karena sekarang ia tak lagi mendapat bully baik secara fisik maupun secara verbal.
Tapi, bukankah dikucilkan seperti ini sama saja seperti tindakan bully?
Harsa mencebik, lantas memakan bekal yang Bundanya siapkan pagi tadi. Meja kantin ini cukup luas, namun hanya diisi oleh makanannya.
"Sekolahnya baik. Sosialnya yang kurang. Sama aja."
—1 Agustus 2022
Seperti biasa. Hari demi hari, waktu demi waktu, tak ada yang berubah bagi Harsa selain waktu belajarnya yang kini terasa sedikit lebih padat. 'Baguslah.' pikir Harsa. Karena setidaknya ia bisa lebih sibuk menyendiri ketika mengerjakan tugas-tugas daripada sebelum-sebelumnya. Jika tugas berkelompok, Harsa tentu hanya diam dan mengikuti arahan ketua kelompok tanpa bantahan. Lagipula jika ia membantah atau memberi masukan, siswa yang menganggap dirinya sebagai ketua kelompok itu akan menolak pendapatnya. 'Siswa egois semacam itu menyebalkan dan hanya mau menang sendiri.' batin Harsa.
"Halo, perkenalkan nama saya Putriana Cantika. Biasa dipanggil Ana. Senang berkenalan dengan teman-teman semua." ucap siswi baru dengan senyuman riangnya. Untuk sejenak, Harsa merasa senang melihat senyuman itu.
Harsa tidak berharap banyak pada siswi baru dengan senyuman manis itu. Lagipula, pada akhirnya gadis itu juga akan menjauhinya. Harsa kembali mengerjakan tugas setelah sang siswi di depan, telah duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya.
Padahal diam-diam, seseorang yang baru itu juga tengah memerhatikan Harsa.
—2 Agustus 2022
Harsa sedikit terkejut dan merasa heran hari ini. Tentu saja.
Hari ini, awal paginya ia disuguhi dengan siswi yang duduk di samping kursinya. Ana, siswi baru itu ternyata.
"Aku cuma mau duduk di sini. Deket jendela. Enak." kata Ana pagi itu. Harsa hanya mengiyakan.
Tak hanya itu ternyata. Ana mengajaknya berkenalan. Bertanya ini dan itu kepadanya. Tidak menggangu Harsa, hanya saja pemuda itu masih merasa heran.
Bahkan hingga detik ini.
"Oh, begitu, ya? Aku juga suka dengerin musik. Kamu tau lagu Old Love-nya Yuji feat Putri Dahlia? Itu enak banget. Setiap denger rasanya kayak lagi kasmaran, hihi..." celoteh Ana yang disertai ekspresi riangnya.
Cantik. Itu yang Harsa pikirkan saat ini.
Harsa mengangguk dengan senyum simpul, "Iya, tau."
"Tapi walaupun gitu, sebenernya aku gak lagi kasmaran, sih. Malah aku lagi pusing soalnya harus beradaptasi sama lingkungan baru yang sekarang. Hari pertama di sini, emang seru. Tapi di hari kedua ini, gak begitu, ya?"
Harsa mengernyit melihat ekspresi Ana yang tampak sengaja dibuat sedih itu, "Oiya?"
"Enggak juga," Ana kembali tersenyum, "Karena sekarang ada kamu, Harsa. Jadinya gak sepi. Tadi pas berangkat awal, waktu kamu belum dateng, aku dicuekin sama temen sekelas lain yang udah duluan masuk. Padahal udah aku kasih sapa. Aku kemarin ada salah apa, ya?"
Harsa terkekeh, "Mungkin lo gak salah. Tapi emang dasarnya anak-anak sini begitu. Gak usah heran."
Ana terdiam sejenak. Gadis itu menatap Harsa, "Begitu, ya? Tapi kamu enggak."
"Gue beda. Awalnya juga gue sama kayak lo. Anak baru. Makanya gue paham rasanya."
"Iyakah? Wah... Aku pikir anak-anak di sini baik kayak kemarin." Ana mengangguk pelan, "Ngomong-ngomong, tadi kamu ketawa."
