Dia langsung populer begitu masuk sekolah, semua orang ingin menjadi pacarnya.
Namun, dia berada di dalam ruangan kosong, memasang alat pendengar di telinga gadis itu, dengan lembut memegang telinga gadis itu.
Berpura-pura dianiaya dia berkata, "Sisi, jika kamu menciumku, kamu bertanggung jawab kan?"
Gadis tuna rungu yang polos X pengganggu sekolah yang nakal.
1
Pertama kali aku bertemu dengan Jefri adalah pada hari pertama aku pindah sekolah.
"Jefri, beri perhatian pada murid baru ini," kata wali kelas setelah aku memperkenalkan diri.
Dia tidak tahu bahwa kalimat itu adalah kalimat yang paling tidak ingin aku dengar.
Sebenarnya, aku tidak memerlukan siapa pun yang menjaga.
Melampaui harapanku, Jefri benar-benar tidak memberikan perhatian apa pun padaku.
Bagi dia, aku sama seperti murid lainnya di kelas.
Itu membuatku sangat berterima kasih.
Aku tidak pernah punya teman, dan dia adalah yang pertama.
Hingga suatu kali, aku melihat dia bersandar di dinding di luar sekolah dengan sebatang rokok yang belum habis dihisapnya.
Tanpa tahu dari mana mendapatkan keberanian, aku menggenggam tali tas kuat-kuat, berjalan ke arahnya, dan mengatakan dengan cara bicara yang terbata-bata: "Jefri, merokok itu tidak baik."
Implan koklea pendengaran membuat semua suara terdengar tidak enak di telingaku.
Namun, suara Jefri terdengar berbeda dari orang lain, aku suka mendengar dia berbicara.
Sejak itu, Jefri berubah.
Dia berubah, bersamaan dengan itu, rteman sekelas juga berubah.
Diskriminasi dan ejekan yang mereka lontarkan padaku semakin menjadi-jadi karena perubahan Jefri.
2
Bel berakhirnya istirahat telah berbunyi.
Aku cepat-cepat mengambil buku yang berdiri di jendela untuk melindungi Jefri dari sinar matahari.
Begitu dia melihatku, segala kelesuan di matanya menghilang dan akhirnya dia tersenyum dengan sikap yang sangat licik, "Mimpi lagi ya."
Saat itu guru masuk dari luar, aku tidak sempat memikirkan perkataan Jefri, kami langsung mulai pelajaran.
Jefri terlihat aneh hari ini.
Dia tidak pernah tidur siang di meja, tidak bolos, justru pada siang hari itu dia terus menatapku sepanjang hari.
Hingga saat pulang sekolah, dia bangkit berdiri dan menabrak sudut meja.
"Ayo jalan Kak Jef!" Siswa lain muncul dari luar kelas.
Aku kenal siswa itu, namanya Sandi, salah satu adik kecil Jefri.
Jefri tidak pernah mengangguku setelah sekolah berakhir, karena selalu ada banyak pertarungan yang harus dia hadapi dan banyak tempat yang harus dia hancurkan.
Tapi hari ini dia tidak pergi berkelahi.
Tidak tahu mengapa, Jefri membawa sekelompok orang di sampingku.
Lulu dua hari belakangan berubah sikap padaku, dia ingin menjadi temanku dan menemani pulang.
Dia satu-satunya orang di sini yang bersedia bersamaku pulang, jika Jefri ingin menindasku di jalan pulang hari ini, maka dia tidak mungkin mau pulang bersamaku lagi.
3
jefri berubah.
Semua orang secara diam-diam mengatakan dia berubah.
Sekarang adalah pelajaran mandiri, biasanya Sandi akan memanggil Jefri untuk pergi.
Sepertinya dia tidak pernah memperhatikan pelajaran mandiri dengan serius.
Bukan hanya pelajaran mandiri, tampaknya dia tidak mengikuti banyak pelajaran lainnya.
