Kalau penduduk bumi banyak mengagungkan kata "syarat" sebagai kriteria memenuhi suatu isyarat, bisakah manusia mengajukan cinta tanpa syarat?
Isi kepalaku bisa menampung banyak hal (yang tidak penting) sampai kadang aku kebingungan bagian mana yang perlu diberi atensi. Mulai dari pertanyaan sederhana, titahan panjang, atau kalimat buruk. Kadang pikiran itu menjadi liar sampai tidak bisa dihentikan, seperti mengendarai motor dengan kecepatan penuh di sirkus balap yang isinya sendirian.
Tapi aku kenal seseorang yang punya ratusan rem cadangan untuk membantu kepalaku rehat sejenak. Dia punya banyak sekali jawaban, punya banyak tepukan hangat, juga punya kalimat magis yang menguar rasa hangat menjalar di dalam dada.
"Menurut kamu, bisa nggak manusia jatuh cinta tanpa syarat apapun?" Aku bertanya di antrean panjang komidi putar. "Lihat, deh. Syarat masuk wahana ekstrem minimal tingginya 120 sentimeter. Syarat berkendara harus punya SIM. Syarat cumlaude IPk-nya minimal 3,50. Kayaknya ada terlalu banyak syarat yang harus manusia patuhi di dunia. Jadi, dengan segala syarat itu, emang manusia bisa ngasih rasa cintanya secara cuma-cuma?"
Jagat tertawa mendengar itu. "Ya, bisa."
"Serius? Manusia yang punya ego tinggi, bisa jatuh cinta tanpa memberi syarat apapun?"
"Lihat, deh." Tangannya menunjuk ke arah komidi putar. Wahana itu diisi cahaya lampu temaram, komposisi manusia yang duduk pas sebagai penumpang, dan lagu yang mengalun untuk membumbui suasana. "Semua orang bahagia di sana.'
"Lalu?"
"Kalau kamu perhatiin, ada satu ibu-ibu yang sengaja berdiri dan pegangan di tiang untuk mengabadikan momen anaknya naik komidi putar. Lihat, kan? Walaupun dia harus ngatur keseimbangan berdiri dengan satu pegangan, dia masih tetap senyum."
Aku ikut memperhatikan arah tuju seseorang yang Jagat maksud. Serupa dengan ujarannya, Ibu itu tampak luar biasa bahagia dengan gurat hangatnya.
"Atau, dua orang yang duduk di kursi kencana komedi putar itu. Mereka sama-sama udah tua, sama-sama duduk di sana tanpa peduli apa-apa. Tapi mereka senyum lebar, seolah-olah momen itu enggak akan pernah diulang lagi; habisin masa tuanya dengan orang yang paling disayang."
Tidak tahu datang dari mana, tapi jauh di dalam dada, suasana hangat menguar. Netra kami habis melahap manusia-manusia yang bersukacita di atas komidi putar. Seolah, syarat jatuh cinta tidak pernah ada di dalam kamus. Seolah, meski dunia rumpang dengan banyak aturan, mereka mampu memberi banyak hal untuk dikorbankan sebagai bentuk rasa sayang.
"Manusia bisa jatuh cinta tanpa syarat. Kayak Ibu yang rela nggak duduk di komidi putar untuk mengabadikan momen anaknya. Kayak dua orang lanjut usia yang nikmati masa tua mereka dengan bahagia di atas komedi putar. Karena apa coba?"
"Karena apa?"
"Bentuk jatuh cinta paling tinggi adalah memberi tanpa meminta kembali bagian yang sudah dia beri. Mereka nggak peduli apakah perasaan yang itu akan kembali dengan bentuk utuh atau enggak, karena yang penting, mereka udah memberi cinta dengan batas mampunya; dan tugas mereka selesai."
Sewaktu langit kian gelap dan cahaya lampu semakin berkuasa untuk mengambil alih penerangan di taman bermain, aku tersenyum diam-diam. Turut serta merayakan bahagia untuk Ibu di komedi putar, bersorak senang untuk kedua nenek-nenek yang tersenyum senang di atas komedi putar. Juga mengucap syukur pada satu manusia di sampingku.
"Aku bingung kenapa kamu tiba-tiba tanya kayak gitu," kata Jagat sambil tertawa. "Padahal sejak awal, aku udah jatuh cinta tanpa syarat ke kamu."
tona merah Genggaman tangan kami menguat, rona menjalar di pipi, dan kami sama-sama menunduk karena malu. Coba tebak, suara jantung siapa yang paling keras berdetaknya malam ini? []