Bagaskara bersinar terik di siang ini. Kulitku terbakar oleh panas nya, tapi ada yang lebih panas. Hatiku, dan apa yang ada di depan ku sekarang.
Ayahku, pemimpin keluarga kami, baru saja tewas terkena bom yang dikirim oleh tentara Israel yang sangat bejat. Membuat api dendam menyala di dalam hatiku.
Kenapa? KENAPA KALIAN BEGITU BEJAT, BEGITU JAHAT MEMUSNAHKAN SEMUA NYA?!?!. Wahai Tuhan, ibuku terkulai lunglai di sampingku, menatap anala yang membakar tubuh ayahku beserta manusia lainnya hidup-hidup.
Tangan ibuku berusaha meraih tangan ku. Aku tak kuasa melihat ibu ku, aku hanya bisa mengadah ke atas, melihat kelabu di tempat tinggal ku ini, tidak bisa berharap apapun lagi.
Orang-orang di sekitar ku mulai kalang kabut mencoba menjauh dari tempat ledakan. Tapi kakiku keburu lemas.
Ibuku berhasil meraih tangan ku, menggenggam nya. Aku berjongkok agar bisa melihat wajah ibu ku dengan jelas. Oh tuhan, lihatlah wajah orang yang ku sayangi ini...wajah lelah, wajah kehilangan, bercampur aduk menjadi satu. Wajahnya kini memang tidak lah semulus dulu, tidak lah se bahagia dulu, tapi di mataku wajah ibuku selalu bercahaya, tapi untuk kali ini cahaya di wajahnya menghilang sepenuhnya.
Bagaimana tidak? Israel baru saja merenggut nyawa 'separuh jiwa' nya?. Tangan ibuku bergetar mengelus tanganku, linang air mata mulai terlihat di kelopak matanya.
"Chiraz...bapak sudah tiada..". Hatiku tak kuasa mendengar suara penuh pilu seperti itu. Suara sendu dan penuh isak mulai keluar dari mulut ibu ku. Aku bisa apa?.
Yang bisa ku lakukan sekarang hanyalah memeluk ibu ku dan membawa nya pergi dari sini. Mencari tempat pengungsian baru... meninggalkan bapak, meninggalkan bapak yang tengah terpanggang di sana.
...
Aku berhasil menemukan tempat bagus untuk berteduh. Tidak bagus sih..hanya sekedar bekas kandang hewan..tapi setidaknya bisa dipakai untuk istirahat sejenak dari rutinitas keseharian yang melelahkan dan penuh pilu ini.
Nabastala sudah menunjukkan gelap nya sedari tadi. Namun ibuku..hanya bisa terpojok..duduk disana dengan penuh lara. Menatap lintang di langit.
Aku duduk di samping nya, ibu sadar dan menoleh ke arah ku. Matanya masih sedih. Tangan ibuku mengelus pipi ku dan memperbaiki kudung ku yang sudah sobek.
"nak..."
"iya.. ibu?"
Ibu ku tersenyum, tapi bukan senyuman senang atau bahagia. Senyuman getir.
"Ibu...akan selalu melindungi mu, InsyaAllah"
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki. Aku bingung dan refleks berdiri, ku panjang kan leher ku untuk memastikan suara itu dari mana. Namun naas, suara itu makin mendekat.
Terdengar suara tembakan menghujam tubuh seekor sapi, sehingga membuat suara sapi itu melengking di udara. Peluru itu menembus kulit,daging hingga ke organ sapi itu.
Gelap gulita membuat ku bingung harus apa, tapi ibuku lantas menarik tangan ku dan bersembunyi di balik reruntuhan bangunan.
Nafasnya menderu, aku duduk di pelukan nya. Tangannya mendekap ke mulutku.
"jangan berisik nak.."
Bisik ibu ku, aku mengangguk kuat-kuat. Jantung ku berdegup kencang.
Suara derap kaki itu makin mendekat, dan terdengar lah suara berat dan lantang dari manusia-manusia bejat.
"KALIAN DIMANA, KAMI TAHU KALIAN ADA DISINI! KELUAR LAH PARA KETURUNAN ADAM!"
Hatiku mengucapkan istighfar berkali-kali. Bisa-bisa nya mereka menyebut nabi kami dengan cara tidak santun seperti itu?!?!
"sepertinya tidak ada orang disini..mari kita ledakkan saja tempat ini"
"setuju"
Perbincangan mereka membuat ibuku langsung menarik tangan ku dan berlari menjauhi tempat itu.
