Kapan kamu menyerah atas pernikahan?
Kalau aku, saat aku nyaris dicelakai oleh suamiku sendiri.
Aku sudah menikah dengan suamiku selama setahun. Suatu hari, suamiku mendapat telepon dari kampung halamannya bahwa Ibu mertuaku sedang sakit parah. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti suamiku menuju kampungnya.
Tidak pernah kusangka bahwa perjalanan yang terlihat normal itu hampir menjerumuskanku ke jurang yang tidak berujung.
1
Jalan di pegunungan berliku-liku. Saat aku melihat ke luar jendela di sisi penumpang, terlihat jurang yang curam dan menakutkan. Aku ingin mengingatkan Candra untuk berkendara lebih pelan.
Tiba-tiba, di depan jalan, muncul seorang wanita yang membawa keranjang. Kami saling memandang sejenak sebelum wanita itu terjatuh di depan mobil kami.
Aku dan Candra segera keluar dari mobil.
Wanita itu terkejut saat melihat Candra. "Candra, kamu sudah pulang? Apa kamu datang untuk menjenguk Ibumu dan adikmu?"
Candra menjawab dan memperkenalkan kami berdua. "Ini Bi Ani dari desa. Dia seorang tabib yang hebat bagi penduduk desa."
Aku hendak menyapanya, tetapi tiba-tiba saja, Bi Ani melemparkan keranjang yang dia bawa ke arahku.
Aku dan Candra agak kaget, tetapi sebelum kami sempat bereaksi, kami berdua mendapat tamparan yang keras di wajah.
Aku mendorong Bi Ani menjauh. Namun, Bi Ani malah menarik wajahku lebih dekat dan berbisik dengan sangat pelan. "Lari sekarang juga."
Aku mengira aku salah dengar. Aku menatap Bi Ani yang sedang mencengkram rambutku. Dia melambai dan membentuk kata "lari" dengan bibirnya. Sedetik kemudian, wajahnya berubah menjadi wajah yang menyeramkan dan penuh amarah. Dia berteriak padaku dengan keras, "Dasar kamu wanita penggoda. Kamu tidak diundang di tempat ini. Pergi kamu sekarang!"
Candra segera menariknya ke samping dan menyuruhku segera masuk ke dalam mobil.
Aku melakukan apa yang Candra suruh, meskipun aku masih bingung dengan pesan Bi Ani. Kenapa aku harus lari dari tempat ini?
2
Perjalanan menuju desa tidak terasa mulus. Mobil kami terus berguncang dengan hebat sebelum akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Candra. Aku kaget saat melihat Ibu Candra, Ibu mertuaku, sedang duduk di depan pintu sambil mengunyah semangka dengan semangat.
Sebelum aku sempat turun dari mobil, sapaan hangat dengan suara riang terdengar. Mertuaku tersenyum lebar seperti bunga yang mekar. Aku turun dari mobil saat dia menyahuti tetangganya. "Ya, mereka datang menjengukku."
Mertuaku memperkenalkanku kepada tetangga tersebut. "Ayo, biar aku perkenalkan. Ini menantuku, Nana."
Barulah saat itu aku melihat bahwa tangan tetangga tersebut sedang menggenggam tali. Namun, di ujung tali itu bukanlah anjing atau hewan peliharaan lainnya, melainkan seorang wanita.
Ini pertama kalinya aku melihat pemandangan seperti ini. Tetangga itu menjelaskan bahwa wanita itu adalah menantunya. Hanya saja, menantunya itu agak bodoh, jadi dia harus mengikatnya. Kemudian dia bertanya padaku, "Apa kamu berasal dari kota juga?"
Sebelum aku sempat menjawab, tiba-tiba wanita malang yang diikat itu berjongkok dan berteriak dengan ganas. Bayi yang ada di tangannya hampir jatuh ke tanah. Untungnya tetangga itu cepat tanggap dan menangkap bayi tersebut. Kemudian, dia menendang wajah wanita itu dengan kejam hingga terjatuh.
