Setelah pacaran dengan siswa pembuat onar sekolah, mantan pacarnya kembali.
Di depan mata semua orang, gadis itu merobek rokku dengan kasar.
Bian langsung melepas jaketnya dan menggendongku. Dia berteriak dengan suara yang dingin dan lantang.
"Dia adalah pacarku. Kalau kamu berani menyentuhnya, kamu harus siap dengan konsekuensinya."
Namun, ketika sebuah mobil menabrak kami, dia lebih memilih menyelamatkan gadis lain.
Ketika aku membuka mataku lagi, aku kembali ke tahun ketika dia mengejarku dengan gigih.
1
Seluruh orang di SMA Satu Jasura tahu bahwa siswa nakal bernama Bian menyukai primadona sekolah Nadin.
Dia berhenti merokok dan minum demi diriku, berhenti berkelahi, dan bersedia memberikan segala hal yang dia anggap baik.
Meskipun nilai akademiknya buruk, dia berhasil masuk ke universitas peringkat kedua demi mengikutiku.
Namun, hanya setelah aku mati, aku baru mengetahui. Ternyata, semua kebaikannya terhadapku adalah karena orang lain.
Tepatnya orang yang wajahnya mirip denganku.
2
Pada saat ini, di lapangan basket, Bian baru saja mencetak tiga poin. Dia sontak mendapat tepuk tangan dari para penonton.
Semua orang berdiri sambil bersorak. Dia menolak handuk dari beberapa gadis dan melirik ke arah penonton sebelum berlari ke arahku. Tindakannya tersebut membuat sorakan dari penonton makin meledak keras.
Aku mendengar suara tawa pelan dari belakangku.
"Luna, teman masa kecilmu memang mengesankan. Tidak hanya tampan, perutnya juga pantas mendapatkan nilai sempurna."
Suara gadis lain terdengar penuh dengan kepercayaan diri dan kebanggaan.
"Tentu saja, dia adalah orang yang aku pilih sejak kecil."
Aku sangat akrab dengan suara ini. Dia adalah Luna, teman masa kecil Bian.
Di kehidupanku sebelumnya, aku tidak tahu siapa orang yang berbicara di belakangku. Akan tetapi, sekarang aku memiliki kesempatan memulai kembali. Jadi, aku benar-benar ingin bertanya kepada Bian.
Untuk siapa kamu berlari ke sini melawan ribuan mata?
3
"Apa yang sedang kamu pikirkan, gadis bodoh?"
Saat sedang melamun, seseorang muncul di depanku. Aku mendongak untuk melihat wajah Bian yang tersenyum.
Dia menyodorkan sebotol jus kepadaku sambil tersenyum cerah. "Ini dari tim bola basket. Aku secara khusus meminta mereka untuk membeli merek kesukaanmu."
Aku tidak bergerak, tetapi orang di sebelahku meledak kegirangan.
Namun, aku bahkan tidak bereaksi terhadap jus yang dia berikan kepadaku.
"Oh."
Aku menatapnya dengan cuek, kemudian melihat ke arah lain.
Suara-suara di sekitar perlahan mereda. Bian tertegun sejenak. Dia berkata dengan canggung, "Kalau aku memenangkan pertandingan ini, bisakah aku mentraktirmu makan siang untuk merayakannya?"
"Maaf, aku ada urusan lain. Aku akan pergi dulu."
Aku mengambil tasku dan hendak turun ke bawah. Bian berusaha mengejarku, tetapi kemudian Luna memanggilnya.
"Bian!"
"Ini aku. Aku sudah kembali ke negara ini, bagaimana kabarmu? Apa kamu terkejut?"
Bian tidak menanggapinya. Dia justru terus mengejarku ke bawah tribune.
Menarik, ya?
Aku tersenyum sinis.
Pemeran utama sudah kembali. Jadi, apa gunanya mencariku si pemeran pengganti?
Hal ini hanya membuatku kesal dan ingin membalas pengabaiannya saat itu.
4
"Nadin, apa aku melakukan kesalahan sehingga membuatmu marah? Kamu bisa memukulku, memakiku untuk melepaskan amarahmu kepadaku. Aku akan berdiri di sini dan membiarkan kamu memukulku."
