Tadi nya aku mau menulis kamu, tapi diparagraf kedua, aku mendadak kehilangan kata kata.
Aku punya dua hipotesis. Pertama, aku tidak lihai menulis. Itu sebabnya aku tidak mampu merangkai hal-hal mengenai kamu (kecuali bagian rumpang yang tidak pernah berani kita susun).
Kedua, sebenarnya aku tidak benar-benar kenal kamu. Ini gawat, jadi aku menolak percaya.
Perihal jatuh hati itu menakutkan, sebab setiap hati punya tenggat kedaluwarsanya. Semua manusia akan pergi, lalu orang orang yang ditinggalkan akan kepayahan menyusun makna-makna kehilangan yang tidak terhitung sampai kapan batas waktunya (bagian menakutkan lainnya: bagaimana jika manusia tidak pernah mampu untuk menyusunnya kembali?)
Lalu, secara tiba-tiba, aku jadi takut kehilangan kamu. Ini bagian paling aneh karena mungkin, tidak akan pernah ada bagian yang hilang sebab predikat memiliki saja kita belum mampu.
Sebenarnya, aku punya hipotesis baru. Mungkin jawaban lainnya karena aku takut untuk menulis kamu. Sebab mengabadikan kamu akan jadi perkara serius. Dan aku tidak ingin tulisan in jadi sumpah serapah kosong (kalau-kalau, tentang kita sudah mulai bertemu tenggat kedaluwarsanya) yang tidak pernah ingin kubuka lagi.
Aku suka setiap kamu memanggil namaku, tapi bagian akhirnya saja. Aku suka bubur ayam, tapi mesti tidak diaduk. Aku suka malam hari, tapi aku tidak suka kesepian. Aku suka menulis, tapi selalu ragu menulis kamu. Aku suka kamu; dan tidak ada kata 'tapi'-nya.