Fajar menyingsing, aktivitas yang telah dimulai lepas subuh menjadi semakin ramai. Celoteh ibu-ibu sedang berbelanja sayur dan ikan, riuh candaan serta gelak tawa mereka.
"Eh Bu, tau nggak?"
"Tau apa Bu Eko?"
"Tetangga saya dulu pernah nyuruh anaknya untuk belanja."
"Emang kenapa Bu?"
"Gini ceritanya …."
Ibu-ibu dan juga kang sayur memperhatikan Bu Eko bercerita.
"Wan kau pergi belikan Mak bahan buat masak sayur bayam e, jan lupa sama kuncinya kau beli juga."
"Kunci?"
"Iyoo, ko pi cepat!" perintah si Mama pada anaknya.
"Pas balik ke rumah, sudah beli bahan buat masak sayur bayam begini ni …." lanjutnya.
"Ma ini sa su beli," ucap Wawan dengan bangga.
"Mana sa mo liat … Apa ini?"
"Sa suruh ko beli bumbu daun kunci kenapa beli kunci Inggris ko mo sa makan besi ka?"
"Abis Mama ada bilang beli kunci to sa beli saja semua kunci."
"Jadilah sayur kunci Inggris!"
Gelak tawa pun pecah setelah Bu Eko selesai bercerita. Semua ibu-ibu yang sedang berbelanja tertawa, karena mendengar kepolosan Wawan dalam cerita tersebut. Kecuali satu orang ….
"Bu Nea kenapa? Kok nggak ikut tertawa?" tanya Bu Ani sedikit menyindir.
"Ah? Saya nggak papa Bu, hanya sedang ada banyak pikiran," ucapnya sembari memberikan barang belanjaan yang telah dipilih ke tukang sayur untuk ditotal.
"Saya duluan ya Bu," pamit Nea dengan perlahan. Ibu-ibu itu pun mulai ritual ghibahnya.
"Tau nggak Bu? Kalau Bu Nea itu suka begitu?"
"Ih? Masa' sih Bu Ani?"
"Iya, apalagi kan lakinya jarang di rumah. Selalu pulang larut, berangkat subuh."
"Kasian ya Bu Nea … padahal baru juga 3 bulan nikah."
"Iya Bu, kasian. Padahal kan ya, 3 bulan itu masih anget-angetnya."
"Hussh! Kalian? Pak Neo kerja dengan tekun juga, demi keluarganya," bela Bu Ningsih.
"Iya nih, Bu Nea aja dibeliin payung emas sama suaminya. Kita? Boro-boro payung emas, bakiak emas aja lama belinya," keluh Bu Santi yang merasa sedikit sedih.
"Lagian juga cuma karena Bu Nea sering bengong dan juga pendiam aja, kalian gosipin dia," sindir Bu Siti yang sedari tadi menyimak.
Mereka hanya tersenyum malu sambil melanjutkan kegiatannya, dan tetap mengobrol.
***
Nea Nur Latifah, seorang perempuan berusia 25. 3 bulan lalu menikah dengan Pramudya Neo Saputra, seorang pengusaha muda yang mulai sukses dan sangat sibuk.
"Assalamu'alaikum …." ucap Nea ketika memasuki rumah, sambil terus menuju dapur.
"Wa'alaikumussalam," jawab lirih seorang pria berambut hitam yang duduk di meja makan. Mata coklatnya fokus membaca berkas.
"Mas sudah mau berangkat?"
"Setelah selesai baca laporan ini."
Nea mengangguk dan melenggangkan kakinya menuju dapur, dengan sigap ia membuatkan secangkir kopi untuk suaminya.
"Ini Mas. Hati-hati masih panas." Nea menyodorkan secangkir kopi di depannya.
"Makasih sayang."
Neo melanjutkan kegiatannya, tangannya mengambil gelas dan langsung meminumnya.
"Uhuk! Uhuk?"
"Mas kenapa?" tanya Nea yang buru-buru menghampiri sambil membawa segelas air bening.
"Pedas!" jawabnya kepedesan.
Nea memberikan air bening tersebut dan melihat wadah sambal yang terbuka tepat di samping berkas.
"Mas terlalu fokus sama berkas, sambel diminum …." Nea menggelengkan kepalanya.
Pukul 06.00, Neo yang telah selesai menghabiskan sarapannya bergegas berangkat sambil membawa berkas-berkasnya. Iapun berpamitan pada Nea yang masih memakan sarapannya.
"Mas berangkat dulu ya."
"Hati-hati di jalan, sayang."
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam …."
"Mas!"
Nea segera beranjak dan buru-buru keluar. Iapun langsung membuka pintu depan dan melihat mobil Neo yang sudah berada di jalanan.
"Duh! Mas Neo." Nea memegang kepalanya yang mendadak pusing.
Sembari fokus melihat jalanan, Neo mengendarai mobilnya dengan kecepatan stabil. Hingga ia menepikan mobilnya dan ke toko minuman untuk membeli kopi. Namun saat ia hendak keluar, ponselnya berdering. Terlihat di layarnya 'Ayam memanggil'. Sambil mendengus, Neo menerima panggilan tersebut dan keluar dari mobil.
"Ada apa?"
"Abang di mana?"
"Mau beli kopi, kenapa?"
"Ah? Oooh … aku belikan soda cabe ya."
"Jadi perlumu itu aja Yam?"
"Hehe …."
