seorang wanita berperawakan mungil sedang asyik membaca bacaannya dengan serius saat ini dia sudah berada di perpustakaan kampus.
"Hei..."lirih seorang pemuda yang sudah berada di depan wanita itu.
jelas saja sang empu yang sedari tadi asyik memperhatikan bacaan mulai mengalihkan matanya menuju arah suara tersebut kemudian matanya terbelalak tanpa sengaja dia mengucap sebuah nama.
"Ni...col"
"Nicol?"
tersadar atas kebodohannya Tessa langsung berbicara.
"ada yang bisa saya bantu?"tanya Tessa pada pemuda yang berambut orange cerah yang berada di hadapannya.
"Akh... itu"ucap pria itu sambil menggaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal.
"sebenarnya...aku... dari dulu ingin mengajakmu makan bersama,apa kau ada waktu?"pintanya dengan mata yang berbinar-binar.
sekilas Tessa binggung dengan ajakan sang pemuda namun kemudian dia tersenyum tipis.
"Terima kasih,tapi maaf saya sedang sibuk saat ini "ucap wanita seadanya kemudian dia kembali membaca bukunya yang sempat tertunda.
sang pria mendesah pelan dari suara dia tampak sangat kecewa kemudian dia hendak beranjak meninggalkan perpustakaan itu sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Senin sampai jum'at aku tidak bisa di ganggu..."ucap Tessa yang masih sibuk membaca bukunya.
"Tapi jika itu sabtu dan minggu,aku akan senang hati menerima penawaran mu itu"timpal Tessa lagi.
"Benarkah?"tanya sang pria dengan senyum lebar yang berpatri di wajah tampannya.
"hn"jawab Tessa singkat dan padat namun dapat pria itu lihat kepala wanita itu mengganguk pertanda setuju.
"baiklah,sabtu ini jam 10 pagi di cafe deathberry,apa kau bisa?"ucap pria itu lagi dan hanya di jawab anggukan kepala oleh sang wanita kemudian dia beranjak meninggalkan ruangan itu.
tanpa dia sadari wanita itu sedari tadi memperhatikannya dari memancarkan pandangan rindu yang sangat dalam pada sosok itu.
"Kenapa dia sangat mirip denganmu,Nicol..."gumamnya pelan
...
Tessa memandang bosan ke arah luar jendela kafe dapat dilihatnya banyak orang yang berlalu-lalang melewati cafe tersebut.
"apakah anda siap untuk memesan nona?"tanya pelayan itu pada Tessa.
"akh...aku akan memesannya nanti,aku sedang menunggu seseorang saat ini"ucap Tessa seadanya dan di jawab anggukan sopan oleh sang pelayan.
sang pelayan kemudian berlalu meninggalkan Tessa yang kembali memperhatikan lautan orang yang berlalu-lalang melewati kafe tersebut.
ya ini memang salahnya datang satu jam lebih awal dari waktu yang di janjikan namun dia tidak merasa menyesal karena menurutnya lebih baik menunggu daripada di tunggu.
sosok yang di carinya akhirnya muncul juga,pria itu hanya menggenakan baju kasual berpaduan dengan jeans tapi tetap mampu membuat pemuda itu terlihat menawan.
"Apa kau sudah menunggu lama"ucap pria itu kemudian duduk di bangku yang berada di hadapan Tessa.
"Tidak,aku juga barusan datang "
"Syukurlah,ku kira aku membuatmu menunggu lama"
"kenapa kau mengajakku kemari,bahkan kau belum memberi tahu siapa namamu?"
"ekh...benarkah?maaf kalo begitu aku Jeffri bethoven,kau bisa memanggilku Jeffri" ucap Jeffri sambil mengulurkan tangannya ke arah Tessa yang masih sedikit terkejut.
"bagaimana kau bisa tahu namaku?padahal aku belum memberi tahumu?"
"ehm...sebenarnya..."ucap Jeffri sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal bahkan rona merah sudah mulai bermuncul.
Tessa menaikkan alisnya binggung dengan tingkah laku sang pemuda yang terlalu berlebihan menghadapi pertanyaannya yang tergolong mudah itu.
"sebenarnya apa?"tanya Tessa yang mulai jengah melihat Jeffri yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"sebenarnya...sejak pertama kali aku melihatmu,aku ja...jatuh cinta padamu mana mungkin aku tidak tahu nama orang yang aku sukai"ucap Jefri terbata-bata.
"hah?"respon Tessa dengan mata dan mulut yang terbuka lebar.
