“Ibu, Alora pergi dulu ya.” ucap Alora pamit sebelum ia meninggalkan rumah.
“Pulang jangan malam-malam. Ingat kamu itu perempuan.”
“Ya, Bu.”
Sekitar pukul 19.20 Alora meninggalkan rumah. Malam ini ia ada janji bertemu dengan teman-temannya di salah satu Cafe lumayan jauh dari rumahnya. Alora memesan taksi beberapa menit yang lalu. Perjalanannya ke sana memakan waktu sekitar satu setengah jam. Alora tiba di tempat pukul 20.05. Teman-temannya sudah berada di sana menunggu kedatangannya, “Hai, maaf telat nih. Kurang siapa yang belum dateng?” sapa Alora setibanya di sana basa-basi.
“Lengkap. Tadinya cuma kurang kamu aja, and sekarang kamu udah di sini jadi perfect!” ucap salah seorang teman duduk berhadapan dengan Alora. Mereka bersenang-senang menikmati malam seperti biasanya. Setiap minggu di waktu luang mereka akan merencanakan pertemuan malam dengan dali diskusi yang sebenarnya lebih cenderung berfoya-foya tanpa alasan jelas.
Alora yang setiap ingin bertemu dengan teman-temannya selalu mencari alasan untuk mengelabui ibunya. Bagaimanapun ia harus bisa keluar menemui teman-temannya. Ibu Alora tidak mengapa membiarkan Alora keluar malam dengan syarat alasan yang jelas dan pulang tidak sampai larut malam.
“Ibu...” panggil Alora mencari ibunya. Selang beberapa waktu kemudian ibunya keluar dari kamar mandi, “Kenapa?” ucapnya seraya mengeringkan rambut yang masih basah.
“Nanti malam Lora izin keluar.”
Mendengar ucapan Alora ibunya merasa heran sebab belum lama Alora meminta izin keluar malam dan sekarang lagi. Ada apa sebenarnya? Pikir ibu Alora meski sudah tahu pasti alasannya tidak jauh dari diskusi tugas kelompok.
“Memang tugas kelompokmu itu harus malam ya? Nggak bisa kalau semisal siang atau sorenya.”
“Nggak.”
Pada akhirnya Alora tetap diberikan izin keluar malam seperti biasanya. Ibunya merasa tugas kelompok Alora semakin hari semakin ngelantur bahkan sempat membuat Alora pulang larut. Semakin ke sini alasan yang diberikan Alora juga bermacam-macam. Alora beberapa kali atau mungkin terlalu sering membohongi ibunya agar mendapatkan akses untuk bertemu dengan teman-temannya malam hari.
“Bu, Alora berangkat.”
“Jangan pulang malam!” ucap ibu Alora yang tak mendapatkan tanggapan Alora. Alora seperti biasa meninggalkan rumah dan berangkat dengan taksi.
Hingga hampir tengah malam Alora baru saja tiba di rumah. Alora membuka pintu terlihat ruangan yang sudah gelap. Ia berjalan merambat ke sisi dinding mencari sakelar dan menyalakan beberapa lampu di ruangan. Alora sempat menatap jam yang terpampang di dinding. Pukul 23.12.
Alora berjalan menuju kamar meletakkan tas dan merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk waktu yang lumayan lama. Alora kembali terbangun dan melepas sepatu. Kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
Sore hari ketika Alora dan ibunya tengah berkumpul. Ibunya merasa Alora perlu diawasi secara lebih, ia takut Alora kenapa-kenapa. Mau tidak mau ia harus mempertanyakan kegiatan apa yang ia lakukan bersama teman-temannya hingga pulang larut malam.
“Lora, apa yang kamu lakukan bersama teman-temanmu hingga pulang larut? Bukankah untuk diskusi tidak akan menyita waktu selama itu. Dan lagi ibu merasa semakin hari kamu semakin ngelantur, ada saja kegiatan yang kamu lakukan entah itu memang kegiatan atau cuma alasan kamu agar bisa mendapatkan izin keluar malam dari ibu yang pasti ibu berharap itu bukan suatu kebohongan.” Tuturnya mengawali. Alora berhenti menatap layar televisi saat ibunya mengakhiri kalimatnya. Ia menoleh menatap ibunya yang bersiap mendengar jawaban dari Alora.
“Maksud ibu apa? Ibu nuduh Lora bohong? Ibu nggak percaya Lora? Ibu kira semua alasan Lora itu adalah kebohongan?”
“Bukan itu maksud ibu. Mak...”
“Maksud ibu Lora ini pembohong gitu, iya?”
