- SMA Harapan Bangsa
Banyak orang tua yang ingin memasukan anak-anaknya ke SMA Harapan Bangsa ini. Karena SMA Harapan Bangsa termasuk sekolah yang terkenal seantero jagad raya -?-. Termasuk Bastian Bara, dia menginginkan anak permpuannya masuk ke kandang ayam, eh salah, Sekolah ini maksudnya. Anak perempuannya bernama Alexandra. Nama yang 'cowok' buat seorang cewek. Gak tau kesambet apaan, si Alex emang dari kecil tingkahnya kayak anak laki-laki. Mungkin karena di rumahnya cuma dia satu-satunya perempuan. Kakaknya Denist Bara dan ayahnya Bastian Bara adalah laki-laki. Sedangkan ibunya Sisil, sudah meninggal beratus-ratus tahun yang lalu -?-, bukan itu maksudnya, Sisil meninggal saat Alex masih SD.
"Wah makasih ya, Dad, aku dimasukin ke sekolah elit kayak gini!" kata Alex.
"Buat anak Daddy yang imut*hoekz* kayak kamu, apa sih yang enggak?!" gombal si Bastian.
"Pemirsa, eh, permisi, benar anda Pak Bastian?" tanya seseorang yang memakai masker, kelihatannya dia guru di SMA Harapan Bangsa.
"Yoyoi, ini anak saya, Alex, BTW, kamu siapa yah?" jawab Bastian.
"Nama saya Hendri, saya yang akan jadi wali kelasnya Alex." jelas Hendri.
"Ooh," Bastian ber-oh ria.
"Oke deh, Lex, ikut bapak yuk~~" ajak Hendri layaknya mengajak seorang anak dengan style banci.
"Dadah Daddy!" kata Alex.
"Alex~~~" Bastian mulai lebay.
"Daddy~~~" Alex ketularan.
"Alexxx~~~"
"Daddyyyyy~~~"
"Woi! Udah ngape?! Lembo banget sih!" kata Hendri yang langsung nendang pantat si Alex.
"Nah, anak-anakku –" kata Hendri di depan kelas.
"Siapa yang sudi jadi anak lo?!" jawab seisi kelas.
"Ya udel, gak usah lebay geto kale, eke juga gak sudi punya anak durhake, kayak kalian semua~~" kata Hendri dengan style banci lagi.
"Nih, ada anak baru yang bakalan masuk ke kelas ini…" jelas Hendri, kali ini dengan suara laki-laki.
"Cewek, cowok, apa tengah-tengah kayak Bapak?!" kata Feli si biang gossip.
"Cewek kok…" ternyata Hendri tidak sakit hati, walau sudah dibilang tengah-tengah.
"Lesbi gak?" tanya Nita, si cewek paling centil.
"Ya gak lah! Eh, gak tau juga sih… udah entar kamu nanya sendiri aja!" Hendri mulai sewot, "Woi, masuk lu!"
BRAAKK
"HOLAAAA~~~!"
Seorang cewek dengan tampang preman datang. Bajunya kusut dan roknya lecek. Rambutnya pirang sebahu, jabrik di atas. Tasnya tipis tapi jumbo dengan warna hitam, ada tulisan 'I'll kill u now!'. Sepatu ketsnya yang kegedean berwarna putih, talinya oranye terang, dengan gambar tengkorak di pinggiran. Kaos kakinya oranye cuma semata kaki. Sungguh tidak pantas untuk sekolah sekelas SMA Harapan Bangsa.
"Huh," seseorang sedang menggerutu di pojokan, dialah Reza.
"Eh, Zakay, lu gak liat tuh cewek? Kayaknya lucu juga…" kata Yuki yang duduk di depan Reza.
"Ogah ah, gak seru…" jawab si Reza, yang terkenal akan kedinginan dan ketampanan*hoekz*-nya.
"Nah, Alex, kamu duduk di sampingnya Reza. Noh, yang lagi pundung di pojokan," kata Hendri.
"UUAAAPPPAAAHH!?" anak-anak cewek langsung teriak gaje.
*┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈
"Woy! Zakay!" teriak seorang cewek yang bertampang preman dari pintu gerbang SMA Harapan Bangsa. Kayaknya dia lagi manggil si Reza.
"Jangan panggil gue Zakay!"
Eh, pas si Reza nengok ke belakang, ke arah Alex yang manggil dia.
SEERR…
Rambut Alex yang sebahu itu ketiup angin, kayak di iklan aja gitu. Mata merem-merem gitu. Kalau kita yang bayangin, udah kayak preman kekar yang pake baju sekolah. Tapi kata Reza…
CANTIKNYA…
Dan selama beberapa detik, Si Reza merasa dirinya poling in lop…
"Woi! Zakay! Ngeliatin apaan lo?!" Alex mengagetkannya.
"Eh, Lex…"
"Ke kelas bareng yuk!" ajak Reza.
"Oke!"
Reza pun memegang tangannya Alex.
"Eh, Zakay, tanganmu…" Alex mulai blushing gaje.
"Ups, maaf.."
"Umm, Zakay, aku gak bisa yang ini… ajarin dong…"
"Jangan panggil gue –" Reza sewot, tapi… 'Cantiknyaaa…', "Ehm, kenapa Lex?" Reza mulai jaim.
"Itu, aku gak ngerti yang ini…" *puppy eyes*
"Oh, gini loh…bla bla bla…" jelas Reza.
"Oh, makasih ya Za" kata Alex sambil berlalu.
"Oke," si Reza itu memberikan senyum terbaiknya pada Alex.
-di lain kelas-
"Eh, apa-apaan sih itu si Alex?" mulai si Feli.
"Au tuh, genit banget sama si Reza-prince!" balas Nita.
"AU, bukannya Alternate Universe yak?" kata Tania.
"Yee, bukan gitu, Reza kan biasanya jutek banget sama cewek! Yuki aja kalo manggil dia Zakay, langsung diamuk massa -?-!" jelas Feli.
"Mu-mungkin, Re-reza itu, pu-punya perasaan khu-khusus sama A-Alex…" kata Mia dengan susah payah.
"Hah?! Gak mungkin!" Nita sama Feli teriak gaje.
"Tapi buktinya, kenapa Reza senyum gaje gitu ke Alex? Padahal, ngomong sama anak cowok laen aja jarang banget," sambung Tania.
"Hadooh, jangan sampe Reza jatuh cinta sama Alex! Reza gak boleh pacaran sama anak berandalan kayak gitu!" tegas Feli.
"Kita tes aja!" kata Tania.
"Gimana?!" tanya yang laen.
"Woi! Zakay!" teriak Tania manggil Reza.
"Iya ada apa Al –" sambut Reza dengan senyumannya, tapi… "Eh! Apa-apaan lo manggil-manggil gue Zakay?!"
"Tuh kan, pe-perkiraanku be-benar" kata Mia.
*┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈
"Alex…" kata Reza.
"Kenapa Za?" jawabnya.
"Kamu… mau gak jadi pacarku?"
"Eh, tapi kita kan baru kenal selama seminggu?!"
"Gapapa, aku mau ngelakuin apa aja agar dapetin hati kamu! Plis yah!" *puppy eyes*
"Apa aja?" Alex meyakinkan Reza.
"Iya, apa aja!"
"Oke deh, aku mau kok!" senyum licik terpasang di wajah Alex.
"Zakay! Aku mau boneka itu!" Alex nunjuk boneka dengan harga Rp1000.000,-.
'Bujug buset!' batin Reza.
"Ehm, ya udah deh," kata Reza.
'Abis dah duit gajian -?- dari Ibu,'
"Zakay, makan yuk!" ajak Alex.
"Oke," Reza ngeluarin senyum mautnya yang sebenernya bikin muntah.
"Om, Baksonnya 15 porsi yak!"
"Oke, siap segera!" kata mas Tukang Bakso.
'Mampus gue,' batin Reza.
"Hadoh, panas banget hari ini!" Alex mulai mengeluh, yang langsung buat Reza punya firasat buruk.\
"Za! Bawain tasku ya!" Alex langsung ngelempar tasnya.
"Wadaw! Berat banget Lex!"