"mungkin terdengar aneh tapi aku sungguh menyukaimu,karena itu aku selalu memperhatikanmu dari jauh"ucap Jefri sambil menundukkan kepalanya ke arah lantai kafe seolah itu lebih enak di pandang daripada orang yang berada di depannya.
andai saja dia melihat bahwa wajah wanita itu sudah memerah seutuhnya mendengar pernyataan sang pemuda.
sejenak mereka terdiam sampai suara deheman ringan keluar dari Tessa.
"aku...tidak tahu bahwa kau sangat menyukaiku,sayangnya aku... masih belum mengenalmu."
Jefri pun langsung mengangkat kepalanya untuk menatap sang wanita,raut kekecewaan tidak bisa di elakkannya lagi.
"tapi aku ingin mencobanya,aku ingin mengenalmu lebih jauh Jef jika aku sudah yakin pada perasaanku aku akan menyampaikannya padamu"timpal Tessa lagi sambil tersenyum hangat kepada Jefri.
raut wajah yang tadi kecewa sudah berubah sedikit lebih cerah,Jefri pun kembali membalas senyuman dari Tessa.
tanpa Tessa sadari semua yang di lakukan Jefri memiliki makna tersendiri,jika ada yang bisa melihat senyuman yang Jefri berikan bukanlah senyuman tulus malah senyuman yang megandung banyak makna.
...
hari demi hari kedekatan mereka berdua semakin dekat baik dari Jefri maupun Tessa bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama.
"permisi ada hal yang penting ingin ku bicarakan denganmu"ucap seorang pemuda berambut nanas berwarna merah sambil mengisyaratkan Tessa untuk mengikutinya.
"jadi apa yang anda ingin bicarakan kepada saya?"tanya Tessa kepada pemuda berambut nanas merah itu setalah sampai di tempat tujuan.
"aku menyukaimu,maukah kau menjadi pacarku?"
"hah?"pekik Tessa kaget
"maaf,anda membawa saya ke ujung lorong kampus hanya untuk mengatakan ini?"timpal Tessa lagi.
"iya"ucap pemuda itu seadanya yang membuat Tessa ingin sekali memukul kepala orang itu dengan buku yang berada di tangannya.
Tessa berdehem ringan kemudian tersenyum kecil kepada sang pemuda.
"maaf,aku tidak menyukaimu bahkan aku tidak mengenalmu"ucap Tessa hendak beranjak meninggalkan pemuda itu.
"apa kau tidak ingin mencobanya atau untuk mengenalku lebih jauh?"ucap pemuda itu tiba-tiba yang berhasil membuat Tessa menghentikan langkahnya.
"maaf,aku sudah menyukai orang lain"
"apa orang lain itu adalah Jefri?"tanya pemuda itu lagi yang membuat tubuh Tessa membatu seketika.
"dari ekspresimu bisa ku pastikan memang diakan?"
"meskipun itu benar,aku rasa itu tidak menciptakan suatu masalah"ucap Tessa ketus.
"iya juga sih tapi ku sarankan jangan menyukainya,apa kau tidak penasaran kenapa aku menyatakan perasaanku padamu?"ucap pemuda itu lagi yang berhasil membuat Tessa membalikkan tubuhnya ke arah pemuda itu,sebelah alis mata Tessa sedikit menaik.
"apa maksudmu?"tanya Tessa binggung
"kau penasaran sekarang?"
"bisakah kau tidak membuang-buang waktu sekarang"
"waw..,baiklah nona tidak sabaran aku akan menjelaskan secara lengkap padamu"
"aku,Jefri dan yang lainnya membuat sebuah pertaruhan tentangmu"
"tentangku?apa maksudmu?"tanya Tessa yang masih tidak mengerti penjelasan pemuda itu.
"ya tentangmu,siapapun yang dapat berpacaran denganmu selama sebulan maka dia akan dianggap sebagai pemenangnya"
"tunggu,jadi aku di jadikan bahan taruhan?apa ada untungnya untuk kalian melakukan pertaruhan itu?"
"siapun pemenangnya akan mendapat hadiah"
"hadiah?"
"maaf aku tidak bisa memberitahumu tentang itu,aku juga tidak tahu-menahu hadiah apa yang didapatkan"
"baiklah,terima kasih atas infonya berkatmu ada yang ingin ku pastikan"ucap Tessa sambil membungkukkan tubuhnya pada pemuda yang berada di hadapannya.
"tidak masalah,lagipula kau bisa memanggilku reno"ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangannya, Tessa pun menyambut tangan itu dan tersenyum tipis.
"kalo begitu panggil saja aku Tessa."
