Seorang anak nakal mengalami luka serius.
Keluarganya berlutut di hadapanku sambil menangis dan memohon.
"Dokter Clarissa, tolong selamatkan dia. Dia hanya anak-anak!"
Aku dengan dingin menunjukkan bekas luka yang mengerikan di pergelangan tanganku.
"Apa kamu sudah lupa?"
"Tanganku tidak bisa menyelamatkan siapa pun lagi."
Aku tidak menyangka. Ternyata, niat baik menyelamatkan seorang anak nakal akan mengorbankan karirku sebagai seorang ahli bedah.
1
Menjelang malam tahun baru tahun lalu, aku harus mengganti tiket keretaku karena ada operasi mendadak di rumah sakit. Alhasil, suami dan putriku pulang ke kampung halaman terlebih dahulu, sedangkan aku berangkat satu hari kemudian.
Saat berjalan ke toilet, aku ditabrak dari belakang oleh seorang bocah laki-laki yang sedang berlarian di dalam gerbong kereta. Pinggangku terbentur wastafel yang berada di sebelah dan membuatku merasakan nyeri yang hebat.
Bocah laki-laki itu berusia sekitar delapan atau sembilan tahun. Ibunya mengikuti dia di belakang. Alih-alih meminta maaf karena membuatku terjatuh, ibunya justru menatapku dengan tajam.
Bocah laki-laki itu itu berbalik dengan ekspresi puas. Dia membuat ekspresi meledek di depanku sambil mengacungkan jari tengah.
"Para penumpang, mohon perhatian. Ada seorang penumpang di gerbong nomor empat yang terluka karena kecelakaan. Saat ini dia sangat membutuhkan pertolongan medis ...."
Aku buru-buru bergegas menuju gerbong sebelah.
Bocah yang membuat onar tersebut digendong oleh ibunya. Sang ibu dengan putus asa menjepit bagian tengah bibirnya. Akan tetapi, dia tetap tak bergerak dan tidak sadarkan diri.
"Aku seorang dokter."
Sebelum aku sempat menanyakan situasinya, keluarga itu dengan antusias menyeretku ke samping bocah tersebut.
"Dokter, tolong selamatkan anakku!"
Aku sudah membuat tebakan kasar dalam benakku. "Apa yang terjadi sebelumnya? Kenapa anak ini bisa pingsan?"
Seorang penumpang pria muda yang duduk di sebelahku angkat bicara.
"Bocah ini terjatuh setelah menginjak lengan kursi. Tapi, benturan itu tertahan sandaran kursi. Jadi, kepalanya mungkin tidak terbentur"
"Kemungkinan dia mengalami syok akut."
Diagnosis akurat dari pemuda ini mengindikasikan bahwa kemungkinan dia juga seorang dokter.
Anak tersebut mengalami kejadian tepat di depan matanya. Namun, entah kenapa dia tidak menolongnya.
Aku merasa aneh, tetapi tidak mengungkapkan pikiranku.
2
Sewaktu aku melakukan pertolongan pertama, petugas polisi kereta api berdiri di sampingku. Dia merekam seluruh proses tersebut dengan kamera yang terpasang di tubuhnya.
Meskipun aku telah mengambil tindakan darurat, aku tidak berani bersantai. Aku terus mengamati pernapasan dan detak jantung anak laki-laki tersebut.
Kalau ada tanda-tanda henti napas atau jantung, aku harus melakukan resusitasi jantung paru.
Baru saja aku bernapas lega, masinis berkata dengan sopan, "Mohon tunjukkan kartu lisensi medismu."
Aku menjawab sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak membawanya."
Pada saat itu, nenek anak tersebut bangkit. Dia menatapku dengan tajam sambil mencengkeram pergelangan tanganku dengan kencang.
"Apa maksudmu? Dia bukan dokter?"
Cengkeramannya kuat sekali hingga pergelangan tanganku terasa sakit.
Begitu sampai di stasiun berikutnya, keluarga tersebut mulai membuat keributan. Mereka mencoba menyeretku turun dari kereta.
Penumpang lain di dalam gerbong tidak ada yang berani ikut campur. Mereka enggan membantuku karena takut mendapat masalah.
Hanya penumpang pria tadi yang meninggalkan nomor teleponnya.
"Kalau nanti kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku."
Aku sangat berterima kasih. Akhirnya aku mengerti mengapa dia hanya diam saja dan tidak menolong anak laki-laki tersebut.
3
Dokter Amanda yang merawatku kebetulan mengenalku. Dia mengerutkan keningnya.
"Dokter Clarissa? Apa yang terjadi?"
Aku langsung menjelaskan kepada Dokter Amanda. "Anak ini terjatuh dari lengan kursi kereta cepat. kemungkinan dia mengalami syok akibat rasa sakit dan ketakutan."
