Saat aku pindah ke sekolah ini, Edgar sudah berkencan dengan hampir semua gadis cantik di sekolah.
Dia bercanda dengan teman-temannya. "Sekalipun tidak ada wanita di dunia ini, aku tidak akan berkencan dengan Kalista."
Nah, aku adalah Kalista.
Namun, sebulan kemudian, sahabat karibnya menekanku di sudut dinding dan menyatakan perasaannya.
Kemudian, ketika melihat tanda merah di tubuhku, Edgar tiba-tiba menjadi gila.
"Siapa yang mengizinkan kamu menyentuhnya?"
1
"Mm, bisakah kamu membantuku memberikan surat ini kepada Edgar?"
Aku mengambil surat cinta berwarna merah muda tersebut.
Ini adalah surat cinta kesebelas dalam bulan ini.
Semua orang tahu bahwa aku adalah teman masa kecil Edgar. Mereka semua tahu dia tidak mungkin menyukai seseorang sepertiku.
Jadi, mereka dengan percaya diri meminta bantuanku untuk memberikan surat cinta.
Ketika Edgar menatapku, ada sedikit sindiran di matanya.
Kenapa?
Karena surat cinta pertama yang dia robek adalah milikku.
2
Edgar dan aku adalah kekasih masa kecil. Orang tua kami memiliki hubungan yang baik. Jadi, wajar bagi mereka untuk menganggap hubungan kami juga baik.
Pada awalnya, memang baik-baik saja.
Hingga pada saat bermain permainan Kebenaran atau Tantangan.
Edgar mendapat tantangan. Seseorang bertanya apakah dia berani menciumku.
Dia bertanya padaku, "Apakah kamu keberatan?"
Namun, sebelum aku sempat menjawab, dia menciumku.
"Hanya begitu saja."
Sejak saat itu, aku bukan lagi siswi terbaik dan gadis baik-baik di mata semua orang.
Sebaliknya, aku menjadi salah satu milik Edgar.
3
Prestasi akademik Edgar tidak bagus.
Karena itu, orang tuanya berharap aku bisa belajar bersama dengannya.
Namun, pada hari kami membuat janji untuk pergi ke perpustakaan bersama, aku berdiri sendirian di stasiun. Aku menunggunya hampir satu jam. Namun, aku hanya menerima pesan dari media sosial. Rupanya dia telah memenangkan sepuluh permainan berturut-turut saat bermain game di warnet.
Bahkan, ada seorang gadis yang duduk di pangkuannya.
"Kalista, apa kamu sudah gila!"
"Kamu seharusnya tidak pergi ke tempat seperti itu." Aku menekankan setiap kata.
Pada saat itu, aku menyembunyikan rasa sukaku kepadanya. Aku selalu berusaha bersikap baik padanya.
Edgar mencubit daguku dan berkata, "Siapa kamu berhak mengaturku?"
"Hanya karena kita berciuman, kamu pikir kamu adalah pacarku? Benar-benar konyol!"
4
Edgar bermain basket dengan santai. Namun, keahliannya yang luar biasa membuat penonton bersorak.
Edgar tanpa ragu melemparkan bola basket ke arahku.
"Maaf."
Ketika melihatku memegangi lenganku yang sakit, dia meminta maaf dengan santai.
"Kamu tidak akan memendam dendam padaku, 'kan? Teman masa kecilku."
Setelah itu, semua orang tahu bahwa dia membenciku.
Namun, di depan orang tua kami, kami masih harus berpura-pura memiliki hubungan yang harmonis.
"Belakangan ini nilai Edgar membaik. Ini pasti berkat bantuan Kalista. Aku sudah menyiapkan buah-buahan, kalian makanlah."
Nilainya membaik, tetapi itu tentu bukan karena aku.
Sebaliknya, itu karena belakangan ini dia berpacaran dengan siswi terbaik sekaligus gadis tercantik di sekolah.
Sepulang sekolah, mereka sering "belajar tambahan".
Andai saja hari itu aku tidak memergoki mereka berciuman di kelas kosong.
