Perempuan sangat peka terhadap rasa cemburu.
Terutama bagi perempuan yang suka bersaing. Ketika mereka melihat perempuan lain lebih baik darinya, mereka akan merasa tertekan dan tidak puas. Mereka ingin melampaui orang lain dengan semangat yang membara untuk mengalahkan lawan.
Itulah awal mula perang antara aku dan Minako Gozali.
Oh, lupa memperkenalkan, Minako adalah atasan langsungku.
1
Perusahaan S terkenal di Borowali, dengan akun media sosial yang sudah memiliki jutaan pengikut, bahkan jumlah suka terhadap artikelnya pernah mencapai puluhan ribu. Aku bekerja di Perusahaan S setelah lulus, mulai dari menjadi anak magang, kini aku sudah bekerja selama satu setengah tahun. Aku sudah mengalami segala macam keadaan.
Semua itu menjadi daya tarik yang Perusahaan S berikan padaku usai aku meninggalkan perusahaan. Ketika hal itu dituliskan di CV, aku pun terlihat hebat.
Minako adalah satu-satunya orang yang tidak melihat kemampuanku.
Dia memintaku mulai bekerja dari posisi magang dengan gaji pokok lima juta.
Aku merasa kesal. Gaji lima juta sungguh merupakan penghinaan bagiku!
"Kalau kamu mencari gaji yang tinggi, kenapa kamu meninggalkan Perusahaan S? " Dia bersilang tangan, bersandar di kursi, dan tersenyum sambil bertanya demikian.
Dia menyerangku dengan kata-kata, sampai-sampai aku tidak bisa berkata apa pun karena marah.
Perusahaan S memang terlihat cemerlang dan menarik dari luar. Banyak orang ingin masuk ke perusahaan tersebut. Namun, di balik itu, ada sisi yang tidak diketahui oleh orang banyak. Persaingan di dalam perusahaan sangat sengit. Untuk merebut prestasi, para pimpinan dua departemen bisa saling menghardik di dalam ruang kerja, apalagi di balik layar, mereka bisa saling menjatuhkan dan melaporkan satu sama lain.
Atasan yang mengajakku masuk ke perusahaan tersebut terjerat dalam masalah dalam suatu kesempatan. Dia membuat kesalahan besar dan menjadi sorotan di media sosial. Akibatnya, dia terpaksa mengundurkan diri dan aku pun harus meninggalkan perusahaan tersebut.
2
Minako masih terus berbicara panjang lebar mengenai situasi perusahaannya. "Perusahaan kami sangat berpotensi berkembang di seluruh industri. Akun media sosial perusahaan kami sudah masuk dalam tiga besar di industri ini. Kami berambisi untuk menjadi yang pertama di industri tahun depan."
Sambil mengamati lingkungan dalam ruangan kantor, sejujurnya aku tidak percaya pada perkataannya.
Area kerja semua dipenuhi di sudut ruangan. Di dalam bilik sempit, setiap orang tengah bekerja sambil menundukkan kepala.
Setelah keluar dari perusahaan Minako, aku sudah mencoba melamar di beberapa perusahaan lain, tetapi tidak ada yang cocok.
Saat itu, aku mendapatkan telepon dari HR perusahaan Minako, "Nona Febby, setelah pertimbangan dari pimpinan perusahaan, kami memutuskan untuk menaikkan gajimu sebesar satu juta. Harap pertimbangkan kembali."
Aku melihat informasi lowongan pekerjaan yang sudah aku lihat berulang kali di situs pencarian kerja. Posisi-posisi yang terlihat menjanjikan, sudah kulamar dan ternyata tidak ada ruang perkembangan yang besar. Posisi-posisi yang tidak menjanjikan, sudah kulamar dan mereka hanya ingin menipu uangku dengan dalih menawarkan lowongan pekerjaan.
Aku terpaksa menerima pekerjaan bergaji lima juta itu. Sejak itu, aku selalu merasakan perasaan rendah diri dan murah di hadapan Minako. Kebanggaanku sebagai mantan karyawan Perusahaan S sudah pupus di hari pertama aku bergabung di sini. Itu sama sekali tidak berpengaruh dalam kehidupanku.
3
Perusahaan tempat aku bekerja bergelut dalam bisnis batu permata. Ini adalah industri yang sebelumnya tidak pernah aku kenal.
Namun, yang menyenangkan adalah pekerjaanku masih sama seperti sebelumnya, yaitu mengoperasikan akun media sosial perusahaan.
Minako adalah atasan langsungku. Pekerjaannya sama sepertiku, yaitu menulis artikel untuk akun media sosial perusahaan yang berisi pengetahuan terkait industri.
Setiap harinya, aku harus menyerahkan tulisan yang sudah aku selesaikan untuk ditinjau olehnya, bahkan saat akhir pekan.
Hari liburku hampir sepenuhnya digunakan untuk lembur di perusahaan. Namun, gaji yang aku terima sangat kecil. Hal ini membuatku sangat tidak puas.
Sebuah artikel yang indah akan berubah total menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda setiap kali ditinjau oleh Minako. Layaknya seekor merak yang indah dengan bulu-bulu yang berwarna gemerlap, tiba-tiba dicabut bulu ekornya oleh Minako dan berubah menjadi seekor ayam.