Aku juga melaporkan kepadanya tentang pertolongan darurat yang telah aku lakukan sebelumnya.
Ayah dari anak tersebut tidak tampak merasa bersalah karena sudah salah paham terhadapku. Dia justru menunjukkan wajah yang sangat arogan dan menatapku dengan bermusuhan.
Aku tidak mengharapkan rasa terima kasih dari keluarga ini. Namun, tuduhan palsu dari mereka benar-benar memuakkan.
"Baiklah, mari kita lapor polisi. Kejadian anakmu terjatuh dan mengalami syok, serta upayaku memberikan pertolongan pertama semuanya terekam. Biarkan polisi yang menentukan apakah aku harus bertanggung jawab!"
Begitu mereka mendengar aku akan melaporkan ke polisi, ekspresi keluarga itu berubah.
Beruntung, pada saat itu, anak itu siuman. Seluruh keluarga itu pun merasa terkejut dan bahagia.
Ibu anak itu mengusap air matanya dan mengucapkan terima kasih kepada Dokter Amanda. "Dokter, terima kasih, terima kasih."
Akhirnya, nenek dari anak itu melepaskan cengkeraman di tanganku. Dengan angkuh, dia mengusap-ngusap tangan ke pakaiannya.
Bahkan, seluruh keluarga itu sama sekali tidak melirikku. Mereka sepenuhnya fokus pada anak laki-laki tersebut dan berkumpul di sekitarnya.
4
Pada akhirnya, suamiku datang menjemputku dengan mobilnya.
"Ketika melihat pergelangan tanganku yang memar, dia dengan penuh perhatian membantuku mengoleskan obat.
"
"Kamu adalah ahli bedah. Tahukah kamu seberapa berharganya tanganmu?"
Aku telah menggunakan tangan ini untuk mengoperasi banyak anak dan menyelamatkan hidup mereka.
Tangan ini setara dengan segenap karirku.
"Kalau kamu menghadapi situasi seperti ini lagi, apakah kamu masih akan pergi membantu?"
Aku memikirkannya dengan serius, lalu menghela napas dan mengangguk. "Aku akan."
Aku tidak bisa hanya diam saja saat ada seseorang yang terluka atau membutuhkan pertolongan.
Setelah liburan tahun baru, aku kembali bekerja. Sekitar setengah bulan kemudian, keluarga itu mendatangi rumah sakit tempatku bekerja dan membuat keributan.
Pagi itu, aku telah melakukan dua operasi berturut-turut dan sangat lelah. Aku tidur sebentar di kantor untuk mengumpulkan energi sebelum operasi terakhir di siang hari.
Saat aku hendak melakukan persiapan sebelum operasi, tiba-tiba sekelompok orang masuk dengan berteriak-teriak memakiku.
"Kamu dokter yang tidak kompeten! Kamu sudah mencelakakan anak kami! Cepat bayar ganti rugi!"
"Kamu dokter yang tidak berhati nurani. Apa kamu tidak merasa malu? Kamu hampir membunuh anak orang lain!"
Ketika melihat keluarga lima orang tersebut, akhirnya aku mengerti apa yang sedang terjadi.
Ternyata, setelah anak itu mengalami syok saat itu, dia sering mengalami sakit kepala dan ketidaknyamanan.
Mereka menyalahkan aku karena menganggap upaya penyelamatan yang aku lakukan tidak tepat. Oleh sebab itu, mereka menuntut ganti rugi.
Pasien berikutnya masih menungguku untuk menjalani operasi. Jadi, aku tidak bisa menunda.
Aku pun memasang wajah tegas dan memperingatkan mereka.
"Pikirkan dengan baik. Sekarang aku katakan dengan jelas kepada kalian. Kalau operasi ini tertunda, nyawa pasien akan terancam. Artinya kalian melakukan tindakan kriminal dan akan dipenjara!"
Selama persiapan sebelum operasi, aku menarik napas dalam-dalam. Kemudian, memberi tahu diri sendiri untuk tetap tenang.
Aku tidak bisa membawa emosi negatif ke ruang operasi. Hal itu tidak bertanggung jawab terhadap pasien.
Beruntung, operasi berjalan dengan sukses. Ketika aku keluar dari ruang operasi, aku dipanggil ke kantor direktur rumah sakit.
5
Ketika aku tiba, ayah dari anak tersebut berteriak dan menuntut ganti rugi dariku.
"Satu juta! Dia harus memberikan gantu rugi satu juta kepada anakku!"
Sebelum tiba, aku sudah menghubungi Dokter Amanda untuk menanyakan kondisi anak tersebut setelah kejadian tempo hari.
