Satu hari, setelah menerima pengakuan cinta dari pria paling sempurna yang pernah aku kenal, tiba-tiba aku melakukan perjalanan waktu ke sepuluh tahun yang akan datang.
Saat aku membuka mata, seorang anak dengan mata besar memanggilku ibu dengan ragu-ragu.
Tidak lama kemudian, aku menemukan foto pernikahan di antara tumpukan barang-barang yang berserakan.
Namun, pengantin pria dalam foto itu bukanlah pria sempurna itu.
1
Aku terbangun dari tidurku yang lelap dan mendapati bahwa diriku melakukan perjalanan waktu ke sepuluh tahun yang akan datang.
Aku terbaring di atas tempat tidur yang tidak kukenal.
Saat aku merasa kebingungan, sesosok tubuh kecil tiba-tiba masuk ke kamarku.
Aku segera berbaring kembali di tempat tidur dan berpura-pura belum bangun.
Suara langkah kaki itu makin dekat. Kemudian, tangan kecil yang lembut menyentuh dahiku.
Saat aku sedang menebak-nebak hubunganku dengan anak itu, kata-kata yang keluar dari mulut anak itu membuatku langsung membuka mata.
Dia berkata, "Ibu, Ibu sudah sakit selama beberapa hari ini. Kenapa Ibu belum bangun juga? Apa Ibu tidak menyukai Jojo? Tapi, Jojo sangat merindukan Ibu."
Ibu?
Akhirnya, aku membuka mataku.
Di sebelah tempat tidur berdiri seorang anak laki-laki yang imut dengan mata yang besar. Anak itu menatapku dengan raut wajah ketakutan.
Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, anak itu langsung berlari pergi.
Kemarin, aku baru saja menerima pengakuan cinta dari pria sempurna itu. Namun, ketika aku bangun, aku sudah memiliki anak sebesar ini?
2
Setelah anak itu pergi, aku segera mengambil ponselku dan menelepon sahabatku, Jenny.
Aku tidak tahu apa yang aku alami dalam sepuluh tahun ini dan pesan di ponselku sangat sedikit.
Bahkan, nomor teman-teman lamaku sepertinya sudah menghilang dari kontak ponselku.
Setelah nada sambung berbunyi beberapa kali, Jenny akhirnya menjawab panggilan itu.
"Ada apa?"
Suaranya dingin, tidak seperti yang pernah aku dengar sebelumnya.
Ketika aku diam saja, Jenny menjadi cemas.
"Hannah, ada apa? Bukankah kamu bilang kamu tidak akan menghubungiku lagi?"
Astaga! Apa yang sudah aku lakukan dalam sepuluh tahun ini?
Setelah berpikir sejenak, aku berkata, "Jenny, aku hanya ingin bertanya padamu siapa suamiku?"
Saat ini, itulah pertanyaan yang paling mendesak bagiku.
Jenny terdiam sejenak. "Hannah, apa hari ini kamu lupa minum obatmu?"
Hah? Sepuluh tahun yang akan datang, Jenny sudah tahu cara bertele-tele saat memarahi orang?
"Aku serius!"
"Aku akan datang ke tempatmu nanti."
3
Saat aku meletakkan ponselku, Bibi pengasuh anak itu mengetuk pintu dengan hati-hati. Kemudian, Bibi pengasuh itu bertanya bagaimana keadaanku dan apakah aku ingin makan sesuatu.
Sepertinya suamiku yang belum pernah aku lihat itu cukup kaya.
Aku mengangguk dan tak lama kemudian sejumlah hidangan mewah diletakkan di depanku.
Aku tidak pernah menyangka bahwa sepuluh tahun yang akan datang, aku benar-benar akan menjalani kehidupan yang dulu aku impikan.
Aku mencoba mencari informasi tentang suamiku dengan hati-hati.
Bibi pengasuh anak itu tampak agak terkejut. Kemudian, dia hanya mengatakan bahwa suamiku sedang melakukan perjalanan bisnis dan baru akan pulang bulan depan.
Itu kabar baik. Ketika dia kembali, aku mungkin sudah mulai terbiasa dengan situasi saat ini.
Tiba-tiba, dari sudut mataku, aku melihat anak kecil yang penasaran itu mengintip di luar pintu.
Pikiran bahwa anak itu mungkin adalah anakku membuat mataku bersinar. Kemudian, aku mengulurkan tanganku dan berkata, "Kemarilah."
Anak itu tersentak dan berjalan ragu-ragu ke samping tempat tidur.
Mengapa anak ini tampak takut padaku?
Aku menggaruk kepalaku dan mencoba menggunakan suara lembut saat bertanya, "Nak, siapa namamu dan berapa usiamu?"