"sepertinya aku harus pergi sekarang,sampai jumpa reno"timpal Tessa lagi kemudian melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
tujuannya saat ini adalah memastikan informasi dari pemuda yang mengaku sebagai teman Jefri itu,dia harus meminta penjelasan si empu tentang pertaruhan itu.
"Tessa?"tanya Jefri bingung melihat Tessa ada di fakultasnya.
"ada ap_"
"apa kau punya waktu,ada yang ingin ku bicarakan denganmu"ucap Tessa sambil menarik tangan Jefri.
"jadi apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Jefri kepada Tessa yang ternyata membawanya ke belakang fakultas kedokteran.
"apa itu benar?"
"hah?apanya?"
"ku tanya apa itu benar kau mendekatiku hanya untuk memenangkan taruhanmu"ucap Tessa sambil memandang Jefri dengan serius.
tubuh Jefri membeku sesaat,matanya membelalak kaget dan berhasil membuat Tessa menyimpulkan bahwa itu benar.
sejenak napas Tessa tercekat,jantungnya atau lebih tepatnya ulu hatinya merasakan pilu.
"da...dari mana kau mengetahui hal itu...?"tanya Jefri terbata-bata matanya masih terblalak lebar.
seluruh tubuh Tessa gemetar, matanya mulai berkaca-kaca, ia sadar ia sudah mulai menyukai Jefri dan ternyata tuhan berkehendak lain untuknya.
kejadian hampir sama dengan beberapa tahun lalu saat dia pernah menyukai seseorang tapi sang empu yang di maksud itu sudah beda dunia dengannya.
tak sanggup lagi bertahan di hadapan Jefri, Tessa langsung membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menjauhi Jefri.
namun langkahnya terhenti karena seseorang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Tessa.
ya Jefri memeluknya dari belakang.
"ya,kami memang membuat sebuah pertaruhan denganmu"bisik Jefri tepat di telinga Tessa.
Sontak saja air mata Tessa yang tadi masih tertahan sudah mengalir deras dari sudut matanya.
"ke-ke-kenapa kalian melakukan hal itu,apakah menyenangkan mempermainkan perasaanku?"tanya Tessa sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Jefri.
"mungkin dulu akan akan menjawabnya untuk kesenangan semata..."bisik Jefri kembali.
"tapi...,itu sebelum aku mengenalmu Tessa"
"setelah mengenalmu,bersama denganmu,bercanda denganmu membuatku merasakan kenyamanan yang tak pernah ku rasakan sebelumnya,bahkan aku lupa dengan taruhan itu"
"mungkin...aku memang menyukaimu Tessa bukan karena taruhan itu tapi di lubuk hatiku yang terdalam." timpal Jefri lagi.
tangan Tessa berhenti melepaskan dekapan Jefri air mata masih mengalir deras dari sudut mata, Tessa langsung berbalik menghadap sang empu.
dilihat mata amber yang menatapnya dengan lembut menyatakan semua yang di katakannya adalah kebenaran.
"be...benarkah itu?"tanya Tessa ragu.
Jefri mengambil sebelah tangan Tessa dan menciumnya dengan lembut.
"tentu saja,Tessa"ucap Jefri sambil mencubit hidung Tessa pelan kemudian mengusap air mata Tessa, yang semakin menjadi-jadi.
"eh...kok makin banyak air matanya?"tanya Jefri bingung
"dasar bodoh..."ucap Tessa dan langsung memeluk Jefri sedangkan yang di peluk merasa binggung kemudian tersenyum sambil mengelus surai perempuan yang berada di dalam pelukannya.
"aku juga menyukaimu."lirih Tessa pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh telinga Jefri.
Jefri tersenyum tipis atau lebih tepatnya menyeringai bak iblis tentu saja tanpa disadari Tessa.
...
hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi Tessa setelah melewati hari yang begitu menguras hati dan jiwa.
ternyata rasa sukanya tidak bertepuk sebelah berjalan sambil bersiul - siul ria menuju fakultas kedokteran tempat pacarnya menuntut dia sudah berdandan agar tampak cantik di hadapan Jefri.
"hahaha emang semua wanita itu bodoh,mau percaya dengan bualan manis saja"ucap seorang laki-laki.
langkah Tessa langsung terhenti, ia sangat mengenali suara itu. Itu adalah suara Jefri.
Tessa melangkah perlahan-lahan supaya langkah kakinya kemudian bersembunyi di balik dinding di dekat gedung fakultas itu.
dapat di lihatnya Jefri dan reno masih asyik berbicara.
"jadi apa kau berhasil menaklukan Tessa?"tanya reno
"hahaha tentu saja babon,dia sangat mudah di tipu."
