Namaku Matahari. Aku senang sekali menyinari bumi agar tidak gelap dan dingin. Seperti hari ini, Aku sedang duduk di singgasanaku. Tubuhku bersinar terang sekali. Kulihat beberapa orang memakai topi, payung, dan kacamata hitam untuk melindungi dirinya dari sinark yang terik. Beberapa anak tampak bermain riang karena cuacanya cerah, Aku senang sekali berguna bagi mereka.
Namun, akh melihat sekumpulan orang di bawah sana terlihat sedang berpikir. Mereka adalah para petani yang sedang menatap penuh harap agar sawah mereka kembali dialiri air. Aku tertegun, memang sudah lama hujan tidak turun. Sebelumnya, aku mengira bahwa mereka senang dengan kehadiran sinarku yang membuat semua padi tumbuh. Ternyata semua butuh keseimbangan. Selain membutuhkan sinar matahari, sawah juga membutuhkan air hujan. Segera aku mencari Awan Hujan.
"Awan Hujan, bantulah orang-orang di sawah yang menantikan turunnya hujan," kata Matahari penuh harap.
"Aku mengerti Matahari tunggulah beberapa saat lagi," sahut Awan.
Badan Awan yang berwana putih sekarang mulai berwarna abu-abu. Aku bersorak gembira, artinya awan tersebut akan menurunkan hujannya. Beberapa menit kemudian hujan turun. Aku bersembunyi di balik Awan, mengintip dua orang anak sedang bermain. Mereka semakin bersorak dan menyambut hujan dengan berlari-lari. Di sawah, para petani sangat gembira setelah mengetahui hujan turun
Selesai