"Hah?"
"Suatu kemajuan buat aku hari ini karena buat orang baru bisa ketawa berkat aku. Makasih, ya?"
"Maksudnya? Kenapa? Makasih buat apa?"
Ana tertawa kecil, membuat pemuda di hadapannya terhenyak sebentar. Gadis itu merapikan rambutnya, "Makasih mau kenalan sama aku. Terus udah kasih respon yang baik. Padahal kita baru kenal tapi aku udah secerewet ini. Kamu ketawa tadi, itu yang buat aku seneng."
Harsa ber-oh tanpa suara seraya mengangguk. Gadis ini unik dan berbeda ternyata.
"Aku harap kita bisa berteman baik, ya? Kamu baik."
Harsa terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan mengangguk mantap.
—15 Oktober 2022
Terhitung 2 bulan Harsa berteman dengan Ana. Sejujurnya, tak pernah Harsa pikirkan bahwa ia bisa memiliki teman seperti Ana.
'Putriana, Ana. Dia baik. Baik banget. Temen pertama di kelas yang bisa bertahan sampai 2 bulan ini. Ana cerewet, tapi asik. Dia juga pendengar yang baik. Kami sama-sama punya masalah di sekolah sebelumnya. Sama-sama pernah di-bully.
Tapi Ana gak pernah benci orang yang udah jahat ke dia. Dia juga tetap ramah. Gak seperti saya yang terkesan lebih diem semenjak sering di-bully.
Saya senang berteman dengan Putriana.'
Harsa tersenyum sepanjang jarinya menuliskan tentang Ana ke dalam buku hariannya. Kebiasaannya setiap malam, menulis. Menumpahkan segalanya dalam bentuk tulisan.
—26 Oktober 2022
Sore ini, Harsa pergi dengan sepedanya menuju tempat tinggal Ana yang ternyata tidak begitu jauh dengan tempat tinggalnya. Perasaannya semakin membaik seiring berjalannya waktu. Tentu, itu berkat sahabatnya, Ana.
"Halo, Harsaaaaa?!" sapa Ana dengan riang ketika Harsa baru saja berhenti di depan rumah Ana. Hal itu membuat perasaan Harsa membuncah.
"Halo, Ana!"
Keduanya tertawa.
"Bener, kan mau keliling kota? Gak apa-apa?"
Harsa menggeleng, "Gapapa. Gue jago naik sepeda dari kecil. Jangan ngeremehin, ya Anda. Hahahahaha..."
"Hehe, ya udah, ayo!" Ana berjalan mendekati Harsa dengan cepat. Gadis itu mendudukkan dirinya pada sadel belakang sepeda milik Harsa, "Let's go, Harsa!" serunya riang.
"Let's go!" sahut Harsa yang lantas mengayuh sepeda dengan cepat.
"Yeeeeay!" Ana tertawa yang membuat Harsa turut tertawa.
Sesekali gadis itu menepuk pundak Harsa sebagai peringatan untuk lebih berhati-hati dan melambatkan laju sepeda karena sudah mulai memasuki daerah jalan raya kota.
Sampai pada taman di tengah kota, sepeda itu berhenti. Kedua penumpangnya juga telah beranjak memasuki area taman yang masih ramai meskipun matahari hampir terbenam.
Keduanya kini duduk di salah satu kursi panjang, di bawah lampu taman yang telah menyala.
"Cantik, ya? Langitnya juga. Tamannya juga. Semuanya."
Harsa menoleh pada Ana yang kini sibuk memandang langit yang mulai berwarna jingga kemerahan. Semuanya indah bagi Harsa.
"Ada yang mau diceritain?" tanya Harsa pelan. Matanya masih betah menatap objek cantik itu.
"Kenapa kamu tau?"
"Tau apa?"
"Kalau ada sesuatu yang mau aku ceritain." ekspresi Ana kian berubah seiring merendahnya suara itu. Harsa terdiam, membiarkan Ana memulai ceritanya.
Seperti biasanya.