"kau harusnya lihat bagaimana wajahnya semalam,sungguh menggelikan"
"bagaimana bisa?bukannya aku sudah memberi tahunya tentang pertaruhan itu?"tanya reno yang masih tidak percaya dengan ucapan Jefri.
"ooh...berarti kau yang memberi tahunya,akh..ingin sekali aku memukulmu bodoh sudah berani-beraninya menghancurkan rencanaku"
"hehehe sorry,ngak sengaja aku keceplosan waktu itu,tapi bagaimana bisa dia masih mau menerimamu?"
"entahlah...mungkin karen aku memiliki pesona yang mematikan,ngak seperti kau yang punya pesona seperti babon jantan"balas Jefri sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"awas saja kau!"geram reno sebal.
"jadi bagaimana sekarang?"
"apanya?"
"apa kau mulai menyukai Tessa?"
"tentu saja tidak bodoh,bukankah kau sudah tahu kalo aku hanya menyukai sania"
"dan kenapa kau bertanya seperti itu?"tanya Jefri curiga.
"jangan - jangan kau menyukainya ya?"timpal Jefri lagi
bukannya menjawab wajah reno malah memerah yang membuat Jefri terjatuh tidak percaya terpampang jelas dari wajahnya.
"serius?"
"aku...akh sudahlah!"ucap reno sambil membuang wajahnya ke samping.
"wkwkwk aku hanya tidak percaya ternyata babon juga bisa jatuh cinta"
"ck,kau sungguh menyebalkan jeruk busuk"
"kau seharusnya lebih jujur reno"
"dan jangan lupa hadiahnya akan jadi milikku"timpal Jefri lagi.
"ck,jangan lupa harus jadian dengannya selama sebulan setelah itu kau harus memutuskannya jika tidak kau tidak akan mendapat hadiah yang sudah kita sepekati"
"apa kau yakin mau melakukannya Jef,dia gadis yang baik kadang aku menyesal kenapa harus dia yang terpilih"timpal reno lagi.
"kau terlalu berlebihan ren, aku tidak akan melakukan apapun yang merugikannya,cukup jadian dengannya sebulan setelah itu akan memutuskannya"jawab Jefri kemudian berjalan menuju ruang kelasnya, reno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian menyusul Jefri.
"hati-hati kena karma Jef."
"tenang saja dan itu tidak mungkin"jawab Jefri dengan percaya diri dan melambaikan tangannya pada reno.
tanpa mereka sadari sang pemain utama yang di bicarakan mendengar semua percakapan yang mereka lakukan.
air mata tak bisa lagi terbendung bahkan mengalir deras dari matanya. Tidak ada suara yang di hasilkan karena dia berhasil menahannya.
hatinya sakit,seperti boneka kaca yang terjatuh dari tempat yang sangat tinggi.
dipandangi tubuh Jefri yang semakin lama menjauh dari sudut tak percaya masih terpampang jelas di wajahnya.
masih teringat jelas di kepalanya bagaimana ucapan seseorang yang membuat melambung tinggi itu menghancurkannya hingga tak tersisa.
Tessa menghapus air matanya kemudian tersenyum sangat manis.
"baiklah jika memang ini yang kau inginkan,let's play together Jefri"bisik Tessa pelan mungkin hanya malaikat dan Tuhan yang tahu apa yang di ucapkannya.
...
"Jefri!"
"owh...Tessa sedang apa kau kemari?"
"Ya...aku akan pacarmu,dan aku rasa tidak masalah jika aku setiap hari datang mengunjungimu"ucap Tessa sambil mengembungkan pipinya yang membuatnya semakin menggemaskan.
"dasar...kenapa kau manis sekali sih"ucap Jefri sambil mencubit pipi Tessa yang menggemaskan.
perlakuan Jefri itu berhasil membuat pipi Tessa semakin merona.
"ish...,oh ya aku bawakan makanan kita makan bersama?"
"benarkah?kau baik sekali Tes"ucap Jefri dengan mata bersinar-sinar.
"hehehe..aku kan pacarmu,nih makanlah"ucap Tessa terkekeh pelan sambil memberikan nasi kepal kepada Jefri.
"Enak~~apo kau yang membuatnya sendiri?"ucap Jefri dengan mulut yang masih penuh.
"pelan-pelan saja Jef,apa kau menyukainya?"
"hum..."jawab Jefri sambil menggangukkan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya.
"jadi,apa kau yang memasaknya sendiri?"tanya Jefri lagi
"iya,kenapa tatapanmu seperti itu?"tanya Tessa yang bingung dengan tatapan Jefri yang terlihat terkagum-kagum dengan Tessa.
