Aku mengalami kekerasan dari pria yang aku sukai di sekolah.
Pacarnya merekam adegan saat pakaianku ditarik dan robek.
Michael Sonata duduk di sofa seolah-olah menonton pertunjukan lucu. Lalu, dia mengambil puntung rokok dan menekannya ke dadaku sehingga membekas menjadi bekas luka yang jelek.
Kemudian, dia berkata bahwa dia mencintaiku dan bahkan siap mati untukku.
"Kalau begitu mati saja, Michael."
1
Ketika aku menyukai Michael, dia masih belum memiliki pacar.
Kami pertama kali bertemu di dalam bus.
Entah mengapa kartu busku tiba-tiba rusak, alat pemindai kartu tidak bisa membacanya.
Kala itu, Michael yang berdiri di belakangku melihatku dalam kebingungan. Dia pun langsung memasukkan uang dua ratus ribu ke dalam mesin dan berkata bahwa dia sudah membayarnya untukku.
Aku bersyukur dan mengucapkan terima kasih dengan sopan padanya. Dia tersenyum seraya berkata tidak masalah.
Kemudian, aku tahu bahwa sebenarnya dia selalu diantar oleh sopir pribadi.
Pada hari itu, dia dan keluarganya bertengkar, jadi dia memutuskan untuk naik bus sendirian.
Sejak hari itu, Michael yang memiliki senyuman manis menjadi sebuah rahasia di dalam hatiku. Sementara itu, kini dia duduk santai di sofa sambil membiarkan pacarnya menindasku.
Ini adalah tetes harga diri terakhirku di hadapan orang yang kusukai. Bahkan, aku sudah bersiap untuk melompat dari balkon jika mereka tetap ingin merekam video telanjangku.
"Bagaimana rasanya menyukai pacar orang?" Sebuah tamparan mengenai pipiku yang terasa sangat sakit. Air mata hangat yang menetes di pipiku seakan-akan menjadi sangat dingin.
Padahal, aku tidak melakukan apa-apa selain menyukainya diam-diam. Aku hanya menulis namanya di dalam buku, tetapi dia menyebutku "tidak tahu malu".
Aku menatapnya dengan putus asa, lalu menggeleng dan memohon agar dia berhenti. Ketika Michael berdiri di hadapanku, naluriku ingin kabur, tetapi seseorang menahanku dengan paksa.
Saat berikutnya, bekas merah dari rokoknya terlihat di dadaku.
"Kak Michael berani sekali. Kamu menggunakan puntung rokok untuk melukai seseorang."
2
Dalam periode ketika aku menyukai Michael, aku mengenal keluarganya dengan sangat baik.
Misalnya, dia naik bus hari itu karena ayahnya menikahi istri baru tepat setelah ibunya meninggal.
Putra dari keluarga kaya yang tampaknya tidak kekurangan segalanya, sebenarnya paling kekurangan cinta dalam hatinya.
Yosie Tirta adalah sahabatku dari kecil. Dia tidak mengerti, jelas-jelas mengetahui mereka orang seperti apa, mengapa aku masih mengambil risiko untuk menemui mereka.
Aku melepas pakaianku untuk menunjukkan pada Yosie luka bakar yang jelek di payudara kiriku.
"Yosie, aku hanya bisa menghadapi mereka." Luka di dada kiriku terasa sakit setiap kali jantung berdetak. Setiap kali kesakitan, aku makin membenci Michael.
Ketakutan dan kepengecutan hanya akan membuat penindas menjadi lebih jahat.
3
Aku mengambil cuti panjang setelah kejadian ini untuk pulih dari cedera.
Untuk tampil cantik di depan Michael, aku mencoba yang terbaik untuk belajar merias wajah dan cara berpakaian.
Orang yang beruntung memang hidupnya dimudahkan. Begitu aku berjalan ke halte bus, aku melihat Michael duduk di sana. Dia menundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku mengumpulkan keberanian untuk naik dan menyapanya dengan berpura-pura murah hati.
Aku membeli dua bungkus es krim dan menyodorkan satu ke tangannya.
Aku memakan salah satunya. "Ibuku bilang, kalau suasana hatimu buruk, makan es krim akan membuat suasana hatimu menjadi baik."
Michael menoleh dan menatapku. Setelah sekian lama, dia baru berkata, "Hari itu ...."
"Hari itu, aku memakan es krim di sepanjang jalan pulang." Aku menyela perkataannya dan sengaja terdengar menyedihkan.
Aku berpura-pura tidak peduli dan menyuruhnya untuk tidak khawatir. Lagi pula, bekas luka itu ada di dada kiriku, jadi aku akan menganggapnya sebagai bekas yang dia tinggalkan di hatiku.
"Tidak apa-apa, Michael. Aku menyukaimu, jadi aku tidak merasa sakit.
"Michael, namaku Teresa Sonia. Kamu harus ingat, ya."
Michael Sonata, kamu harus mengingat namaku baik-baik. Sebaiknya, itu selalu membara di benakmu seperti bekas lukaku.
Sebab, permainan baru saja dimulai.
4
Pada hari pertama kembali ke sekolah, Silvia langsung memperingatiku.
Di hadapan tatapan ketakutan dari teman sekelas, aku menendang mejaku.
Seekor ular putih kecil merangkak keluar dari buku-buku yang berantakan. Ular di musim dingin itu terlihat agak lemah. Belum lagi, ular kecilnya tidak setebal jariku. Dengan mengandalkan embusan napas, aku membawanya langsung ke ruang kelas Silvia.
