Selama rapat, aku melihat sekilas ke arah layar ponsel Presdir dan melihat video seorang pria dan wanita sedang berciuman mesra.
Aku terkejut dan segera berbisik, "Presdir! Bagaimana bisa Anda melihat video seperti itu saat sedang rapat?"
Presdir menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Ini video rekaman kamera pengawas rumahku."
Aku kembali melihat ke arah layar ponsel itu dan berteriak, "Itu pacarku!"
1
Awalnya, Presdir membuka kamera pengawas rumahnya selama rapat karena ingin memeriksa apakah kucing peliharaannya makan dengan tepat waktu. Namun, dia tidak menyangka bahwa dirinya akan melihat adegan perselingkuhan pacarnya dengan mata kepalanya sendiri.
Aku bahkan lebih terkejut lagi karena pria yang berselingkuh dengan pacar Presdir adalah pacarku.
Setelah rapat, aku dan Presdir duduk dengan lesu di ruang rapat dan terdiam untuk waktu yang lama.
Aku dan Presdir benar-benar diselingkuhi pada hari yang sama.
Sungguh takdir yang aneh.
2
Presdir perusahaanku berbeda dengan Presdir sombong yang sering muncul dalam novel-novel. Presdir lain yang baru saja diselingkuhi oleh pacarnya biasanya akan terpuruk dan tenggelam dalam alkohol. Namun, Presdir perusahaanku yang baru saja diselingkuhi masih bisa bekerja lembur.
Sebagai sekretaris pribadinya, aku memaksakan diri untuk ikut bekerja lembur dan mengubah kemarahan serta rasa frustrasiku menjadi motivasi.
Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk menulis dokumen perencanaan, apalagi menghadapi pacarku yang baru saja berselingkuh itu.
Meskipun ada kekesalan di hatiku, Albert memberiku gaji yang lumayan banyak. Jadi, meskipun aku tidak bisa menghajar pacarku, paling tidak aku masih bisa bersenang-senang dengan gajiku.
3
Tiga hari kemudian, proyek yang kami tangani akhirnya selesai. Kemudian, Presdir yang sudah diselingkuhi oleh pacarnya akhirnya memiliki waktu untuk bersedih. Jadi, dia menyeretku untuk menemaninya makan barbekyu.
Setelah makan dua mangkuk sup, air mata Albert akhirnya tumpah. Dia memelukku sambil menangis tersedu-sedu.
Aku menatapnya dengan tatapan merendahkan. Kemudian, aku duduk tegak sambil mengisap rokokku. Aku mendengarkannya meratap dan memuji kisah cintanya yang menurutnya sangatlah sempurna.
Dia membujukku untuk minum beberapa gelas anggur. Kemudian, aku tidak ingat bagaimana kami berdua bisa berakhir tidur bersama di tempat tidur.
Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada gunanya menyesal.
4
Suasana di kamar hotel terasa hening.
Aku langsung mengenakan pakaianku dan berniat untuk segera kabur dari tempat ini. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara Albert yang dalam dan serak di belakangku, "Apa kamu tidak berniat untuk bertanggung jawab?"
Apakah Presdir yang sangat sombong juga akan mengejar sekretarisnya untuk memintanya bertanggung jawab? Albert menatapku seolah-olah aku adalah wanita yang sudah mencampakkannya. Dia juga seperti menyalahkanku sebagai seorang wanita yang menciptakan kekacauan dan meninggalkannya.
Albert menatapku dengan penuh ancaman dan berkata, "Pokoknya kamu harus bertanggung jawab. Kalau kamu tidak mau, kamu akan mendapatkan konsekuensinya! Semuanya terserah padamu!"
Aku menyalakan sebatang rokok dan menarik napas dalam-dalam. Kemudian aku berkata dengan pasrah, "Baiklah, aku akan bertanggung jawab."
Aku baru saja mengucapkan kata-kata itu. Namun, dalam sekejap mata, aku mendapati diriku sudah memegang surat pernikahan di tanganku!
Aku, Kartika Darmaji, tiba-tiba sudah menikah dengan Presdir perusahaanku karena kecerobohanku saat mabuk.
5
Ketika aku berbaring di kasur mahal milik Presdir, aku masih bingung dengan situasi saat ini.
Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan Albert dan tinggal di rumahnya setelah pesta barbekyu itu?
Suara air yang menetes terdengar dari kamar mandi. Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut dan melihat bayangan tubuh ramping yang terpantul di kaca yang berembun.
Albert sepertinya memiliki tubuh yang bagus.