"kau benar-benar hebat!"
"dasar...,jika kau mau aku akan membawakan makan siang padamu setiap hari"ucap Tessa mengambil beberapa tisu.
"benar_"ucapan Jefri terpotong ketika Tessa sudah mengelap sisa nasi yang berada di area mulut Jefri menggunakan tisu.
dapat Jefri lihat dengan jelas mata amesty Tessa yang baru di sadarinya terlihat sangat indah.
mata itu memandangnya dengan intens,wajah Tessa mendekat sedikit ke arah wajah Jefri dan sukses membuat Jefri merona tanpa disadarinya.
sedikit lagi...
dan ternyata Tessa kembali menjauhkan wajahnya dari Jefri yang entah kenapa merasa kecewa untuk sesaat.
emang apa yang diharapkannya?mungkin otaknya sudah mulai gila sekarang.
"kau kenapa?"tanya Tessa sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah Jefri.
"akh...tidak ada"ucap Jefri kemudian kembali mengambil nasi kepal dari kotak bekal Tessa.
"tapi tadi wajahmu memerah,apa kau sakit?"tanya Tessa khawatir sambil memegang kening Jefri dengan tangannya.
"kau tidak panas,apa benar kau tidak sakit?"
"ti...ti-tidak kok"jawab Jefri terbata -bata sambil memalingkan wajahnya ke arah samping menyembunyikan rona wajahnya yang semakin menjadi-jadi.
"Baik...Baik"ucap Tessa kemudian melepaskan tangannya dari kening Jefri.
"akh...aku sudah terlambat,aku pergi dulu"timpal Tessa sambil melihat ke arah jam tangannya kemudian berjalan meninggalkan Jefri sendiri di pohon rindang yang dekat fakultas kedokteran.
Jefri hanya memandangi Tessa sampai sosok bayangnya sudah berdetak lebih cepat daripada biasanya akhirnya dia hanya mengacak- acak rambutnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
...
"astaga Jef yang benar saja!"bentak Tessa pada Jefri yang berada di uks kampus kemudian mengambil plester dalam kotak P3K.
"ngak perlu teriak juga Tes,lagi pula ini hanya luka kecil"protes Jefri dengan tampang cemberut yang membuat Tessa ingin sekali memukul Jefri.
"Sakit~.."rujuk Jefri pada Tessa yang memukulnya secara tiba-tiba.
"Tahan sebentar,kau bilang ini hanya luka kecil"
"luka sebesar gajah gini,kau bilang kecil"ucap Tessa sambil membersihkan luka yang ada di tangan Jefri.
"kau terlalu berlebihan Tes_ ouch!"
"sakit ya,maaf mungkin aku terlalu keras membersihkannya"
"seharusnya kau lebih berhati-hati Jef?"
"aku tahu kau seorang dokter tapi kau juga harus ingat dokter itu juga manusia bisa saja gara-gara luka sekecil ini bila tak di bersihkan jadi bahayakan?"
setelah itu tidak ada lagi yang bicara Tessa yang sibuk membersihkan luka Jefri sedangkan Jefri hanya mengamati wajah Tessa saja.
"akhirnya selesai juga"ucap Tessa lalu mengangkat kepalanya ke Jefri.
mereka terus bertahan dengan posisi saling memandang, perlahan wajah Jefri semakin mendekati wajah Tessa.
semakin dekat secara refleks Tessa memejamkan matanya begitu pula Jefri.
cup
akhirnya bibir mereka berdua bertemu,ciuman itu terjadi cukup lama sampai Tessa menarik dirinya menjauh dari Jefri.
baik wajahnya maupun Jefri sama-sama merona. Dan hari sudah mulai petang jadi tidak ada orang di uks saat ini.
"a-a-aku...akan menunggumu diluar,aku akan mengantarmu pulang"ucap Jefri terbata-bata rona merah di wajahnya masih terlihat jelas kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya menuju pintu keluar dari uks itu.
Tessab masih melamun,dipegangnya bibirnya sesaat kemudian tersenyum atau seringai lebih tepatnya.
diarahkannya pandangannya menuju kalender yang berada di ruangan itu.
"15 hari lagi ya?"bisiknya pelan kemudian berjalan menyusul Jefri.
...
"hoi!"
"hn"
"sania mencarimu"
"hn"
"hoi...,hoi...!"teriak seseorang berambut nanas tepat di telinga Jefri.
"apakah Jefri Bethoven masih hidup!"teriaknya lagi.
"apa-apaan sih ren, kau ingin membuat telingaku tuli hah babon sialan"umpat Jefri kepada reno yang terkekeh pelan.