Ternyata, keluarga ini telah membuat keributan di rumah sakit tempat anak itu dirawat sebelumnya.
Mereka mengajukan klaim malapraktik medis.
Namun, hasilnya membuktikan bahwa rumah sakit dan tenaga medis tidak bersalah.
Klaim mereka tidak berhasil.
Berhadapan dengan orang-orang tidak masuk akal seperti mereka, tidak perlu membuang waktu. Jadi, aku ingin melaporkan mereka secara langsung ke polisi.
Namun, begitu mereka mendengar aku hendak menelepon polisi, nenek dari anak tersebut naik pitam. Tiba-tiba, dia bergegas menghampiriku dan menarik rambutku
"Dasar jalang! Cucuku sangat berharga. Bahkan, satu juta terlalu murah untukmu!"
Beberapa satpam yang ada berusaha menariknya menjauh.
Pada akhirnya, aku diselamatkan oleh polisi yang datang.
Nenek anak tersebut akhirnya ditarik menjauh. Dia tampak masih memegang beberapa helai rambutku yang dia tarik paksa dari kulit kepalaku.
Sekelompok orang itu pun terpaksa pergi.
Akan tetapi,sebelum mereka pergi, mereka mengancamku.
"Tunggu aku. Aku akan memanggil pengacara dan segera menuntutmu!"
6
Keesokan paginya.
Namaku masuk dalam pencarian panas dengan entri "dokter yang tidak bertanggung jawab."
Keluarga anak nakal itu mengunggah video di media sosial dengan menuduhku melakukan malapraktik saat pertolongan pertama. Mereka mengeklaim bahwa aku menyebabkan cedera pada anak tersebut.
Karena pengeditan yang jahat, seluruh situasi menjadi berbalik.
Aku, rumah sakit, dan pihak kepolisian difitnah sebagai orang jahat yang menindas orang dengan kekuatannya.
Sebuah komentar teratas juga mengekspos informasi pribadiku, nomor telepon, bahkan alamatku.
Hal itu menghasut netizen untuk menyerang dan merundungku secara daring.
Aku gemetar karena amarah. Aku pun langsung melaporkan situasi tersebut kepada polisi.
Namun, dari keterangan polisi, meskipun pelakunya tertangkap, mereka hanya dapat menahannya selama beberapa hari. Mereka tidak dapat memaksa mereka untuk meminta maaf secara daring atau menghilangkan dampak yang merugikan.
Akhirnya, mereka menyarankan agar aku mengambil jalur hukum.
Aku teringat pada penumpang pria yang meninggalkan nomor teleponnya.
Aku menghubunginya. Namanya adalah Brian, seorang mahasiswa pascasarjana kedokteran.
Aku memohon padanya untuk maju sebagai saksi dan membantuku mengklarifikasi fitnah yang beredar.
Namun, dia menolak.
"Aku punya seorang senior. Lima tahun yang lalu, dia berlibur ke luar negeri. Dia melakukan resusitasi jantung paru pada seorang lansia yang pingsan. Tapi, dia tidak sengaja mematahkan tulang rusuknya. Akibatnya, dia dituntut di pengadilan. Kasusnya berlangsung selama empat tahun sebelum akhirnya dia dibebaskan. Dokter Clarissa, aku seorang penakut. Aku takut kalau aku bersaksi, banyak orang akan menyalahkan aku karena hanya diam saja saat kejadian tersebut. Hal ini akan berdampak besar pada studi dan karirku di masa depan."
7
Aku tidak punya pilihan selain menulis posting klarifikasi panjang di Twitter sendiri.
Aku menjelaskan secara detail kejadian yang terjadi di kereta cepat pada hari itu. Aku menekankan bahwa tindakan penyelamatan yang aku lakukan tidak salah.
Namun, tanpa bukti, netizen langsung menghakimi dan tidak memercayaiku. Mereka terus memberikan komentar yang kasar dan menyinggung.
Keluarga anak nakal itu berdiri setiap hari pintu utama rumah sakit sambil memegang spanduk bertuliskan namaku. Mereka memutar pengaduan mereka terhadapku dan rumah sakit dengan pengeras suara.
Tindakan keluarga itu tidak kenal lelah. Akibatnya, keluarga pasien yang sebelumnya bersikap ramah kepadaku sekarang menghindariku dan bergosip di belakangku.
Suatu hari, aku mengantar putriku ke taman kanak-kanak. Namun, tiba-tiba aku dihadapkan oleh kamera dan mikrofon para wartawan.
Melihatku mengabaikannya, seorang reporter perempuan justru bertanya kepada putriku.
"Nona kecil, bagaimana pendapatmu tentang insiden ibumu yang melakukan tindakan malapraktik yang membahayakan seorang anak laki-laki?"