Ibu ….
Dulu hanya kupandang sebelah mata, hingga ia selalu mengerjakan segala sesuatu sendiri. Jika aku tau hal ini akan terjadi, aku pasti akan memperlakukannya dengan baik ….
***
Valsartan Saputra berusia 20 tahun sedang kebingungan, ia memandang sekitar tampak seperti kapal pecah. Suara teriakan memekakkan telinganya. Frustasi, dia memegang kepalanya, hendak menjambak rambutnya.
Sebelum ….
"Prang!"
Suara keras membuatnya tersadar, Vartan menuju asal suara dengan penuh pergulatan. Langkahnya terasa berat dan sulit. Sesampainya ia di ruang tamu, Vartan pun bertanya.
"Ada apa ini– …?" ucapnya terpotong karena kaget melihat keadaan di hadapannya.
Vartan kehabisan kata-kata. Terdengar bunyi 'cpak', Ikan menggelepar tak berdaya. Aquarium berlubang, membuat semua air dan penghuninya bebas.
"Duh! Anak-anak …." geram Vartan, tapi ia tak bisa membentak mereka.
Dia melihat dua anak kecil di dekat TKP. Mereka bahagia dan salah satunya membawa tongkat besi. Vartan memijat keningnya dan bertanya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya pada mereka.
"Kak Cilla," jawab gadis berusia 4 tahun itu dengan polosnya.
"Kenapa memecahkan Aquarium?" tanya Vartan sekali lagi.
"Karena Pak Ikan terperangkap di sana, jadi Cilla ingin membebaskannya." Cilla mengangkat tongkat besi kecil dengan bangga.
Vartan hanya bisa memegang dahinya. Ia kemudian berkata pada kedua anak tersebut.
"Dengar ya … Pak Ikan tidak terperangkap, tapi hidup di situ."
Namun kedua anak itu malah terlihat hendak menangis. Ia panik. Karena selama ini hanya mengurusi file kerjaan, bukan anak kecil. Melihat ikan, seketika dirinya mendapatkan ide.
"Sudah sudah … yuk kita tolong Pak Ikan," bujuk Vartan mendapat anggukan kecil dari mereka.
Dengan segera Vartan memberi tahu Cilla untuk mengambil ember plastik di dapur. Dia yang tidak mau anak-anak terkena pecahan kaca, berusaha untuk membersihkannya. Tetapi ia malah terpeleset.
"Aduh … Cilli, tolong ambilkan kain lap." Vartan mengaduh kesakitan.
Tanpa pikir panjang Cilli segera berlari untuk mengambil kain lap. Vartan merutuki dirinya, sudah susah berjalan sekarang celananya basah. Ia pun menghela nafas berat.
Tak lama Cilli kembali membawa kain lap, Vartan segera membersihkan air yang menggenang itu. Cilla pun membawa ember berisi air. Hampir 10 menit Louhan menggelepar.
"Mari kita selamatkan Pak Ikan!" ajak Vartan.
Mereka bersorak dan berhati-hati menangkap ikan. Tak lama, Cilla dan Cilli berhasil memasukkannya ke ember. Mereka berdua gembira atas tercapainya keberhasilan.
Buum!
Suara keras mengagetkan mereka bertiga, Vartan bergegas ke sana. Kertas berserakan serta dua anak laki-laki berusia 6 dan 7 bermain drum.
Buum bum!
Vartan merampas drum dari tangan mereka. Keduanya tersentak dan cemberut.
"Kembalikan!" seru anak berusia 7 tahun sambil menggembungkan pipinya.
Adiknya pun menirunya. Vartan hanya bisa menggeleng sambil menghela nafas. Dua anak itu berlarian mengelilingi ruangan, mereka kejar-kejaran sambil tertawa. Cilla dan Cilli yang mengikuti pemuda itu pun ikutan.
"Jangan berlarian seperti itu!" teguran Vartan tidak digubris.
Keempat anak kecil itu tetap berlarian, hingga salah satu terjatuh. Seketika semua berhenti bergerak, menunggu reaksi gadis kecil itu.
"Huwaaaa!"
Tangisan keras memekakkan telinganya, ia pun kebingungan menenangkan si kecil Cilli. Vartan mencoba untuk mengangkatnya, tapi tidak bisa. Pergerakannya terbatas. Jongkok tidak bisa, menunduk juga susah. Apalagi mengangkat seorang anak kecil. Vartan menggerutu, dirinya sama sekali tak berdaya.
Sampai ….
Kruyuuuk ….
Bunyi perut nyaring membuat Cilli berhenti menangis. Keempat anak itu memandang Vartan memelas.
"Laparrr!" seru sang gadis cilik diikuti ketiga anak lain.
"Kami laparrr!"
Vartan seketika panik, ia mengambil telepon genggamnya hendak menghubungi seseorang. Namun urung. Dia menggiring anak-anak menuju dapur.
"Iya. Mari kita makan ya," ucapnya pada keempat anak polos itu.
"Cilli nugget!"
"Cilla sosis!"
"Rino ayam goreng!"
"Reno sayuran!"
Mereka menatap Reno aneh. Vartan beranggapan bahwa itu bagus, sedangkan anak-anak lain menganggapnya jijik.
