Sekolah Aristokrat kedatangan gadis baru.
Dia membawa tulisan besar "Pahlawan Penyelamat" di kepalanya. Setiap harinya, dia merawat calon suamiku dengan mengiriminya permen lollipop murah.
Ketika aku mendekati calon suamiku, gadis tersebut akan melindunginya dan berkata kepadaku dengan marah, "Aku ... aku tahu kamu punya kekuasaan dan pengaruh. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu menindasnya!"
Dia menangis dengan mata memerah dan tampak sangat tertekan.
Aku yang tidak melakukan apa-apa pun berkata, "Kamu gila, ya?"
1
Saat Valen datang mengantarkan permen lagi, aku sedang bersikukuh di meja dengan rasa bosan yang luar biasa.
Dia mendongak dan menatap ke arah kiriku dengan tatapan yang penuh kebencian. "Tasya, gadis ini datang mengantarkan permen untuk Kevin lagi."
Dia lagi-lagi datang.
Dia meletakkan permen dengan lembut di depan alat tulis Kevin, lalu membuka gelas minum yang diletakkan di sudut meja dengan lugas.
Teman sebangku menunjuk pada Valen dengan keterkejutan. "Apa kamu tidak tahu apa hubungan antara Kevin dan Tasya?"
Valen terhenti sejenak dan menatapku, lalu segera menundukkan kepala dengan sedikit kesedihan. "Aku tahu. Aku hanya ingin berbuat baik padanya adn memberinya sesuatu yang hangat untuk perutnya."
Dengan anggukan singkat, aku memberikan pengingat, "Hei, murid baru, Kevin memiliki masalah lambung, jadi dia tidak bisa minum susu kacang."
Terdengar suara yang keras saat gelas terjatuh ke lantai. Sementara itu, segelas susu kacang panas terpercik ke mana-mana dan menciptakan kekacauan.
Aku merasakan sensasi terbakar yang panas di kaki kiriku seketika, bahkan tanganku yang diletakkan di atas meja pun tak dapat menghindari tetesan susu kacang.
Suaraku terdengar tiba-tiba dalam kelas yang hening. Sambil mengusap tangan, aku melihatnya dengan pandangan yang merendahkan dan nada dingin. "Gelas minum itu kubelikan untuk Kevin, mungkin harganya sekitar dua puluh juta. Barang tambahannya yang kamu jatuhkan tidak perlu dihitung. Sepasang sepatu ini saja harganya hampir seratus juta. Akan ada pengacara yang menghubungi kamu setelah sekolah."
Setelah mendengar kata-kata ini, Valen makin menangis dengan lebih keras lagi. Dia duduk di kursi Kevin dengan erangan, "Kalian anak-anak dari keluarga kaya benar-benar sewenang-wenang."
Kevin muncul saat itu.
"Tasya, apa yang telah kamu lakukan lagi?"
2
"Kevin, kamu adalah calon suamiku. Bagaimana bisa kamu hanya memperhatikan gadis manis yang menangis, tapi tidak melihat luka bakar di kakiku?"
Barulah Kevin melihat ke kakiku.
Dia menundukkan kepala dan melihat kemerahan di kaki putihku. Ada beberapa tetes susu kacang juga.
Sebelum Kevin berkata apa pun, Valen tiba-tiba melompat ke depan Kevin dan berteriak kepadaku, "Aku ... aku tahu kamu punya kekuasaan dan pengaruh. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu menindasnya!"
Aku benar-benar kesal. "Kamu gila, ya?"
Kevin tampak menghela napas ringan.
Dia mengambil selembar tisu, membungkuk, dan satu tangan menggenggam pergelangan kakiku dengan erat.
Aku mengentakkan kaki dengan lembut, tetapi tanpa tenaga sehingga meninggalkan setengah jejak tapak kaki di kemeja putihnya yang terlihat bersih.
Kevin sangat mengutamakan kebersihan.
Melihat bekas yang jelas di kemejanya, aku merasa agak cemas, "Aku hanya ingin kamu melepaskanku."
