Seorang gadis tampak termenung di depan kaca. Gadis itu Emily Dickon, gadis yang di paksa menjadi pengantin pengganti oleh orang tuanya. Dia harus menggantikan adiknya yang kabur dan menikahi pria kolongmerat dari keluarga Anderson.
"Takdir begitu tak adil bagiku. " ungkap Emily lirih.
"Kenapa aku yang harus mengalami ini semua? "
Tap
Tap
"Ehem Emily, ayo ke luar semuanya sudah menunggu. " ujar nyonya Diana.
Emily lekas bangkit, gadis itu tampak sangat cantik dengan gaun pengantinnya berwarna putih. Dia hanya pasrah kala kedua orang tuanya menuntun dirinya ke luar menuju ke altar pernikahan.
Tuan Bryan menyerahkan putrinya pada sang calon menantu.
"Maafkan atas kesalahan yang terjadi nak Albert, saya serahkan Emily padamu. " ujar Tuan Bryan.
Seorang pria dengan wajah terbakar di bagian pipi kanannya meraih tangan Emily. Keduanya lantas menghadap kearah pendeta. Mereka sama sama mendengarkan ucapan pendeta.
Pada akhirnya kedua mempelai itu saling mengucapkan janji satu sama lain. Emily menghela nafas panjang, kini dia menyematkan cincin ke jari Albert begitu sebaliknya.
Albert mencium kening Emily, suara tepuk tangan memeriahkan pernikahan keduanya. Keduanya sama sama tak berekspresi, Emily merasa tertekan dengan pernikahan yang dia jalani saat ini.
Para keluarga memberikan selamat dan hadiah untuk pengantin baru. Albert dan Emily juga menyalami para tamu yang memberikan selamat untuk mereka. Beberapa dari mereka juga tengah asyik menggunjingkan keduanya.
Emily memilih acuh, meski hatinya begitu sakit saat ini. Gadis itu berharap akan ada pelangi setelah badai yang dia lalui ini. Tanpa dia sadari sang suami memperhatikannya dalam diam. Fokus Albert kembali luruh ke depan.
"Pengantin pengganti. " gumam Emily dengan kecut.
Lagi lagi dia memaksakan senyumnya di depan orang lain. Emily tak ingin membuat kedua orang tuanya iri.
Bersambung