Semua yang aku miliki sekarang diperoleh melalui pria.
Beberapa orang mengatakan aku tidak tahu malu, tetapi mereka sebenarnya hanya iri dan cemburu.
Aku bisa melakukan hal yang ingin mereka lakukan, sementara mereka tidak punya keberanian.
Namun, mereka hanya bisa mengkritikku secara diam-diam di belakangku. Ketika mereka melihatku, bukankah mereka masih menyapaku sambil tersenyum dan dengan hormat memanggilku Bu Dinda?
1
Namaku Dinda Rahardian. Di usia dua puluhan, aku sudah menjadi Direktur Departemen Penjualan Grup Skyline.
Pada usia delapan belas tahun, setelah lulus SMK, aku datang ke perusahaan ini untuk melamar pekerjaan. Meskipun hanya sebagai sales biasa, aku didiskriminasi karena latar belakang pendidikanku yang rendah.
Demi mempertahankan posisiku, aku bekerja lembur hingga larut malam setiap hari. Aku mengumpulkan informasi klien, meneliti kebutuhan klien yang sebenarnya, dan mempelajari preferensi mereka.
Suatu ketika, aku bertemu dengan klien yang sangat sulit. Pesanan klien ini relatif besar dan menghasilkan komisi yang tinggi. Namun, tidak ada yang bersedia mengambilnya karena klien ini terkenal sangat menuntut.
Jadi, tentu saja ketua timku memilih menyerahkan tugas yang tidak menyenangkan ini kepadaku.
Untuk mendapatkan pesanan ini, aku minum alkohol selama seminggu penuh. Pada akhirnya, aku harus dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan lambung.
Berkat pesanan ini, aku menjadi juara penjualan di timku.
Pada makan malam perayaan, ketua tim mengumumkan bahwa Departemen Penjualan akan menugaskan seorang supervisor. Orang itu adalah Fiona, putri dari presiden direktur grup ini.
"Nona muda ini punya hobi balapan. Terutama setelah minum, dia akan mengendarai mobil sportnya seperti roket." Vera yang telah bekerja di perusahaan ini selama bertahun-tahun memberi tahu.
"Nona muda ini tidak hanya dikenal karena balapan. Tapi, karena dia juga menyebabkan kecelakaan fatal tiga tahun yang lalu. Saat itu, dia mengemudi dalam pengaruh alkohol. Korban adalah seorang gadis pekerja. Keluarga gadis itu tampaknya tinggal di sebuah desa di pinggiran kota. Pada awalnya, kesalahan ada pada Fiona. Tapi, dia berhasil memutarbalikkan keadaan dengan menuduh gadis itu sebagai penipu. Pada akhirnya, dia berhasil lolos tanpa membayar sepeser pun sebagai ganti rugi! Merasa sial, kemudian dia membeli mobil mewah yang lebih mahal lagi senilai lebih dari delapan belas miliar."
Ketika aku mendengarkan kata-kata Vera, hatiku berdesir.
Tiga tahun yang lalu, menyebabkan kematian seorang gadis, dan menuduhnya sebagai penipu.
Informasi-informasi ini langsung memenuhi pikiranku.
2
Tiga hari kemudian, pewaris legendaris dari grup perusahaan ini tiba sesuai jadwal.
Iblis yang sudah mengacaukan hidupku, aku akan mengenalinya sekalipun dia menjadi abu.
"Dinda, aku sedang bertanya kepadamu. Apakah kamu tuli atau bisu?" Bersamaan dengan teguran tajam, sebuah dokumen bersampul keras menghantam kepala dan wajahku.
"Klien ini sangat penting. Pokoknya hari ini kamu harus bisa mendapatkannya. Jika tidak, kemasi barang-barangmu dan pergi! Rapat selesai!"
Setelah rapat berakhir, rekan kerjaku menatapku dengan simpati.
"Bos baru sudah menjadi contoh bagimu. Kamu adalah juara penjualan, tetapi sekarang kamu menjadi sasaran si Nona kaya." Vera menepuk bahuku dengan penuh simpati.
Ternyata , aku rajin bekerja dan lembur siang malam hanya untuk menghasilkan uang bagi iblis ini. Bahkan, aku membantunya mengasah pisau untuk menyakiti diri sendiri.
Darah di hatiku bergejolak. Kebencian yang terpendam berubah menjadi belati tajam, lalu bergolak dalam organ-organ tubuhku.
Fiona, musuhku.