Bercerita menghabiskan waktu bersama Ana, adalah waktu yang kini menjadi favoritnya.
"Mama sama Papa. Mereka gak bisa pulang besok. Kerjaan mereka makin padat, katanya. Itu tandanya besok aku harus sendirian lagi ngerayain ulang tahunku. Nenek bilang, Mama Papa pulang akhir tahun. Padahal aku berharap banget hari ulang tahun ke-17, aku bisa ngerayain bareng keluarga lengkap di sini. Kan sweet seventeen, hehe."
Hening beberapa detik, Ana menoleh ke arah Harsa, "Tapi di sisi lain, aku juga seneng sih karena aku punya kamu. Aku bisa ngerayain bareng kamu besok. Gak apa deh kalau orang tua aku sibuk. Asal kamu, sahabat aku, gak ikutan sibuk, hahahaha... Aku gak mau sendiri lagi buat ulang tahun kali ini." Ana tersenyum penuh arti. Kedua insan itu saling bertukar pandang.
Harsa yang salah tingkah, lantas memutus kontak mata itu. Jemarinya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ah, oh itu, pasti. Gue pasti dateng ke rumah lo besok. Hari spesial buat lo, udah seharusnya gue rayain." Harsa menampilkan senyum hingga deretan giginya nampak. Ana terkekeh.
"Makasih banyak, Harsa. Nice to meet you."
Keduanya kembali melempar pandang serta senyuman hangat.
Waktu yang tersisa setelah bertukar cerita senja itu, tentu Harsa gunakan untuk membawa Ana berkeliling kota, membeli makanan atau cemilan, berhenti di tempat-tempat iconic pada kota tempat lahir Harsa. Keduanya sesekali bernyanyi bersama, bercerita lagi, tertawa, bertingkah seperti anak kecil, tertawa lagi, bercerita lagi, dan terus berulang.
Hari itu menjadi hari yang istimewa pula bagi Harsa selain hari-hari lalu yang telah dilaluinya bersama Ana. Baginya, hari dimana ia bersama Ana, adalah hari yang indah dan istimewa.
—27 Oktober 2022
Api kecil pada lilin berbentuk angka 17 itu sempurna mati setelah Ana meniupnya. Disusul suara tepuk tangan oleh nenek, 2 pembantu rumah, serta Harsa. Ana tersenyum lebar.
"Yeeeey, happy sweet seventeen, Ana! Bahagia selalu." ucap Harsa yang diamini oleh yang lain.
Ana tersenyum dan terus tersenyum melihat betapa Harsa begitu antusias. Pemuda itu kini tengah membantu memotong kue dan membagikannya pada nenek serta kedua pembantu rumahnya. Seharusnya mungkin ia yang melakukan itu. Hanya saja, ia yang menginginkan Harsa untuk membantunya. Hatinya menghangat. Sampai air mata turun dari tempatnya.
"Harsa?"
"Iya? Kenapa? Loh? Kok nangis?" Harsa mendekat dengan panik.
Ana tersenyum seraya menyeka air matanya, "Makasih. Makasih banyak, ya?"
Keduanya terdiam sejenak.
Tangis gadis itu semakin menjadi ketika merasakan dekapan hangat Harsa. Mengapa?
Mengapa Harsa selalu mengerti dirinya?
—3 Desember 2022
"Harsa?"
"Iya, Ana? Kenapa?"
"Kamu ngerasa kerepotan gak selama ini?"
Pemuda tan itu lantas mengernyit, "Kerepotan? Soal apa?"
Ana menarik napas dalam-dalam, "Sejak awal kenal, aku selalu ganggu kamu dengan cerita-cerita aku. Sejak awal, aku selalu curhat ke kamu. Sejak awal, aku selalu deket sama kamu. Sejak awal, apapun yang aku mau, pasti kamu iya-in aja. Sejak awal, kamu selalu dengerin cerita aku."
"Oh," tangan kanan Harsa terulur untuk mengusap puncak kepala Ana dengan lembut. Tak lupa dengan senyuman, "Hei? Gue sama sekali gak ngerasa kerepotan. Gue suka-suka aja ngelakuinnya. Gak keberatan sama sekali."
