Sinar matahari hampir menghilang dan meninggalkan langit yang kemerahan. Udara dingin mulai menelusup. Seseorang dengan jubah dokternya tengah sibuk menemani pasien istimewanya. Tangan dokter berusia 23 tahun itu dengan lembut mengusap pipi gadis yang telah terpejam beberapa menit lalu.
"Saya harap kamu lekas membaik."
Lelaki yang sering dipanggil Dokter Sanjunata itu hendak pergi. Hingga sebuah genggaman di tangannya serta suara serak itu menyapanya lagi. Ia kembali duduk di samping brankar, "Hei? Kenapa? Gak jadi tidur?"
"Kak, sakit." rintihnya. Buliran kecil mengalir melewati sudut matanya.
"Loh? Mana yang sakit? Yang mana? Lukanya sakit?" tanyanya sedikit panik sembari meraih pergelangan tangan kiri dengan luka sayat yang telah terbalut perban yang cukup tebal milik gadis itu. Namun, hanya gelengan kepala yang didapat, "Terus mana yang sakit?"
Gadis itu kembali menggeleng lemah. Ia terisak kecil. Dokter muda itu mengusap dahinya lembut, mencoba menenangkan, "Shhht... Kenapa? Sesek?"
"Sakit..."
"Iya, iya sakit, cup cup cuuuup..."
Kedua netra pasiennya kembali terpejam. Usapan kecil di dahi serta telapak tangan yang dilakukannya turut berhenti. Sanjunata menghela.
Sudah hampir 3 bulan ini ia merawat Aira, gadis 20 tahun yang memiliki gangguan kondisi mental. Beberapa kali gadis itu mencoba melukai diri dan mencoba mengakhiri hidupnya. Beruntung dirinya selalu tepat waktu untuk menghentikan perbuatan itu. Menjadi dokter pribadi bagi Aira, ternyata tidak semudah pikirannya dulu. Ia harus membuat Aira tenang di kala perasaan buruknya muncul, ia harus meyakinkan bahwa dunia masih memiliki celah kebaikan untuk Aira, ia harus selalu ada kapanpun Aira butuhkan. Karena jika tidak, gadis itu bisa berbuat nekat seperti beberapa hari lalu.
Sanjunata melihat ke arah pergelangan tangan kiri milik Aira yang telah diperban. Ia ingat betul bagaimana dirinya ketakutan melihat Aira sudah lemas dengan darah di tangannya. Percobaan bunuh diri. Beruntung ia berhasil melakukan pertolongan sehingga Aira masih bertahan hingga sekarang. Ia berharap agar gadis itu dapat sembuh dan dapat melanjutkan kehidupan normalnya.
***
"Kenapa mereka gampang ngomong hal yang nyakitin hati orang lain, ya? Mereka gak tau rasanya, kah? Padahal hidup mati seseorang bisa aja ada di tangannya karena kata-kata buruk itu."
Sanjunata tersenyum menanggapi setiap kalimat yang Aira keluarkan. Tangannya menyuapi makanan pada Aira, "Mereka benci kehidupannya, makanya mereka harus berbagi kebencian itu ke orang lain yang di mata mereka masih hidup enak. Padahal setiap manusia kan punya masalah masing-masing. Dan udah sesuai dengan takaran masing-masing."
Aira mengunyah nasi di mulutnya. Tatapannya selalu redup.
"Saya dulu juga gampang tumbang kalau denger ocehan jelek orang. Tapi pelan-pelan, saya belajar buat jadi masa bodoh. Saya jadiin aja kata-kata itu sebagai penguat dan motivasi. Saya bakal tunjukkan ke mereka kalau saya gak lemah dan gak seburuk kata-kata rendah mereka."
Aira menelan makanannya, "Tapi sakit."
Dokter dengan senyuman lembut itu menyerahkan segelas air putih kepada Aira dan mengembalikannya lagi pada nakas di sana setelah gadis itu telah selesai minum, "Ya, sakit. Tapi bakal lebih sakit lagi kalau terus berhenti di tempat dengan pendirian yang sama. Kamu perlu bergerak pelan buat ngebangun pendirian yang kokoh nantinya."
