Garis takdir melengkung bagai bencana, menggagalkan mimpiku sebagai anak tunggal. Anak lelaki baru saja lahir dari rahim ibuku. Tubuhnya masih merah darah dengan tangis yang melengking ke udara.
Ayah tersenyum hangat, sedang ibu masih tenggelam dalam kesakitannya. Kasih sayang untukku pasti akan memudar dan aku akan di pungut kesepian.
Hari-hari damai sebagai anak kesayangan sekarang berubah, hadiah-hadiah berdatangan siang dan malam. Tetapi bukan lagi namaku disana. Hanya ada tulisan Gantara Praditya Bramata.
Sekarang Gantara sudah berusia lima tahun waktu bergerak begitu cepat. Dia menggemaskan dan cerdas.
Suatu hari, ayah dan ibu sedang mengobrol dihalaman dan aku menemani Gantara belajar di kamarnya.
Namun tiba-tiba ia berlari mengejar sesuatu. Sampai akhirnya ibu berteriak histeris karena Gantara yang sudah bersimpah darah akibat terjatuh dari tangga.
Ada sosok nenek dibelakangnya dengan baju tradisional minang meringis menakutkan, sejurus kemudian membuatku pingsan.
Setelah tersadar aku harus melahap duka orang tuaku. Sebab adikku yang masih belia telah meninggal karena telah kehilangan banyak darah.
Aku masih bingung yang terjadi. Lalu pendeta menghampiriku bahwa ayah dulu menelantarkan ibunya sendiri yang menyebabkan mendiang nenek membunuh Gantara.
Aku hanya bisa tertunduk, memegang bajuku yang telah kehilangan tiga kancing, sembari bergumam Gantara sudah cukup tangguh untuk berusaha bertahan. Aku lalu menutup rahasia di hatiku dengan senyuman setipis mungkin.