"Siapa gadis itu nang?", tanya nenek heran
Saat melihatku malam malam datang membawa seorang perempuan ke rumahnya.
"Ia temanku nek,ayok masuk win", ucapku
Kulihat nenek terus mengamati wina dari ujung rambut hingga ujung kaki,membuat wina merasa tak enak.
"Santai aja win,nenekku baik kok", ucapku menenangkan hati wina yg sepertinya gak mood gara gara dipelototin nenek terus
"Jangan jangan kamu betingkah lagi Ivan,awas kuremukkan tulang tulangmu", ancam nenek
"Santai aja kali nek", ucapku.
"Suruh temanmu istirahat di kamar,kalau lapar,silahkan makan", ucap nenek
"Aku takut Van", ucap wina
Wajar wina takut,nenek yg bergaya maestro dengan cara bicara yg agak kasar pantas membuat hati keok.
"Wina masuk istirahat dulu ya di kamar,aku mau ngobrol dengan nenek dulu", ucapku
"Dia itu siapa Van,jangan bohongi nenek?",tanya nenekku lagi
Terpaksa aku jujur apa adanya
"Kau telah melakukan sesuatu yg ditentang adat kita van,Marga gadis itu haram menikah dengan marga kita,akan ada yg menjadi tumbal diantara kalian,fahamm!", Bentak Nenek
"Aku mencintainya nek", ucapku
"Wina pun mencintaiku", tambahku lagi
Nenek tertunduk lesu,ia tak bicara apa apa lagi,dan berdiri meninggalkanku
"Nek tunggu", kupanggil nenek
Sia sia memberi pengertian ke nenek,apalagi tentang margaku yg tabu menikah dengan marganya wina.
Kutemui wina di kamar
"Wina,besok kita pergi dari sini", ucapku
Wina tak bertanya,sepertinya ia sudah memahami maksudku.
Pagi pagi buta,kutinggalkan rumah nenek bersama wina yg kusayangi,kugenggam tangan wina
"Kita kemana Van?",Pertanyaan wina membuatku bingung
*******
Cinta yg ku bina bersama wina ternyata cinta terlarang 7 generasi sebelum,antara marganya wina dan margaku.
"Kalian terusir dari kampung ini,perbuatan kalian dikutuk langit dan dilaknat bumi", ucap ketua suku
Dengan segala upaya,aku berhasil keluar dari kampung yg akan memberiku hukum rimba,berharap nenek akan memberi tumpangan,ternyata nenek pun demikian.
Aku terus berjalan tak tentu arah bersama wina,perbekalanpun sudah mau habis,kulihat wina sangat kelaparan,aku berniat membelikannya nasi di sebuah kedai
"Harga nasinya berapa bu?",tanyaku
"12 ribu bang", jawabnya
"Bungkusin satu ya bu", ucapku
"Kok satu bungkus bang,kan berdua", kata penjual nasi itu
"Saya gak lapar bu", jawabku
"Nihh,nasinya bang", ucap wanita memberikan bungkusan
Lalu aku pergi begitu saja,agak kesal sama penjual itu yg agak kepo
"Win,kita makan digubuk sawah itu yuk",kuajak wina
Kasian wina,ia sepertinya sudah sangat kecapaian
"Sabar ya win", ucapku
Kuelus punggung wanita yg telah kunikahi selama 2 tahun ini,ia wanita yg sangat sabar dan tabah menghadapi penderitaan.
"Nih nasinya van", ucap wina
Aku heran,padahal tadi aku cuma pesan satu bungkus nasi untuk menghemat pengeluaran
"Akupun memakan dengan lahapnya,mungkin si ibu tadi kasihan jadi sebungkusnya cuma diberikan cuma cuma,baik juga ibu itu", bathinku
Ternyata aku salah menilai lagi ibu penjual nasi itu yg kuanggap kepo ternyata prihatin.
Aku kembali berjalan menyusuri jalanan bebatuan yg berdebu
Sebuah truk berhenti pas disampingku
"Mau ikut gak bang?",tanya si sopir
Aku ragu menjawabnya karena tak punya ongkos
"Gratis kok bang?", Ucapnya
Lalu aku dan winapun nsik ke truk itu
"Abang mau kemana?",tanya nya
"Aku bingung ini,tujuanku gak jelas dek", ujarku pada sopir yg keliatan jauh lebih muda dariku
Lalu aku bercerita apa adanya tentang diriku
Kulihat ia manggut manggut
"Abang mau kerja gak di perusahaan sawit,ada messnya lho juga gajinya tiap hari",ucapnya
Aku langsung menyetujui dan ia sendiri yg mengantarku mendaftar kerja dan hari itu langsung diterima kerja.
Kulihat wina sangat bahagia
"Alhamdulillah bang,akhirnya tujuan kita tercapai",ucap wina
Rupanya kutukan yg di katakan kepala suku ada benarnya,saat pekerjaanku sudah mulai menampakkan hasil dan wina hamil muda,aku tak sengaja menimpa orang kelapa sawit saat memanen buah hingga tewas,membuatku harus berhadapan dengan hukum.