Beberapa menit kemudian, Kevin membawa sepasang sepatu hitam yang indah dan meletakkannya di samping kakiku. Itu adalah sepatu cadangan yang aku simpan di ruang ganti khususku.
Keivn berjongkok dan menatapku yang masih terpaku. "Ganti sepatumu."
Valen sangat kesal hingga wajahnya memerah. Dia menunjuk acuh tak acuh ke arahku sambil menyebutkan kata-kata kasar, "Kevin! Apa kamu adalah anjingnya?"
Melihat Valen yang seperti akan melompat karena emosi, aku pun mengangkat sebelah alisku. "Sepertinya Valen merasa kamu sangat kasihan."
"Iya, terus kenapa?" Kevin mengangkat kepala dengan tatapan yang yakin, "Bagaimana menurutmu?"
Aku mengedipkan mata dan tersenyum jahil, "Aku juga tidak tahu."
3
Lamaran pernikahanku dan Kevin sudah ditetapkan sejak kecil.
Berdasarkan logika, sebagai seorang putri manja yang tidak bisa diatur, tidak ada yang mampu bertahan denganku.
Namun, yang mengejutkan mereka adalah Kevin selalu menuruti setiap keinginanku dan bahkan merawatku dengan penuh perhatian.
Perubahan dimulai pada tahun pertama kuliah ketika ibu Kevin meninggal karena kecelakaan. Ayahnya, seorang pria bermasalah dengan anak haram dan ibu tirinya, mengambil alih harta warisan dan hak waris yang semestinyalah milik Kevin.
Sang putra orang kaya yang terhormat seketika kehilangan semuanya. Dia jatuh seperti meteor dari angkasa.
Pria yang selalu hidup dengan mewah tiba-tiba mengikuti setiap kompetisi beasiswa yang ada.
Namun, dia masih merawatku seperti yang dilakukannya sebelumnya.
Seakan-akan tidak ada orang selain aku yang bisa menggerakkan emosinya.
Hingga hari di mana Valen datang.
Entah sejak kapan, Kevin mulai memperhatikannya dan berinisiatif untuk menghubunginya.
4
Setelah insiden susu kacang hari itu, Valen akhirnya tidak berulah selama beberapa hari.
Pada jam belajar mandiri sore itu, para gadis di kelas berkumpul di sekitarku untuk membahas busana terbaru.
"Tasya, bolehkah aku pinjam rok yang terakhir kamu pakai untuk pesta ulang tahun?" Teman sebangku memelas padaku.
"Kamu memang tahu barang bagus. Apa kamu tahu harga rok high-end yang langka itu?"
"Tiga koma dua, kan?" Dia memegang tanganku dan berkata, "Teman baikku, Tasya yang manis, pinjami aku, ya!"
"Ck, hanya tiga koma dua juta saja?" Valen yang duduk di sisi lain lorong tertawa. "Apa kamu bahkan ingin meminjam rok seharga tiga koma dua juta?"
Teman sebangkuku langsung memutar matanya ke arah Valen dan menggerutu, "Hei, murid pindahan, tiga miliar dua ratus juta harganya."
"Tiga miliar dua ratus juta hanya untuk hanya satu rok. Apa kamu tidak merasa itu pemborosan? Bukankah lebih baik jika uang ini disumbangkan untuk anak-anak di daerah miskin?"
Ekspresinya begitu tegas dengan pandangannya penuh dengan ketidaksetujuan.
"Pahlawan Penyelamat" ini bukan hanya memiliki masalah dengan kepalanya, tetapi juga memiliki pandangan hidup yang aneh.
Teman sebangkuku juga mengomel, "Dia sepertinya tidak pernah membaca berita, jadi tidak tahu berapa banyak sumbangan yang dilakukan Keluarga Teja setiap tahunnya."
Wajah Valen menjadi tidak enak dipandang. Dia melihat ke arah lain dan tidak lagi berbicara dengan kami.
5
Tepat pada pukul 17.00, Valen mengeluarkan handuk kering dan sebuah papan obat penurun panas dari tasnya.
