>Aku ingin dia
Setelah mengetahui keadaan bosnya Rifan tersenyum lega. Untunglah bosnya tidak apa apa.
Setelah beberapa jam bosnya tersadar. Pria itu bingung kenapa ada Rifan di dekatnya padahal ia tadi mengetahui bahwa yang menolongnya adalah seorang wanita.
"Rifan!" Pria itu menengok kanan dan kirinya mencari sesuatu. Rifan yang mengetahui bahwa bosnya tampak mencari seseorang pun bertanya pada bosnya.
"Bos mencari siapa?" Tanya Rifan pada bosnya bosnya terkekeh dan menggeleng pelan
"Aku ingin dia" pria itu tersenyum lebar.
Rifan tampak semakin bingung karena bosnya itu tidak pernah pacaran apa lagi mempunyai seorang wanita istimewa dihatinya.
"Dia siapa bos" tanya Rifan
"Wanita yang membawaku kemari" Rifan tersadar bahwa orang yang dimaksud bosnya adalah Gladis wanita yang ia temuinya tadi.
"Owhh.... Gladis"
"Siapa Gladis?"
"Bos ini gimana sih tadi bos tanya wanita itu lah kenapa bosnya balik nanya? Gadis itu namanya Gladis. Aku juga mempunyai nomornya apa bos mau"
"Kau memang selalu bisa diandalkan" ucap pria itu terkekeh kearah Rifan.
"Apa yang akan bos rencanakan? Jangan macam macam deh Do." Ucap Rifan yang memangil nama bosnya dengan nama panggilan.
"Sejak kapan kau memanggil bosmu dengan nama panggilan hah. Kurang ajar kau" celetuk Edo yang akan membuat perhitungan kepada asistennya itu.
"Awww" Edo kesakitan ia lupa jika semua badannya remuk karena kecelakaan yang baru saja menimpanya.
"Kenapa bos?" Tanya Rifan tertawa puas karena bosnya tidak bisa memukulnya seperti yang biasa bosnya lakukan.
"Kau mencari kesempatan ya Fan! Setelah aku keluar dari sini akan aku beri perhitungan kau" ancam Edo pada asisten pribadinya.
"Bos sudah lah bos, bos ini masih sakit janganlah mengancam ku seperti itu" ucap Rifan tersenyum pada bosnya. Asisten pribadi Edo adalah orang paling mengerti dirinya bagaimana tidak keduanya sudah belasan tahun bersama. Jadi Rifan pun tau apa yang Edo pikirkan begitupun sebaliknya.
"Aku jadi bingung bagaimana bisa bos bisa tau jika yang menolong bos itu seorang wanita"
"Sebenarnya saat aku akan di bawa kemari aku tersadar tapi sudah untuk membuka mataku. Aku hanya bisa mendengarkan suara kekhawatirannya. Kau tau aku dibilang tampan"
"Beb hahahaha......" Rifan menutup mulutnya ia menahan tawa ketika bosnya dengan pedenya mengatakan bahwa ia tampan. Tawa Rifan pun pecah mana kala tau bahwa bosnya terlalu percaya diri.
"Kenapa kau tertawa aku ini memang tampan" ucap Edo seraya menyisir rambutnya dengan kelima jarinya.
"Bos bos jika bos ini tampan kenapa sampai sekarang bos masih jomblo. Nggak punya cewek"
"Hei kau barusan bilang aku apa, rese Lo Fan"
Rifan tertawa puas melihat bosnya begitu percaya diri.
"Terus saja kau mengejekku. Potong gaji baru tau rasa." Rifan menaikan alisnya dan memandang bosnya.
"Ngancemnya keterlaluan Lo Do."
"Lagian Lo juga gitu. Orang aku lagi sakit bukannya di doain malahan di bikin pusing"
"Gua hanya bercanda. Lo juga baperan gitu aja ngambek."ucap Rifan yang segera keluar dari ruangan.
" Tunggu cari gadis itu sampai dapat" pinta Edo . Rifan pun tersenyum dan berlalu meninggalakn Edo sendirian.
#bersambung