5
Pacar Edgar, sebagai primadona sekolah dulunya adalah siswi terbaik kedua di kelas kami. Dia juga teman sekelasku.
Namun, setelah dia mulai berpacaran dengan Edgar, nilainya mulai menurun.
Saat hubungan Edgar dan si primadona sekolah terbongkar, orang tua Edgar mengetahuinya. Ayahnya yang pemarah memukulinya di rumah.
Hari itu, tidak ada orang di rumahku.
Edgar menerobos masuk ke kamarku.
"Aku salah menilaimu."
Dia berkata sambil mendorongku. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan hingga akhirnya aku menabrak meja.
Laci beserta isinya pun terjatuh.
Isinya adalah surat-surat cinta.
Ada namaku dan nama Edgar di atasnya.
Dia terlalu mengenal tulisanku.
"Oh, jadi kamu cemburu?"
Aku berjuang sekuat tenaga. "Aku tidak mengadu."
Dia mengangkat alisnya. "Sekarang ada yang lebih penting dari masalah ini."
Edgar mengambil gunting dari atas meja dan memotong sehelai rambutku.
"Kalista, aku tidak akan berpacaran denganmu meski tidak ada wanita di dunia ini."
6
Edgar menggunakan sehelai rambutku untuk mendapatkan pujian dari si primadona sekolah.
Namun, itu tidak bisa mengubah nasibnya yang harus pindah sekolah karena dipaksa ayahnya. Pada hari Edgar pergi, si primadona sekolah menangis dalam waktu yang lama.
Namun, setelah beberapa hari, si primadona sekolah menerima foto-foto mesra Edgar dengan gadis-gadis lain.
Sementara itu, sehelai rambutku bersama dengan ujung rambut yang rusak terlupakan begitu saja.
Kemudian, nilai si primadona sekolah makin menurun.
Dia memohon padaku untuk membantunya mengatur pertemuan dengan Edgar. Katanya dia ingin bertemu dengannya sekali saja.
Namun, aku tidak menyangka bahwa pada hari aku pergi, Edgar mabuk di sebuah bar.
"Kalista, ini yang paling ingin kamu lihat, 'kan?"
Jadi, keesokan harinya, si primadona sekolah menerima foto Edgar yang menekanku di kamar pribadi dan menciumku dengan paksa.
Hubunganku dengan si primadona sekolah pun renggang.
Kejadian itu tersebar. Aku pun menjadi kambing hitam yang menjadi sasaran tuduhan semua orang.
Aku dikucilkan.
"Namun, lucunya mereka sepertinya lupa bahwa itu adalah ulah Edgar sendiri yang tidak setia dan berbohong.
"
7
Pada hari aku pindah ke sekolah ini, Edgar sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan. "Ada apa, kamu juga tidak bisa bertahan?"
Kata-katanya penuh dengan ejekan. "Kalista, kamu pantas mendapatkannya."
Dia berbisik di telingaku.
"Tapi, tidak apa-apa. Sekarang di mata mereka, kita adalah pasangan sempurna dengan hati yang penuh kebohongan?"
Apakah begitu?
Namun, tiba-tiba aku merasa mulai tidak menyukaimu.
Edgar populer di mana pun dia pergi.
Hanya dalam dua bulan setelah pindah, dia sudah berkencan dengan hampir semua gadis cantik di sekolah.
Seseorang bertanya kenapa Edgar tidak pacaran denganku.
"Aku lebih suka pacaran dengan anjing daripada dia."
"Lagi pula, dia sudah menjadi penjilatku."
Namun, pada saat itu, aku mendengar seseorang yang protes.
"Edgar, jangan berbicara seperti itu tentang seorang gadis."
Vano Anggara adalah teman sekamar Edgar dan juga sahabat terdekatnya.
8
Saat aku pindah ke sekolah ini, pacar Edgar saat ini adalah teman sebangkuku.
Untuk menghindari terulangnya kejadian di sekolah sebelumnya, aku pindah tempat duduk dan menjadi teman sebangku Vano.