Ana memberanikan diri untuk menatap Harsa meski kini kedua netranya berkaca-kaca, "Kenapa?"
Harsa terdiam. Hatinya turut sendu melihat mata gadis itu.
"Karena cuma lo yang mau deket sama gue. Orang pertama yang mau bertahan sama gue. Seharusnya sih bukan 'cuma lo'. Gue salah milih katanya, haha. Karena kalaupun ada yang lainnya setelah lo, tetep aja. Tetep Putriana pemenangnya."
Pemuda itu menatap langit senja hari itu, "Gue juga ngelihat diri gue yang lain di lo, Na. Kita punya banyak kesamaan. Tapi gak sedikit juga perbedaannya. Jadi, gue gak mau lo ngerasain hal jelek yang gue rasain. Lagian, lo baik. Lo nerima segala cerita gue, mau itu cerita gak jelas sampai ke cerita terberat pun. Lo selalu ada buat gue. Jadi, ya gue bakal bales lebih baik. Karena sejauh ini, cuma lo yang bikin hari gue makin baik. Atau bukan cuma ya? Mungkin lo kedua setelah Bunda, hahahaha..."
Angin sore itu berhembus dengan tenangnya.
"Kalian berdua sama-sama perempuan yang perlu gue sayangi dan lindungi. Walaupun kita gak terlalu lama kenal. Tapi sejauh ini, gue juga nyaman sama lo." sambung Harsa yang kali ini menatap netra cantik milik Ana.
"Makasih. Makasih banyak, Harsa."
Pemuda itu memeluk Ana ketika gadis itu mulai menurunkan air matanya.
—31 Desember 2022
Pukul sebelas lebih sepuluh menit malam. Harsa menyodorkan sebuah jagung bakar pada Ana yang sibuk menggambar di MacBook-nya. Harsa mendudukkan dirinya di samping Ana dan menyimak bagaimana jemari Ana melukiskan sesuatu.
"Makasih, Harsa." Ana tersenyum meraih jagung bakar yang Harsa berikan. Lantas meletakkan MacBook ke meja kecil di sampingnya. Ya, mereka tengah menunggu pergantian tahun di taman tempat favorit keduanya.
"Ternyata lumayan ramai, ya? Untung kamu ajak ke sini, sore tadi. Aku juga kaget liat kamu yang tumben bawa mobil. Ternyata bawa peralatan tahun baru, hahaha..."
Harsa terkekeh di sela aktivitas mengunyah jagung bakar di tangannya, "Keren, kan? Sengaja gak bilang ke lo buat surprise."
"Aku pikir kamu beneran gak bisa tahun baruan sama aku. Ternyata prank aja. Dasar. Makin kesini makin jahil, ya kamu. Huuuuu..." Ana mencubit lengan Harsa pelan. Yang dicubit hanya tertawa hingga butiran jagung keluar dari mulutnya, "Hih, jorok! Makan tuh jangan sambil ketawa, ish..."
Harsa tetap terkekeh, hingga tersedak. Kini Ana yang tertawa. Meskipun begitu, Ana tetep memberikan minuman pada Harsa, "Kasian. Dibilang diem juga, hahaha..."
Harsa tersenyum lebar setelah meminum minuman di tangannya, "Thanks."
Beberapa menit berlalu. Keduanya sama-sama sibuk menghabiskan jagung yang Harsa bakar tadi. Hingga akhirnya keduanya benar-benar menghabiskan jagung itu.
"Yey, gue duluan yang habis."
"Gak nanya."
Tertawa lagi.
"Harsa?"
"Apa, Ana? Kenapa?"
"Aku punya lagu bagus. Sebenernya lagu udah dari bulan lalu, sih. Nih, dengerin deh!" Ana menyerahkan salah satu earphone-nya pada Harsa. Tetapi, pemuda itu justru menggeleng, "Kenapa?"
"Pasangin, dong..."
Ana mendecih bergurau, "Idih... Nih nih..." Ana memasangkan earphone pada telinga kiri Harsa dan memasangkan satunya pada telinga kanannya. Lantas mengutak-atik ponsel hingga akhirnya alunan musik mulai terdengar.