“Ibu fitnah Lora dan berpikiran yang nggak-nggak sama Lora. Ck!”
“Ibu nggak mau kamu pulang larut malam, bahaya. Ibu nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan.”
“Heh. Itu alasan ibu biar Lora nggak punya temenkan.”
“Terserah kamu saja. Ibu tidak mau bertikai denganmu. Yang pasti waspada dan berhati-hati ketika pulang larut terlebih saat melewati kebun jati itu.” Alora terdiam setelah mendengar perkataan ibunya. Ia terpikir kebun jati yang selalu ia lalui saat pulang. Kebun jati yang ia lalui terasa biasa saja tidak ada hal yang aneh. Mungkin itu hanya khayalan ibunya untuk menakut-nakuti agar tidak lagi pulang larut malam. ‘Aku bukan anak kecil, jadi bagaimana bisa aku mempercayai khayalan ibu. Toh aku keluar malam juga butuh udara dan merefresh otak biar dingin. Have fun dengan teman-teman jauh lebih baik daripada cuma di rumah. Soal kebun jati yang aku lalui tidak ada masalah.’ Batin Alora menatap punggung ibunya yang melangkah ke dapur.
Seperti biasa Alora meminta izin keluar malam kembali pada ibunya. Dan direspons anggukan oleh ibunya. Tidak seperti biasanya, kali ini ibunya lebih diam dan cuek dengan kegiatan yang dilakukan Alora. Ia tidak lagi mengingatkan Alora agar jangan pulang terlalu larut. Ibunya menjadi pendiam sesaat setelah berselisih sedikit dengan Alora sore itu. Bukan seperti biasanya yang perhatian, kali ini ibunya acuh tak acuh terhadapnya. Namun Alora tak ingin mengambil pusing sikap ibunya mungkin saja ia sedang marah perihal waktu itu. Alora tetap pergi meninggalkan rumah dengan taksi yang sudah dipesan.
“Lora, kenapa diem aja? Ada masalah? Cerita kek biar kamu juga nggak terlalu merasa terbebani gitu.” Ucap salah seorang teman Alora yang memperhatikannya sejak awal datang.
“Nggak. Cuma tadi waktu mau ke sini ibu kelihatan acuh gitu padahal biasanya waktu aku mau pergi ibu suka bilang ini itu anu intinya seperti ibu-ibu pada umumnya kalau lihat anaknya mau pergi.” Ucap Alora menceritakan sikap ibunya yang acuh tadi.
“Sabar aja, siapa tahu lagi marah sama kamu. Entar juga balik lagi. Mungkin juga ibu kamu lagi nggak mood. Dah, sekarang kita have fun lupakan semuanya sejenak, tinggalkan semua beban, lepaskan semua pikiran, tenangkan hati dan pikiran. Galau-galauan itu bonus punya teman welcome yang bisa ngajak have fun itu harus.” Alora tersenyum seketika melupakan masalahnya di rumah hingga menjelang tengah malam ia sampai di pekarangan rumah. Pukul 23.15 Alora membuka pintu dan seperti biasa lampu sudah dimatikan. Alora harus merambat ke dinding menyalakan sebagian lampu. Ia masuk kamar untuk membersihkan diri sekaligus melepas penat.
Selesai bersih-bersih Alora merasa lapar dan berniat ke dapur untuk mencari makan atau mungkin membuat sesuatu di dapur. Letak dapur Alora berhadapan langsung dengan pemandangan sawah dan beberapa pohon kelapa juga ada aliran sungai kecil yang mengaliri sawah-sawah sekitar. Ketika terang pemandangan melalui dapur begitu mengesankan. Terkadang Alora membuka pintu belakang dapur yang menghubungkan dapur dengan persawahan langsung menatap pemandangan secara nyata. Berbeda ketika malam tiba. Suasana di dapur terasa mengerikan terlebih tidak ada tirai yang menutupi. Hawa dingin kerap kali membuat bulu roma Alora merinding.
Alora membuat beberapa makanan yang ia bawa ke kamar. Membuka ponsel sembari makan sudah menjadi kebiasaan buruk Alora. Setelah selesai makan Alora keluar membawa mangkok kotor untuk dicuci. Saat Alora menutup pintu kamar ia dikagetkan dengan ibunya yang sudah berdiri di depan pintu kamar memandangi dirinya.
“Ibu belum tidur?” tanya Alora menutupi rasa gugupnya.
“Kenapa belum tidur?” ucap ibunya berbalik bertanya pada Alora.
“Laper.” Tungkas Alora yang dibalas anggukan ibunya. Ia menatap mangkok kotor yang masih dipegang Alora, “Taro di meja depan aja, besok baru dicuci. Sekarang tidur!” mendengar ucapan ibunya lagi-lagi Alora dibuat bingung dan heran.