Aku langsung menarik kerahnya dari belakang, lalu memasukkan ular di tanganku ke dalamnya. Awalnya, raut wajahnya yang masih terlihat puas langsung ketakutan. Dia berusaha mengeluarkan ular itu.
Aku segera meraih tangannya, lalu menjambak rambutnya dengan punggung tanganku dan memperingatkannya dengan kejam, "Sebaiknya, kamu jangan mencari masalah denganku lagi. Kalau tidak, aku akan membiarkanmu mengetahui kehebatanku."
Dalam perjalanan kembali ke kelasku, kedua tanganku gemetaran. Semua kekuatanku sudah habis terkuras ketika mengambil ular itu menggunakan tangan. Kini, aku merasa sangat takut.
Memang benar bahwa potensi seseorang dapat dikembangkan tanpa batas. Aku bisa-bisanya menggenggam tangan Silvia.
Sepanjang jalan, aku terus-menerus memberi semangat untuk diri sendiri. "Teresa Sonia, kamu melakukannya dengan baik. Kamu tidak boleh menjadi orang yang mudah diinjak dan diremehkan lagi."
"Sudah ketakutan sampai segitunya, tapi masih berani mengancam orang lain?"
Michael tiba-tiba muncul di hadapanku dan membuatku terkejut.
Saat berikutnya, Silvia datang dengan rambut berantakan dan melihat kami berdua di lorong. Dia langsung berteriak, "Teresa! Aku akan membunuhmu!"
Melihat wali kelas yang muncul di ujung lorong, aku pun mempunyai rencana.
Sebelum tamparan Silvia mengenai wajahku, aku langsung berpura-pura pingsan.
5
Ketika aku membuka mata dan duduk di ruang UKS, aku terkejut melihat bahwa yang menungguku adalah Michael.
"Teresa, kamu menyukaiku, 'kan? Apa kamu sudah takut karena rasa sakit ini?" Dia membungkuk untuk mendekatkan diri ke arahku, tetapi kata-katanya terus menekanku.
Sambil berpura-pura polos, aku menatapnya dan segera memegangi lehernya untuk menciumnya.
Dengan senyuman licik di wajah ketika dia terkejut, aku berkata, "Karena aku sudah diberi pelajaran, aku tentu harus bersalah untuk menerima hukuman itu."
Michael memelototiku dengan tajam dan akhirnya pergi dengan membanting pintu.
Ternyata, dia tidak menyukai sosok yang polos. Dia lebih menyukai orang yang bersemangat dan energik.
6
Ketika liburan musim dingin tiba, aku menemukan sesuatu yang baru saat pergi ke pemakaman.
Hari itu adalah hari peringatan kematian kakekku. Pagi-pagi sekali, aku sudah membeli bunga krisan putih dan pergi ke gunung. Namun, aku melihat nama yang agak familier di batu nisan baru di pemakaman.
Setelah mencari di Google, ternyata itu adalah ibu dari Michael.
Setelah mencatat tanggal peringatan kematian ibunya, aku pun bersiap-siap pergi ke gunung pada hari itu.
Ketika langkah kakinya makin dekat, aku berbicara dengan suara rendah, "Tante, kalau kamu ada di surga, harap berikan keselamatan serta kebahagiaan bagi Michael. Kalau dia tidak akan suka padaku di masa depan, maka akku berharap dia bisa hidup dengan damai dan bahagia."
"Apa yang kamu lakukan?"
Aku pura-pura terkejut dan memandang ke arahnya.
"Aku ... hari ini adalah hari peringatan kematian kakekku, aku... sekalian saja melihat tante."
Supaya dia memercayai perkataanku bahwa ini hanya kebetulan, aku pun menunjuk ke arah batu nisan kakekku.
Michael menatap lurus ke arahku adn bertanya dengan tatapan bingung, "Sebenarnya, karakter aslimu seperti apa?"
"Setiap kali aku bertemu denganmu, kamu terlihat berbeda, baik di halte bus, lorong sekolah, ataupun kamu yang barusan, atau ...." Dia terdiam sejenak, lalu terlihat agak kesulitan untuk melanjutkan, "Ketika kamu sedang ditindas oleh Silvia. Sebenarnya, mana yang adalah dirimu?"
"Semuanya adalah aku. Aku memang gabungan dari berbagai sisi yang berbeda. Bukankah kamu juga begitu? Saat pertama kali aku bertemu denganmu, kesan yang kamu berikan padaku adalah lembut, tapi kemudian ...." Aku juga berhenti sejenak. Tampaknya, Michael dan aku sama-sama menyadari sesuatu.
"Kenapa?" Dia menundukkan kepala dan bergumam, "Kenapa kamu masih mengatakan bahwa kamu menyukai aku, padahal aku sudah bersikap seperti itu padamu?"
"Karena kamu adalah Michael, yang membantuku keluar dari situasi sulit. Aku tidak percaya kamu benar-benar seperti Silvia."
Aku memberikan senyuman yang penuh rasa lega. "Michael, aku tidak menyalahkanmu."
7
Sejak hari itu, di siang hari aku menjadi orang yang pendiam, sibuk belajar di sekolah, tetapi di malam hari aku menjadi pelakor yang berani dan antusias.
Namun, masalah ini akhirnya terungkap.
Silvia tidak bisa masuk sekolah. Dia kembali mengobarkan perang di dinding pernyataan cinta dan mengancam untuk mempublikasikan video kami jika aku terus melakukannya.