Aku tidak mencintaimu, begitu tukas Brian berulang-ulang. Suara Brian tak pernah bergetar saat menyuarakannya. Monica tak mendengar hesitansi apa pun menyelip, namun secara visual ia menangkapnya melekat di mata merah Brian. Keraguan yang seakan ditusukkan dalam-dalam pada tatapan itu. Monica melihat pupil serupa darah Brian bergerak-gerak gelisah, selagi bibirnya sibuk melafalkan afirmasi yang lebih menyerupai sugesti, lalu ada gurat melankolis mengambang pada lensa netra.
Monica mengangguk saja, berkata aku juga tidak mencintaimu, kemudian mereka berdua tersenyum. (Berpura-pura) lega. Tapi mereka masih membiarkan jemari mereka saling terjalin, bertukar kecupan-kecupan singkat di dahi dan pipi, kemudian mengulang deklarasi yang sama.
Aku tidak mencintaimu.
Monica tak pernah berniat mengubah apa pun, tak pernah berusaha menghapus kata tidak, tak pernah berusaha membuat Brian menarik dagunya dan bibir mereka bertemu; tidak pernah. Lagi pula Brian punya Desy dan Monica punya Kristoff—cukup sebutkan nama mereka dalam benak dan secara ajaib akan ada ngarai terbentang di antara mereka. Jurang-jurang yang terbentuk dari kata-kata aku tidak mencintaimu, dari Brian yang berpaling tiap kali lampu jalan berkaca pada lipgloss merah muda Monica, dari Monica yang memilih untuk mengikuti alur.
Aku tidak mencintaimu.
Sampai suatu hari, Brian mati.
Terkadang Monica masih merasa bibir Brian yang mengecup dahinya di bandara selepas ia pulang dari berkuliah di Inggris. Terkadang Monica masih merasa tangan Brian yang merengkuh tubuh rampingnya sambil merapalkan kalimat aku (tidak) merindukanmu, aku (tidak pernah) merindukanmu—kadang Monica masih merasa sosok Brian bersembunyi di dalam figur berambut zamrud yang bertitel kekasih sahnya. Bahkan sebelum Brian mati pun, perasaan Monica sudah demikian. Kian mengental sejak Brian yang nyata tak pernah menyentuhnya lagi.
Yang menemukan jasad Brian adalah penjaga sekolah yang selalu datang paling pagi. Brian mengenakan jaket yang kerap ia lingkarkan pada tubuh Monica saat cuaca terlampau dingin. Tubuh tak bernyawa itu nyaris terkubur salju, menyisakan helai-helai perak yang mencuat dan membuat pria paruh baya itu curiga. Karena jeritan refleksnya, beberapa orang yang kebetulan datang pun berkerumun, sebagian memanggil polisi, sebagian kembali lari ketakutan, sebagian terduduk dan menangis tersedu-sedu.
Monica termasuk yang terlambat tahu. Ia selalu dilanda kemalasan berlebih tiap kali salju turun dan kewajiban pergi ke sekolah masih membebaninya. Monica datang paling akhir, saat kelasnya sudah begitu ricuh, saat bangku yang kosong tinggal milik Monica dan milik Brian. Monica dan Brian tak pernah terlihat dekat (kecuali jika ada yang memergoki mereka berpelukan di samping lampu taman, beruntungnya tidak pernah ada), sehingga tidak ada yang berinisiatif memeluk Monica erat-erat dan mengucapkan kalimat-kalimat penguat.
Monica tak berkata apa-apa saat Kristoff menunjukkan foto (yang entah siapa tega memotretnya) wajah Brian yang tak lagi bernyawa. Monica tak mengatakan apa-apa saat foto setengah blur itu berada tepat di depan wajahnya, sementara Kristoff heboh menjelaskan ini-itu dengan mata berkaca-kaca. Kristoff pernah menyukai Brian, tapi itu detail tidak penting.
Monica tetap diam sampai akhirnya air mata meleleh tak terkendali di pertengahan hari.
Mereka sama-sama menikmati menjadi pendusta, sampai-sampai kematian Brian sendiri dianggap dusta oleh Monica.