Dia menempelkan secarik catatan dengan tulisan yang tidak jelas di bagian belakang obat penurun panas itu, lalu secara perlahan meletakkannya di meja Kevin sambil menatap pintu kelas.
Aku meletakkan tangan kiriku di meja, jari telunjukku tidak menentu mengetuk-ngetuk permukaan meja.
Kemudian, ada ide yang muncul di pikiranku. Aku memberi kecupan di muka teman sebangkuku. "Rok itu untukmu!"
Teman sebangkuku terpaku karena ciumanku. "Tasya, kamu mau ke mana?"
"Aku?" Aku mencoba tersenyum. "Aku akan melakukan sesuatu yang lebih berharga dari tiga miliar dua ratus juta!"
Setiap bangunan sekolah memiliki beberapa lift. Hampir tidak ada siswa yang mau menggunakan lorong gelap untuk menuju ke lantai atas.
Aku membuka pintu keluar darurat yang hampir mencapai lantai atas. Seperti yang kuduga, aku melihat Kevin di sana.
Kondisinya tidak terlalu baik.
Aku sangat tidak suka dengan bau asap rokok yang menyelimutinya, "Kevin! Jangan merokok! Bau kamu sangat tidak sedap!"
Dia menjawab dengan suara serak dan terdengar tidak memiliki energi, "Oke, aku akan mendengar kata-katamu."
Beberapa bagian kulit yang terasa sangat panas mulai menyengat saat kulit dahi Kevin disentuh. Suhunya sangat tinggi.
Hatiku tiba-tiba merasa tidak nyaman. Seperti yang "diprediksi" oleh Valen, dia demam.
Melihat kondisi Kevin, itu malah makin membuatku marah:
"Menyiksa diri seperti ini membuatmu terlihat jelek!"
Aku ingin mengatakan sesuatu yang kejam, tetapi setelah berpikir cukup lama, aku hanya berhasil melontarkan sebuah kalimat, "Kalau kamu terus begini, aku tidak akan menyukaimu lagi!"
"Jangan." Kevin akhirnya bereaksi.
Dia mendekatiku. Suaranya terdengar lesu. "Jangan berhenti menyukaiku."
Setelah berpikir sebentar, aku mengeluarkan ponselku dan menelepon pelayan, Paman Denny. "Paman Denny, tolong bawakan pakaian untuk Kevin."
Terbayang obat penurun panas yang dibeli Valen entah dari mana, aku pun menambahkan, "Bawa juga dokter pribadi dari rumah. Suruh dokter membawa obat penurun panas terbaik!"
6
Hari berikutnya, hujan berhenti.
Meskipun Kevin sudah minum obat penurun panas kemarin, tetapi wajahnya masih terlihat lemah.
Aku duduk tepat di sebelah Kevin.
Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada kertas kerja dan sama sekali tidak peduli padaku!
Pipiku penuh dengan buah anggur hijau. Itu dengan sengaja kumasukkan ke dalam mulutku.
Tangan Kevin yang memegang pulpen tiba-tiba terhenti. Tangan yang satunya langsung memegang kedua pipiku. Dia melengkungkan bibirnya dengan tanpa sadar. "Akan menemani kamu setelah selesai menulis."
Usai mengatakan itu, Valen datang kembali dengan segelas susu kacang di tangannya.
Ketika Bony berada di luar negeri, dia sudah mendengar tentang tindakan Valen dari teman sekelasnya.
Bony tidak tahan dan langsung berteriak, "Hei, Nona Susu Kacang!"
Mendengar panggilan itu, Valen merasa sangat malu dan memutar gelas susu yang sebelumnya diletakkannya di meja Kevin untuk diminum sendiri.
Valen berkata pelan, "Semua anggur ini dibeli oleh Kevin dengan uang hadiah kompetisi. Tapi, tidak ingin dimakan begitu saja? Itu benar-benar pemborosan."
Bony yang bodoh itu tidak mengerti maksudnya dan hanya menggaruk kepalanya. Dia berkata kepada Valen, "Kalau kamu ingin makan, ambillah dan makan sendiri." Wajah Valen berubah sekali dan menunjukkan kegembiraan. "Benarkah?"