Di ruang makan, mereka segera duduk di kursi dan Vartan menelusuri dapur. Namun tak ia temukan. Hingga Reno bilang.
"Kalau di rumahku biasanya mereka diletakkan dalam kulkas, Paman."
"Betul juga. Terima kasih Reno," ujar Vartan sembari tersenyum dan menuju kulkas.
"Sama-sama Paman."
Setelah ditemukan, pria itu bergegas memasaknya. Selang beberapa menit, ia siap menyajikan makanan tersebut.
"Iiih …." ujar Cilla, Cilli dan Rino serentak.
"Wah! Tumis sayuran!" seru Reno dengan riang.
"Ayo dimakan!" ujar Vartan padanya sembari memberikan seporsi nasi+tumis sayuran pada mereka.
Reno dengan senang hati memakannya, ia terkejut karena mendapati sosis, ayam bercampur. Tak lupa juga nugget goreng yang ada di atasnya.
"Wah, enak! Ada sosis, ayam dan juga nugget-nya," ucapnya sambil mengunyah.
"Kalau makan jangan sambil bicara."
Teguran itu diabaikan Rino. Ketiga anak lain juga mencoba untuk makan.
"Hap!"
Ketiganya tersentak dengan rasa sayuran yang masih segar itu. Namun karena makanan kesukaannya juga ada di dalamnya, mereka pun memakannya lahap.
"Syukurlah mereka suka." Vartan menghela nafas lega sembari membatin.
Setelah makan, mereka bermain kemudian tidur siang. Vartan perlahan keluar dari kamar, mendapatkan sebuah panggilan masuk saat di luar ruangan. Segera ia lihat dan tampak 'Abang memanggil' di layarnya.
Setelah bercakap sebentar, pemuda itu segera mulai membersihkan kekacauan itu. Walau ia sampai menginjak ranjau kepingan loge hingga terpincang-pincang dan terduduk di sofa. Dia langsung menyandarkan tubuhnya dan memikirkan kejadian hari ini.
***
Ini semua dimulai saat pagi, di mana sebelumnya Vartan sudah menerima tantangan dengan mengejek.
"Halah! Menjaga anak-anak saja. Kecil, aku bisa kok."
"Oke, berarti kau sudah menerimanya," ujar seorang perempuan dengan nada berapi-api.
"Tentuuu."
"Asal kau tahu, tantangannya itu menjaga anak-anak selama sehari sambil cosplay ibu hamil besar!" balas perempuan itu menyeringai.
"B–baik, siapa takut? Gitu doang juga," ucap Vartan yang sudah kepalang basah.
Pagi itu juga Nea dibantu Neo memasangkan semangka 5 kg ke depan perut pemuda itu. Dan Ella dibawa kakaknya shopping.
"Selamat menjaga anak-anak ya."
***
Vartan pun menyesali perbuatannya selama ini. Dia lalu bangkit dan mulai beres-beres. Walau langkahnya terasa berat karena semangka, ia sudah tidak peduli dan menganggap ini untuk memahami istrinya.
Tapi ia sadar, itu tidak bisa disamakan dengan istrinya Ia mengandung 9 bulan dan tetap melakukan pekerjaan rumah, tapi tak pernah ia bantu. Vartan malah mengingat kalau dirinya hanya menambah kerjaan sang istri.
"Pantaslah Kakak Ipar marah seperti itu …." batinnya kemudian menghela nafas berat.
"Berat amat hidupmu?" celetuk sinis seseorang mengusik lamunan pria itu.
Seketika ia menoleh dan melihat Nea dan Ella. Sontak Vartan memasang wajah sok kerennya.
"Uhm … kok Kakak sama Ella dah pulang?"
"Sebenarnya aku nggak mau balik dulu, berhubung Ella khawatir anak-anak. Jadi kami segera balik," sindir Nea memutar matanya.
"Ella …."
"Dih!" Nea segera menyingkir.
"Maafkan aku, karena nggak pernah bantu kamu dan terlalu meremehkan perjuangan seorang Ibu."
"Heleh! Dah punya anak dua juga, masih aja mewek. Air mata buaya tuh."
"Sudahlah Kak, emang setelah ini kamu bakal bantuin aku?" tanya Ella pelan.
"Te–tentu!" balas Vartan.
Nea pun menasehati Vartan tanpa ampun. Sampai ….
"Assalamu'alaikum."
Sebuah suara lembut lelaki membuyarkan kegiatan itu. Nea seketika mendekati sang suami.
"Mas kok dah pulang? Katanya selesai malam." Nea memanyunkan bibirnya, cemberut karena sang suami dianggap berbohong.
"Nggak sayang, bukan begitu. Aku cuma khawatir sama anak-anak," ucapnya.
"Yuk pulang, jangan ganggu rumah orang!" Neo mengajak istrinya pulang, setelah mengangkat Reno dan Rino.
"Dah ya. Kalau ada apa-apa, cerita aja sama Kakak." Nea menggendong Reno dan berpamitan.
Meninggalkan Ella dan Vartan.
Sidoarjo, 25 Juni 2023
⌒(。・.・。)⌒