Aku bersumpah, aku akan membuatmu jatuh ke neraka dan membuatmu menderita!
3
Fiona terus mempersulitku di tempat kerja. Dia memberiku klien yang paling sulit dan menetapkan target penjualan yang tinggi padaku.
Semua ini, aku telan dalam hati.
Suatu hari, aku akan mengubah semua penghinaan menjadi senjata untuk membalas dendam pada si iblis Fiona.
Pertama, aku menjadi juara penjualan terbaik di timku, kemudian di departemen.
Akhirnya, aku menjadi yang terbaik di seluruh perusahaan karena pesanan besar dari Grup Stayvic.
Kinerja luar biasaku menarik perhatian semua orang, termasuk ayah Fiona sendiri. Namanya Surya Ardhani. Dia yang sudah memutarbalikkan fakta dan membebaskan Fiona dari semua tuduhan.
4
Pada acara tahunan perusahaan, sebagai juara penjualan tahunan, Surya secara pribadi memberikan Penghargaan Penjualan Terbaik tahun ini kepadaku.
Setelah menyelidiki Surya, aku mengetahui kalau mantan kekasihnya suka mengenakan berbagai model kebaya. Dia juga menyukai rambut panjang sebahu.
Karena berbagai alasan, mereka tidak berakhir bersama. Hal ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Surya.
Benar saja, setelah acara penyerahan penghargaan berakhir, Surya dengan semangat mendekatiku.
Aku sengaja meniru penampilan mantan kekasihnya. Bahkan, Surya sampai tidak curiga kalau aku adalah gadis kecil yang tidak mencolok dari masa lalu.
Aku menghampirinya, bermain-main seolah memperbaiki dasi di dadanya sambil bercanda.
"Dasi yang nakal! Kamu mungkin akan membuat pemilikmu yang menawan ini kesal."
Tanganku sengaja menyentuh dada Surya. Aku jelas merasakan gejolak dan hasrat di matanya.
"Dinda, kamu wanita penggoda! Beraninya terang-terangan merayu ayahku. Dasar tidak tahu malu!"
Fiona mengambil gelas anggur dan menyiramkannya ke wajahku.
Anggur merah tersebut mengalir ke pipiku, ke leher seputih salju, dan ke tulang selangkaku yang seksi. Pada saat itu, aku menyerupai bunga putih kecil yang tanpa cela dan lemah.
"Fiona, apa yang kamu lakukan!" Surya menarik Fiona menjauh.
Aku berjalan ke arah Surya dan berkata dengan tabah, "Pak Surya, aku minta maaf karena sudah membuat Nona Fiona salah paham. Aku akan segera pergi."
Setelah meninggalkan hotel, aku merasa segar dan bersemangat.
Karena melihat Fiona muncul di aula pesta, aku sengaja melakukan tindakan ambigu dengan Surya.
5
Aku memutuskan untuk mengubah kesulitan menjadi peluang dan menambah bahan bakar ke api.
Jadi, begitu tiba di tempat kerja keesokan harinya, aku mengetuk pintu kantor Surya dengan membawa surat pengunduran diri.
Tidak peduli seberapa tua seorang pria, dia menyukai gadis-gadis cantik. Terutama gadis cantik yang selalu bisa memberinya rasa kesegaran.
Aku berkata, "Pak Surya, ini surat pengunduran diriku. Kalau aku tetap tinggal, itu akan membuatmu dalam posisi sulit. Jadi, lebih baik aku mengundurkan diri."
Surya dengan santai meletakkan tangannya di pundakku. Dia lantas berkata, "Fiona terlalu dimanjakan olehku. Kemarin aku sudah menegurnya. Mengingat dia masih anak-anak, bisakah kamu memaafkannya?"
Alhasil, Surya tidak hanya tidak menyetujui surat pengunduran diriku. Namun, dia juga berjanji akan mempromosikan aku menjadi Direktur Departemen Penjualan.
Dengan kabar baik seperti itu, bagaimana mungkin aku tidak memberi tahu Fiona?
Sesuai harapan, tidak lama kemudian Fiona tiba. Dengan gaya yang mendominasi, dia langsung menduduki posisi Direktur Penjualan.
Belakangan ini aku juga tidak tinggal diam. Aku sengaja memberi tahu Surya bahwa perusahaan pencari bakat sedang mencoba merekrutku.
Pada hari Fiona menjabat, Surya kembali memanggilku ke kantornya.