Namun, teriakan wanita itu tidak berhenti. Dia berbaring di tanah sambil berteriak dengan suara yang serak, "Kota, kota ...."
Aku ingin mendekat untuk menghentikannya, tetapi Candra segera menarikku dan mertuaku masuk ke dalam rumah.
Saat pintu ditutup, teriakan dari luar masih terus terdengar.
3
Rumah Candra sama seperti yang terlihat dalam foto yang dia tunjukkan padaku. Dindingnya berlumpur dan terlihat rapuh, seolah-olah bisa runtuh kapan saja.
Saat kami masuk, adik Candra, Johan, sedang duduk di meja bulat di tengah ruangan. Dia sedang minum bir dan mengunyah beberapa butir kacang di atas meja.
Saat aku duduk, aku merasakan ada sesuatu yang menggosok-gosokkan kakiku.
Aku menundukkan kepala dan melihat Johan sudah melepas sepatunya dan menggosokkan kakinya yang kasar yang penuh kulit mati itu ke kakiku.
Aku terkejut dan langsung bangkit dari tempat dudukku. Meja bulat itu tidak besar, sehingga saat aku mendadak bangkit, meja itu bergoyang dan menyebabkan setengah piring kacang jatuh dari atas meja.
Johan tertawa. "Ternyata kakak iparku memang tidak humoris."
Aku melirik Candra yang sedang asyik dengan ponselnya.
Aku merasa kesal. Dia sudah menipuku kembali ke kampung halamannya dan membiarkan adiknya menggangguku di depan matanya tanpa membelaku sama sekali.
4
Malam itu, saat aku sedang mandi, aku mendengar suara dari luar pintu kamar mandi.
Kamar mandi di rumah itu memiliki pintu geser. Setelah aku membersihkan busa di wajahku, aku melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit. Dari celah tersebut terlihat seseorang yang mengenakan baju berwarna merah.
Aku berteriak dan segera berpakaian seadanya sambil memanggil Candra. Mertuaku dan Johan juga segera datang.
Johan saat itu sedang mengenakan baju merah yang mencolok.
Aku dengan terbata-bata menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada mertuaku, tetapi dia hanya menganggap sepele. "Kita semua satu keluarga. Tidak perlu malu-malu."
Saking kesalnya, aku mengatakan kata-kata kasar dan langsung pergi bekerja. Saat aku pergi, mertuaku masih berteriak padaku, "Kalau kamu begitu hebat, jangan pernah kembali lagi ke sini."
Seminggu kemudian, saat aku pulang kerja, aku melihat Candra sedang menungguku di luar kantor. Saat melihatku, dia segera berlari ke arahku dan memelukku erat. "Sayang, Ibu dan adikku sudah pergi. Kamu bisa pulang dan tinggal bersamaku."
Aku ingin mempertanyakan alasan kenapa dia tidak melindungiku waktu itu.
Namun, Candra justru bersikeras bahwa itu adalah masalah di antara aku dan Johan.
5
Suara mertuaku terdengar dari belakang. "Kamu sudah menikah dengan anakku hampir setahun, tapi masih belum memiliki anak."
Seorang gadis kecil dengan pakaian kotor menatapku dengan sepasang mata yang besar dan bulat.
"Ini adalah putri Johan. Namanya Chrissy. Usianya hampir tujuh tahun."
"Kalau Chrissy memanggilku sebagai Ibu, bagaimana dia harus memanggil Candra? Bagaimana dia harus memanggil Johan?"
Pada saat itu, aku sama sekali tidak mengerti pikiran mertuaku. Aku pikir dia hanya ingin memintaku mengadopsi Chrissy.
Namun, dengan wajah yang penuh keyakinan, dia sendiri yang menjawab, "Tentu saja dia memanggil Candra sebagai pamannya dan Johan sebagai ayahnya."
Aku tidak menyangka bahwa pemikiran seperti itu masih ada di kehidupan masyarakat modern. Aku juga tidak bisa mempercayai bahwa Candra dapat berdiri dan menyaksikan ini tanpa mengatakan apa pun.
