Kisah dimulai saat saya masih belia,
Mereka menempatkan saya di atas podium,
Bergelimang harta dan cinta, karena ada kilau malam di mata saya.
Di dalam surga abadi yang katanya berada di tangan saya orang-orang berkumpul memanjatkan doa.
Semua baik-baik saja, hingga saya melihat adegan itu dengan lembut,
Ibu membunuh ayah, kemudian bunuh diri.
Meninggalkan noda darah,
Membusukkan lantai ini.
Orang-orang datang dan berteriak,
Anak itu membunuh mereka!!
Saya kabur dari para manusia berotak monyet.
Di dalam hutan yang dingin saya bertemu sosok dengan mata menyala,
Memberikan saya kekuatan dengan pertukaran setara.
Saya kembali ke rumah yang dulu ditinggalkan,
Entah berapa lama waktu berlalu,
Wujud saya tidak lagi dikenali bahkan oleh mata saya sendiri.
Orang-orang menjadi takut akan saya,
Saya marah lalu mencabut kaki salah satu dari mereka.
Manusia berlarian menjauhi saya,
Berteriak kepada dewa yang baru,
Saya mendatangi altar sang dewa lalu mencabut kepalanya,
Setelah itu menghilang ke balik bukit.
Manusia membuat cerita,
Untuk menakut nakuti manusia kecil,
Tentang iblis yang mencabut kepala dewa,
Di mata saya ada malam,
Di mulut saya ada mayat,
Di hati saya ada kegelapan,
Manusia memberi nama saya Yoru.
.........
Manusia berkumpung,
Berbondong bondong melempar cahaya,
Berpesta dibawah gemerlapnya,
Saya datang dan memakan mereka.
Di tempat lain,
Saya bertemu manusia muda,
Dengan rambut hitam dan mata merah menyala,
Tubuhnya kurus gemulai,
Dia betina.
Saya bisa melihat tubuhnya terluka,
Saya membunuhnya,
Tapi lengan saya enggan melakukannya.
Saya membiarkannya pergi.
Manusia mulai melawan,
Mengangkat senjata yang meledak,
Peradaban berubah,
Manusia bertambah kuat,
Saya juga semakin kuat untuk alasan yang tak diketahui.
Mereka menemukan saya,
Manusia dengan kacamata tebal,
Di malam yang menyanyikan kenangan lama, saya berdiri untuk pertama kalinya di zaman ini.
Letusan senjata bagai melodi yang melengkapi simfoni kekacauan.
Pada akhirnya saya keluar sebagai pemenang,
Lagi dan lagi,
Saya menjadi pemenang.
Manusia kecil yang tertinggal sendiri di rumah-rumah mereka sangat manis.
Saya mengumpulkan mereka di bahan pohon yang dahannya lebat.
Beberapa menatap saya dengan tangisan, beberapa lainnya menatap saya dengan mata setajam pedang.
Saya menyukai mereka,
Seperti melihat diri saya yang memiliki banyak cinta dahulu kala,
Setelah sang iblis mengambil benihku,
Saya ingin memiliki anak,
Saya membuat rumah yang indah dari dahan dan batu,
Lalu saya beri nama,
Sugar Home.
Panti asuhan Sugar Home adalah rumah baru saya dan anak anak saya.
Manusia masih mengejar jejak saya.
Berapa banyak pun akan kami hadapi.
.........