"Wina,maafkan aku yg tak bisa menjagamu", ucapku
Wina menangis sesenggukan memelukku di kantor polisi.
******
Namaku winarni lebih sering di panggil wina.
Entah kenapa cobaan demi cobaan datangnya beruntun padaku,padahal aku tak pernah merasa berbuat salah.
Dari bayi,aku sudah yatim piatu dan dirawat nenekku,saat menjelang remaja,nenekku juga meninggalkanku untuk selama lamanya.
"Dasar anak sial,pergi dari sini", umpat bibiku,kakak dari ibuku
Aku berlari menembus kegelapan malam dan terdampar di pinggir hutan dalam keadaan pingsan
"Ya Allah anak siapa ini", ucap nek isa yg telah ikhlas mengangkatku sebagai anaknya.
Ia memberikan kasih sayang selayaknya ibu pada anaknya.
"Nak wina,ada seorang pemuda yg melamarmu", ucap nek isa 3 tahun yg lalu
"Terserah nenek isa saja,yg penting ia mau menerima wina apa adanya", ucapku penuh bakti pada nek isa
Akupu dinikahkan dengan Ivan,walau tanpa restu dari orang tua ivan.
Dan aku difitnah oleh kepala suku alih alih marga yg berbeda,padahal aku bukan dari kala gan suku yg mrmakai marga,kecuali ivan yg memang memakai marga di belakang namanya.
Semua karena hasutan bandot tua bernama pak hardjo,yg berniat nenikahiku menjadikanku selir, tapi di tolak nek isah karena ia manusia yg tidak memiliki budi pekerti.
"Kepala suku tolong usir dari kampung kita ini pasangan suami istri Ivandi dan wina karena mereka bermarga yg tabu untuk menikah,apa kepala suku ingin kampung kita kena kutukan!", Ucap pak hardjo menghasut kepala suku.
"Yg dikatakan pak hardjo benar,usir pasangan suami istri ini", teriak semua warga yg berhasil di hasut pak hardjo
Aku dan ivanpun pergi dengan hati yg terluka dan terhina,kini kenangan itu mengusik kembali jiwaku.
"Kemana aku harus pergi dengan kondisi ini", bathinku
Kuingat nek isah yg tulus menyayangiku,aku harus kembali kesana,apapun yg terjadi,ia satu satunya orang yg selalu ada buatku
Untung aku selalu menghemat selama ivan bekerja,hingga aku ada tabungan sedikit,untuk tiba kampung nek isah,dengan memakai pakaian muslim dan masker,aku berhasil masuk ke wilayah nek isah
"Winarni!", Pekik nek isah saat melihatku datang dengan perut besar
"Suamimu mana nak?", Nek isah
Lalu aku menceritakan semua tentang perjalanan hidupku yg penuh air mata.
"Bersabarlah nak", ucap nek isah
Hingga perutku masuk bulan ke 9,aku tetap menyembunyikan kedatanganku dikampung ini,takut hardjo datang lagi untuk mencelakaiku
"Nek isah,perutku sakit", ucapku
Tak lama air ketubanku pecah dan kurasakan kontraksi makin kuat dan sakitnya tak berhenti lagi.
Tak lama aku berhasil melahirkan bayi perempuan yg cantik,dan memiliki keanehan tak mengeluarkan suara,membuatku jadi heran
"Bersyukurlah nak,bayimu tau posisimu yg sekarang takut diketahui penduduk", ucap nek isah
Kutimang bayiku dengan penuh kasih sayang,bayiku yg malang,hidup dalam dunia yg seolah tak kami miliki.
Kami terisolir dari masyarakat yg selalu mencari kesalahan yg sebetulnya tak kami perbuat.
-----------
Setahun ku hidup dalam bui,dengan penuh penderitaan,akhirnya hari ini ku bisa menghirup udara bebas lagi.
Yg pertama kali kuingat wina istriku yg setahun lalu sedang hamil
"Wina dimana kini kau berada?", Ucapku dalam hati.
Wina tak punya siapa siapa lagi selain bik isah yg menyayanginya,tapi aku ragu,dan bimbang,tak mungkin wina kembali ke situ lagi,disitu masyarakat menolaknya karena fitnah hardjo.
Kulangkahkan kakiku keluar,kuhirup udara bebas dengan rasa bahagia
Kebahagiaan yg lenyap seketika,saat ingatanku terbang mencari keberadaan winarni.
Aku teringat nenekku di kampung,aku harus menemuinya,dari situlah aku kan mencari tau tentang wina
"Neneeek!", teriakku dari luar
Suasana sepi,tidak ada kehidupan yg nampak di desa ini.
Aku mencoba berjalan mengelilingi desa ini,semuanya sama.
"Orang orang sini pada kemana ya?", Ucapku dalam hati.