Dia dengan tergesa-gesa merapikan bukunya dan secara sukarela memindahkan meja untukku. Aku pun tersenyum agak canggung.
"Aku belum pernah memiliki teman sebangku sebelumnya, kamu tidak keberatan, 'kan?"
Vano tersenyum. Sambil memperlihatkan gigi kelinci lucunya, dia mengangguk.
Fakta bahwa Edgar tidak menyukaiku tidak akan berubah hanya karena dia pindah sekolah.
Dia bahkan menjadi lebih agresif.
Namun, makin aku menghindarinya, dia malah makin menjadi-jadi.
Lapangan basket adalah jalan menuju kantin.
Aku mendengar suara bola basket yang menghantam tanah. Aku secara naluriah melindungi kepalaku dan mencoba menghindar.
Tiba-tiba, Vano berlari ke arahku dan melindungiku dengan tubuhnya. Alhasil, bola basket tersebut menghantam punggungnya.
Edgar berlari menghampiri dan berkata dengan suara dingin.
"Vano, apakah kamu gila?"
9
Saat kami hendak pergi, Edgar menghentikanku dan Vano.
Pada saat itu, aku sedang berpikir apakah sebaiknya aku menemaninya ke ruang kesehatan atau tidak.
Namun, Vano hanya tersenyum dengan santai. "Tidak apa-apa, aku kuat. Aku bisa menahannya."
Dia menarik senyumnya dan bertanya kepada Edgar, "Kenapa kamu melempar bola ke arahnya?"
Edgar bertanya dengan senyum sinis, "Ada apa, kamu tertarik padanya?"
Vano masih berdiri di depanku. "Lagi pula, keluarga kalian memiliki hubungan persahabatan selama bertahun-tahun. Kamu jangan ...."
"Hubungan kami lebih dari sakadar itu."
"Edgar mendorong bahu Vano dan berkata dengan tegas.
"
"Ciuman pertamanya diberikan kepadaku. Dia pindah sekolah demi aku. Bahkan, dia menulis surat cinta yang berisi ungkapan cintanya kepadaku. Siapa kamu?"
10
Aku menemani Vano ke ruang kesehatan.
Dia memiliki memar di bahunya. Aku jelas tahu bahwa Edgar tidak menunjukkan belas kasihan.
Kalau pukulan itu menghantamku, konsekuensinya tidak akan terbayangkan.
Luka di punggungnya sangat mengerikan untuk dilihat.
"Kenapa kamu menatapnya seperti itu? Apakah kamu takut?"
Vano tertawa cuek. "Beruntung lemparan itu mengenaiku. Kalau itu benar-benar mengenaimu, kamu akan menangis dan itu tidak akan kelihatan bagus."
Tanganku gemetar saat aku mengoleskan obat ke lukanya.
Dia menoleh ke samping. Matanya yang biasanya berbinar kini tampak tenang. "Apakah kamu tidak marah dia memperlakukanmu seperti ini?"
Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah terbiasa."
"Kenapa kamu tidak melawan?"
"Tidak ada gunanya." Aku menunduk dan mengoleskan obat dengan pelan. "Makin aku melawan, dia akan makin marah. Dia memiliki masalah. Pola asuh keluarganya bermasalah. Kalau aku melaporkannya, dia akan membalas dengan lebih kejam."
Dia dengan hati-hati membersihkan obat yang menempel di ujung jariku.
"Lalu, bagaimana menurutmu tentang aku?"
11
Vano menghentikanku dan merendahkan suaranya.
"Apakah karena aku teman dekat Edgar, aku tidak boleh tahu tentang urusanmu?"
"Kalau begitu kenapa kamu masih datang untuk memprovokasiku."
Vano tertegun sejenak dan tersenyum. "Apa maksudmu memprovokasi? Teman sebangku, apakah kamu tidak punya hati nurani? Aku benar-benar terkena pukulan karena dirimu. Apa kamu tidak mau memberikan imbalan kepadaku?"
"Benar, aku tidak punya hati nurani."