Namun sayang, salah satu dari mereka sadar. Mereka berteriak.
"HEY, ADA ORANG DISANA!"
Salah satu dari mereka mengambil tumpukan batu bata dan melemparnya. Waktu seketika berjalan lambat bagi ibuku. Dia...dia langsung memeluk ku dari belakang dan melindungi kepala ku. Dan batu bata itu tepat mengenai kepala ibuku.
Ibuku jatuh begitu saja, kepala nya bocor hingga cairan merah itu tampak menyembur dan membasahi tudung putih ibuku.
"IBU!"
Aku menggoyangkan-goyangkan tubuh ibuku. Aku berteriak memanggil nama nya tapi dia tidak merespon. Ibu sudah tiada.
Salah satu prajurit menodongkan pistol ke kepala ku.
"mundur nona..kami akan ledakkan tempat ini, jika tidak mau mati pergilah dari sini"
Aku mengepalkan tanganku, aku berdiri dan menatap tajam prajurit itu.
"BEJAT! DASAR KALIAN-"
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku, itu penduduk sekitar sini.
"ayo pergi anakku, ini berbahaya"
"t-tapi.."
"AYO"
Bibi itu menarik tangan ku. Dan aku dibawa pergi oleh rombongan penduduk setempat. Meninggalkan ibuku, meninggalkan ibuku yang mati berdarah-darah disana.
...
Bagaskara mulai menyinari dunia lagi, kami akhirnya sampai ke suatu tempat setelah berehat di pelataran.
Sungguh aku tidak sama sekali tidur, memejamkan mata ku pun tidak. Jika aku memejamkan mataku yang kulihat hanyalah pemandangan mengenaskan ibu dan ayahku. Aku menghabiskan malam dengan hanya memojokkan diri. Sungguh,aku tidak menangis.
Kami tiba di salah satu wilayah, kata seorang penduduk setempat ini kampung halamannya. Tapi..bukan tempat tinggal yang kami lihat, bukan rumah, bukan taman. Melainkan hanyalah bongkahan bangunan dan para manusia-manusia bejat yang berjaga di wilayah itu.
Mereka melihat kami dan salah seorang dari mereka berteriak.
"HEY APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI, INI WILAYAH MILIK ISRAEL, PERGI SANA"
Rombongan ku berbisik-bisik, aku mengangkat satu alisku. Cih, milik Israel katanya?
Tubuhku bergerak sendiri mendekati barisan manusia-manusia bejat yang mengepung wilayah itu. Tanpa gentar, tanpa rasa takut, yang tersisa hanyalah rasa dendam dan amarah yang membara. Mengukung dan sangat menyiksa hati.
Aku menatap mereka dengan tatapan amarah, salah satu dari mereka maju ke hadapan ku.
"Hey nona, apakah kau tuli? Menjauh lah dari sini, wilayah ini milik Israel"
Aku mendecih. "Milik Israel? Bukannya lebih tepatnya milik kalian para orang-orang kafir?!"
Rombongan ku terkejut dan salah satu dari mereka membujuk ku untuk mundur saja tapi aku memberi kode untuk tidak ikut campur.
"maksud mu apa? mundur atau-"
"ATAU APA?!?! KALIAN SUDAH MEMBUNUH IBUKU, MEMBUNUH AYAHKU, MEMBUNUH ORANG-ORANG TIDAK BERSALAH, DAN BAHKAN MEREBUT WILAYAH KAMI?!"
Prajurit itu menodongkan pistol tepat di dahiku, bersiap menarik pelatuk jika aku masih bicara lagi. Tapi,aku belum puas.
"DASAR YAHUDI-"
Prajurit itu menarik pelatuk nya.Peluru itu menembus kepala ku. Pusing, pening. Energi ku seketika terkuras dan aku terjatuh begitu saja.
Kepala ku menghujam tanah.Dan membuat tanah basah akibat darah segar yang keluar dari kepala ku.
Tamat sudah riwayat ku. Tapi.. setidaknya aku sudah menyuarakan suara ku kan?. Setidaknya aku telah membela orang-orang kan?. Lagipula nasib ku sama dengan ribuan orang kan?. Setidaknya aku sudah berbuat sesuatu, hingga mati ku tak akan sia-sia.
Ayah, ibu, Chiraz rindu...chiraz menyusul kalian... Chiraz datang.