"Judulnya Kau Rumahku. Lagunya Rai."
Musik itu terus terputar. Sementara Harsa dan Ana saling berdiam diri. Mendengarkan.
Sesekali Ana menggumamkan beberapa lirik dan Harsa yang tersenyum melihatnya.
'Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati, yang hampir mati.'
'Kan kuletakkan hangat di tengah dekap kita.'
'Kan aku persilakan kau menetap di sini.'
Lagu itu berakhir. Namun sang pendengar, tak saling melepas pandang.
"Harsa. Seluruh isi liriknya, aku tujukan buat kamu."
"Ada rumah yang bukan berbentuk bangunan, Harsa. Dan bagiku, itu kamu. Kamu rumahku. Aku bersyukur ditakdirkan buat bertemu kamu di kehidupan aku. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Selama ini aku sendirian. Seperti yang pernah aku ceritain dulu. Dari kecil aku sering ditinggal orang tua karena sibuk. Sering di-bully. Sampai akhirnya aku putuskan buat pindah ke rumah nenek. Dan ternyata pilihan aku gak salah sama sekali, karena nyatanya aku ketemu kamu sekarang. Makasih, ya Harsa. So lucky to have you."
Lagi, Harsa memberikan dekapan hangat ketika air mata gadis itu turun. Usapan hangat pada punggung ia berikan sebagai penenang.
"Dari dulu aku selalu butuh pelukan kayak sekarang, Harsa. Dan kamu yang selalu kasih itu di setiap aku butuh." isak Ana yang teredam di dalam pelukan Harsa.
"Gue bakal selalu di sini buat lo. Makasih juga, Ana. Gue bersyukur lo hadir di sini sekarang, sama gue. Makasih." netra pemuda itu terpejam. Hatinya berdenyut ngilu.
Sepasang anak manusia itu tak terusik dengan kebisingan yang tercipta karena kerumunan orang yang asyik merayakan pergantian tahun melalui pesta kembang api. Keduanya saling mendekap erat. Berharap akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
—20 Januari 2023
Sudah dua Minggu ini, Harsa tak melihat Ana. Dengan tiba-tiba, gadis itu menghilang seakan ditelan bumi. Tak ada kabar. Harsa sudah bertanya pada pihak sekolah, namun tak ada jawaban. Ia juga telah menghubungi Ana dan tak kunjung ada jawaban. Ia bahkan telah datang ke rumah Ana. Yang ia dapatkan di sana hanya usiran halus oleh salah satu pembantu rumah itu. Tanpa penjelasan sedikitpun.
Ia merindukannya.
Harsa merindukan Ana.
Ia berharap gadis itu baik-baik saja.
—1 Februari 2023
Rintik hujan mulai berjatuhan. Membasahi tubuh Harsa yang kini berlari di sepanjang jalan menuju kediaman Ana dan neneknya.
Setelah mendapatkan kabar tak menggembirakan dari salah satu tetangganya mengenai Ana, Harsa langsung beranjak dari tempatnya tanpa melepas seragamnya.
Hujan semakin deras dan menyamarkan buliran air dari mata Harsa.
Tidak.
Ana tidak mungkin pergi. Pasti berita itu salah.
Langkahnya berhenti tepat di depan pagar rumah dengan beberapa orang yang berkumpul di seberang. Matanya melihat bendera dengan warna kuning terpasang di salah satu tiang teras rumah. Hatinya berdenyut ngilu. Jantungnya berdetak dengan cepat. Rasanya sesak. Kepalanya menggeleng kuat. Langkahnya mulai mendekati bangunan itu.
"Ana?"
Didapatinya sesosok tubuh yang tertutup kain di seberang sana. Ada kedua orang yang pernah Ana kenalkan melalui foto sebagai orang tuanya, yang kini menangis di samping sosok tak bergerak itu.
"Harsa? Ana... Udah gak ada."
Tangis Harsa memecah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wanita tua yang dikenalnya sebagai nenek dari sahabat sekaligus kekasih hatinya, Ana.