Tiap kali salju turun dan Monica tak sengaja menyaksikan gundukan salju di suatu tempat, secara otomatis dalam kepalanya terputar jangan-jangan ada jenazah di sana. Bahkan saat ia menikmati cokelat panas bersama Kristoff, matanya menerawang melewati kaca berembun dan terhenti pada tumpukan salju yang seperseribu bagiannya sesekali ditiup angin.
Monica lupa berapa lama waktu terlewat sejak kematian Brian, namun ia masih merasa Brian akan datang jika ia menunggu di samping lampu taman. Brian akan melingkarkan tangan di pinggang Monica sembari mengingatkan bahwa ia tak mencintai Monica. Hingga saat ini, jika ruang memorinya memaksa untuk mencabut satu saja kenangan tentang Brian, Monica masih berusaha membisikkan tapi aku tidak mencintaimu.
Lantas, kalau aku tidak mencintaimu, kenapa sampai sekarang aku masih begini?
Dalam foto itu, Brian terlihat begitu berduka. Dan Monica yakin Desy tak mengerti.
Meski kabur, Monica tahu benar ada polesan nestapa yang begitu kentara di wajah matinya, hingga Monica merasa ada air mata yang membeku di pipinya yang pucat dan tersapu salju. Kematian Brian menjadi misteri selama beberapa hari. Kesimpulan akhir berkata Brian bunuh diri dengan menjatuhkan tubuhnya dari atap sekolah, tertimbun hujan salju semalaman.
Monica mendengar kasak-kusuk dari kelas di kanan kiri; tentang Brian yang selalu terlihat ceria, tentang Brian yang selalu tertawa, tentang Brian yang terlihat hidup bebas tanpa memiliki beban—jadi bagaimana bisa Brian bunuh diri? Lalu ada Desy dan komplotan populernya. Terkadang Monica melihat Desy menangis di bawah pohon, sementara teman-temannya memeluk Desy.
Monica mendengar jelas; Brian mencintaimu sampai akhir, Des. Kau satu-satunya gadis di hati Brian sampai ujung hidupnya. Lalu Desy akan menangis semakin keras, berkata ia bersyukur memiliki Brian, bersyukur pernah dicintai Brian, meski ia tak pernah tahu mengapa Brian bunuh diri.
Refleks, Monica menyentuh pipinya, kemudian dahinya, kemudian berusaha melepaskan sensasi tangan fana yang memeluk pinggangnya.
Ya, ya, Desy benar, pikirnya. Brian kan, tidak pernah mencintaiku.
Satu kali, Monica bertanya, apakah Brian pernah mencium Desy tepat di bibir.
Brian tertawa hambar, berkata tentu saja dengan nada bangga yang dibuat-buat. Saat itu mereka diam-diam bertemu di kafe yang sepi. Menyewa tempat duduk di pojok ruangan yang nyaris tak terlihat dan tak akan menjadi pusat atensi. Monica ikut tersenyum seiring dengan tawa Brian, melahap seiris kue stroberi yang entah mengapa mendadak terasa pahit.
Brian bertanya balik apakah Kristoff pernah mencium Monica, dan Monica menggeleng jujur.
Simpan itu untuk pernikahan nanti, demikian jawaban Monica hari itu. Dan ia ragu kepada siapa harapan ciuman pertamanya ia gantungkan.
Pada Kristoff, kekasih yang dipilihkan orang tuanya, barangkali?
Kalau Brian tidak mungkin. Toh, aku tidak mencintainya. Dan dia tidak mencintaiku.
Aku tidak mencintaimu.
Satu kecupan dingin di pipi Monica, beberapa detik mata mereka berjumpa, dan Monica mulai menilai Brian berbohong—
Jadi kenapa kau tidak memutuskan Desy dan menembak ku saja, Brian sialan.
Mana mungkin Monica mengutarakan itu? Lagi pula orang tuanya benar-benar menyusun segalanya mengenai ia dan Kristoff dengan begitu detail.
Ah, Brian. Karena itu kah?
Brian tak pernah mengutarakan apa pun soal ingin mati, namun terkadang Monica merasa ada kehampaan dalam tiap ucapan Brian, ada kekosongan yang tak mampu Monica isi dengan apa pun. Brian tak pernah menceritakan apa pun soal harapan, soal masa depan, soal rencana-rencana di waktu yang akan datang.
