Pada hari pernikahan, keluarga suamiku memintaku untuk bersujud dan memberi hormat kepada semua kerabat.
"Ini adalah aturan, kalau tidak kamu tidak akan diizinkan menjadi menantu kami."
Sambil memaksakan diri untuk tersenyum, aku melihat ke arah Xavier, "Haruskah aku bersujud?"
Dia berkata, "Dengar, hanya dengan bersujudlah kamu bisa menjadi bagian dari keluargaku."
Aku melempar buket bunga ke wajahnya, menamparnya tiga kali di depan kerabat serta keluarganya, juga menggulingkan meja.
"Persetan denganmu. Sekarang aku akan menari-nari di makam keluargamu!"
1
Di sekitarku, terdengar keributan yang riuh. Mereka semua menungguku bersujud.
"Memangnya kenapa kalau kamu adalah seorang mahasiswi yang cantik jelita? Kalau kamu ingin menjadi bagian dari keluarga Fontem, kamu harus bersujud kepada kami."
Ibu Xavier terus mendesak, "Hanya ada tujuh puluh enam kerabat di sini. Kamu cukup membungkuk tiga kali saja. Lakukan saja dengan cepat."
Aku menoleh ke arah Xavier.
"Marie," Xavier mengerutkan keningnya, "Ini adalah aturan keluargaku. Hanya dengan bersujud, kamu akan menjadi bagian dari Fontem."
Aku menyingkirkan tangannya dan melanjutkan, "Hari ini aku akan membungkuk kepada kerabatmu. Tiga hari nanti, keluargaku juga akan merayakan pernikahan kita dan kamu harus bersujud kepada kerabatku juga."
"Kerabat keluarga kami tidak sebanyak itu, hanya tujuh atau delapan puluh orang saja."
Ibu Xavier tiba-tiba menyela, "Xavier itu menantu idaman. Ketika menjadi bagian dari keluargamu kelak, tentu dia harus diperlakukan dengan sangat terhormat. Mana mungkin menyuruhnya untuk bersujud?"
Xavier juga tidak senang, "Kalau kamu tidak membungkuk, maka kamu tidak menghormati orangtuaku, pernikahan ini akan dibatalkan."
2
Aku sangat marah, aku tidak tahu bagaimana aku akan melampiaskannya. Xavier sendiri yang mendekatkan wajahnya ke tanganku, jadi jangan salahkan aku.
Aku mengangkat tanganku dan menamparnya dengan keras, aku sama sekali tidak segan.
"Pernikahan ini tidak perlu dilanjutkan!"
Xavier menutupi wajahnya, menatapku dengan ketidakpercayaan. Setelah beberapa saat, kemarahannya terpancar dari matanya.
"Marie, kamu sudah melampaui batas!"
Aku memeluk lenganku dan melihat sekeliling.
Aku langsung merobohkan meja, dengan kuat melepas mahkota bunga pada kepalaku.
Aku dengan tegas berkata, "Saat kita berpacaran, aku hanya tertarik dengan kepribadianmu. Sekarang aku baru sadar, selama bertahun-tahun aku berbuat baik demi orang berengsek sepertimu."
"Tidak perlu melanjutkan pernikahan ini."
Ibu Xavier melangkah ke hadapanku lalu menampar wajahku.
Aku mengulurkan tangan untuk membalas, tetapi Xavier menahanku dengan kuat dan menahan kedua tanganku.
Ibu Xavier memanfaatkan kesempatan ini untuk menampar wajahku lagi dan berkata, "Gadis bodoh. Hari ini aku akan menunjukkan aturan keluarga Fontem kepadamu!"
Aku mencoba melepaskan darinya, mengambil mangkuk porselen yang ada di sebelah dan dengan keras memukulkannya ke kepalanya.
Xavier menatap aku dengan tatapan yang kelam.
"Bagaimanapun Ibuku adalah orang tua. Hanya beberapa pukulan saja, kok. Apa orangtuamu tidak pernah memukulmu?"
Aku belum pernah melihat orang yang begitu tidak tahu malu.
"Kenapa membandingkan orangtuamu dengan orangtuaku? Orangtuaku yang membesarkanku, biaya kuliahmu juya dibayar oleh orang tuaku. Bagaimana dengan orangtuamu? Orang tuamu hanya bermodalkan keberuntungan dan kebodohanku."
Perlakuan ini akan kuingat baik-baik!
3
Setelah naik mobil, aku melihat ekspresi marah dan kekesalan yang tak terhitung jumlahnya dari jendela mobil. Bohong kalau aku berkata bahwa aku baik-baik saja.
Pernikahan ini awalnya akan diadakan di kota A, karena di sana adalah tempat kami bekerja dan tinggal.
Namun, Xavier mengatakan bahwa orangtuanya sudah tua, mereka khawatir mereka akan mempermalukan kami jika pernikahan diadakan di kota. Karema itulah, kami mengadakan pesta pernikahan kecil di desa, hanya untuk memenuhi keinginan para tetua.