"Kenapa kalo berat?! Gak suka?!" Alex nyiapin deathglare.
"Ah, enggak, isinya apa sih?!"
"Oh itu, Kaka nitip bubuk mesiu 4 kg! Terus ada pentungan kasti 3! Oh ya, gak lupa pisau dapur 8!" jelas si Alex semangat, tapi malah bikin Reza bergidik ngeri.
"Bubuk mesiu dan lain-lainnya buat apaan lex?"
"Bubuk mesiu buat kaka bikin bom, pentungan kastinya buat tawuran, pisau dapurnya buat berantem. Soalnya udah pada patah dan rusak, makanya kaka nitip banyak kali ini!"
'glek,'
-sebulan berlalu, penuh siksaan bagi Reza-
"Lex… aku rasa kita udah gak cocok lagi…" kata Reza.
"Eh, kenapa?!" Alex bingung.
"Karena, aku… MERASA TERSIKSAAA! KAMU GAK TAU, HAH?! SETIAP HARI DIRIMU BEGITU KEJAM!" Reza teriak, dia gak peduli akan tatapan kenapa-sih-tuh-anak dari orang-orang yang lewat.
"Aku kejam gimana?!" Alex pasang muka innocent.
"SETIAP HARI, KAMU MENYURUH AKU MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PENTING! MENGELUARKAN UANG BUAT BELI BARANG-BARANG GAJE SAMA TITIPAN DARI KAKA MU!" Reza mulai kehilangan kendali dirinya.
"Zakay–"
"JANGAN PANGGIL GUE ZAKAY!"
"Hiks, kukira kamu benar-benar suka padaku, huee!" Alex meninggalkan Reza yang napasnya gak teratur gara-gara teriak gaje. Orang-orang yang lewat ngasih tatapan parah-banget-sih-lo-mutusin-cewek-di-tengah-jalan.
Reza jalan dengan lesu ke rumahnya. Tiba-tiba ada dua orang menariknya, mulutnya di bekep, rambutnya dijambak.
"Mmpph! Mmpph!" artinya, " Woi! Kenapa nih!"
Dua orang yang membawanya tadi mendorongnya dengan kasar di gang yang sempit di pinggiran jalan. Terlihat ada beberapa orang laki-laki dan dua perempuan.
"Ka… ini yang namanya Reza!"
"Jadi ini, cowok yang berani mutusin kamu dan menyakiti hatimu?" tanya seseorang yang mukanya penuh pierching, kayaknya sih itu leadernya.
"Adikku yang tolol!" seru seorang cowok keriputan berkuncir satu.
"Kaka?!" Reza menyadari kalau dia adalah kakanya.
'Berarti ini… Blue Flower, geng preman tempat kaka suka nongkrong!"
"Kira-kira, hukuman apa yang pantas untuknya?" kata cowok dengan tampang horror kayak hiu.
"Jadiin budak aja, un" kata cowok blonde yang kayaknya kaka Alex.
"Ide bagus, tapi berapa lama?" tanya seseorang berambut perak sebahu.
"Hum, dia kan jadi pacar Alex selama sebulan, jadi, dia harus jadi budak selama sebulan!" kata seorang perempuan selain Alex.
"Budak, berarti tidak dibayar kan?!" kata seseorang yang pake cadar dengan tampang koruptor.
"Ka, tolong aku!" kata Reza memohon.
"Eh?!" Kaka Reza, Rava, merasa bingung antara dua pilihan.
"Va, lo pilih kita apa dia?!" kata cowok berambut merah sambil ngacungin pentungan kasti.
"Ehm, pilih kalian tentunya…"
"Kaka Brengsek!"
-seminggu berlalu, markas Blue Flower-
"Za, tar jangan lupa beliin pacar kuku warna item! Punya kita-kita udah pada luntur!" kata Rava.
"Duitnya mana ka?!" protes Reza yang lagi ngepel.
"Ya pake duit lo, lah!"
"Tapi ka –" belum sempat Reza melancarkan kalimatnnya, langsung dihadiahi deathglare dari para anggota.
"Baik…"
Dan hari-harinya dihiasi ratapan anak ayam -?-.
⍢⃞The End 𐂂