"Hm," Aira menyandarkan kepalanya pada kepala brankar, "Kak?"
"Ya?"
"Kenapa aku lemah, ya?"
"Karena kamu orang yang baik dan lembut hatinya, Aira. Orang-orang seperti kamu biasanya bakal lebih banyak tersakiti. Tapi bukan berarti kamu lemah selamanya. Ada waktu dimana kamu harus jatuh sedalam-dalamnya. Ada waktunya pula buat kamu terbang setinggi-tingginya dan bersinar."
"Kapan? Aku selalu jatuh."
Tangan besar dokter itu merapikan rambut Aira yang sedikit berantakan, "Suatu saat. Di masa depan."
"Setelah aku mati?"
"Bukan. Kamu cukup bertahan dengan baik sampai waktu itu datang."
"Capek."
"Capek itu wajar. Kamu gak perlu maksa terus berjalan waktu capek. Berhenti dulu. Habis itu, kamu bisa melangkah lebih kuat lagi."
Malam itu, perasaan Aira berhasil membaik.
***
"Kak?"
"Ya?"
"Capek ngurusin aku, gak?"
Sanjunata menggeleng pelan. Tak lupa dengan senyuman yang selalu diperlihatkannya, "Enggak."
"Kenapa?"
"Gak ada alasan buat capek ngurusin kamu atau pasien lain. Bukan karena itu kewajiban saya sebagai psikiater. Tapi murni karena saya gak mau orang-orang semakin jatuh dan berakhir memilih untuk menyerah sama dunia. Saya tau rasanya, makanya saya gak mau orang lain ngerasain hal yang sama. Selama saya bisa, saya bakal selalu berusaha semaksimal mungkin untuk kamu dan orang lain yang membutuhkan saya."
"Masih ada malaikat berwujud manusia, ya ternyata?"
"Hahaha, kamu itu yang malaikat tak bersayap."
Aira tersenyum, "Malaikat gak punya sayap kayak aku ini makanya selalu sakit, ya?"
"Kalau begitu, saya mau berbagi sayapnya ke kamu."
"Gak. Aku takut sayap kakak rapuh karena ikutan nahan bebanku." senyumnya perlahan menyendu. Sanjunata menggeleng lagi.
"Sayap saya selebar bumi."
"Iyakah? Astaga ngerinya." keduanya tertawa kecil.
***
Lain hari, lain cerita. Dan selalu seperti itu.
"Kak?"
"Ya?"
"Sama aku terus, ya? Kalau kak Jun pergi, aku jadi jatuh lagi gimana? Selama ini kakak yang selalu ada buat aku. Perasaan aku rasanya bisa membaik setiap kak Jun ada. Dan bakal memburuk lagi kalau sadar kak Jun harus pergi walaupun sebentar."
Sanjunata meneguk ludahnya, "Aira, saya gak bisa janji buat terus di samping kamu. Tapi saya akan berusaha, waktu kamu butuh, saya bakal ada di samping kamu."
***
Aira menyandarkan kepalanya di bahu kiri Sanjunata. Menatap rerumputan di sekitar dirinya yang terduduk.
"Capek, kak."
Lelaki di sampingnya memberi usapan kecil pada lengan kirinya. Aira menangis lagi untuk yang kesekian kalinya. Sementara Sanjunata mendiamkan. Ia membiarkan perasaan Aira tersampaikan melalui tangisnya yang sudah sering ia dengar.
"Kapan ya aku bisa dipeluk Mama? Kapan ya aku bisa dikasih pujian sama Ayah? Kapan ya aku bisa liat senyuman bangga mereka atas aku? Aku juga mau kayak yang lain. Yang orang tuanya pengertian.