"Ana kenapa, Nek? Itu bukan Ana, kan? Ana sehat waktu itu."
Sang nenek dengan perlahan memeluk Harsa yang menangis tanpa suara itu.
"Dia Ana, Harsa. Putriana Cantika. Cucu nenek. Sekaligus sahabat kamu, kan?"
Harsa meneguk ludahnya dengan susah payah, "Bahkan waktu gak ngasih kesempatan buat gue bilang kalau gue cinta sama lo." batinnya yang kini tengah kesakitan.
—6 Februari 2023
Senja kala itu terasa cukup dingin bagi Harsa yang telah menggunakan jaketnya. Ia mengusap air matanya yang ia biarkan turun sejak 10 menit lalu. Tangannya gemetar mengusap nisan bertuliskan nama PUTRIANA CANTIKA itu.
"Ana, gue kangen. Makasih juga buat suratnya. Maaf karena baru berani baca hari ini, Ana. Gue terlalu takut waktu itu."
Tangannya meremat kertas yang baru saja ia baca, "Harsa juga bakal selalu sayang Ana. Terimakasih, banyak."
Pemuda itu mengecup nisan di depannya. Lantas merasakan angin yang berhembus dengan lembut.
__________
Halo, Harsaaaaa
Aku Putriana. Ana.
Aku cuma mau ngasih ini sebagai penjelasan karena kupikir ini perlu.
Harsa, hari ini hari keempat aku gak ketemu kamu dan aku nulis ini walaupun sebenernya tenaga aku rasanya mau habis. Tapi gak apa.
Harsa, makasih banyak, ya? Makasih udah mau jadi rumahku. Makasih atas semua effort yang udah kamu kasih buat aku. Makasih banyak buat segalanya, Harsa. Aku bener-bener bersyukur bisa kenal kamu.
Sejujurnya, aku belum sepenuhnya cerita tentang aku ke kamu. Ada satu hal yang belum aku sampaikan ke kamu. Atau mungkin dua?
Yang pertama, aku sakit, Harsa. Dari kecil aku selalu sakit-sakitan. Ternyata emang yang bermasalah itu ginjal aku. Dan semakin kesini, ternyata ada komplikasi jantung, Harsa. Setiap kambuh rasanya sakit bukan main. Tapi, aku selalu punya pikiran kalau aku bisa sembuh sejak aku kenal kamu. Bahkan setelah kamu dateng di hidup aku, aku jarang kambuh lagi. Kalaupun iya, aku pastiin buat gak liatin sakit aku ke kamu karena aku gak mau bikin kamu khawatir dan semakin repot.
5 hari lalu aku drop lagi. Itu alasan kenapa sejak awal masuk sekolah Januari, aku keliatan pucat dan lemes. Karena aku sakit. Akhirnya aku dirawat di rumah sakit dan gak mau ngabarin kamu. Aku takut.
Aku gak tau ini bakal sampai ke kamu atau enggak, tapi aku harap iya. Karena kupikir waktu kamu baca ini, aku udah pergi. Entahlah, itu firasatku aja sih.
Maaf karena gak bisa cerita soal ini. Aku cuma takut kamu jadi terbebani. Maaf, Harsa.
Hal keduanya? Kamu mau tau?
Harsa, aku suka kamu. I'm in love with you, Harsa. Gak tau sejak kapan. Tapi aku sadar aku suka kamu lebih dari teman, sahabat, ataupun keluarga. I love you. Dan kupikir, kamu yang terakhir, hahaha...
Maaf dan terimakasih banyak, ya Harsa Abraham?
Sekali lagi aku bersyukur bisa ketemu kamu bahkan sedekat ini.
Kalau memang ada, ayo bertemu lagi di kehidupan selanjutnya! Dengan kisah yang berakhir bahagia nantinya daripada kisah kita yang sekarang.
Ana bakal selalu sayang Harsa.
Jaga diri dan kesehatan, ya?
Ilysm, Harsa♡
Salam hangat serta cinta
-Putriana Cantika
__________