Tuhan itu tidak pernah tidur. Manusia terkadang gila meminta keadilan. Terkadang ketika mereka ditimpai lembaran masalah. Dunia seakan hancur untuk mereka.
Tapi, sekesal hati manusia. Mereka akan mencurahkan banyak emosi untuk dilampiaskan. Ada emosi yang membabi buta. Mengolok, mengumbar segala umpatan untuk dia sang sumber masalah.
Terkadang kehidupan terasa sangat jenaka. Ketika kita merasa kehidupan begitu berat. Lalu datang satu berita dari tempat lain. Ada kebahagian yang menimpa manusia lain.
Tiba-tiba dengki ada dalam hati. Dia hinggap di sana. Lalu mengatakan, cobalah lihat itu. Dia bisa sebahagia itu sedangkan kamu tidak. Apakah perkara ini tidak serius menurutmu?
Kata dengki, kamu hidup dalam satu altar sama. Nama altar yang kau pijaki adalah Bumi. Tempat ini adalah satu tempat di mana kalian sama-sama bernafas di sana.
Kata dengki, kenapa kamu tidak berprotes pada pencipta perihal perkara ini. Bukankah kehidupan adalah perjalanan? Lalu mengapa seiring bertambahnya usia. Dia lebih jaya, sedangkan kamu malah hancur.
Kata dengki, dia mulai mempertanyakan keadilan Tuhan.
Maka, kata hatiku yang masih waras separuh. Makhlukmu ini, hanya ciptaan. Aku ini milikmu. Aku manusia, dan aku akan selalu mengatupkan tangan meminta juga menceritakan apa yang ada dalam hatiku.
Apa yang terjadi padaku? Aku akan senantiasa menceritakan padamu pemilikku. Tuhan, kalau dengki sudah meracuni hatiku. Maka hanya kepadamu lah penawar itu kuminta.
Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Ketika gelap mulai datang memelukku.