Surya berkata, "Dinda, aku minta maaf karena mengingkari janjiku padamu. Seperti yang kamu tahu, ibu Fiona meninggal lebih awal, aku ...."
"Pak Surya, aku mengerti." Aku berkata dengan penuh pengertian. "Fiona hanya salah paham terhadapku. Aku percaya seiring berjalannya waktu dia pasti akan menerimaku."
"Aku lihat kamu sering mengonsumsi obat lambung. Obat itu hanya mengobati gejalanya, bukan akar penyebabnya. Jadi, aku secara khusus mendapatkan resep obat herbal untukmu. Aku yang menyeduhnya sendiri. Jadi, ingatlah untuk meminumnya."
Saat aku baru saja keluar, aku melihat Fiona menerobos masuk ke kantor Surya dengan agresif.
Dari kejauhan, aku bisa mendengar suara benda-benda yang dihancurkan di kantor Surya.
Suara itu, benar-benar enak didengar, ya? Hehe.
6
Fiona dengan bangga menegaskan dominasinya di perusahaan. Mungkin dia khawatir orang lain tidak tahu kalau dia adalah putri Surya.
Sementara itu, Surya mulai sering mengajakku menghadiri berbagai acara dalam kapasitas sebagai asisten.
Selain menyiapkan beberapa obat herbal untuknya setiap hari, aku tidak melakukan langkah lain. Alih-alih melekat padanya seperti wanita lainnya, aku dengan sengaja menjaga jarak tertentu darinya.
Selain untuk keperluan pekerjaan, aku tidak pernah bertemu dengannya sendirian.
Surya perlahan-lahan mengendurkan kewaspadaannya terhadapku. Namun, pada saat yang bersamaan, dia mengembangkan rasa ingin tahu yang kuat.
Pada hari itu, selama pertemuan jajaran pimpinan perusahaan, baik Surya maupun Fiona hadir.
Aku permisi pergi ke toilet, kemudian mengirim pesan kepada Surya. "Pak Surya, bisakah kamu keluar sebentar?"
Sesuai harapan, tak berselang lama, Surya keluar.
Aku tidak menyangka Surya akan menarikku masuk ke kamar pribadi di sebelahnya. Dia minum banyak alkohol di jamuan. Bau tak sedap dari mulut seorang pria tua yang bercampur dengan aroma alkohol hampir membuatku mual.
"Jangan berpura-pura lagi. Menyiapkan obat herbal untukku setiap hari, kamu pikir aku tidak tahu niatmu?" Surya berkata dengan sikap percaya diri.
Aku mendengar pintu di belakangku terbuka. Jadi, aku berpura-pura terpeleset dan jatuh ke dalam pelukan Surya.
"Dinda, Kamu masih tidak tahu malu, ya? Dasar jalang! Beraninya merayu ayahku secara terang-terangan!" Teriakan marah Fiona terdengar di belakangku.
7
"Ayah, apakah matamu buta? Dia seorang gadis miskin dari desa. Selain itu, dia hanya lulusan SMK yang menjual tubuhnya untuk menghasilkan uang! Jelas sekali dia hanya ingin mengincar uang keluarga kita!" Fiona mengeluarkan amarahnya. Dia hendak datang menghampiri dan menarikku.
Namun, Surya menghalangi Fiona dengan tangannya. "Fiona, berhenti menyebabkan masalah. Kalau ada yang perlu didiskusikan, kita akan bicarakan di rumah."
Fiona melanjutkan. "Pelet apa yang diberikan Dinda kepada Ayah sehingga Ayah melindunginya seperti ini? Saat Ibu meninggal, Ayah berjanji pada Ibu untuk tidak menemukan wanita lain! Kalau hari ini Ayah berani melindungi wanita jalang ini, aku tidak akan tinggal diam!"
Semua orang di perusahaan melihat kejadian ini. Akibatnya, Surya tidak punya tempat untuk menyembunyikan rasa malunya. Dia berkata dengan ekspresi serius, "Aku belum tua. Selain itu, ini bukan giliranmu untuk berbicara dalam keluarga ini! Aku bisa bersama siapa pun yang aku mau. Kamu tidak berhak berbicara! Kalian, keluarkan dia dari sini! Dia memalukan!" Surya yang marah memberi instruksi kepada dua asisten perempuan di sampingnya.
Mereka berdua buru-buru menarik Fiona. Sementara aku berpura-pura menjelaskan kepada Fiona dan buru-buru mengikutinya keluar.