Kak, bagaimana kamu memaknai rumah?
Aku terbiasa berkelana sejak dulu, pindah dari satu tempat baru untuk pergi ketempat baru lainnya. Banyak orang yang ku temui, banyak hal yg kupelajari. Seperti misal, aku jadi lebih memahami bentuk ketidak abadian didunia ini.
Kehilangan seseorang yang disayang bukan lagi menjadi waktu terbaik untuk hidup. Rasanya, setengah dari diriku ikut hilang seiring dia pergi. Itu mungkin terjadi sebab ... aku menaruh subjek rumah pada seseorang. Sebagai tempat teduh yang mestinya berbentuk abadi; selama-lamanya.
Aku mulai kehilangan makna pulang sejak lama. Aku tidak memiliki rumah untuk diam dalam kurun waktu yang tak terhitung. Tapi, Kak, ketika aku mulai kehilangan makna pulang secara harfiah, melihat kamu, rasanya aku ingin terus datang ke rumah. Entah itu sebagai kata kerja pada suatu kepulangan, atau menjadi kata sifat yang hanya kita pemilik artinya.
Bukan lagi menjadi tempat bersandar. Tapi tempat pulang yang entah di manapun keberadaannya kita ada. Meski mungkin, bentuknya lagi-lagi tak abadi. []