Sang Dewi malam nampak bersinar di persinggahan. Mengawasi makhluk hidup di tanah bumi.
Dua insan telah larut dalam obrolan panjang yang kini menyisakan keheningan sejenak.
"Dingin. Tapi kenapa kamu suka di sini?"
"Iya, emang dingin. Tapi justru lebih baik di sini. Tempat terbaik daripada tempat lain."
Meski tak seterang siang, gelombang ombak pada malam hari masih sedikit menampakkan diri samar.
"Rumah?"
"Rumah saya baik-baik aja, bangunannya masih kokoh." pemuda itu terpejam, "Tapi aneh, hawa di sana gak sebaik itu."
"Eh?"
"Kadang saya merindukan masa kecil yang kalau dipikir-pikir, ternyata gak seburuk itu." ucapnya yang kemudian menghela, "Dulu saya ingin waktu cepat berlalu dan berharap masa remaja cepat menghampiri. Saya pikir masa-masa itu indah. Tapi..." pemuda itu menunduk. Matanya berkaca-kaca, "Gak begitu, ya? Justru masa-masa itu... Menyakiti saya. Sampai sejatuh ini. Tau begini, saya ingin menjadi anak-anak selamanya."
Gadis di sampingnya tersenyum sendu, "Masalah cinta?"
"Bukan. Saya udah tau kalau masalah cinta, saya bakal gak seberuntung orang-orang. Tapi itu gak terlalu menyakitkan,"
Hening untuk sesaat.
"Sakit terbesar saya itu rumah, Aya. Dan yang terakhir, saya sendiri. Saya yang menyakiti diri saya sendiri."
Aya, gadis itu tertegun. Ia mengerti bahwa Ajiesaka kini menangis, meski tak bersuara. Ia duduk mendekat, "Ji? Sakit, ya? Gapapa. Aku tau, aku juga ngerasain." tanyanya seraya mengusap punggung pemuda itu, "Kamu gak perlu pura-pura kuat terus. Kamu sendiri yang dulu pernah bilang ke aku, kalau gapapa nangis. Kamu bilang, nangis biar lega. Sekarang gapapa kamu nangis, Ji. Nangis gak bakal buat kamu jadi keliatan lemah. Cowok gak boleh nangis? Gak ada istilah begitu seharusnya. Siapapun boleh nangis. Termasuk kamu. Selama kamu sama aku, kamu boleh jadi diri kamu sendiri."
"Tapi, Aya... Kalau saya nangis terus, siapa yang jadi benteng mereka?"
"Mereka?"
"Iya, mereka. Orang-orang yang saya sayangi. Orang-orang yang percaya sama saya. Orang-orang yang bersandar ke saya."
"Ji, hidup kamu gak sepenuhnya buat mereka. Kamu bilang, kamu mau belajar masa bodoh. Kamu bilang, semuanya diawali dari diri sendiri. Kamu perlu mengutamakan diri sendiri dulu baru mereka. Kalau kamu begini terus, kamu yang makin jatuh."
Pemuda yang dipanggil Ji itu menyandarkan kepalanya pada bahu sang gadis, "Kamu gak salah."
"Maaf, ya kalau aku juga jadi membebani kamu dengan segala ocehanku."
Ajiesaka menggeleng pelan, "Kamu bagian dari diri saya. Jadi gak masalah."
Ucapan itu membuat Aya terkekeh, "Gak masalah? Kamu bahkan bilang 'gak masalah' gak cuma ke aku aja. Kamu selalu bilang, kalau gak apa-apa dan gak masalah waktu orang lain butuh kamu. Padahal pada dasarnya kamu lagi butuh obat juga." Aya mengusap surai kelam yang menempel pada pipinya, "Kamu jadi orang terlalu gini, sih."
Pemuda itu tersenyum meski wajahnya sembab, "Makasih. Cukup tau, hahaha..." keduanya tertawa kecil.
"Ay? Aya?"
"Ya?"
"Kadang saya punya pikiran, apa perlu saya menghilang dulu baru mereka sadar kalau saya pernah ada?" Aya mengernyit, namun ia masih terdiam. Menunggu kalimat yang hendak pemuda itu katakan, "Kenapa harus saya, ya? Saya tau saya yang salah, tapi kenapa harus saya?" tanyanya dengan suara yang gemetar, "Kan saya juga mau dipeluk."
Gadis itu bergerak, ia mendekap erat tubuh Ajiesaka yang lebih besar darinya. Ajiesaka hanya menyandarkan dagunya pada bahu Aya, sementara lengannya membalas peluk hangat itu, "Makasih." ucapnya yang diangguki oleh Aya.
"Sakit? Tapi tolong jangan macem-macem, ya? Kan ada aku."
"Terus... Gak masalah buat istirahat sejenak. Pelan-pelan aja. Semuanya bakal jadi lebih baik." lanjut Aya.
Ajiesaka mengangguk samar, ia mempererat pelukannya. Air matanya masih mengalir meski mulutnya tertutup. Beberapa kali ia mengatur napasnya yang sesak, berusaha menghentikan tangis.
Beberapa menit hingga pemuda itu menjauh, melepas pelukan Aya. Ia mengusap air mata, lantas tersenyum, "Nangis capek juga, ya?"
"Menurut kamu?" keduanya tertawa kembali.
"Semuanya bakal baik-baik aja, kan?"
Gadis itu mengangguk mantap, "Iya, Ji. Gak apa-apa. Semuanya gak apa-apa. Semuanya baik."
"Gak apa-apa?"
"Gak apa-apa. Aku di sini. Waktu mungkin bakal berjalan, entah membaik atau gak, tapi aku di sini, Ji. Jadi..." Aya tersenyum hangat, "Gak apa-apa."
Ucapan sosok hangat di hadapannya berhasil membuat hatinya sedikit membaik, meski di sisi lain ia harus tersadar dan sakit lagi. Ia menatap rembulan dan kembali menarik napas dalam-dalam.
"Makasih buat waktunya hari ini. Tapi saya harus pulang. Kalau kelamaan, nanti orang-orang yang lewat nganggep saya gila, hahaha..."
"Gak gila." bantah Aya seraya mencebik.
"Aya, yang bisa liat kamu cuma saya. Yang bisa denger suara kamu cuma saya. Yang bisa ngerasain keberadaan kamu cuma saya. Saya gak bisa lama-lama sama kamu kalau di luar rumah."
Bahu gadis itu merosot, "Harusnya gak perlu kamu ingetin. Kamu mau pulang sekarang?"
Ajiesaka mengangguk, "Iya. Kita ketemu lagi nanti. Kalau saya butuh. Makasih banyak."
"Aku selalu ada kalau kamu perlu teman, Ji."
Keduanya bertatapan sebelum akhirnya sosok gadis yang sebelumnya tengah tersenyum lebar itu perlahan menghilang. Ajiesaka menghela untuk yang kesekian kalinya.
Sakit.
Ia bangkit dan berjalan. Jika dipikir-pikir, sakit juga hanya bisa mengobrol dengan teman khayalannya, ciptaannya sendiri, sosok yang memang adalah bagian dari dirinya sendiri. Tapi itu membuatnya sedikit membaik.
Setidaknya untuk beberapa saat.