Aku kembali ke dalam mobilku untuk berusaha menenangkan diri. Aku akan bersabar sebentar lagi.
Besok pagi, tidak peduli apa Candra bersedia atau tidak, aku akan meninggalkan tempat ini.
Aku sudah menikah dengan Candra hampir setahun, tetapi aku tidak pernah meminta sepeser pun dari penghasilannya. Setiap bulan dia mentransfer semua uangnya kepada Ibunya dan Johan.
Selain itu, semua pengeluaran di rumah kami bergantung pada pendapatanku sendiri.
Bahkan, setelah hampir setahun menikah, Candra selalu memperlakukan aku seperti orang asing. Aku bahkan tidak tahu bahwa adiknya, Johan, sudah menikah dan memiliki seorang putri.
Kalau dipikir-pikir lagi, selama setahun ini, sepertinya aku hanya menjadi mesin ATM baginya.
6
Kamar mandi di rumah Candra merupakan kamar mandi kering yang letaknya ada di samping kandang babi milik tetangga mereka.
Aku menahan bau busuk dan masuk ke dalamnya. Toilet kering tersebut sudah sangat tua dan rusak. Di dinding tipis yang bersebelahan dengan kandang babi, terdapat beberapa lubang kecil yang terbuka. Dari lubang-lubang tersebut, sesekali terdengar suara babi yang mendengkur.
"Luna? Luna, apa itu kamu?"
Suara seorang wanita terdengar dari kandang babi tersebut. Suaranya terdengar sangat lemah. Yang membuatku terkejut adalah dia berbicara dalam bahasa Indonesia yang lancar tanpa logat sedikitpun.
"Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu berada di kandang babi di tengah malam begini?"
Aku mendekat ke lubang kecil di dinding dan melihat seorang wanita yang berpakaian lusuh. Kakinya terikat dengan rantai besi dan seekor babi gemuk sedang tidur di sampingnya. Dia sendiri sedang merangkak di atas tanah yang kotor seperti seekor anjing.
Wanita itu menceritakan sesuatu yang membuatku terkejut dan terperangah.
Aku tidak pernah mengira bahwa keluarga mertuaku yang tampak biasa dapat melakukan hal-hal seperti itu secara diam-diam.
Dia mengetuk-ngetuk dinding itu dengan lembut. Dengan suara yang sangat rendah, dia memohon, "Ingatlah, namaku Susan Mentari. Tolong cari ayahku. Dia pasti sedang mencariku ke mana-mana. Aku mohon."
Aku berjanji dengan suara rendah, meskipun saat itu aku masih syok dan tidak bisa mempercayai semua ini. Aku segera keluar dari toilet.
7
Aku memegang kunci mobil yang sebelumnya sudah aku sembunyikan di saku celana erat-erat dan menyelipkannya di dalam pakaian dalamku.
Kunci mobil mungkin satu-satunya benda yang dapat membawaku keluar dari sini.
Tiba-tiba saja, mertuaku menarikku masuk ke dalam kamar. Dia kuat sekali. Aku tidak bisa melepaskan diri sama sekali dan terpaksa mengikutinya.
Aku melihat sepotong rantai tergeletak di samping tempat tidur.
"Kalau kamu tidak bisa memiliki anak dengan Candra, bagaimana kalau kamu mencoba tidur dengan Johan?"
Meskipun aku sudah menduganya, tetapi saat dia mengucapkan hal ini, aku masih merasa syok yang luar biasa.
Melihatku diam saja, mertuaku mengira aku menyetujuinya. "Candra dan Johan adalah saudara. Bagaimanapun juga, anak yang kamu lahirkan akan menjadi cucuku. Kita semua satu keluarga."
"Bagaimana dengan Candra? Apa Candra tahu soal ini?"
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan emosiku, tetapi suaraku masih sedikit gemetar.
"Ya, dia sudah tahu. Mereka berdua sudah merencanakan semuanya," jawabnya dengan percaya diri.