> Siapa?
Wanita itu mengintip jendela mobil memastikan apakah orang yang ada di dalam mobil baik baik saja.
"Hah ada orang di dalam" celetuk wanita itu . Ia panik apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan orang yang ada di dalam mobil. Wanita itu menggedor kaca mobil ia panik karena tidak ada satu orang pun yang berada di sana. Akhirnya dengan kepintarannya mobil warna putih pun terbuka. Wanita itu segera menolong orang yang ada di dalam. Lukannya nampak lumayan parah.
"Ganteng juga nih cowok, kok jadi malah ngomongin dia" ucap wanita itu dalam hati. Ia berusaha mengeluarkan pria yang sudah tak sadarkan diri ketempat yang jauh lebih aman. Karena mobil yang di kendarai pria ini pun sudah ringsek dan mengeluarkan sedikit asap.
"Nih aku harus cepat membawanya ke rumah sakit"umpat wanita itu dalam hati. Padahal ia baru saja putus cinta tidak ada sedikitpun kesedihan mungkin karena ia panik gara gara Pria yang kecelakaan ya benar ia begitu cepat melupakan kejadian yang tidak diinginkannya karena pria yang ada di dekatnya jauh lebih tampan dari pada mantannya.
Setelah sampai ke rumah sakit wanita itu kebingungan. Siapa yang harus ia hubungi. Suster pun datang bertanya kepada wanita itu apakah dia keluarganya. Wanita itu menggeleng pelan. Suster mengatakan jika ia harus segera menghubungi keluarganya. Tak lupa suster memberikan barang barang milik pria itu.
Wanita itu mencari sesuatu di dalam tas pria itu. Ia menemukan hp yang tidak di kunci.
"Nih cowok masa hapenya nggak di kunci, tapi bagus deh jadi aku bisa cepet menghubungi keluarganya. Mana mana " wanita itu menggeser geser layar hape pria itu.
Wanita itu bingung karena tidak menemukan kontak siapapun yang ia temukan adalah banyak panggilan dari sekretarisnya. Tanpa ragu ia segera menghubungi asisten
..
..
..
..
Dretttt hp Rifan bergetar tertulis nama bosnya di layar hpnya. Dengan malas Rifan mengangkat panggilan itu.
"Apaan lagi sih boss... Baru juga sampai kantor nanti aja ok" Rifan memutuskan sambungan telponnya. Belum sempat wanita itu berbicara panggilannya pun sudah terputus
"Ih kok dimatiin. Coba lagi" tapi berulang ulang sekretarisnya marah marah tak jelas.
"Bos apa apan sih nggak jelas. Tadi minta pendapat sekarang apalagi" ucap Rifan setelah mengetahui hpnya bergetar untuk kesekian kali.
"Apa?" Setelah mengetahui sesuatu Rifan segera pergi ketempat yang tadi disebutkan oleh seseorang.
Dengan wajah panik Rifan menghampiri wanita yang menelponnya.
Wanita itu terkejut melihat seorang pria tiba tiba ada di sampingnya memandanginya dengan aneh.
"Siapa? Siapa kamu" tanya Rifan pada wanita yang sedari tadi berdiri di depan ruangan.
"Aku Gladis aku yang menelponmu tadi." Rifan mengangguk mengerti. Gladis segera memberikan barang milik pria itu kepada Rifan tanpa keraguan.
"Terima kasih" ucap Rifan pada Gladis. Rifan terkekeh melihat kecantikan Gladis.
"Terima kasih? Untuk apa?" Tanya Gladis tak mengerti.
"Karena telah menolong bos sekaligus temanku. Tapi aku mau bertanya satu hal apakah bosku tadi bersama dengan wanita?" Galdis menggeleng pelan.
"Apakah bosku tadi tidak bersama dengan seorang wanita?" Gladis menggeleng untuk yang kedua kalinya.
"Aku tidak menemukan siapapun kecuali bos kamu." Rifan mengangguk mengerti. Gladis pun meninggalkan rumah sakit. Sebelumnya Rifan tak lupa meminta nomor Gladis jika sesuatu tiba tiba terjadi padanya. Mungkin bosnya akan melakukan sesuatu pada Gladis. Apalagi Gladis cantik dan jika di lihat lagi Gladis adalah tipe tipe bosnya.
"Bersambung