"Pukul kamu sesukaku?"
"Ya, apa pun yang kamu mau."
Detik berikutnya, aku benar-benar menampar wajahnya dengan sekuat tenaga.
Wajah pemuda itu langsung menjadi merah dan bengkak.
Namun, ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan saat aku ditabrak mobil dan meninggal di tempat.
Jelas orang pertama yang mempermainkan aku adalah kamu. Mengapa semuanya berubah begitu saja?
Kamu bertindak seenaknya, membuatku makin terjebak hingga pada akhirnya nyawaku yang menjadi korban.
"Bian!"
Luna mengejar kami dan kebetulan menyaksikan adegan ini.
"Jalang! Siapa yang memberimu hak untuk memukulnya?" Dia bergegas dengan marah dan hendak menamparku.
Namun, saat tangannya hampir mendarat di wajahku, Bian menahan pergelangan tangannya.
"Tidak ada yang berhak melukainya."
Kekuatannya tidak kecil hingga membuat Luna hampir jatuh ke tanah.
"Nadin, aku benar-benar-"
Aku benar-benar tidak tertarik untuk melihatnya bertingkah seperti pahlawan. Jadi, aku berbalik dengan senyum dingin.
5
Setelah pulang hari ini, aku langsung memblokir semua informasi kontak Bian. Faktanya, ketika aku memikirkannya, semua yang ada di kehidupanku sebelumnya adalah petunjuk.
Sejak Luna kembali, Bian berhenti mengejarku dengan penuh semangat dan gigih seperti sebelumnya.
Awalnya, aku pikir ini adalah perubahan normal setelah menjadi pasangan. Akan tetapi, sekarang aku berpikir mungkin hal itu karena hatinya bias terhadap Luna.
Sejak kembali, Luna terus-menerus mengiriminya pesan dan mengganggunya. Bian juga bertingkah seolah-olah kesal.
Namun, jika dia benar-benar tidak menyukainya, kenapa dia tidak mau memblokirnya?
Jika dia benar-benar tidak menyukainya, mengapa dia bermain game hingga pukul dua belas malam pada hari ulang tahun Luna. Bahkan, dengan santai mengirimkan pesan "Selamat Ulang Tahun"?
Liburan pun berakhir. Aku pikir selama waktu ini dia dan Luna pasti sudah benar-benar berbaikan. Namun, aku agak terkejut.
Bian berjongkok di pinggir semak-semak. Selain itu, ada tumpukan puntung rokok di kakinya.
Dia menungguku di sini semalaman?
Kemudian, dia teringat kalau aku tidak menyukai bau asap rokok. Jadi, dia buru-buru menggunakan tangannya untuk mengambil puntung rokok dari tanah.
Aku mengabaikannya, kemudian menaiki tangga sambil menarik koperku.
Dia berkata dengan suara lirih, "Aku ingat kamu pernah mengincar sebuah gaun. Temanku memberi tahu aku kalau gaun itu masih tersedia. Jadi, aku membelikannya untukmu. Ada banyak model baru juga sehingga aku membeli semuanya."
"Bian, aku tidak ingin barang-barangmu."
Aku berkata dengan tenang, "Hari ini aku akan menjelaskannya kepadamu. Aku tidak menyukaimu. Selain itu, perasaanmu padaku hanyalah kegembiraan sesaat. Jangan lakukan hal semacam ini lagi di masa depan. Kalau tidak, orang yang melihat akan salah paham."
"Tidak benar. Nadin, aku sungguh menyukaimu, aku sungguh menyukaimu!"
Namun, tidak peduli apa yang dia katakan, aku tidak akan memercayainya lagi.
Apa yang lebih meyakinkan daripada reaksi bawah sadar dalam situasi hidup dan mati?
6
Teman sekamarku menghiburku ketika melihatku kembali.
Terlepas dari gosip di luar, mereka selalu mendukung dan percaya kepadaku.
Mereka tidak bertanya tentang apa yang terjadi dengan Bian. Sebaliknya, mereka menyiapkan camilan, buah-buahan, dan air hangat untukku. Kemudian, mereka duduk menemaniku.
"Kalau kamu butuh sesuatu, beri tahu kami. Kami selalu di sini sebagai saudara."