“Nggak papa Lora cuci sekarang aja,” ucap Alora melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 23.45. “Masih jam segini...” lanjutnya setelah melihat beberapa saat jam dinding yang terus berdetak. Ibunya lagi-lagi hanya mengangguk dan masuk kamar meninggalkan Alora dengan kebingungannya.
Alora kembali membawa mangkok kotornya ke belakang untuk dicuci. Alora membawa mangkok plastik dengan alasan ketika dicuci tidak licin, mudah pecah, dan tidak menghasilkan suara yang mengganggu ibunya istirahat. Sesampainya di dapur pintu belakang dapur sedikit terbuka. Ia ingat betul sebelumnya sudah tertutup. Apa mungkin ibunya lupa menutup pintunya kembali. Alora berniat menutup pintu belakang dapur dengan mangkok kotor yang masih berada di tangannya.
Alora berjalan menuju pintu. Saat ingin menutupnya Alora melihat sesuatu berwarna putih di tengah-tengah sungai kecil di antara sawah. Alora membuka sedikit lebar pintu memastikan apa yang dilihatnya. Dengan jelas penampakan itu terlihat di depan mata. Sosok kuntilanak tengah berdiri membelakangi Alora. Hitam pekat rambut panjangnya menjuntai hingga lutut. Gaun putih panjangnya menutupi kaki dan tangan. Alora terdiam mematung. Kakinya kaku. Lututnya tidak bisa ia gerakkan. Sendi-sendi di kakinya serasa mati. Ingin rasanya berputar kemudian lari tapi kaku. Wajah Alora semakin membiru dengan ketakutan. Kakinya kaku, lidahnya kelu. Alora memanggil-manggil ibunya, namun suaranya terhenti sampai tenggorokan saja. Alora semakin ketakutan menatap sosok itu. Seluruh suaranya tersumbat di tenggorokan. Keringat dingin menghujani seluruh tubuh Alora. Belum sempat rasa takutnya hilang tangannya sudah gemetaran tidak karuan. Alora tidak dapat mengendalikan tubuhnya. Rasa takut yang mengerubuti dirinya membuat Alora tanpa sengaja menjatuhkan mangkok yang sedari tadi masih ia bawa.
Trakkkk...
Bersamaan dengan suara mangkok yang jatuh sosok kuntilanak itu memutar kepalanya ke kiri menatap Alora yang tengah berdiri menghadapnya. Kuntilanak itu tersenyum selebar dua kali senyuman manusia menatap Alora. Awalnya kuntilanak itu hanya terdiam dengan senyuman. Alora merasa kuntilanak itu menunggunya berputar lari meninggalkan dapur. Namun jangankan lari untuk berputar saja rasanya sulit. Sendi-sendi kakinya mati. Ia masih menunggu dengan senyuman mengerikan itu. Alora sudah tidak karu-karuan. Wajahnya pucat tapi dibandingkan dengan kuntilanak di depannya masih jauh.
Alora sudah pasrah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Alora hanya berdiri dengan kelu dan kaku menghadap kuntilanak itu. Ia pikir mungkin ini yang menjadi alasan ibunya menyuruh meletakkan mangkoknya di depan saja. Rupanya ibunya melihat sosok kuntilanak di dapur juga. Alora merutuki dirinya karena tidak mendengarkan ucapan ibunya. Dan yang pasti ibunya bisa lari dari penampakan di depannya, sedangkan dirinya jangankan lari ingin pingsan saja rasanya sulit. Sosok kuntilanak itu mulai menyadari Alora tidak bisa lari. Tubuh Alora menjadi kaku sebab rasa takutnya. Perlahan sosok kuntilanak itu mulai melayang mendekati Alora. Keringat dingin keluar dari tubuh Alora bertambah dua kali lipat. Kuntilanak itu tersenyum layaknya mengejek Alora yang tidak bisa lari saat melihat dirinya.
Tepat di depan Alora berdiri sosok kuntilanak itu. Ia seperti sedang menggoda Alora yang tengah ketakutan. Kepala kuntilanak itu beberapa kali dicondongkan ke kiri kanan menggoda Alora. Wajahnya yang pucat pasif dengan senyuman yang masih tertahan di bibirnya, ia mendekat beberapa senti menatap lekat wajah Alora. Wajah Alora semakin biru pucat. Melihatnya ia lantas tertawa cekikikan di depan Alora yang ketakutan.
Hihihi.....hihihiii....aahhhhihihiii....
Brukk...
-Tamat-