Untuk pesta pernikahan ini, aku telah berjuang dan bersusah-payah kemari selama seminggu untuk datang dan merayakannya.
Namun, aku tidak pernah berpikir bahwa hanya keributan dan dua tamparan yang kudapatkan.
Xavier, Xavier, kenapa aku tidak memukulku lebih keras tadi! Tapi harga diriku yang tinggi menghalangiku untuk meneteskan air mata. Aku menatap dengan tajam ke setiap orang di luar jendela.
Pada saat ini, ada tangan yang memberikan beberapa lembar tisu kepadaku. Suara sang fotografer pun terdengar.
"Karena kamu mendapatkan perlakuan seperti ini, anggap saja kamu sudah menyelamatkan dirimu sendiri. Kalau kamu benar-benar menikah dengannya, kamu akan menyesalinya seumur hidup!"
Di depan, terdapat sekelompok penduduk desa dengan cangkul dan tongkat di hadapan mereka. Ibu Xavier berdiri di tengah jalan dan berteriak dengan keras, "Dasar perempuan jahat, keluarga Fontem tidak menginginkan dirimu lagi, kembalikan mahar pernikahan kepada kami!"
Aku tidak tahan lagi, aku membuka jendela mobil, "Mahar apa? Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu sudah jadi gila karena uang?"
Ibu Xavier amat marah hingga wajahnya berkerut-kerut, "Kamu perempuan jahat. Kamu menipu uang, menipu pernikahan, menipu mahar dan masih berani-berani berkata seangkuh itu!"
Beberapa penduduk desa mendekat, mencoba membuka pintu mobil, ada pula yang mengulurkan tangannya ke dalam untuk menjambak rambutku,
Serta mencoba menarikku keluar dari jendela mobil.
Aku bukanlah gadis lugu yang mudah diusik. Aku mengambil pin rambut dari kepalaku dan menusukkan pin tersebut. Sang supir dan si fotografer juga sudah tak bisa menahan amarah mereka lagi.
"Apakah kalian tidak takut akan hukum! Tindakan kalian adalah tindakan kriminal, kalian akan ditangkap dan dipenjara!"
Kedua pria itu bertubuh besar hingga membuat para penduduk desa menjadi lebih segan.
Aku pun tidak tinggal diam, aku sudah mengeluarkan ponselku dan melaporkannya ke polisi.
Ketika polisi datang, kami semua dibawa ke kantor polisi untuk diselidiki.
4
Di kantor polisi, aku dengan jujur berkata, "Mereka semua mengeroyok aku, menghina aku, bahkan berusaha membatasi kebebasan pribadiku. Saat itu beberapa penduduk desa sudah membawa senjata, motif mereka sudah sangat jelas."
Ketika polisi meminta keterangan dari ibu Xavier, dia tidak terlihat sepanik yang kubayangkan.
"Pak polisi, orang ini, dia akan menikah dengan anakku, tapi kemudian dia malah menipu dan batal menikah di hari yang ditentukan. Bukankah ini jelas merupakan penipuan pernikahan dan pencurian mahar?"
Ibu Xavier berbicara dengan jelas dan teratur, sama sekali bukan seperti seorang wanita bodoh.
Jelas sekali, ada yang menginstruksikannya sebelum dia mengadang mobil.
Xavier, mengapa sebelumnya aku tidak pernah menyadari bahwa di balik kepribadian baikmu, ada pribadi yang begitu menjijikan seperti ini?
Aku mengeluarkan ponselku, menunjukkan kepada polisi aset atas namaku. Dua unit rumah mewah di kota A dan dua mobil senilai lebih dari satu miliar.
"Pak polisi, Anda bisa mengecek semua arus keuangan antara aku dan keluarga mereka. Aku tidak pernah menerima mahar apapun. Satu-satunya hal yang aku terima adalah gelang emas sebagai tanda pertunangan."
Aku melepaskan gelang dari tanganku, kemudian acuh tak acuh melemparkannya di hadapan Ibu Xavier, "Pak polisi, apakah menurut Anda, aku, yang sudah susah payah ke sini hanya datang untuk membuat onar hanya karena gelang senilai dua puluh juta ini?"
Ibu Xavier terdiam, dengan jelas terlihat bahwa dia sedikit panik, bola matanya terus bergerak.
Hingga saat ini, polisi pun akhirnya memahami kronologi peristiwa ini. Setelah mengumpulkan bukti dari berbagai sumber, mereka memberikan teguran kepada Ibu Xavier.
Selain itu, dia dikenai tuduhan penganiayaan, fitnah, dan pemerasan secara sengaja. Agar hukumannya diringankan, dia harus berusaha mendapatkan pengampunan dariku, sebagai pihak yang terlibat.
Antara penjara atau meminta maaf dengan rendah hati adalah keputusan yang mudah diambil.
Oleh karena itu, wanita itu berdiri di hadapanku dengan tatapan yang tidak rela, tapi senyum yang seolah ingin menjilatku terpampang jelas di wajahnya. Dia membungkuk dan meminta maaf.
"Maaf, ini kesalahan kami, sehingga kamu teraniaya!"