Sekalipun Monica pernah mengoceh soal betapa inginnya ia kuliah di luar negeri dan menjadi patissier yang namanya akan mengguncang dunia. Brian hanya menanggapi dengan senyuman disertai doa-doa tulus untuk Monica, tapi tak pernah ada kisah soal masa depan Brian.
Monica kira Brian hanya tipe yang membiarkan hidupnya mengikuti arus, pasrah akan segalanya karena barangkali yakin Tuhan telah mengatur segalanya. Meski kadang Monica tidak yakin Brian adalah tipe sereligius itu, entahlah. Monica tak pernah berpikiran negatif. Toh selama ini ia melihat Brian hidup baik-baik saja, normal-normal saja (kecuali jika hubungan aku-tidak-mencintaimu mereka dihitung sebagai sesuatu yang tidak baik dan tidak normal).
Tapi pada satu waktu Brian mendatanginya di tengah hujan musim gugur, kuyup dan lupa membawa payung. Sejatinya mereka hanya tak sengaja bertemu di bawah pohon yang menggugurkan daun-daunnya. Tiba-tiba Brian memeluk Monica erat-erat, hingga payung di genggaman nyaris terbang bersama angin. Monica tak mengerti sampai Brian berbisik di telinga Monica. Napas Brian yang harusnya hangat terasa beku di telinga.
Hari ini ibuku meninggal, itu saja yang ia katakan. Lalu ada isakan yang tak pernah bisa Monica lupakan.
Monica tak pernah tahu bahwa ada sisi serapuh ini dalam sosok Brian.
Kristoff pernah menatapnya dalam-dalam, menggenggam tangan Monica erat-erat hingga cincin mereka bergesekan, dan hati Monica teriris. Ia tak pernah menginginkan cincin pertunangan itu. Hatinya kosong saat semua hadirin bertepuk tangan—hingga ada yang melepas air mata haru seolah ini adalah pernikahan—saat Kristoff memasangkan cincin itu pada jari manisnya. Tak ada rasa haru yang Monica rasakan. Kalaupun ada air mata yang mengalir, itu pun karena Monica ingin berlari jauh-jauh dari tempat ini, barangkali mengguncang batu nisan Brian dan memakinya agar hidup lagi.
Kenapa? Aku 'kan tidak mencintainya.
Terima kasih, Kristoff mengatakan itu berkali-kali dan Monica tidak peduli untuk menghitung. Seperti sebelum-sebelumnya, Monica hanya mengerlingkan mata sambil memaksakan senyum, bertanya untuk apa. Kristoff akan memberi variasi jawaban, mulai dari terima kasih atas syal hadiah darimu sampai terima kasih sudah ada untukku.
Kali ini jawaban Kristoff adalah terima kasih sudah memberiku waktu-waktu terbaik dalam hidup.
Monica menatapnya tak mengerti, mengapa jawaban Kristoff kali ini terlampau dalam, karena mulanya Monica menyangka Kristoff akan mengatakan terima kasih sudah tidak datang terlambat. Kristoff begitu menyukai kata-kata terima kasih sampai hal kecil pun tak luput ia apresiasi, dan Monica tidak mengerti.
Terima kasih sudah memberiku pelukan terbaik,Kristoff melanjutkan. Rangkaian kalimatnya berlanjut dengan kecupan dahi terbaik, tatapan terbaik, kehangatan terbaik, dan setiap rinciannya menyayat hati Monica. Kristoff seharusnya mengatakan ini pada orang lain. Kristoff seharusnya mengatakan ini pada seseorang yang lebih pantas. Di luar sana banyak gadis yang lebih pantas mendapat calon pewaris perusahaan kaya seperti Kristoff. Bahkan di mata Monica, Kristoff sudah pantas bersanding dengan wajah-wajah ayu yang kerap berlalu-lalang di televisi. Bukan Monica. Sama sekali bukan dirinya.
Monica tak mengerti mengapa Kristoff begitu bahagia berada bersamanya. Mengapa Kristoff begitu mencintainya. Mengapa Kristoff berpikir Monica juga sama mencintainya.
Jadi mengapa jawaban Kristoff terlalu dalam kali ini?
Monica melirik titik cahaya yang jatuh pada cincinnya. Lalu senyum Kristoff yang berseri-seri. Ah, benar. Seminggu lagi mereka akan menikah.
