Aku terkadang takut dengan tatapan orang. Bahkan aku sering bertanya-tanya, apakah kehadiran ku di terima.
Aku bingung dengan diriku sendiri. Aku menyukai tempat sunyi, sendirian tanpa ada orang menganggu, gelap hanya diriku dan handphone yang ku genggam, bersama pikiranku yang melayang memikirkan diriku, orang lain atau hal yang tak penting lainnya. Di satu sisi lain aku tidak menyukai kesunyian yang mendalam seakan aku tak memiliki siapapun didamping ku, meskipun itu benar. Tak seorangpun berdiri di dekatku, menyemangati ku.
Aku mengakui jikalau aku seorang introver parah yang hanya menyukai diriku dan dunia ku, bersama halusinasi.
Aku menangis ditengah malam bahkan larut malam hanya karena meratapi betapa menyedihkannya diriku.
Aku benci dengan aura negatif dalam diriku. Itu membuatku tak nyaman bahkan orang-orang pun tak menyukainya.
Aku malas, ya. Aku menyadarinya dan aku tahu betapa bencinya orang-orang dengan sifat ku yang satu ini. Tapi aku rajin bekerja jika itu emang kerjaan ku. Aku tidak akan bergerak jikalau tak disuruh. Aku trauma dengan rasa empati ku. Karena disaat aku mengeluarkan pendapat ku, orang-orang menyalahkan ku serta menertawakan ku.
Aku pernah menangis dalam ibadah. Aku menangis sejadi-jadinya, entah mengapa.
Aku takut menonton dan membaca kisah sedih.
Aku bosan dengan drama, apalagi genre romantis. Aku bosan dengan kata-kata manis, aku bosan dengan adegan yang mendebarkan, aku bosan dengan kebahagiaan berserta alur cerita yang itu-itu saja. Menyedihkan dengan akhir bahagia.
Aku bertanya-tanya, padahal pangeran itu sudah memiliki tunangan tapi ia malah mencintai protagonis wanita. Apakah ia tak mencintai tunangannya? Apakah ia pernah berpikir betapa sulitnya Lika liku sang tunangan yang berusaha sempurna demi dirinya? Kenapa dia tidak berusaha mencintai tunangannya? Seburuk itukah? Ya mungkin dulu ketika aku kecil, aku mendukung protagonis wanitanya namun semakin bertambah usiaku. Pikirku itu mengesalkan.
Aku membenci orang-orang yang selalu berbicara tentang orang lain.
Aku benci dengan orang-orang yang selalu membeda-bedakan orang lain. Katanya itu demi kebaikan dan motivasi. Batinku ketika mereka menasehati ku dengan cara begitu, aku tertawa dalam batin. Aku hanya tersenyum sebenarnya aku kesal.
Aku tak akan menjelaskan pajangan lebar hanya tentang diriku, itu alasannya aku lebih suka mencari topik tentang hal lain.
Aku menyukai sosok yang jelas mungkin tak bisa ku miliki. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur mencintainya.
Aku sadar bahwa memikirkan sesuatu yang melewati batas adalah dosa. Ya aku berpikir bagaimana rasanya mempunyai keluarga bersama dirinya bahkan hal yang tak bisa aku jelaskan disini. Red flag? Ya, aku sadar hahahaha...
Aku merasa mati rasa ketika seseorang pria berada di dekatku. Ya aku tak merasakan apapun, seperti aku melihat adikku atau teman. Jangan berpikir aku menyukai wanita, tentu saja tidak. Aku benar-benar merasakan obsesi meskipun tak sebesar orang-orang. Aku hanya menyukai dia sebatas suara dan wajah tampannya. Aku bahkan tak tahu dia lahir tahun berapa, tanggal bahkan bulan, makanan kesukaan, hobby atau semacamnya.