Untuk apa terus berusaha kalau dilupakan juga?
Kamu pernah bilang bahwa hidup mestinya berjalan selaras. Mengenai apa yang kita mau, apa yang kita usahakan, pun apa yang akhirnya kita dapatkan berusaha saja semampunya.berusaha saja sebisanya karena manusia paling lihai mengecewakan_ itu katamu, dan aku menarik simpul setuju
Aku pernah melihat sebuah kepergian yang ditangisi banyak orang. Banyak lalu-lalang orang yang datang, beberapa membawa bunga yang diikat erat sampai batangnya menangis penuh sesak. Langit berduka, manusia berduka. Kita semua terluka.
Tapi, hidup tetap berjalan. Manusia memang tidak punya tenggat waktu untuk mengakhiri kesedihan, tapi dunia tidak pernah mau menolerir meski jiwa manusia sudah berbentuk pecah belah. Orang-orang yang bersedih dipaksa berdiri, beberapa orang bahkan perlahan melupakan proses dukanya kemarin sore.
Hidup tetap berjalan; maka pada akhirnya kita dilupakan.
Orang-orang yang bersedih mulai melanjutkan kehidupannya. Mereka mulai beraktivitas; beberapa mulai menerima kepulangan seseorang yang satu bulan lalu ditangisinya, beberapa pura-pura lupa supaya dianggap hidupnya baik-baik saja.
"Pada akhirnya, manusia akan dilupakan. Beberapa kali diingat ketika ada waktu yang tepat, dikenang dalam ingatan. Karena yang sudah pergi, menetapnya pindah ke dalam hati."
"Lalu, kenapa manusia tetap berusaha kalau pada akhirnya dilupakan juga?"
"Agar dilupakan dengan baik," katamu serius. "Supaya waktu datang tanggal pengingatnya, orang-orang bisa mengenang kepergian kita dengan hal-hal baik. Meski terluka, setidaknya ada satu kepergian yang bisa dilepaskan manusia dengan perasaan baik."
Nggak apa-apa, Kak. Berduka tidak punya tenggat waktu. Penuhi semua rasa sedih kamu, aku di sini akan temani sampai kamu mampu untuk kembali jalan. Nggak apa-apa. []