Aku berjalan pelan. Menenteng tas belanjaan, melewati lorong gelap antara tembok tinggi dan bangunan apartemen usang yang dijual murah pada calon pembelinya. Samar terdengar penghuni apartemen yang sedang menyetel musik zaman 90-an sampai musik K-Pop gen-4. Ada juga penghuni apartemen yang sedang bertengkar entah apapun itu masalahnya. Di lorong ini, cahaya satelit bumi hanya sampai sebatas beberapa meter di atas kepala. Karena tak jarang melewati lorong ini di malam hari, membuatku cukup terbiasa dengan suasananya.
Namun sedetik kemudian, langkahku berubah menjadi waspada. Mataku menatap awas sekeliling. Pengalaman sebagai agen rahasia selama lebih dari sepuluh tahun membuat instingku tumbuh pesat. Beberapa orang sedang mengawasi. Mataku kembali menelisik dan menerawang. Di balik tembok, di sela-sela bangunan, di atap gedung, atau bahkan di bawah tanah di dalam saluran air. Jika benar, maka paling buruk aku akan menghadapi sepuluh orang sekaligus.
Aku meletakkan tas belanjaanku, kemudian menarik lengan hoodie-ku sampai atas siku dan mulai melakukan sedikit peregangan. Jika aku menang, maka ini akan menjadi pemanasan yang bagus setelah sekian lama tidak beraksi. Jika kalah, aku akan menyesali diri karena tidak pernah berlatih lagi. Ayolah, angka sepuluh bukanlah angka yang buruk jika itu aku, si agen tingkat S di perusahaan tiga tahun lalu. Aku mulai berlari, berbelok-belok ke dalam gang sempit untuk memancing mereka. Tak perlu waktu lama, dua dari mereka datang menghadang. Namun ini aneh, di bawah remangnya sinar bulan, dan mataku yang cukup terlatih dalam kondisi gelap, aku mengenali penutup mulut yang mereka gunakan.
Ponselku berdering sedetik kemudian. Itu Riki, teman akrabku yang masih beroperasi di perusahaan. Kusambungkan panggilan itu menggunakan earphone berteknologi tinggi yang tidak diperjualbelikan di luar perusahaan.
"Halo." Suara Riki terdengar terengah-engah di seberang sana.
"Kau baik-baik saja?" Aku bertanya dengan terus memperhatikan pergerakan lawan.
"Apa kau juga diserang?" Riki balik bertanya dengan suara yang mulai berangsur normal. Itu sudah menjawab pertanyaanku.
"Aku diserang. Mereka menggunakan penutup mulut khas milik perusahaan." Lawan tetap bergeming. Itu adalah prinsip dasar perusahaan. Jika kalian merasa akan memenangi pertarungan, maka biarkan target mulai menyerang.
"Mereka berniat membuang kita Jake." Riki sedikit berteriak.
"Astaga, demi apapun. Tapi bagaimana denganmu? Bukankah kau masih pekerja aktif di sana Rik?"
"Aku sudah berhenti menerima misi dua tahun yang lalu Jake. Dan sebalnya, aku sulit menghubungimu." Kali ini, Riki berseru ketus. Alasannya jelas, aku memang memutus segala koneksi dengan perusahaan sejak berhenti menjadi agen di sana.
Lucunya, aku tetap membawa earphone ini kemanapun dalam keadaan mati. Kupikir, itu bisa menambah kesan keren padaku, dan baru kunyalakan beberapa menit lalu setelah tiga tahun lamanya.
Aku menatap ke depan, menimbang. Ini memang melawan prinsip yang diajarkan kepadaku saat pertama kali datang ke perusahaan itu, di umur dua puluh tiga tahun. Aku melesat, memulai pergerakan.
Dengan mudah menumbangkan dua orang di depan.
Kemampuan mereka lumayan, mungkin berada di tingkat B.
Sedetik kemudian dua orang melesat dari belakang, membawa pisau di tangan. Aku sedikit bersusah payah menghindari tikaman yang mereka hunuskan. Sasaran mereka selalu tepat. Tapi bukan berarti mereka dapat menandingiku. Akhirnya mereka tumbang, jumlah korban menjadi empat. Selanjutnya, dua orang lagi, sampai tak terasa sepuluh orang sudah tergeletak tak berdaya.
Aku merasa bangga, tapi sedetik kemudian aku heran. Bukankah ini terlalu mudah. Untuk melawan mantan anggota tingkat S, alih-alih mengirimkan agen dengan tinggat lebih tinggi, perusahaan justru mengirim agen bau kencur seperti mereka.
Aku terbelalak, tubuhku lemas seketika. Bukan karena bius, bukan juga karena tidak menyadari serangan. Tapi karena telingaku menangkap melodi musik yang akrab. Melodi yang membangkitkan trauma masa lalu. Telingaku berdengung, dan jantungku berdebar. Saat itu juga, bayangan detik-detik kecelakaan mobil yang menewaskan istriku melintas. Melodi itu berefek lebih parah dari serangan apapun padaku.
"Sialan, RIKI!!" Aku menggeram, berteriak keras. Dialah satu-satunya orang yang mengetahui traumaku.
Di seberang sana, aku mendengar Riki tertawa kencang, "aku puas sekali. Maafkan aku Jake, kau tidak seharusnya pergi dengan membawa rahasia perusahaan begitu."
Setelah itu, sambungan diputus. Dalam kesadaran yang timbul-tenggelam, aku mendengar suara mobil berhenti. Keadaan kembali ramai. Entah, mungkin datang seseorang yang akan menyelamatkanku.
"Astaga, bagaimana bisa agen yang kuhormati berakhir dengan keadaan seperti ini." Seorang wanita menghampiriku. Berbicara sambil mengelus wajahku, di tengah kericuhan yang terjadi.
"Kita masih harus bekerjasama lagi Mr. Rudson." Sampai pada kalimat terakhir wanita itu, kesadaranku hilang sepenuhnya.