Mars memarkir " Harley Davidson" di pinggir jalan. Ia sedang berada di sepanjang jalan menuju Bandar Lampung dimana kumpulan pohon kelapa sawit menyapa matanya saat tiba di rute itu. Lelaki itu melepas kaca mata hitam dan masker kemudian mengendorkan jaket kulit yang ia pakai denganenaril resleting agar ada angin bertiup kebadannya yang tadi tertutup rapat.Seringai tak senang muncul saat ia menyeka keringat di dagunya. " Astaghfirullah...kenapa pula motor ini ngadat!" Ia mengeluarkan " Marlboro" memantik api dan menghisap dalam dalam rokok tersebut. " Ach....tak sesuai rencana. Padahal sesi bebas ku hanya hari ini". Ujar lelaki muda itu. Marsellino namanya, seorang lelaki tampan yang terkenal sebagai aktor laga arogan. Ia menjadi aktor sejak usia 16 tahun. Aktingnya dimulai setelah ia menjuarai Teakwondo tingkat Nasional. Wajar ia terpilih dalam audisi karena tubuhnya yang athletis, tinggi,dan tampan. Wajahnya oval, mata agak sipit dan terkesan galak, bola matanya hitam legam,hidung mancung, bibir tipis kemerahan.ia pun cerdas dalam mata pelajaran. Ia gelisah menanti kru filmnya datang menjemput." Si Iwan dan Darwis belum terlihat, padahal sudah di WA sepuluh menit yang lalu" ujarnya mengibaskan beberapa daun kelapa kring yang menempel di celana panjangnya. Matanya menelusuri tempat ia berada. Ia berharap ada pengemudi yang berhenti dan memberinya tumpangan. Harapan itu tampaknya hampa karena tak lama turun hujan cukup lebat. Mars berteduh di sebuah pondok tempat petani menjual buah buahan yang saat itu kosong. " Hujan pula..." Ujarnya. Rokok yang ia hisap mati karena guyuran hujan. Termenung diantara derh angin dan curah hujan membuat ia teringat akan salah satu temannya yang ia rindukan hingga kini." Iklima..." Tak sadar bibirnya mengucap nama itu. Ia sering mengolok olok Iklima karena gadis itu selalu ceroboh.Pernah suatu ketika saat praktikum Biologi dan mereka satu kelompok, pak Ranto telah memberitahu agar tidak sembarang memegang atau mencium zat zat yang ada di Lab tersebut. Gadis itu tak mencampkan apa yang dikatakan pak Ranto, ia menuangkan asam amoniak pekat dan menciumnya seketika Iklima tak sadarkan diri. Aksinya itu membuat kelas biologi ramai dan kelompok mereka di hukum untuk membereskan ruangan lab tersebut.Pertemuan pertama mereka awali dengan gadis itu menarik celana olahraganya karena ia tersandung dan berpegangan pada Mars yang saat itu habis berlatih basket. Mars adalah kapten klub basket di SMA Satu Hati.Awalnya ia marah dan menjauh dari si super ceroboh itu. Entah mengapa setiap mereka bertemu yang ada adalah kesialan untuknya. Namun itu tak berlangsung lama. Iklima menyelamatkan Mars dari kejaran " pemalak" yang biasanya mencari mangsa di perempatan jalan arah sekolah mereka.Saat mereka sedang berbincang Iklima tiba tiba saja berkata," Mars, aku tahu kamu idola baru...pasti penggemarmu banyak" " Iklima berkata dengan wajah polos dan suara halus dan imut." Iya sih...tapi kamu tetap temanku tercinta" Iklima tertawa lalu menunjukkan tanda "love". Itu adalah sebagian dari kenangannya dengan Iklima, gadis berkaca mata dan rambutnya selalu dikepang dua.
" Akankah ia datang ke pertemuan kali ini?" Mars sangat ingin bertemu dengannya. Sudah lima tahun lamanya ia lulus SMA, "entah bagaimana tampilan si ceroboh itu" sebuah senyum tersungging di bibirnya. Lamunannya terganggu oleh suara klakson mobil dan panggilan dari Iwan "Tuan Mars! Dimana?!" Suara Iwan melengking. Mars segera menghampiri mereka. " Kalian lama bener?! Hampir satu jam aku menunggu, tau!" Iwan meringis sedangkan Darwis tertawa pelan. " Maaf ya coi,kami tadi terhalang macet di Tegineneng." Iwan membuka pintu, Mars segera masuk ke mobil disana Iwan menyodorkan handuk kecil" keringkan dulu rambut dan badan mas"