Wajah bulat dan gemuk anak itu penuh keluhan saat dia berkata, "Ibu, namaku Joshua Mahina. Tapi, biasanya orang-orang memanggilku Jojo. Usiaku empat setengah tahun."
Mahina? Sepertinya aku tidak jadi menikah dengan pria impianku itu.
Aku kembali bertanya, "Jojo, Ibu akan memberikan kuis untuk Jojo. Jojo coba jawab ya. Siapa nama ayah Jojo?"
"Nama ayahku adalah ...."
"Jojo, jangan mengganggu istirahat Ibumu." Jojo hampir menjawab pertanyaan itu. Namun, kata-katanya terputus oleh Bibi pengasuh yang tiba-tiba muncul di pintu.
Bibi pengasuh itu masuk dengan gemetar dan langsung menarik Jojo pergi.
Karena aku tidak bisa mengetahui nama suamiku dari Jojo, aku memutuskan untuk mencari petunjuk sendiri.
Kamar tidur ini didekorasi dengan mewah, tetapi tidak ada foto pernikahan satu pun. Apakah suamiku adalah suami super sibuk yang hanya mengirim uang setiap bulan tetapi tidak pernah pulang ke rumah?
4
Ketika aku keluar dari kamar, aku menyadari bahwa rumah ini adalah rumah mewah berlantai dua.
Di lantai bawah, Jojo sedang bermain teka-teki di dekat jendela.
Sinar matahari masuk ke ruangan dan menerpa tubuh mungil Jojo. Bulu matanya sangat panjang dan membuatnya terlihat sangat lucu.
Aku menghampirinya dan membuatnya terkejut. "Nak, kamu sedang main apa? Ibu akan bermain denganmu."
Mata Jojo membelalak dan dia segera berdiri seolah-olah dirinya sedang dihukum. Kemudian, dia berkata, "Ibu …."
Aku menariknya mendekat dan mencium pipinya.
Jojo langsung menyentuh wajahnya dan terlihat agak terkejut.
Saat melihat reaksinya, aku bisa menebak bahwa diriku di sepuluh tahun yang akan datang sepertinya tidak terlalu menyukai anak ini.
Aku bermain dengannya sebentar dan bertanya, "Nak, apa kamu hanya punya teka-teki ini untuk dimainkan?"
Jojo menatapku dengan pandangan waspada dan berkata, "Dulu Ibu selalu marah karena mainan yang lain terlalu berisik."
Astaga! Sepertinya diriku di masa depan memang tidak waras.
Tepat pada saat itu, bel pintu berbunyi.
Orang yang datang ternyata adalah Jenny.
5
Ketika Jenny masuk ke dalam rumah, awalnya aku tidak bisa mengenalinya. Apakah ini benar-benar sahabat kecilku yang tomboi itu?
Dia tidak hanya memanjangkan rambutnya, tetapi juga mengeritingnya. Selain itu, alis dan matanya juga diberi riasan yang indah.
Mataku membelalak dan berkata, "Nona, siapa kamu?" Jenny menatapku dengan ekspresi datar sambil menggelengkan kepalanya.
Namun, Jojo terlihat akrab dengannya dan langsung mendekatinya sambil memanggilnya Bibi Jenny.
Sebelum dia sempat berbicara, aku segera menjelaskan keseluruhan ceritanya.
Setelah mendengar ceritaku, Jenny mengerutkan keningnya dan menatapku. Kemudian, dia bertanya dengan nada ragu-ragu, "Bagaimana kamu tahu kalau kamu melakukan perjalanan waktu dan bukan hanya kehilangan ingatanmu?"
"Aku ingat sebelum melakukan perjalanan waktu, aku makan rendang di kantin kampus. Rendangnya enak sekali!"
Jenny terdiam.
Kemudian, aku melanjutkan, "Hmm, sehari sebelumnya, aku baru saja menerima pengakuan cinta dari Damar."
Raut wajah Jenny terlihat muram dan dia langsung mencibir.
Kemudian, dia segera menceritakan semua hal yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.
6
Ternyata, sepuluh tahun yang akan datang, aku menderita gangguan bipolar. Penyebab penyakit ini adalah karena Damar yang merupakan mantan pacarku berselingkuh dengan wanita lain.
Jenny mengatakan bahwa setelah Damar berpacaran denganku, dia selalu berpura-pura baik padaku di permukaan. Namun, diam-diam dia memanipulasiku. Pada saat aku berusia 27 tahun, Damar meninggalkanku dan pacar barunya ternyata adalah teman sekamarku saat kuliah. Karena tidak tahan dengan kenyataan tersebut, aku menderita gangguan bipolar.