Tetesan air jatuh di kulitnya yang putih dan meluncur dengan lincah. Otot tubuhnya terlihat sempurna dan memancarkan pesona yang mematikan.
Albert memiringkan kepalanya dan menatapku. Kemudian, dia menjilat bibirnya dengan penuh semangat dan berkata sambil tersenyum, "Apa kamu mau mencobanya?"
Aku dengan keras kepala menolak mengakui kekalahanku. Namun, aku berpikir bahwa hal itu sah untuk dilakukan. Jadi, apa salahnya untuk mencobanya?
Sungguh hari yang melelahkan.
6
Aku terbangun karena suara getaran ponselku di malam hari. Albert mengira suara ponsel itu berasal dari ponselnya. Jadi, dengan mata yang masih mengantuk, dia menjawab panggilan telepon itu.
Suara Juna terdengar dari ujung telepon. Suaranya serak karena pengaruh alkohol. "Kartika, kenapa kamu belum pulang?"
Tiba-tiba, aku segera sadar. Sepertinya aku belum putus dengan Juna dan dia tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui perselingkuhannya. Mungkin dia berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa. Itulah sebabnya dia datang ke rumahku untuk menemuiku semalam ini.
Kemudian, Albert berkata dengan penuh kebanggaan, "Hari ini, aku dan Kartika sudah menikah. Hubungan kami sudah sah dimata hukum. Kalau kamu berani menelepon istriku lagi, aku akan mematahkan kakimu!"
Aku memandang Albert dan mengedipkan mata dengan canggung. Kemudian, aku menjelaskan padanya secara singkat. "Aku sibuk dengan perencanaan proyek sebelumnya. Jadi, aku tidak punya waktu untuk meminta putus dengannya."
Albert, sang Presdir yang sombong mendengus dan berkata, "Kamu memang pintar mencari alasan!"
7
Albert langsung memblokir semua kontak Juna. Kemudian, dia menatapku dengan curiga dan memperingatkanku dengan nada dingin, "Sayang, mulai sekarang, jangan pernah menghubungi pria lain selain aku!" Aku hampir menentang Albert, bagaimana jika keluargaku ingin menghubungiku? Namun, tiba-tiba aku ingat bahwa aku adalah anak yatim piatu. Aku terdiam karena sadar tidak memiliki keluarga.
Aku mendengarkan kata-kata Albert yang mendominasi dalam diam. Namun, aku tidak berhenti mengumpatnya di dalam hatiku. Saat ini, dia benar-benar cocok dengan deskripsi Presdir sombong dan bodoh dalam novel-novel yang ada di pasaran.
Aku merasa seperti terjebak dalam novel berjudul "Istri Kontrak Sang Presdir Sombong."
Pada saat itu, setelah membaca 3.000 bab, aku marah dan menulis ulasan buruk yang sangat panjang. Aku menuduh penulis memanjangkan cerita serta mencecar tokoh utama pria dan wanita yang terlihat tidak cocok.
Setelah mengirim ulasan tersebut, aku berdiri dan menumpahkan kopiku ke stopkontak. Seketika itu juga, aku langsung tersengat listrik dan tiba-tiba melakukan perjalanan waktu.
Di kehidupan sebelumnya, aku adalah seorang anak yatim piatu. Di kehidupan saat ini, aku masih tetap menjadi seorang anak yatim piatu. Sepertinya menjadi anak yatim piatu memanglah takdirku. Aku mulai memahami hal tersebut.
Setelah aku berhasil melamar pekerjaan sebagai sekretaris pribadi Albert, aku sadar bahwa aku memang terjebak dalam novel ini.
Albert adalah pemeran pendukung kedua dalam novel tersebut yang menghabiskan seluruh kekayaannya demi pemeran utama wanita. Namun, dia tetap kalah dari pemeran utama pria yang hampir membuatnya bangkrut.
Jadi, sejak aku mulai bekerja untuk Albert, aku selalu berhati-hati dan rajin menabung. Jika suatu hari Albert bangkrut, aku tidak mau menjadi pengangguran yang terlunta-lunta di jalanan.
Setelah Albert menjawab panggilan telepon Juna, dia mulai memaksaku untuk lembur setiap hari. Dia ingin mencegahku berkencan dengan pria lain. Ketika aku hampir meledak karena kemarahanku, Albert menawarkan bayaran lembur tiga kali lipat. Seketika itu juga, aku segera memasang senyum memuji di wajahku. "Pak Albert, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Saya merasa terhormat bisa bekerja lembur untuk perusahaan."