Dengan kesal Neo masuk ke toko minuman dan memesan kopi serta soda cabe. Pria itu merasa diliatin oleh orang sekitar, ia menoleh. Tapi tidak ada yang terjadi, hanya orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Setelah selesai, ia membayar dan langsung kembali menyusuri jalan menuju tempat kerjanya sambil mengendarai mobilnya.
Sampailah ia di kantor. Setelah memarkirkan mobilnya, Neo bergegas menuju ruang kerjanya.
"Pagi Pak Neo. Wah! Gaya baru Pak?" sapa seorang karyawan yang sok akrab.
Karena merasa kedinginan, Neo hanya berjalan dengan langkah cepat hingga sampai depan pintu. Saat ia membuka pintu, terlihat Valsartan Pramudya S. Adik kembar Neo, hendak membuka pintu juga sambil membawa sebuah tas kecil.
"Lah? Abang dah sampai?" tanyanya dengan kaget.
"Ya …."
"Abang nggak ngerasa aneh kah?" Vartan mulai bertanya dengan usil.
Neo menatap adiknya itu dengan alis terangkat, ia meletakkan semua berkas dan juga minumannya di atas meja kerja. Kemudian mulai membaca berkas baru.
"Bang!"
"Daripada kau mengganggu. lebih baik kau mulai kerja Yam!" ucap Neo yang merasa terganggu. Iapun mengambil salah satu minuman dan mulai menyeruputnya.
"Sebenarnya Abang nggak pakai celana!" ucapan Vartan menghasilkan semburan soda cabe dari mulut abangnya.
Dengan gelagapan Neo bergegas mencari air minum kemasan dalam lacinya dan meminumnya setelah menemukannya.
"Uhuk? Apa Tan?" tanya Neo sambil menenangkan diri.
"Celana Abang kemana?" timpalnya sambil menahan tawa.
"Heh?"
Neo melihat bagian bawahnya, nampak celana boxer warna merah muda dengan motif paus biru menutupi daerah privasinya.
"...."
"Bang? Tenang Bang! Aku bisa jelasin kok … Bang?"
Neo yang tidak mau mendengarkan omongan adiknya, langsung menjepit kepala Vartan sambil menarik telinga dan pipinya.
"Kenapa kau dari tadi diam aja?" tanya Neo dengan kesal.
"Aku mau bilang, tapi Abang keburu nutup teleponku tadi …."
"Pantas saja orang-orang pada ngeliatin aku tadi," batin Neo yang merasa malu.
"Kan bisa bilang dulu, baru pesen!"
"Ya … aduh! Bang. Ampun …." rengek Vartan yang telinganya dijewer tanpa ampun.
"Waktu aku mau nungguin Abang di parkiran, Abang malah sudah sampai di sini." Vartan memberontak dan lepas dari jepitan lengan Neo.
"Nih. Titipan dari Kakak Ipar! Dia bilang untuk meminjamkan satu celanaku pada Abang." Vartan melemparkan tas kecil yang tadi ia bawa.
"Dan dia juga bilang, kalau dia akan menunggu Abang pulang," imbuh sang adik yang kemudian beranjak keluar ruangan.
"Duh …."
Neo mengeluh sembari menundukkan kepalanya.
"Bisa habis aku, dimarahi Nea …." batinnya.
***
Langit hitam berhias bintang, tak seindah pikiran dan hati Neo yang sedang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Neo masuk secara mengendap-endap. Namun ketika dia hendak melewati ruang tamu.
"Klik!" ruangan yang tadinya gelap, mendadak terang.
Neo bergidik ngeri sembari menoleh ke arah saklar lampu. Ia terkejut, melihat penampakan berwajah putih.
"Aaaaahhhh?" teriaknya.
"Mas kenapa?" tanya Nea dengan tenang, muncul sambil mengenakan masker kentang.
"Ng–nggak kenapa-napa sayang." Neo mendekati Nea sambil tersenyum manis.
Ia keluarkan satu buket bunga mawar kristal beserta camilan yang banyak. Nea menerimanya dan tersenyum manis.
"Terima kasih Mas," ucap Nea sambil meletakkan hadiah tersebut di meja.
Neo merasakan ada bahaya yang mendekat. Iapun perlahan berjalan mundur. Nea menatap suaminya.
"Mas kenapa?"
"Ng–nggak papa sayang."
"Terus tadi pagi kenapa berangkat pakai kemeja, jas dan boxer?"
"Em … lupa pakai celana …." Neo mengkerut tak berani lagi menatap istrinya.
"Itu aurat Mas! Kenapa Mas umbar? Itu punyaku lho. Punyaku!" ucap perempuan itu dengan nada ngambek.
"Maaf sayang. Mas lupa pakai celana tadi, karena fokus lihat berkas sambil lirik istriku," ucap Neo sedikit menggoda.
"Huh? Alasan aja! Malam ini Mas tidur di kandang Beruang. Titik!"
"Loh? Sayang? Kok gitu?"
"Biar Mas nggak lupa lagi pakai celana, karena bakal ketemu Beruang kalau kelupaan lagi."
"Fokus boleh Mas, asal ingat dan sadar akan diri sendiri serta sekitar!" imbuh istrinya sembari mengunci pintu kamar.
"Eeeeh?"
Malam itu Neo tidur ditemani Beruang peliharaan mereka. Sambil menangis, karena rada takut. Lelaki itu meratapi nasibnya.
"Udah apes, malu. Sekarang tidur sama Beruang. Nasib … nasib …." keluhnya yang dijawab geraman beruang.
・㉨・
Sidoarjo, 05 Juni 2023
⋆。゚☁︎。⋆。 ゚☾ ゚。⋆