Aku meragukan kemampuannya, lalu keraguan itu berubah menjadi perasaan benci.
Setelah bekerja hampir satu bulan, perasaan benci itu akhirnya meledak dalam konflik dengan Minako.
Itu terjadi saat akhir pekan. Aku pergi bersama sahabatku untuk makan malam dan bersenang-senang. Aku baru pulang sekitar pukul 22.00. Setelah pulang, aku baru sadar bahwa aku belum mengunggah artikel di akun perusahaan pada hari itu. Dengan terburu-buru, aku menyalin artikel dari sana-sini dan menjadikannya sebuah artikel.
Aku menambahkan beberapa gambar yang aku temukan di internet. Unggahan itu pun akhirnya selesai pada kira-kira pukul 23.00 malam, tepat sebelum hari berakhir.
"Aku bisa mengerti kalau kamu punya urusan, tapi sikap kerjamu tidak pernah memenuhi standar yang benar. Ketika ada masalah, apa kamu selalu mencari alasan urusan pribadi untuk menghindar?" Suaranya terdengar makin galak.
"Apa kamu tahu kalung berlian pada gambar yang kamu lampirkan itu palsu?"
Kalung berlian itu palsu?
"Kamu merasa gaji lima juta per bulan itu sangat tidak adil, 'kan? Tapi, menurutku, kamu bahkan tidak pantas menerimanya! Lihatlah seberapa tinggi jumlah pembacaanmu selama hampir sebulan ini. Saat aku mengelola dua akun sekaligus, jumlah pembacaan pada akun kecilku bahkan melampaui jumlahmu sekarang. Apa kamu pernah melihatnya?"
"Apakah kamu belum puas memarahiku?" Aku terbawa emosi oleh umpatan-umpatan yang dilontarkan padaku. Seluruh darahku sedang mendidih karena emosi. "Kalau aku tidak bisa menciptakan nilai yang setara dengan lima juta, aku akan mengundurkan diri. Oke?"
"Baiklah, mulai besok jangan lagi datang bekerja," ucapnya dengan dingin.
4
Aku berguling-guling di atas tempat tidur dan tidak bisa tidur saking kesalnya. Di antara kekesalanku, aku mulai khawatir dengan nasibku di masa depan. Kalau aku berhenti bekerja sekarang, aku harus memulai mencari pekerjaan dari awal lagi. Namun, aku telah mencari tahu peluang pekerjaan di Kota Z bulan lalu. Aku tidak akan dapat menemukan pekerjaan yang sesuai. Sisa tabunganku setelah membayar sewa satu tahun pun hampir habis.
Pada saat itu, ada suara di dalam hatiku yang mencoba meyakinkanku untuk tunduk pada Minako. Masalah ini memang disebabkan oleh kesalahanku sendiri. Kalau kamu kehilangan pekerjaan karena masalah ini, itu adalah kerugian yang tidak sepatutnya. Jika kamu tidak emosi, ada baiknya mencari cara lain untuk menyerang Minako, misalnya mengungguli dia dalam kemampuan dan menggantikan posisinya.
Saat aku memikirkan untuk menggantikan posisi Minako dan membalasnya dengan cara seperti itu, darahku pun menjadi bergelora. Aku menjadi sangat bersemangat.
5
Minako akhirnya tidak memecatku.
Perusahaan saat ini sedang mengalami ekspansi yang pesat. Mereka membutuhkan orang-orang seperti aku yang memiliki pengalaman media dan pernah bekerja di kota-kota utama.
Setelah pertengkaran itu, kami secara diam-diam berdamai.
Kegelisahanku untuk menggantikan Minako menjadi makin kuat.
Setelah bekerja selama hampir dua bulan di perusahaan ini, aku baru menyadari bahwa Minako adalah salah satu pendiri perusahaan ini.
Di masa lalu, dia adalah jurnalis utama di surat kabar Kota Z, yang pernah mewawancarai banyak tokoh yang luar biasa. Dia sangat terkenal di Kota Z dan menulis banyak artikel yang terkenal.
Setelah kaget, aku pun merasa sedikit tertekan.
Menurutku, aku mungkin tidak akan bisa mengalahkan Minako.
"Kak Minako memiliki bakat yang luar biasa. Siapa sangka pada waktu itu dia sudah mulai merintis kantor media sosial. Pada saat itu, dia bekerja sepuluh kali lipat dari kekuatannya sendiri dan tetap menulis di media sosial. Dia tidur kurang dari empat jam sehari. Sekarang, akun media sosial perusahaan kita sangat terkenal di industri ini. Perusahaan lain baru menyadari pentingnya media sosial, tapi tampaknya sudah terlambat. Akun media sosial adalah jendela perusahaan kita untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Banyak pelanggan mungkin belum pernah mendengar nama perusahaan kita, tapi mereka mengikuti akun media sosial kita. Banyak klien yang adalah penggemar setia akun media sosial kita. Mereka merasa bahwa kita memberikan pengetahuan yang sangat profesional dan sangat memercayai kita."