"harusnya aku yang nanya jeruk purut,kau kenapa?"
"apanya?"
"dari tadi ku perhatikan kau kayak orang bodoh"
"apa!"ucap Jefri sambil memukul kepala reno kuat.
"hei...aku kan hanya berkata jujur,aku benar-benar penasaran kenapa dua hari ini kau semakin mirip zombi saja"
"celingak - celinguk,mondar-mandir melihat -lihat ke arah fakultas ekonomi bahkan kau terus melamun ketika aku memanggilmu,memang ada apa sih?"timpal reno lagi
"tidak ada"
"oh ya sudah dua hari ini Tessa ngak keliatan,apa kau sudah putus dengannya"
"Sakit!"kenapa kau memukulku lagi jeruk purut.
"entah lagi ingin aja mukul babon"ucap Jefri asal dan sukses membuat geram reno.
"akh...aku nyerah,aku males meladeni pmsnya si jeruk purut"ucap reno lagi dan kembali duduk di samping Jefri atau lebih tepatnya di bawah pohon rindang dimana Jefri dan Tessa selalu makan bersama.
Jefri kembali memperhatikan handphonenya,berharap Tessa menghubunginya karena dua hari ini Tessa tidak menghubunginya bahkan tanda di baca juga tidak ada.
Jefri sudah mengunjungi kediaman Tessa namun sayang sang empu tidak ada di dalam rumah.
entah kenapa Jefri merasa kesepian tanpa Tessa disampingnya,dia tidak tahu kenapa,hanya saja ia merasa hampa...
Jefri kembali mengacak-ngacak kepalanya menghilang pikiran yang sempat tiba-tiba muncul di kepalanya.
"hoi...!"
"apa sih babon!"geram Jefri.
"itu..."lirih reno lagi sambil menunjukkan ke arah seorang wanita yang melambaikan tangannya pada Jefri dan reno.
Jefri langsung berlari dan langsung memeluk orang yang melambaikan tangannya tadi.
"Je-jefri!"pekik Tessa bingung akan sifat Jefri yang tiba-tiba.
"kau kemana saja,sayang?"
"apa kau tak tahu aku mengkhawatirmu?"
"kenapa kau tidak menghubungiku?kenapa kau tidak ada di rumahmu?"tanya Jefri bertubi-tubi.
"aku ada urusan dengan keluargaku makanya aku tidak ada di rumah, dan handphoneku telah di curi ketika aku pulang kerumah dan..."
"astaga seharusnya aku yang bertanya,ada apa denganmu tiba-tiba memeluk ku seperti ini?"timpal Tessa lagi.
"aku...aku merindukanmu Tes,jangan seperti itu lagi Tessa ku mohon,kau bisa membuatku gila"ucap Jefri sambil mengeratkan kembali pelukannya pada Tessa.
Tessa hanya tersenyum kemudian membalas pelukan yang Jefri berikan sedangkan reno terblalak tidak percaya bahkan daritadi dia terus mengucek-ngucek matanya untuk membuktikan ini hanya ilusi atau apa.
akhirnya Jefri melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Tessa dengan kuat seolah Tessa akan lari jika tidak dia gandeng seperti itu.
"waw..."lirih reno tiba-tiba
"kau kenapa ren?"tanya Tessa binggung
"apa kau tahu Tessa sebelum kau datang si jeruk purut ini seperti ibu-ibu hamil,banyak tingkahnya"
"hehehe benarkah?"kekeh Tessa ringan
"bersyukurlah kau tidak melihatnya jika iya mungkin kau akan langsung berpaling padaku"canda reno yang langsung mendapat bogeman mentah dari Jefri.
"jangan coba-coba nganggu pacarku ya"
"ck,lihat saja nanti jeruk"
"apa babon!"
"whahahaha kalian berdua sudah hentikan, apa kalian tidak lapar?"lerai Tessa yang sudah melihat pertarungan babon dan jeruk semakin ganas.
"kau memang yang terbaik!"
"ck,sudah berapa kali ku bilang jangan nganggu pacarku"
dan setelah itu mereka menghabiskan waktu bersama baik bercakap - cakap atau membuat marah Jefri.
"10 hari lagi"batin seseorang dalam hati
...
Jefri dan reno sedang berjalan menuju perpustakaan berhubung ada materi yang ingin mereka pelajari.
"hahaha,bukan seperti itu Aoi tapi seperti ini"lirih seseorang yang sangat di kenal Jefri sedang duduk di bangku perpustakaan tersebut bersama seorang pemuda bersurai merah, wanita itu sedang mengajari pemuda yang mungkin sedari tadi mengacak rambutnya karena binggung.