"Sialan! Aku tidak menyangka hidupku akan menyedihkan seperti itu. Bagaimana dengan suamiku saat ini?"
Itulah perhatian utamaku saat ini.
Jenny menatapku dan merenung sejenak. Kemudian, dia berkata, " Suamimu saat ini adalah Ryan."
"Apa?"
Aku tidak pernah menyangka bahwa sepuluh tahun yang akan datang, aku benar-benar akan menikah dengan Ryan!
7
Aku, Jenny, dan Ryan adalah teman masa kecil.
Kami bertiga tinggal di apartemen yang sama dan pergi ke sekolah yang sama ketika kami masih kecil.
Ryan selalu menjadi anak teladan bagi keluarga orang lain. Dia tampan, pintar, dan memiliki karakter yang baik.
Dia membantu nenek-nenek menyeberang jalan dan memberikan tempat duduknya untuk kakek-kakek.
Saat itu, aku masih muda dan merasa sangat kesal padanya ketika orang tuaku mulai memujinya.
Namun, sebagai seorang penggemar pria tampan, aku selalu mengaguminya dan dia sering membuatku tersipu malu. Sayangnya, ada banyak orang yang menyukainya. Jadi, aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.
Sekarang, Jenny memberitahuku bahwa Ryan sudah menikah denganku.
Dalam sekejap, pertanyaan lain muncul dalam pikiranku.
"Jenny, Jojo bilang usianya empat setengah tahun. Lalu, aku dan Damar putus saat aku berusia 27 tahun. Jadi, bagaimana dengan Jojo?"
Jenny menatapku dengan tatapan bingung dan berkata, "Saat itu, kita berdua tidak saling berkomunikasi. Tapi, aku dengar ... Damar menangkap basah dirimu sedang tidur bersama Ryan. Untuk masalah Jojo, sejujurnya aku pun tidak tahu."
Dengan kata lain, aku mungkin hamil anak orang lain dan menikah dengan Ryan.
Dugaanku ini membuatku merasa pusing.
Tidak heran jika di kamar itu tidak ada jejak kehidupanku sama sekali. Sepertinya Ryan membenciku.
Jika itu masalahnya, mengapa dia bersedia menikah denganku?
"Tapi, Jenny. Kalau Damar selingkuh dengan wanita lain, bagaimana bisa dia menangkap basah diriku yang tidur dengan Ryan?"
Meskipun aku bisa saja melakukan hal seperti itu, Ryan bukanlah tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu.
Jenny berkata, "Aku tidak tahu persis bagaimana detail kejadian itu. Sepertinya Damar yang memutuskan hubungan denganmu terlebih dahulu, tapi kamu tidak mau menerimanya. Kemudian, dia menangkap basah dirimu dan Ryan bersama dan memanfaatkan situasi itu untuk menyalahkanmu."
8
Alur cerita ini sangat mencengangkan.
Jenny menepuk punggungku dan berkata, "Hannah, terimalah kenyataannya. Tapi, tidak peduli kamu mengalami amnesia atau melakukan perjalanan waktu, aku hanya punya satu permintaan padamu, bersikap baiklah pada Jojo."
Aku menangis.
Tidak peduli siapa ayah kandungnya, tetapi aku yakin bahwa akulah ibu kandung Jojo!
9
Aku baru saja selesai membuat daftar kegiatan menjadi seorang ibu.
Dalam beberapa hari ke depan, Jojo akan mulai masuk ke taman kanak-kanak. Jadi, aku berencana untuk mengajak Jojo bermain bersama.
Saat makan malam, Jojo duduk di kursi sambil mengayunkan kakinya. Kemudian, dia bercerita padaku tentang sekolahnya di taman kanak-kanak.
Setelah beberapa hari bersama, dia tidak takut lagi padaku. Menjelang waktu tidur, Jojo memintaku membacakan sebuah cerita untuk pertama kalinya.
Aku mengambil buku dan mengarang sebuah cerita untuknya. "Pada zaman dulu, ada seorang pangeran ...."
Setelah mendengarkan cerita itu, Jojo tersenyum dan berkata, "Jojo mau jadi pangerannya! Ibu jadi putrinya!"
Kemudian, aku menggodanya. "Lalu, bagaimana dengan Ayah dan Ibu?"
Aku terkejut saat mendapati suasana hati Jojo tiba-tiba menjadi murung begitu aku mengucapkan kata-kata itu. Kemudian, aku bertanya dengan ragu-ragu, "Apa kamu tidak menyukai Ayah?"
Jojo menggelengkan kepalanya dengan panik dan berkata, "Aku menyukai Ayah, tapi ...."