Pemeran utama wanita pasti akan muncul. Begitu hal itu terjadi, Albert pasti akan langsung terpikat olehnya. Sebagai pemeran tambahan dalam cerita Presdir yang sombong ini, bagaimana mungkin aku bisa bersaing melawan pemeran utama wanita?
Saat itu, satu-satunya hal yang bisa menghiburku adalah saldo di rekening bankku. Jadi, aku harus segera menabung sebanyak mungkin.
Makin banyak aset yang dimiliki oleh Albert, makin besar pula kompensasi yang bisa aku peroleh selama pernikahan kontrak ini berlangsung!
Apakah hasil kerja lemburku saat ini hanya berupa uang saja?
Tentu saja tidak! Apa yang aku hasilkan adalah jaminan keamanan selama sisa hidupku!
8
Akhir-akhir ini, kami sangat sibuk dengan proses akuisisi tanah di wilayah timur kota. Jadi, tubuhku sangat lelah.
Sepertinya, saat aku tertidur aku berciuman dengan Albert ....
Dia membangunkanku di tengah malam dan bersikeras untuk pergi ke dokter. Dia mengatakan bahwa dia tidak lagi tertarik padaku dan mengatakan bahwa aku adalah wanita yang menyebabkan masalah dan kemudian meninggalkannya semua begitu saja!
"Kamu memberiku begitu banyak pekerjaan dan aku hanya bisa berasumsi kalau hal itu terjadi karena kamu masih mengalami trauma akibat mantan pacarmu yang berselingkuh. Tapi, sekarang kamu malah menyalahkanku. Bukankah itu tidak adil?"
Saat itu, kamar tidur kami penuh dengan suara umpatan dan makianku karena aku benar-benar marah. Di sisi lain, Albert terlihat ketakutan dan tidak berdaya.
Tiba-tiba, Albert bergumam pada dirinya sendiri, "Tidak bisakah kamu memanggilku Sayang?"
Aku mengedipkan mataku dan mencoba mencari alasan untuk diriku sendiri sambil berkata, "Kamu saja juga belum pernah memanggilku Sayang ...."
Mata Albert langsung bersinar dan dia berkata dengan malu-malu, "Sayang …."
Albert melambaikan tangannya dan tersenyum canggung. Kemudian, dia berkata dengan penuh kebanggaan, "Kalau kamu memanggilku Sayang, aku akan membayarmu 400 juta!"
Aku bangkit dari tempat tidur dan langsung melompat ke pelukannya. Kemudian, aku melingkarkan tanganku di lehernya sambil berkata dengan manis, "Sayang …."
Uang 400 juta langsung masuk ke rekeningku.
9
Setelah aku memarahinya semalaman, sepertinya Albert merasa bersalah dan beban kerjaku langsung berkurang.
Aku duduk santai di kafe yang ada di lantai bawah perusahaan sambil menikmati kopiku, Tiba-tiba, seorang tamu yang tak diundang datang dan Juna langsung duduk di depanku. Sialan! Kenapa aku harus bertemu dengan bajingan ini ketika aku sedang santai di tempat kerja?
Juna menatap wajahku dengan ekspresi murung dan berkata, "Kartika, aku tidak pernah menyangka kalau kamu akan menjadi orang yang seperti ini. Kamu masih pacaran denganku. Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"
Aku membalas tatapannya sambil mengangkat cangkir kopiku dan menyeruputnya. Kemudian, aku mengucapkan kata-kata ini dengan sangat jelas, "Ketika kamu tidur dengan Sisca, apa kamu ingat kalau kamu punya pacar?"
Ekspresi Juna langsung berubah dan dia terlihat agak malu.
"Sayang!"
Albert perlahan-lahan mendekatiku dan matanya terpaku padaku. Raut wajahnya terlihat datar, tetapi ada sedikit kesuraman yang terlukis di matanya.
Aku menggelengkan kepala dan berkata, "Aku sudah menikah. Jangan datang mencariku lagi!"
Setelah berkata demikian, aku memberi isyarat kepada Juna untuk segera pergi. Seketika itu juga, dia pergi dengan raut wajah sedih.
Setelah Juna pergi, Albert melihatku dan berkata dengan nada yang penuh kebencian, "Sayang, apa kamu berencana meninggalkanku demi pria itu?"
Takut dia membuatku lembur, aku segera meyakinkannya sambil berkata, "Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Selama kamu tidak menceraikanku, aku pasti tidak akan pernah meninggalkanmu!"