"ayo coba lagi."perintah wanita itu lagi.
"tapi ini terlalu susah Tes"
"aku jamin kau pasti bisa kok,aku akan mengajarimu sampai kau bisa mengerjakannya"
"benarkah?"
"kalo begitu aku mau lama-lama berada disini,apalagi kalau berdua denganmu"gombal Aoi.
"dasar..."
"ehem!"pekik seorang pemuda berambut orange yang berhasil menghancurkan momen romantis yang sempat tercipta.
"Jefri!,Ada apa kau kemari?"tanya Tessa binggung
"ada materi yang belum ku pahami,kalian lanjutkan saja kegiatan kalian yang tadi aku takkan menggangu"ucap Jefri dingin sedangkan reno hanya terbengong ria di belakang Jefri.
"baiklah,ayo aoi kita lanjut belajarnya"ucap Tessa sambil tersenyum manis
"akh...i-iya"ucap aoi terbata-bata.
Jefri hanya berjalan melewati keduanya tanpa Tessa ketahui,di dalam hati Jefri sedang mengutuk pemuda yang berada di samping Tessa.
Jefri hanya memperhatikan Tessa dari jauh di antara deretan-deretan terkepal kuat ingin sekali dia menghajar pemuda yang daritadi menggombal kekasihnya.
"Jef,materi yang ingin kita pelajari tidak ada disini,bagaimana kalau kita ke perpustakaan lain?"tawar reno.
namun naas sang empu yang di tanya tidak mendengarkan sama sekali bahkan dia membekap mulut reno supaya diam.
akhirnya baik reno dan Jefri hanya memperhatikan Tessa dengan pemuda yang bernama aoi itu.
"eh? Tessa di wajahmu ada sesuatu?"
"apa?"
"tunggu sebentar biar aku ambilkan"ucap aoi kemudian dia memegang tepat di pipi Tessa dan sukses membuat Jefri hampir berhasil membunuh reno akibat geram.
"ternyata ada bekas spidol di wajahmu"
"owh...mungkin terkena pada saat aku maju ke depan tadi,ngomong-omong makasih ya"ucap Tessa sambil tersenyum manis membuat aoi merona hebat.
tidak tahan melihat drama itu lagi Jefri langsung mengambil tangan Tessa dan membawanya pergi menjauh dari tempat terkutuk itu.
"hei Jefri,lepaskan!"pekik Tessa sambil menarik tangannya dari Jefri, sedang Jefri malah memegang tangannya semakin kuat.
akhirnya Jefri berhenti, ternyata Jefri mengajaknya ke belakang fakultas Tessa.
"aw...,kau menyakitiku Jef."
akhirnya Jefri melepaskan pegangannya dan langsung memeluk Tessa kuat.
"maafkan aku,aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi denganku"
"ssst,sudahlah aku memaafkan mu"ucap Tessa sambil membalas pelukan Jefri.
"lebih baik kita duduk dulu"timpalnya lagi.
Jefri hanya menggangguk kemudian mereka duduk di bangku dekat situ.
"apa yang tadi itu sakit?"tanya Jefri sambil menunjuk ke arah tangan yang tadi sempat di cengkramnya dengan kuat.
"tidak sakit lagi k_"ucapan Tessa terpotong karena tangan Tessa sudah di ambil alih oleh Jefri.
"maaf"sesal Jefri.
"sudahlah,jangan meminta maaf terus bosan dengarnya"
"tap_"
"sst...,sudahlah"
"setidak biarkan aku melakukan ini"ucap Jefri kemudian mencium pergelangan tangan Tessa yang sedikit lebam.
"Jefri!"pekik Tessa kaget.
"hahaha,aku ngantuk"ucap Jefri kemudian menjadikan paha Tessa sebagai bantalnya.
"dasar...jeruk busuk "kekeh Tessa sambil mencubit hidung mancung sang empu juga terkekeh kemudian memejamkan matanya.
"jackpot,3 hari lagi...semuanya akan berakhir"batin Tessa dalam hati.
Tessa terus memperhatikan Jefri yang tertidur lelap tangannya masih asyik membelai rambut Jefri dengan lembut.
Tessa tersenyum miris sebentar lagi hubungan mereka akan berakhir kemudian dia memandang langit yang mulai senja dengan tatapan datar.
...
Jefri sedang menunggu Tessa di cafe, Jefri bingung kenapa Tessa menyuruhnya kemari namun tetap saja dia datang untuk menjumpai sang kekasih.
akhirnya Tessa muncul dihadapan Jefri dengan membawa sebuah kotak besar dan tentu saja membuat Jefri binggung.
