Perundungku di sekolah berkata ingin memacariku.
Namun, dia tidak tahu bahwa sohibnya mengatakan hal yang sama kepadaku malam sebelumnya.
Sedangkan aku pun memberikan jawaban yang sama.
"Oke."
Ayo, mari kita bertemu di neraka.
1
Perundungku di sekolah berkata ingin memacariku.
Dia bilang, dia menggangguku karena dia menyukaiku.
Aku menjawab, "Oke."
Setelah mendengar persetujuanku, mata Austin langsung berbinar. Akan tetapi, dia segera memalingkan wajahnya dan berkata, "Adalah sebuah keberuntungan bagi wanita kuno nan miskin sepertimu karena disukai oleh ...." Ucapannya terpotong karena aku tiba-tiba berjinjit untuk menciumnya secara paksa.
Austin mengira dia menyukaiku adalah sebuah ketidaksengajaan. Lantas, dia berbaik hati mengizinkanku untuk berpacaran dengannya.
Dia tidak tahu bahwa aku sengaja menarik perhatiannya pada hari pertama masuk sekolah. Aku yang merencanakan agar dia menyukaiku.
Dia juga tidak tahu bahwa sohibnya, Dylan, mengatakan hal yang sama kepadaku malam sebelumnya. Dan aku memberikan jawaban yang sama.
Pemburu yang unggul biasanya muncul dengan gaya pemburu. Sedangkan aku pandai mencapai dua hal dengan melakukan satu tindakan.
Aku menyiapkan pembalasan dendam ini dengan hati-hati. Sedangkan Austin dan Dylan ada dalam daftar targetku.
Selamat bergabung.
2
Pada hari pertama aku berpacaran dengan Austin.
Dalam daftar "100 hal yang harus dilakukan oleh pasangan" yang beredar di internet, menyaksikan matahari terbit bersama mungkin merupakan hal yang hangat dan romantis.
"Pe ... pe ... pelan-pelan." Aku duduk di dalam mobil sport edisi terbatas dengan wajah pucat, tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk berhenti.
Aku hanya bisa mengangkat tanganku untuk menamparnya.
"Plak!" Mobil pun berhenti melaju. Austin sudah mau gila.
Aku mesti mencegahnya menggila.
Karena itu, begitu mobil berhenti, aku langsung menghardik, "Austin, kalau kamu mati, bagaimana denganku?"
Austin tercengang. "Hah?"
Lantas, dengan keterampilan akting yang bagus, aku mendaratkan tiga tamparan lagi dengan cepat, tepat dan akurat.
Dengan air mata berlinang, aku memanggil orang yang datang. "Dylan."
Dylan adalah sohib Austin sejak kecil hingga beranjak dewasa.
Dari tingkatan tertentu, Dylan adalah versi yang lebih baik dari Austin. Dia lebih unggul, lebih disukai dan lebih pandai berkoar-koar.
Pandangan Dylan mendarat pada air mataku selama sedetik, lalu dia tersenyum. "Austin mengganggumu lagi?"
Austin akhirnya menyadari apa yang baru saja terjadi. Dia mulai membela diri. "Aku tidak mengganggu Renee. Walaupun kelihatannya meragukan, sebenarnya tadi kami sedang berkencan. Aku dan Renee sudah berpacaran."
Semuanya terjadi begitu cepat. Paha bagian dalamku tiba-tiba terasa sakit. Dylan sontak menoleh dengan raut dingin. "Apa katamu?"
3
Dylan menarikku ke ruang musik yang kosong, kemudian tersenyum sambil bertanya, "Ada apa antara kamu dan Austin?"
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya demikian kepadamu?" Aku sama sekali tidak panik, melainkan menyudutkannya. "Kenapa kamu tidak memberi tahu Austin bahwa kita berpacaran?"
Senyum Dylan membeku.
"Lagi pula, kamu sudah lama bosan menjadi 'wali' Austin, kan?" Selama ini, Austin membuat banyak masalah, dari besar sampai kecil, yang semuanya diselesaikan oleh Dylan. Aku terpikir akan tulisan dalam buku harian, lalu tersenyum kian lembut. "Aku akan mengajarimu sebuah cara. Dijamin ampuh."
"Renee, sepertinya aku lebih menyukai kamu yang sekarang."
Kesepakatan kami tercapai begitu saja. Sialnya, sebelumnya kami keluar, Dylan bersikeras untuk menggigit bibirku.
