Kalau tersesat di tengah kerumunan, mungkin yang aku cari masih kamu. Di bagian kecil sudut jalanan, di lalu-lalang pejalan kaki yang fokusnya pada diri masing-masing, atau di kedai kopi yang membawa kita pada dua cangkir americano dengan asap yang masih menguap.
Bapak pernah bilang begini padaku, "Ada seseorang yang tetap bisa kamu temukan walaupun raganya berbaur dengan keramaian manusia. Yang membuat pandangan kamu secara ajaib mengabur, karena titik fokus hanya pada satu raga itu saja."
Waktu itu aku tertawa mendengarnya, tapi hari ini tawa itu tak lagi tersisa ketika netra kita bersitatap pada satu titik yang sama. Manusia lainnya tidak lagi punya eksistensi besar. Suara penjual pedagang kaki lima tidak lagi terdengar. Jalanan padat tidak punya arti apa-apa. Di keramaian ini, hanya ada kita saja.
Aku menemukanmu.