"Aku bahkan lupa gimana rasanya dipeluk Mama atau Ayah. Kapan juga mereka nanyain kondisi aku? Nanya gimana harinya setiap aku pulang kuliah. Nanya gimana ceritanya aku waktu lagi kerja paruh waktu. Kapan bisa begitu, ya?
"Aku juga mau digituin, kak. Aku juga mau dipeluk waktu lagi down. Tapi kenapa susah buat aku rasain barang sekali aja, ya?
"Yang aku dapetin cuma kata-kata jelek dan kasar. Aku masih ngerti bahasa manusia kok. Aku masih bisa dengerin tanpa harus teriak-teriak, tanpa pake nada tinggi.
"Aku bakal seneng dan makasih kalau dikasih pujian barang sekecil apapun itu.
"Aku benci ribut. Aku benci berisik. Aku benci marah. Aku benci kata-kata kasar. Tapi kenapa malah sering aku dapetin? Di rumah begitu. Di luar rumah juga begitu. Rasanya semua jahat. Rasanya dunia jahat. Rasanya sakit. Rasanya sesek.
"Aku pikir cuma kak Jun yang baik sejauh ini."
Isakannya semakin menjadi-jadi. Sanjunata mendekapnya, berusaha agar dapat meredam rasa sakit itu.
"Aku capek, kak. Aku harus gimana?"
"Gak ada. Gak perlu ngapa-ngapain. Cukup istirahat dulu sebentar. Begini dulu, ya?"
***
"Di jalan, saya beli ini. Bunga favorit kamu, Daisy. Ini buat kamu." Sanjunata menyerahkan sebuah buket bunga daisy pada Aira yang berhasil tersenyum.
"Wah, makasih banyak, kak. Cantik..." ucapnya seraya melihat sekumpulan bunga putih di tangan. Kali ini ia tersenyum hingga matanya terpejam ketika mendapat usapan hangat pada puncak kepalanya. Siapa lagi jika bukan Sanjunata pelakunya?
Lelaki itu selalu memperlakukannya bak seorang ratu.
"Cantik seperti kamu. Senyumnya dijaga, ya? Saya suka liatnya." jelasnya singkat yang diangguki oleh Aira.
***
"Aira?" Sanjunata menggenggam tangan gadis yang kini melemah di kasurnya. Tangisan Aira belum berhenti sejak beberapa menit lalu. Tubuhnya gemetar dan dingin. Obat yang Sanjunata berikan beberapa menit lalu belum memberikan efek yang maksimal.
"Kak Jun... Capek, kak. Jahat. Dunia jahat." rintihnya di sela isakan.
"Aira? Saya mohon. Sembuh, ya?" genggaman itu semakin erat. Netranya berkaca-kaca.
"Sakit... Capek... Orang-orang jahat... Aku benci..."
"Iya, iya. Saya mengerti."
"Kak? Sakit. Semuanya sakit."
Dokter itu memejam, menggenggam erat, "Maaf atas apa yang telah terjadi ke kamu. Ayo, tidur. Semuanya bakal baik-baik aja besok. Ya?"
Aira masih dengan isakannya, "Enggak. Gak perlu minta maaf. Kak Jun gak salah."
Sanjunata menatap Aira dengan penuh harap, "Kalau gitu, saya minta sesuatu, Aira."
"Apa?"
"Boleh saya minta kamu bertahan sebentar lagi? Saya janji kamu bakal sembuh. Kita sembuhin sama-sama, ya?"
Aira mengangguk samar. Lantas Sanjunata merengkuh tubuh lemah itu, "Ayo, bertahan sama-sama. Pelan-pelan kita maju sama-sama. Tolong tetap di sini, ya?"
Untuk yang kesekian kalinya lagi, Sanjunata memohon. Dan untuk yang kesekian kalinya lagi, hanya Aira angguki. Meskipun keduanya sama-sama tidak tahu sampai kapan ini akan berlanjut. Sanjunata tak tahu sampai kapan Aira akan bertahan. Begitupun Aira, yang tidak tahu seberapa lama ia bertahan jika Dokter pribadi kesayangannya akan pergi.