Katanya, stempel.
Waktu makan siang, Austin melihat luka di bibirku dan langsung menanyakan penyebabnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya," jawabku sambil menunduk. Suara dan bahuku gemetar bersamaan. "Tanyakan saja kepada Dylan."
Sorenya, Dylan mencariku dengan salah satu mata memar.
4
Pada bulan pertama aku berpacaran dengan Austin.
Pagi-pagi sekali, aku langsung menerima kotak makan lima tingkat yang penuh cinta, besar nan mewah dari Austin. Isinya adalah berbagai bahan makanan mahal. Di antaranya ada seekor lobster batik yang tangannya dibentuk hati.
"Renee, di mana hadiahku?" tanya Austin dengan nada manja sembari telungkup di bahuku.
Setelah berpikir, aku mengeluarkan sekeping uang logam dari sakuku. "Waktu kecil, aku sakit-sakitan. Katanya, memakai perhiasan perak bisa melindungiku dari makhluk halus. Tapi keluargaku tidak sanggup membeli perhiasan, jadi aku dipakaikan uang logam ini. Jadi, ini adalah jimat pelindungku, bendaku yang paling berharga. Apakah kamu mengerti?"
Austin merasa terharu hingga pelupuk matanya memerah. "Mengerti. Tenang saja, Renee, aku akan menyimpannya dengan baik."
Malam itu, Dylan datang mencariku.
Katanya, Austin sangat menyayangi uang logam pemberianku. Katanya, dia tidak pernah melihat Austin begitu memperhatikan seseorang. Katanya, Austin berencana untuk membawaku menemui keluarganya tiga bulan kemudian.
Terakhir, dia bertanya, "Renee, kamu dan Austin baru kenal tiga bulan. Kenapa kamu begitu memahaminya?"
5
Pada bulan ketiga aku berpacaran dengan Austin, Austin membawaku pergi menemui keluarganya.
Selagi Austin mengambil buah di dapur, mereka memberiku sebuah amplop yang tebal.
Amplopnya agak tebal. Apakah wanita-wanita ini memberiku selembar cek 10 miliar?
Begitu membuka amplop tersebut, aku pun membeku.
Amplop itu berisi foto Austin kecil yang tidak memakai baju, memperlihatkan pahanya yang putih nan gemuk, dengan kepala mendongak sambil menangis. Saat Austin keluar dan melihat foto aibnya waktu kecil, wajahnya langsung merona. "Kenapa kalian menunjukkan ini kepada Renee?"
"Kamu pertama kali membawa gadis ke rumah, tentu kami harus menunjukkan sesuatu yang berbeda kepadanya." Ibu Austin tersenyum penuh makna.
"Ini bukan apa-apa. Waktu SMP, dia mendorong teman sekelasnya dari tangga karena tidak menyukainya. Teman sekelasnya itu mengalami patah tulang."
"Sepertinya anak itu melapor polisi, alhasil tidak ada satu pun orang di sekolah yang bersedia bersaksi untuknya. Lucu!"
Aku menunduk dengan kuku menancap telapak tanganku. Aku berusaha mengendalikan suaraku agar tidak terdengar bergetar. "Dia sudah mati."
Bagaimana aku tahu? Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri saat itu. Aku melihatnya jatuh dari lantai atas, kemudian berlumuran darah.
Namun, aku hanya bisa menjawab, "Aku hanya menebak."
6
"Aku sudah lama menyuruh Austin untuk mencari pacar. Austin ini anak laki-laki, toh dia tidak dirugikan."
"Benar-benar. Dengan mengeluarkan sedikit uang, membeli hadiah kecil sudah bisa membuat seorang mahasiswi yang muda nan cantik merawatnya. Ini lebih setimpal ketimbang mempekerjakan seorang pengasuh."
"Terutama bersih! Tidak usah takut tertular penyakit!"
Orang kaya tidak lagi menentang putranya memacari gadis miskin karena mereka membutuhkan seorang wanita muda, cantik, patuh dan bersih untuk merawat putra mereka. Sedangkan berhasil gagalnya hubungan mereka ....
Huh, tidak penting, toh anak laki-laki tidak dirugikan.
Ponselku baru saja menerima pesan dari Dylan. Dia mengatakan bahwa dia akan menjemputku dan: "Putuslah dengan Austin. Aku ingin menjadi pacarmu satu-satunya pacarmu."