Aku dengan sadar berdiri untuk membiarkannya pergi, tapi dia langsung menangkap tanganku dan menekanku kembali ke tempat dudukku.
"Pergi." Jefri masih menatap Sandi yang berada di pintu, suaranya tidak keras dan tidak pelan.
Aku kaget dan begitu pula dengan Sandi.
Jefri mengulurkan jarinya dan menunjuk pertanyaan di buku latihan, dia bertanya padaku: "Kamu bisa kerjakan ini?"
"Coba jelaskan." Dia memberikan pulpen padaku.
Ini pertama kalinya seseorang bertanya padaku soal pelajaran.
Meskipun aku mendapatkan nilai bagus, tetapi karena aku menggunaan implant pendengar, pendengaranku terbatas, yang mengakibatkan cara bicaraku sangat tidak lancar.
Setelah aku dengan lambat dan gugup menjelaskan soal nya dengan baik, aku menatap Jefri, satu kalimat "Kamu mengerti?" terjebak di tenggorokanku dan tidak terucap.
"Gampang banget yah?" Jefri mengangkat alisnya, sedikit raut bangga di wajahnya, seolah-olah dia telah memahami soal yang sangat sulit.
4
Gadis-gadis yang menunggu Jefri di pintu gerbang sekolah datang satu per satu.
Akhirnya, di hari itu, aku melihat beberapa sosok yang aku kenal di antara para gadis itu.
"Hei, bukannya ini Sisi kan?" Ketua geng itu sedikit mengangkat daguku dengan jari telunjuknya.
Ketua geng itu adalah mantan teman sekelasku, aku memalingkan wajahku ketika melihat ekspresi marah yang jelas terlihat di matanya.
Namun, dia langsung meraih pergelangan tangan kiriku, sentuhan itu terasa seperti melakukan tekanan langsung pada jantungku, membuatku lupa untuk melawan.
"Sisi, kamu cukup pandai bersembunyi." Dia meraih tangan ku dengan keras, lalu aku merasakan sesuatu yang tidak normal di pergelangan tangan ku, dan dia tersenyum jahat, "Mati pun tidak akan tenang jika ini belum selesai."
Aku ingin mundur, tetapi dia menggenggam daguku dengan erat, melangkah lebih dekat, dan menundukkan kepalanya di dekat alat bantu dengatku sambil berkata, "Bagaimana? Kamu puas bisa pura-pura bunuh diri dan membuatku dikeluarkan?".
Aku tidak...
Tanpa ragu, gadis itu melepas alat bantu dengar dari telingaku dan melemparnya ke udara, seperti yang sering kali terjadi sebelumnya.
Ketika alat bantu dengar itu dilempar ke udara untuk ketiga kalinya, seseorang melompat dan menangkapnya di udara.
Aku melihat Jefri turun dengan pelan di hadapanku, seperti dewa turun dari langit.
Dengan satu tangan, dia menaruh alat bantu dengar itu ke dalam saku, dan dengan tangan lainnya menampar wajah gadis itu.
Dia dengan lembut menggantungkan alat bantu dengar itu di telingaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
5
Jefri benar-benar berubah, dia tidak lagi membuat orang kesal.
Aku melihat Jefri yang sedang tiduran di atas meja dan dengan lembut berkata, "Jefri, terima kasih."
Terima kasih telah membantuku mengambil kembali alat bantu dengarku kemarin.
Terima kasih kamu tidak bertanya apapun.
Tiba-tiba, Jefri berbalik dan matanya terlihat mengantuk, tetapi begitu dia fokus, dia berkata dengan jelas.
Jefri mengangkat kepalanya dan menganggukkan kepalanya, "Jika berterima kasih maka berikan aku tambahan pelajaran."
Dia mungkin berpikir bahwa dia tidak sopan dalam ucapannya, jadi dia berkata dengan tegas, "Setuju?"
Aku menggigit bibirku dan mengangguk, "Tapi, aku bicara ..."