Belakangan setelah kejadian pelukan tiba-tiba dari Brian di bawah hujan musim gugur, Brian bercerita sepatah-sepatah. Tak lengkap, tak kronologis. Cerita Brian kadang menyelip sepotong di antara candaan-candaan mereka, lalu Brian berkata lupakan dan memaksa Monica mengganti topik. Beberapa hari setelahnya sekeping cerita keluar lagi, seolah tak sengaja, dan lagi-lagi Brian berkata lupakan. Monica harus menyusun kepingan-kepingan puzzle terlebih dahulu sebelum akhirnya memahami semuanya.
Saat Monica menarik konklusi, ia mengerti adik perempuan Brian mati bunuh diri. Terjun dari jembatan penyeberangan dan tubuhnya hancur digilas truk raksasa. Masalahnya apa, Brian tidak memberi tahu dan Monica tidak mencari tahu. Ibunya menjadi sakit-sakitan dan pada akhirnya menyusul sang putri. Ayahnya sudah pergi entah ke mana sebelum adik perempuan Brian mengakhiri hayat.
Monica ingin berkata, Brian, kau tidak sendirian, ada aku, ada aku untukmu. Tapi telepon dari Desy memotong kalimat yang sudah siap menggantung di ujung lidah, dan tangan Brian yang semula ada di genggaman Monica terlepas. Jam berikutnya Monica menyaksikan Brian tertawa bersama Desy. Tertawa lepas seolah semuanya hanya mimpi buruk atau imajinasi Monica belaka.
Maka Monica mengurungkan diri, memilih untuk mundur, barangkali Desy lebih pandai membuatnya bahagia.
Mengapa Brian bunuh diri, padahal hidupnya dipenuhi kebahagiaan? Kapten basket kebanggaan sekolah, prestasi menumpuk hingga piala-piala atas nama Brian sudah malas ku hitung. Populer, banyak teman. Untuk apa dia bunuh diri?
Monica mendengar kalimat itu diucapkan Desy dan kawan-kawannya, dan Monica tahu Desy tak pernah mengerti apa-apa.
Kenapa kalian tidak ikut mati saja, betapa inginnya Monica meneriakkan itu di wajah mereka.
Aku tidak mencintaimu.
Terakhir kalinya Brian mengucapkan itu adalah beberapa jam sebelum ia mati, di depan pohon natal yang berkelip-kelip dan wajahnya setengah tersembunyi di balik syal. Monica tidak tahu mengapa ia menuruti Brian untuk bertemu di tengah kota, sementara potensi untuk ketahuan dan gosip Brian dan Monica berselingkuh akan menyebar dengan luas. Monica tidak tahu mengapa Brian memutuskan untuk menghabiskan malam natal bersamanya (yang kemudian ia sadari bahwa Brian telah memutuskan itu adalah malam natal terakhirnya).
Dan saat itu Brian menurunkan syalnya, mencium Monica tepat di bibir, membisikkan kata-kata aku tidak mencintaimu. Monica tak sempat menjawab apa-apa saat Brian melepaskan kecupan singkatnya, menambahkan kata seharusnya, lalu pergi ditelan guguran salju. Meninggalkan Monica yang terpaku.
Monica selalu menginginkan ciuman pertamanya adalah di altar pernikahan. Dengan orang yang ia inginkan. Karena ia tahu akan ada ciuman yang terasa manis, ada ciuman yang terlampau pahit hingga merasakan sensasi fananya pun dia tak akan sudi.
Malam itu, Monica mendapatkan tipe ciuman yang kedua.
(Dan esok harinya, Brian mati).
Barangkali ini adalah terakhir kalinya Monica meletakkan bunga di depan batu nisan Brian. Setelah ini pesawat akan membawanya terbang ke benua lain, menjalani hidup sebagai Monica Floris dan Monica berharap perasaannya ikut tertinggal bersama bunga yang ia tinggalkan.
Dan barangkali, ini juga akan menjadi terakhir kalinya Monica berdusta.
Aku tidak mencintaimu, Monica berbisik pada angin, pada gesekan ranting-ranting yang menjatuhkan salju, pada langit kelabu yang menangis. Menit berikutnya Monica menelan ludah. Memutuskan untuk mengakhiri segala dustanya dengan kejujuran terakhir.
Aku pernah mencintaimu. Atau, entahlah. Aku mencintaimu.
(dan aku tahu kau juga begitu).
҉THE ҉END ҉ ★