"apa ini?"
"buka saja."
Jefri pun membuka kotak tersebut dan dapat dilihatnya sebuah kue yang bertuliskan happy anniversary di atasnya dan Jefri pun tersenyum lebar melihatnya dan menatap ke arah Tessa yang juga tersenyum lebar.
bahkan dia sendiri lupa bahwa hubungannya dengan Tessa sudah selama itu.
"terima kasih sayang"ucap Jefri pada Tessa.
"ya sama-sama,dan ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan padamu."
"apa itu?"
"aku ingin kita putus"ucap Tessa datar
Sontak mata Jefri terblalak lebar dan jantungnya mendadak sesak.
"kenapa?"lirihnya pelan
"bukannya ini keinginanmu?"ucap Tessa kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"tunggu!"teriak Jefri sambil memegang tangan Tessa, Jefri tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"apa maksudmu? siapa yang bilang kita akan putus?"
"maaf Jef,aku tidak bisa berlama-lama berbicara denganmu, aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan"ucap Tessa sambil melepaskan tangan Jefri dan kembali berjalan namun dia berhenti sebentar.
"semua yang ingin kau ketahui ada di dalam kotak itu"ucapnya lagi kemudian kembali berjalan meninggalkan Jefri.
Jefri pun langsung membuka kado yang di berikan Tessa, di dalamnya ada sebuah surat dan sebuah jam. Jefri langsung membuka surat tersebut.
"Dear Jefri,
jika kau sudah mendapat surat ini berarti hubungan kita sudah berakhir maaf sebenarnya aku juga tak ingin berakhir seperti ini tapi inilah yang terbaik bagi kita, ya aku ingin memberitahumu sesuatu.
sebenarnya aku sudah tahu dari dulu bahwa kau hanya menjadikanku sebagai bahan taruhanmu.
aku mengetahuinya bukan dari reno kumohon jangan marah padanya, aku mendengarnya langsung darimu ketika hari pertama kita pacaran.
mungkin kau binggung mengapa aku tidak langsung memutuskanmu saat itu juga.
hehehe aku juga tidak tahu alasannya mungkin aku ingin mencoba merubah pikiranmu ya maksudku mungkin kau akan menyukaiku dengan tulus atau sebagai ucapan terima kasih karena telah membantuku untuk membuka lembaran yang baru lagi.
aku juga tahu kau menyukai wanita lain,ternyata kau benar-benar pintar kalian akan sangat serasi bahkan aku harap kau tidak mempermainkannya seperti kau mempermainkan ku.
dan satu lagi terima kasih telah mengijinkanku untuk masuk ke dalam hidup mu meski hanya sesaat, ini adalah salah satu hal terindah dalam hidupku.
ku harap kau jangan merasa bersalah setelah membaca surat ini. Aku tidak berniat balas dendam padamu seperti ini. Ini hanya sebagai pelajaran bagimu.
Lagi pula jika kau ingin menyebut ini pembelasan dendam maka ini adalah pembalasan manis buatmu.
maaf sebenarnya aku ingin mengatakannya secara langsung tapi aku sudah membuat janji untuk menemui seseorang di tempat kita selalu bersama.
salam sayang,
Tessa."
Jefri berlari sekuat tenaganya,tempat yang paling di tujuannya adalah pohon rindang di dekat kampus, ia tidak peduli akan sesak yang memenuhi didadanya.
Dia tidak ingin mengakhiri ini begitu saja, ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Tessa,melihat senyumannya,kehangatannya,dan mata amesty yang indah itu.
Jefri hampir sampai di pohon rindang itu bahkan dia sudah melihat Tessa sedang berbicara dengan seorang pemuda.
"Te…ssa_"panggil Jefri sambil berjalan ke arah Tessa namun sayang sebuah suara menghentikan langkahnya.
"maukah kau menjadi pacarku?"
Tessa memejamkan mata sejenak kemudian tersenyum manis.
"ya"ucap Tessa kemudian sang pemuda memeluk Tessa dan Tessa juga membalas pelukan itu.
jantung Jefri seperti berhenti berdetak,tubuhnya terjatuh ke bawah,tenaganya tiba-tiba menghilang saat melihat Tessa memeluk seseorang yang sangat dikenalnya.
"Reni..."lirih Tessa lagi dalam pelukan pemuda itu.
tanpa Jefri sadari Tessa tersenyum tipis atau tepatnya senyum kemenangan melihat ke tidak berdayaan Jefri.
sebuah pesan masuk ke dalam handphone Jefri berbunyi
"semoga kau mendapat karma yang manis,sayang"