"Baik jika sudah setuju, maka hari ini mulai" kata Jefri sambil melompat keluar jendela.
6
Aku menyadari bahwa segala sesuatu di sekitar semakin baik. Teman-teman sekelas menjadi semakin ramah, dan aku tidak lagi mendengar mereka yang sembunyi-sembunyi untuk memanggilku "tuli kecil".
Aku pikir aku akan pindah sekolah lagi, tapi yang tidak ku duga adalah ketika semuanya sepertinya akan menjadi akhir yang buruk, semua itu tiba-tiba saja berhenti.
Semuanya kembali seperti semula, kecuali Jefri.
Dia mulai mendengarkan pelajaran, setelah pelajaran dia meminta ku untuk menjelaskan soal, dan kadang-kadang setelah sekolah dia akan menarikku untuk memberinya sedikit les tambahan.
Aku menjalani hari-hari seperti ini selama sebulan, dan Lulu masih merasa semua ini tidak nyata.
Ketika kami pulang, kami dihadang oleh beberapa orang yang entah muncul dari mana secara tiba-tiba.
"Kamu adalah orang cacat yang membuat Jefri berubah?" kata ketua geng sambil menunjukkan rambut pirang yang mencolok dan membuang rokok yang masih menyala di tangannya.
Hanya gangguan pendengaran, bukan cacat...
Pemuda berambut pirang itu mendekati kami, dan Lulu melindungi ku dengan mundur beberapa langkah.
"Jefri memukuli teman-temanku, dia kira masalah ini sudah selesai?" pemuda berambut pirang itu mendekati kami, lalu meraih bahu Lulu.
Saat aku tidak tahu harus berbuat apa, sebuah tas terbang dari belakang ku dan mengenai kepala pemuda berambut pirang itu.
"Bagaimana? Temanmu belum cukup dipukul yah, jadi kamu juga ingin mencobanya?" suara Jefri terdengar di belakang ku.
Aku secara refleks meraba alat bantu dengarku dan memang sudah tidak ada.
Jefri dan pemuda berambut pirang itu berbicara sesuatu, tetapi aku sama sekali tidak bisa mendengarnya.
Aku tidak tahu mengapa dia mengambil alat bantu dengarku, tetapi dalam situasi seperti ini, aku tidak berani mendekatinya untuk memintanya kembali.
7
Lulu menarikku duduk di tangga sebelah.
Tidak tahu sudah berapa lama berlalu, lampu jalan di dekat kami semakin terang.
Sebuah bayangan muncul di depan kami, dan ketika aku mengangkat kepala, aku melihat mantel Jefri sudah acak-acakan.
Dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan alat bantu dengarku, menggantungkannya di telingaku.
"Pulang yuk." Bersama dengan suara-suara di sekitar ku, juga ada ucapan ringan darinya.
"Apakah kalian berkelahi?" Aku melihat keringat di dahi Jefri dan bertanya dengan suara lembut.
Dia menggeleng dan tersenyum dengan sombong di bibirnya.
"Tidak."
Jefri berbohong.
Dia benar-benar berkelahi dengan pemuda berambut pirang kemarin.
Ketika bajunya terjatuh, aku melihat memar di lengannya.
Saat aku keluar dari ruang UKS, aku mendengar kabar gosip dari orang yang lewat dengan cepat.
"Ayah Jefri datang?"
"Ya, dengar-dengar ayahnya adalah bos besar perusahaan mana gitu, tidak heran dia menjadi galak."
Jefri tidak pernah kembali ke kelas pagi itu.
Aku dengar Jefri bertengkar dengan ayahnya di kantor kepala sekolah dan lalu melarikan diri.
Di atap itu tidak ada banyak hal, sekejap mata aku bisa melihat Jefri yang duduk di pojok.
Ketika aku mendekatinya, dia mengangkat kepala dari lututnya, dan sepasang mata yang sedikit memerah menatapku.
Dia menatapku dan tiba-tiba tersenyum, "Akhirnya kamu datang."
8