Lalu aku berjalan mengitari area persawahan,tak ada satupun manusia yg tampak.
Karena aku bingung harus kemana lagi,ku dobrak pintu rumah nenekku,kulihat rumah sudah sangat berdebu,serang lebah seolah sudah hampir menutupi rumah nenekku.
"Tak mengapa,aku tinggal disini saja", ucapku dalam hati
Meskipun harus susah payah membersihkan dulu, bagiku tak masalah lagian ini kan rumah nenekku.
2 hari sudah,aku di kampung nenek,belum nampak satupun manusia,tapi sering terdengar suara ribut ribut seperti pasar kalau tengah malam.
"Aku harus menyusup ke desa bik isah,siapa tau winarni disitu,aku akan membawanya kesini", ucapku dalam hati.
Esoknya dengan menyamar berpakaian lusuh di tambal tambal,aku berhasil masuk desa,kulihat rahardjo yg dulu memfitnahku sedang duduk di kursi roda,rupanya laki laki hidung belang itu kena stroke
"Syukurlah,akhirnya ia menerima ganjaran dari perbuatannya", gumamku
Akupun tiba depan rumah bik isah,kulihat bik isah sedang menggoyang goyangkan ayunannya,dan winarni yg tengah menjahit sarungnya.
Melihatku winarni,melompat dan memelukku
"Ivaaan!", Teriaknya lalu menangis haru dalam pelukanku.
Rupanya kedatanganku tercium kepala suku,dari jauh kulihat obor yg banyak,pasti mereka akan mengepungku.
"Nek isah,bagaimana ini", tanyaku.
"Tak ada pilihan lain,kita harus pergi dari sini", jawab bik isah.
Tanpa menunggu waktu,kami membawa barang seadanya lalu pergi lewat belakang,menembus gelapnya hutan menuju rumah nenekku.
Sekitar 2 jam perjalanan kamipun tiba dirumah nenekku
"Ini rumah siapa van?",tanya nek isah
"Rumah nenekku,tapi kampung ini kosong nek,tak ada siapa siapa lagi", ucapku
Rupanya nek isah,memiliki mata bathin yg kuat,ia bisa melihat kampung ini sebenarnya tidak kosong,hanya semuanya tak nampak,kecuali nenekku yg memang sudah meninggal.
Anakku kuberi nama juwita,sesuai dengan kecantikan wajahnya yg sempurna,hanya ia tak bisa mengeluarkan suara.
Namun keanehan terjadi saat beberapa hari tinggal disini.
Tiba tiba saja juwita tertawa terbahak bahak,membuat wina ketakutan
"Jangan takut,kalian malah harus bangga,juwita terlahir Sebagai anak Indigo",ucap nek isah
Malamnya suasana hening tanpa suara kecuali suara desiran angin yg menderu deru.
Entah kenapa tiba tiba juwita,menangis sekeras kerasnya,suaranya melengking memecah kesunyian malam,suara dentuman keras terdengar seperti suara benturan 2 benda keras yg saling bertabrakan.
"Apa yg terjadi diluar?", Ucapku penasaran
Kunyalakan obor dan membuka pintu.
Keanehan terjadi,rumah rumah warga kembali terang seperti semula,kulihat para penduduk ada yg duduk di depan rumahnya,ada pula yg jalan jalan.
******
Angin berhembus sangat kencang,menerbangkan semua perabotan yg tergantung di dapur
"Wina,,gendong juwita!", teriakku
Kulihat sosok wanita berambut panjang melayang layang di depanku,lidahnya terjulur sangat panjang dan bercabang,ia seakan akan ingin menerkam juwita yg dalam gendongan wina.
"Bayi manis,karena engkau telah menggagalkan semua rencanaku,sebagai gantinya kamu yg akan menjadi santapanku,he he he ", ucap siluman wanita itu.
"Tidak,jangan jadikan anakku tumbal", ucap wina ketakutan.
Spontan juwita menangis menjerit jerit.
Lolongan panjang siluman ini terdengar di seluruh desa,ia seperti kesakitan dan menggelepar di jalanan,para warga yg kalap menyirami siluman itu dengan bensin dan membakarnya.
Teriakan histeris kembali terdengar di ujung desa,tepatnya dirumah pak baskoro.
"Ada apa disana?", tanya seorang warga
"Pak baskoro rupanya bersekutu dengan siluman itu,mereka ingin menguasai desa kita,untung ada bayi indigo yg berhasil menyelamatkan kita semua", ucap para warga
"Ivan,terima kasih ya telah menolong kami", ucap para warga
Akhirnya dengan berbagai fitnah dan perjuangan,kami akhirnya bisa mendapatkan tempat dan di terima masyarakat.
Karna hidup itu sawang sinawang
Hari ini yg tak pernah kau miliki,bisa jadi esok segalanya menjadi milikmu.
Tetaplah bersabar dengan kesabaran yg tak terbatas