"Siapa pun yang berani menggertak Nadin kita, aku akan mmukulnya sampai mati. Teman sekamar kami yang berharga tidak boleh diganggu oleh orang luar!"
"Benar, kalau Nadin merasa sedih, panggil saja kami. Kapan pun kamu memerintahkan, kami akan ada di sana!"
Kata-kata ini hampir membuatmu menangis tak karuan.
Mereka selalu baik dan pengertian kepadaku.
Aku telah banyak menderita kesulitan di luar. Namun, begitu aku kembali ke sini, rasanya seperti pulang ke rumah yang hangat.
7
Kali ini, ada alasan lain mengapa aku kembali begitu cepat.
Besok adalah festival sekolah. Sebagai pembawa acara, aku telah melakukan beberapa kali latihan sebelum pertunjukan resmi besok, Jadi, hari ini tentu saja aku harus datang ke sekolah.
Di kehidupanku sebelumnya, ini adalah waktu di mana rok yang aku kenakan dirobek oleh Luna di depan umum.
Sekarang aku punya kesempatan untuk memulai dari awal. Aku tidak akan menunggu kepalsuan Bian untuk menyelamatkanku.
Bian, Luna, kalian semua yang pernah menggangguku, akan kubalas kalian.
Keesokan harinya, aku masih berada di belakang panggung untuk bersiap-siap. Tiba-tiba, aku mendengar teriakan dari tempat acara.
Mitra pembawa acara melirikku. Dengan wajah bersemangat, dia datang untuk memberi tahu bahwa Bian terlihar sangat tampan hari ini. Selain itu, dia bahkan membawa buket bunga yang sangat besar.
Aku tidak melirik Bian. Aku justru menatap pada Luna yang berjarak beberapa meter jauhnya dengan tatapan penuh kebencian. Aku tahu hari ini dia pasti akan mengulangi tindakan yang sama seperti di kehidupanku sebelumnya.
"Nadin, ada apa denganmu?"
Sebuah suara yang jernih dan cukup dingin terdengar di telingaku.
Aku kembali tersadar dan mendapati seorang pemuda yang sangat tampan di depanku.
Aku mengenalinya. Dia adalah Nathan Sanjaya, ketua OSIS sekaligus ketua panitia acara ulang tahun ini.
"Tidak apa-apa. Terima kasih atas perhatianmu, Kak."
8
Begitu dia pergi, seorang gadis dari kelas kami menghampiriku.
"Bukankah itu kakak kelas Nathan? Dia benar-benar menunjukkan perhatian yang tulus padamu tadi! Aku belum pernah melihat dia berbicara dengan siapa pun atas inisiatifnya sendiri! Biar kubantu kamu mencari tahu-"
Sebelum dia selesai berbicara, tiba-tiba dia berteriak dengan keras, "Apa? Nadin mau makan es krim?"
Nathan hanya menatapku sebentar.
"Tunggu dan lihat saja. Ketika seorang pria menyukaimu, dia akan memperhatikan setiap detail kecil."
Gadis itu menepuk lenganku dengan tatapan penuh arti.
Lima belas menit kemudian.
Aku tidak tahu kapan Nathan pergi. Namun, dia kembali ke belakang panggung dengan seorang pria lain yang membawa kotak es krim.
Aku ingat setidaknya butuh waktu dua puluh menit berjalan kaki dari tempat acara ke supermarket terdekat.
Mungkin hanya khayalanku. Akan tetapi, Nathan sepertinya sengaja melirikku.
Terhadap Nathan, aku tidak punya kesan yang mendalam. Interaksi kami biasanya hanya sebatas pekerjaan.
Ini hanya kebetulan bahwa setiap kali pembagian tugas, kami selalu berada dalam divisi yang sama.
Sebenarnya, aku cukup suka dengan hal ini. Karena selama ada dia di dalam divisi, aku tidak perlu khawatir tentang apa pun.
Dia selalu berhasil mengatur segalanya dengan cemerlang, sempurna, dan sangat efisien. Jadi, hal ini memberiku banyak kesempatan untuk belajar.
Namun, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku memiliki perasaan romantis padanya. Bagaimanapun, dia selalu dikelilingi oleh berbagai gadis cantik dari dalam dan luar sekolah.